وَأَنْ لَا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي آتِيكُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ
Dan janganlah kalian menyombongkan diri terhadap Allah, sesungguhnya aku datang kepada kalian dengan membawa keterangan yang nyata.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَأَنْ لَا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِwa-an laa ta'luu 'alaa llaahidan janganlah kalian menyombongkan diri terhadap Allah
- إِنِّي آتِيكُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍinnii aatiikum bi-sulthaanin mubiininsesungguhnya aku datang kepada kalian dengan membawa keterangan yang nyata
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَأَنْwa-andan untuk
- لَاlaajanganlah
- تَعْلُواta'luukalian menyombongkan diri
- عَلَى'alaaatas
- اللَّهِllaahiAllah
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- آتِيكُمْaatiikummendatangkan kepada kalian
- بِسُلْطَانٍbi-sulthaanindengan keterangan
- مُبِينٍmubiininyang nyata
Inti bacaan
Rangkaian (سُلْطَانٍ مُبِينٍ, sulthaanin mubiinin) muncul delapan kali di Al-Qur'an, yaitu di 11:96, 14:10, 23:45, 27:21, 40:23, 44:19, 51:38, dan 52:38.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (تَعْلُوا, ta'luu) yang berarti "kalian menyombongkan diri" berakar ع-ل-و, akar yang arti dasarnya tinggi, seperti pada (الْأَعْلَىٰ, l-a'laa) yang berarti "yang tertinggi" di 92:20 dan di (بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰ, bi-l-ufuqi l-a'laa) pada 53:7. Bentuk ta'luu ada dua kali, yaitu di 27:31 dan 44:19. Di 27:31, (أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ, allaa ta'luu 'alayya) yang berarti "janganlah kalian berlaku sombong terhadapku", pelarangnya menaruh dirinya sebagai pihak yang disombongi, sebab (عَلَيَّ, 'alayya) berarti "terhadapku". Di 44:19 pihak itu adalah Allah: (لَا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ, laa ta'luu 'alaa llaahi) yang berarti "janganlah kalian menyombongkan diri terhadap Allah". Pembicara di 44:19 tidak menaruh dirinya di tempat itu. Bentuk lain dari akar yang sama, (عَالِيًا, 'aaliyan), ada satu kali di 44:31 dalam (إِنَّهُ كَانَ عَالِيًا مِنَ الْمُسْرِفِينَ, innahu kaana 'aaliyan mina l-musrifiina) yang berarti "sesungguhnya dia adalah orang yang sombong lagi termasuk orang-orang yang melampaui batas". Terjemahan memakai kata dari keluarga "sombong" di 27:31, 44:19, dan 44:31, karena pada ketiganya pelakunya menempatkan diri di atas pihak lain, dan kata (عَلَى, 'alaa) yang berarti "atas" di 44:19 menunjuk Allah sebagai pihak yang disombongi.
Larangan di 44:19 dibentuk dengan (لَا, laa) yang berarti "jangan" dan kata kerja dalam bentuk larangan, sehingga terjemahan memakai "janganlah". Kata (وَأَنْ, wa-an) yang berarti "dan untuk" menyambung tuntutan ini dengan tuntutan di 44:18, yang dibuka dengan (أَنْ, an) yang sama.
Kata (آتِيكُمْ, aatiikum) yang berarti "aku datang kepada kalian" berbentuk sedang berlangsung, dengan akhiran -kum yang berarti "kalian", dan terjemahan memakai "datang" untuk bentuk itu. Kata ini ada di empat ayat, yaitu 20:10, 27:7, 28:29, dan 44:19. Di tiga ayat selain 44:19 pembicaranya berkata kepada keluarganya tentang api yang dilihatnya, dan di 27:7 dan 28:29 pembicara itu disebut Musa. Pada keempat ayat sesuatu yang dibawa disebut sesudah huruf bi, misalnya (آتِيكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ, aatiikum bi-syihaabin qabasin) di 27:7 yang berarti "aku bawakan kepada kalian nyala api". Ketiga ayat itu membawa nyala api, kabar, atau bara, dan 44:19 membawa (بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ, bi-sulthaanin mubiinin) yang berarti "dengan keterangan yang nyata".
Rangkaian (سُلْطَانٍ مُبِينٍ, sulthaanin mubiinin) yang berarti "keterangan yang nyata" ada di delapan ayat, yaitu 11:96, 14:10, 23:45, 27:21, 40:23, 44:19, 51:38, dan 52:38. Kata (سُلْطَانٍ, sulthaanin) berakar س-ل-ط, dan terjemahan memakai "keterangan" untuk bukti dalam perbantahan, seperti di 14:10 dan 52:38. Di 11:96, 23:45, 40:23, dan 51:38 pembawanya Musa, yang disebut namanya. Di 14:10 keterangan itu dituntut dari para rasul oleh pihak yang menolak mereka, (فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ, fa-tuunaa bi-sulthaanin mubiinin) yang berarti "maka datangkanlah kepada kami keterangan yang nyata". Ayat 44:19 menyebut sudah dibawa apa yang di 14:10 dituntut dari para rasul. Terjemahan memakai "keterangan yang nyata" di 44:19 seperti di 11:96, 14:10, 23:45, 40:23, 51:38, dan 52:38. Isi keterangan itu tidak dirinci di 44:19, dan terjemahan tidak menambahkan "tanda" atau "bukti" yang kata Arabnya lain.
Tafsiran
Ayat ini menaruh tuntutan kedua di samping tuntutan pertama, dan keduanya memiliki bangun yang sama: sebuah tuntutan, lalu kalimat yang dibuka (إِنِّي, innii) yang berarti "sesungguhnya aku". Tuntutan pertama di 44:18 berbentuk perintah, "serahkanlah", dan kalimat yang menyusulnya menyebut siapa pembicara, yaitu rasul yang tepercaya. Tuntutan kedua di 44:19 berbentuk larangan, "janganlah menyombongkan diri", dan kalimat yang menyusulnya menyebut apa yang dibawa pembicara, yaitu keterangan yang nyata. Kedua tuntutan itu menyebut Allah sebagai pihak lain: hamba-hamba Allah di 44:18 dan (عَلَى اللَّهِ, 'alaa llaahi) "terhadap Allah" di 44:19. Dapat dibaca bahwa kedua tuntutan menyangkut hubungan kaum itu dengan Allah, dan pembicara menyebut dirinya pembawa tuntutan, tanpa meminta kehormatan bagi dirinya sendiri.
Larangan di 44:19 memakai akar yang di 44:31 dikenakan pada Firaun, (عَالِيًا, 'aaliyan). Surah tidak menghubungkan keduanya dengan kata penghubung, dan jarak keduanya dua belas ayat. Yang dicatat 44:19 hanya larangannya. Sikap kaum itu terhadap larangan itu tidak tertulis di ayat ini maupun di 44:20.
Sesudah 44:19 pembicara berpindah dari tuntutan ke perlindungan, (وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي, wa-innii 'udztu bi-rabbii) yang berarti "dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku". Antara kedua ayat tidak ada ucapan kaum itu yang dicatat, sehingga pidato rasul berjalan tanpa jeda dari tuntutan kedua ke permohonan perlindungan. Keterangan yang nyata di 44:19 disebut dibawa, dan ayat tidak mencatat apakah keterangan itu diperlihatkan atau diterima.
Renungan dan Hikmah
- Larangan itu berbunyi janganlah menyombongkan diri terhadap Allah, dan tidak berbunyi terhadapku, padahal larangan dengan kata kerja yang sama di 27:31 menaruh pelarangnya sebagai pihak yang disombongi. Pembicara di 44:19 tidak menaruh dirinya di tempat itu. Siapa pun yang pernah meminta orang lain bersikap rendah kepadanya mengenal godaan membuat larangan serupa menjadi tentang dirinya. Allah di ayat ini menjadi pihak yang tidak boleh disombongi, dan pembicara memilih berdiri di samping pendengarnya. Ketika pembaca menegur kesombongan orang lain, kedudukan siapa yang sebenarnya sedang dijaganya?
- Larangan itu diikuti kalimat yang menyebut bahwa pembicara datang dengan keterangan yang nyata. Di samping larangan itu ada keterangan yang disebut dibawa. Kepatuhan pada larangan tanpa alasan dapat terasa seperti tunduk pada kekuatan, sedangkan larangan yang disertai keterangan memberi pendengar bahan untuk menimbang. Apa yang diubah keterangan itu pada hubungan antara yang melarang dan yang dilarang, dan sejauh mana pembaca sendiri menyertakan keterangan ketika melarang orang lain?
- Di 14:10 pihak yang menolak menuntut keterangan yang nyata dari para rasul, dan di 44:19 pembicara menyebut keterangan itu sudah dibawanya. Kedua ayat berbicara tentang kaum yang berbeda dan tidak disamakan. Pembaca yang pernah diminta bukti oleh orang yang belum bersedia percaya tahu rasanya memegang sesuatu yang sudah ada tetapi belum dilihat siapa pun. Ayat tidak mencatat bahwa kaum itu melihat keterangan tersebut. Apa yang pembaca perbuat dengan bukti yang sudah di tangan, ketika orang yang memintanya belum mau melihat?
- Kedua tuntutan di 44:18 dan 44:19 berujung pada nama yang sama: pembicara meminta hamba-hamba Allah diserahkan kepadanya, dan melarang kaum itu menyombongkan diri terhadap Allah. Dalam dua kalimat itu pembicara menunjuk satu pihak yang berada di ujung tuntutannya. Permintaan yang disusun sendiri dapat diperiksa di ujung kalimatnya: siapa yang disebut di sana. Apakah di ujung permintaan-permintaan pembaca ada nama Allah, nama diri sendiri, atau tidak ada nama sama sekali, dan apa yang diperlihatkan oleh susunan itu tentang pihak yang sebenarnya dilayani?
- Larangan itu diucapkan tanpa ada ucapan penolakan dari kaum itu yang dicatat. Peringatan yang datang sebelum masalah muncul dapat terdengar berlebihan bagi yang mendengarnya, sebab belum ada yang terjadi. Allah mencatat larangan ini apa adanya, tanpa menambahkan tanda bahwa seseorang sudah melanggarnya. Kesepian posisi itu dikenal oleh orang yang pernah memberi peringatan sebelum godaan terasa. Siapa yang bersedia mendengar larangan pada saat godaannya belum datang, dan apa yang membuat seseorang berhenti mendengar saat godaan itu tiba?
- Ayat ini memakai dua gerak: naik, pada kata yang dilarang, dan datang, pada kata yang menggambarkan pembicara. Satu gerak mengangkat diri di atas pihak lain, dan gerak yang lain mendatangi pendengar dengan sesuatu di tangan. Pembicara memilih gerak kedua untuk dirinya, dan menyebut gerak pertama sebagai hal yang tidak boleh ditujukan kepada Allah. Dari kedua gerak itu, mana yang lebih sering tampak dalam cara pembaca mendatangi orang yang dianggapnya keliru, naik di atas mereka atau datang kepada mereka dengan sesuatu yang dapat diperiksa?