وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُونَ

Dan biarkanlah laut tenang; sesungguhnya mereka bala tentara yang akan ditenggelamkan.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًاwa-truki l-bahra rahwandan biarkanlah laut tenang
  2. إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُونَinnahum jundun mughraquunasesungguhnya mereka bala tentara yang akan ditenggelamkan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَاتْرُكِwa-trukidan tinggalkanlah
  2. الْبَحْرَl-bahralaut
  3. رَهْوًاrahwanterbelah
  4. إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
  5. جُنْدٌjundunbala tentara
  6. مُغْرَقُونَmughraquunaorang-orang yang ditenggelamkan

Inti bacaan

Bentuk (جُنْدٌ, jundun) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 36:75, 38:11, 44:24, dan 67:20.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَاتْرُكِ, wa-truki) yang berarti "dan biarkanlah", tersusun dari (وَ, wa-) yang berarti "dan" dan kata kerja perintah yang tertuju kepada satu orang, berakar ت-ر-ك. Bentuk perintah (اتْرُكِ, truki) hanya ada di 44:24. Kata kerja akar ini diterjemahkan "membiarkan", antara lain, bila sesudah sasarannya disebut keadaan yang dipertahankan. Di 59:5, (تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةً, taraktumuuhaa qaa'imatan) berarti "kalian biarkan tegak", di 18:99, (وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ, wa-taraknaa ba'dhahum yawma'idzin yamuuju) berarti "dan Kami biarkan sebagian mereka pada hari itu berbaur", dan di 2:17, (وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ, wa-tarakahum fii zhulumaatin) berarti "dan membiarkan mereka dalam kegelapan". Susunan di 44:24 sama dengan tiga ayat itu, yaitu kata kerja, sasaran, lalu keadaan, sehingga terjemahan memakai "biarkanlah". Ayat berikutnya, 44:25, memuat (تَرَكُوا, tarakuu) dengan sasaran yang berupa benda milik orang yang pergi, dan di sana terjemahan memakai "tinggalkan".

Kata (الْبَحْرَ, l-bahra) yang berarti "laut" tersusun dari kata sandang al- dan bahr yang berakar ب-ح-ر. Kata sandang itu menandai laut yang tertentu, dan terjemahan memakai "laut" tanpa "itu" karena yang tertulis hanya kata sandang. Laut yang disebut dengan kata ini juga menjadi tempat peristiwa di 2:50, (فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ, faraqnaa bikumu l-bahra) yang berarti "Kami membelah laut untuk kalian", dan di 26:63, tempat tongkat dipukulkan ke laut.

Kata (رَهْوًا, rahwan) yang berarti "tenang" berakar ر-ه-و dan berbentuk benda tak tentu yang menerangkan keadaan laut. Akar ini hanya ada di 44:24, sehingga arti kata ini tidak dapat diuji dengan ayat lain. Ayat ini dapat diuji dari sisi sebaliknya, yaitu dari akar yang tidak dipakainya. Peristiwa laut yang terbelah ditulis di tempat lain dengan (فَانْفَلَقَ, fa-nfalaqa) yang berarti "maka terbelahlah" di 26:63, (فَرَقْنَا, faraqnaa) di 2:50, dan (يَبَسًا, yabasan) yang berarti "kering" di 20:77. Tidak ada satu pun dari ketiganya di 44:24. Terjemahan karena itu memakai "tenang", yaitu keadaan laut, dan tidak memakai "terbelah", yaitu peristiwa yang tidak tertulis di ayat ini.

Kata (جُنْدٌ, jundun) yang berarti "bala tentara" berakar ج-ن-د dan berbentuk tunggal tak tentu. Bentuk persis ini muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 36:75, 38:11, 44:24, dan 67:20. Tiga ayat pertama menyusulkan kata yang menunjuk pihak yang dikenai tindakan, yaitu (جُنْدٌ مُحْضَرُونَ, jundun muhdharuuna) yang berarti "bala tentara yang dihadirkan" di 36:75, (جُنْدٌ مَا هُنَالِكَ مَهْزُومٌ, jundun maa hunaalika mahzuumun) yang berarti "suatu bala tentara di sana akan dikalahkan" di 38:11, dan (جُنْدٌ مُغْرَقُونَ, jundun mughraquuna) di 44:24. Ayat keempat, 67:20, memakainya dalam pertanyaan tentang siapa yang menjadi bala tentara bagi pendengar selain Ar-Rahman.

Kata (مُغْرَقُونَ, mughraquuna) yang berarti "yang akan ditenggelamkan" berakar غ-ر-ق. Bentuk persisnya muncul tiga kali, yaitu di 11:37, 23:27, dan 44:24. Di 11:37 dan 23:27 bunyinya (إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ, innahum mughraquuna) yang berarti "sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan", dan keduanya didahului larangan membicarakan orang-orang yang zalim kepada pembicara itu. Di 44:24 kata jundun terletak di antara innahum dan mughraquuna, tetapi terjemahan "akan ditenggelamkan" sama dengan dua ayat itu. Bentuk ini tidak menyebut pelaku tindakannya, sedangkan di 2:50 kata kerjanya (وَأَغْرَقْنَا, wa-aghraqnaa) yang berarti "dan Kami menenggelamkan" menyebut pelakunya dengan Kami.

Tafsiran

Ayat ini menutup ucapan yang dibuka di 44:23 dengan satu perintah menahan diri dan satu kabar tentang akhir sebuah pihak. Dua kalimat penutup 44:23 dan 44:24 berbentuk sejajar. Kalimat pertama, (إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ, innakum muttaba'uuna), menyebut pihak yang diajak bicara sebagai yang diikuti, dan kalimat kedua, (إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُونَ, innahum jundun mughraquuna), menyebut pihak lain sebagai yang akan ditenggelamkan. Keduanya berbentuk jamak yang menerima tindakan, jadi kedua pihak digambarkan sebagai yang dikenai sesuatu dan tidak sebagai yang bertindak. Pergantian kata ganti dari kalian ke mereka juga mengubah siapa yang diajak bicara. Perintah dan kabar di 44:23 ditujukan kepada yang berjalan, sedangkan di 44:24 pihak yang mengikuti dibicarakan dalam bentuk orang ketiga, dan tidak disapa.

Perintah di ayat ini meminta sesuatu dibiarkan. Di 20:77 perintah yang menyangkut laut meminta tindakan, yaitu (فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ, fa-dhrib lahum thariiqan fii l-bahri) yang berarti "lalu buatlah bagi mereka jalan di laut". Di 44:24 perintahnya meminta penerima tidak bertindak atas laut. Kalimat kedua menyusul tanpa kata penghubung seperti "karena", sehingga hubungan antara laut yang tenang dan tenggelamnya bala tentara tidak dinyatakan teks, dan keduanya hanya diletakkan berdampingan dalam satu ayat.

Akhir bala tentara itu disebut sebelum peristiwanya dikisahkan. Bentuk yang sama dipakai di 11:37 dan 23:27, ketika kabar tentang orang-orang yang akan ditenggelamkan disampaikan kepada Nuh lebih dulu daripada banjir. Di dua ayat itu kabar tersebut menyertai larangan, sedangkan di 44:24 kabar itu menyertai perintah menahan diri. Pada ketiga tempat itu pihak yang diberi kabar bukan pihak yang akan ditenggelamkan. Pelaku tindakan tenggelam tidak tertulis di ayat ini, sedangkan di 2:50, 43:55, dan 26:66 pelakunya ditulis dengan Kami. Peristiwa tenggelamnya sendiri tidak diceritakan, dan ayat berikutnya beralih ke apa yang ditinggalkan oleh pihak yang disebut tadi.

Renungan dan Hikmah

  • Perintah terakhir di rangkaian ini menyuruh sesuatu dibiarkan, tidak dikerjakan. Pemberi perintah di 44:23 sampai 44:24 sudah menyuruh berjalan dengan hamba-hamba-Ku, yang menuntut tenaga, dan sesudah itu menyuruh laut dibiarkan dalam keadaannya, yang menuntut tangan berhenti. Pekerjaan semacam itu tidak meninggalkan hasil yang dapat ditunjuk oleh pelakunya. Pembaca yang terbiasa menilai dirinya dari tindakan yang terlihat dapat memeriksa kebiasaannya sendiri. Dalam urusan apa yang menurut Tuhan cukup dibiarkan, dan seberapa sering tangan pembaca sudah bergerak sebelum perintah untuk berhenti itu selesai didengar?
  • Kalimat penutup ayat ini menyatakan akhir sebuah pihak sebagai kenyataan yang sudah diputuskan, sementara pihak itu sendiri tidak diajak bicara. Pembaca mendengar akhir itu lebih dulu daripada pelaku yang berjalan menuju akhirnya. Orang yang diberi tahu lebih dulu memegang pengetahuan yang tidak dimiliki pihak yang dibicarakan. Pembaca dapat memeriksa kapan dalam hidupnya pernah diketahuinya akhir sebuah urusan lebih dulu daripada orang yang terlibat di dalamnya. Apa yang ia kerjakan pada jarak antara tahu dan melihat?
  • Kata bala tentara di ayat ini menyebut sebuah kekuatan, tidak menyebut orang satu per satu. Di 38:11 kekuatan semacam itu akan dikalahkan, dan di 67:20 pertanyaannya ialah siapa yang menjadi bala tentara bagi pendengar selain Ar-Rahman. Pada dua ayat itu dan di 44:24, kekuatan yang diandalkan atau yang mengejar disebut pada saat kekuatan itu tidak menolong, akan kalah, atau akan tenggelam. Pembaca yang punya sesuatu yang dianggapnya tentara bagi dirinya, entah jabatan, jaringan, atau simpanan, dapat menimbang apa saja yang selama ini diandalkannya sebagai pertahanan. Siapa yang akan berdiri di sampingnya ketika semua itu tidak lagi menolong, dan sudahkah nama Tuhan disebutnya sebelum hari itu datang?
  • Di 26:63 sampai 26:66 laut menjadi tempat satu golongan diselamatkan dan golongan lain ditenggelamkan. Kata laut yang sama dipakai di 44:24, dalam ayat yang menyebut pihak yang akan ditenggelamkan. Keadaan yang sama, yaitu laut yang dilewati, menjadi jalan bagi satu pihak dan akhir bagi pihak lain. Teks menyebut dua hal tentang keduanya, yaitu satu pihak diajak berjalan dengan hamba-hamba-Ku dan pihak lain disebut bala tentara yang akan ditenggelamkan. Pembaca dapat memandang keadaan yang sedang dilaluinya, apakah itu jalan atau akhir, dan menimbang kepada siapa penilaian itu disandarkan. Siapa yang menentukan arti laut baginya?
  • Kata ditenggelamkan di ayat ini tidak disertai pelakunya. Di 2:50 pelakunya ditulis dengan Kami, sedangkan di 44:24 tidak ada nama atau kata ganti yang menunjuk siapa yang menenggelamkan. Teks membiarkan kekosongan itu apa adanya. Pembaca yang menyaksikan sesuatu menimpa orang lain mudah mengisi kekosongan semacam itu dengan pelaku yang dikiranya, dan mengisinya dengan tegas. Sebelum menamai pelaku dari sebuah akibat, pembaca dapat memeriksa apa yang ditulis ayatnya dan apa yang baru ditambahkannya sendiri. Sudahkah dibedakan antara hal yang disebut Allah dan hal yang disangka?
  • Bala tentara di ayat ini disebut dengan mereka, sebagai orang ketiga, dan tidak disapa. Perintah dan kabar di ayat ini diucapkan kepada pihak lain, di tempat yang tidak dimasuki pihak yang dibicarakan. Ayat tidak menyebut apakah mereka mengetahuinya. Pembaca yang pernah menyadari bahwa dirinya dibicarakan di tempat yang tidak didatanginya dapat bertanya, kalimat apa yang diucapkan tentang dirinya di sana, dan oleh siapa? Dan di tempat itu, adakah kalimat yang diucapkan Tuhan tentang dirinya dan belum pernah didengarnya?