وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ

tanam-tanaman serta tempat tinggal yang mulia,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍwa-zuruu'in wa-maqaamin kariimindan tanam-tanaman serta tempat tinggal yang mulia

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَزُرُوعٍwa-zuruu'indan tanaman
  2. وَمَقَامٍwa-maqaamindan tempat
  3. كَرِيمٍkariiminyang mulia

Inti bacaan

Susunan (وَمَقَامٍ كَرِيمٍ, wa-maqaamin kariimin) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 26:58 dan 44:26.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَزُرُوعٍ, wa-zuruu'in) yang berarti "dan tanam-tanaman". Kata ini bentuk jamak dari zar' dan berakar ز-ر-ع. Bentuk jamaknya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 26:148 dan 44:26. Di 26:148 kata itu berdampingan dengan pohon kurma, (وَزُرُوعٍ وَنَخْلٍ, wa-zuruu'in wa-nakhlin) yang berarti "dan tanam-tanaman serta pohon kurma", sesudah kebun-kebun dan mata air di 26:147. Terjemahan memakai "tanam-tanaman" di kedua tempat dan tidak memakai "kebun-kebun", karena "kebun-kebun" sudah menjadi padanan (جَنَّاتٍ, jannaatin) di 26:147.

Akar ز-ر-ع terkait dengan pekerjaan menanam. Di 12:47, (تَزْرَعُونَ, tazra'uuna) yang berarti "kalian bercocok tanam" ditujukan kepada orang-orang yang menanam tujuh tahun berturut-turut. Di 56:64, (الزَّارِعُونَ, z-zaari'uuna) yang berarti "yang menumbuhkan" muncul dalam pertanyaan apakah kalian yang menumbuhkannya ataukah Kami. Dari dua ayat itu terbaca bahwa tanam-tanaman adalah sesuatu yang ditanam, berbeda dengan taman-taman dan mata air di 44:25, yang di sana tidak disertai kata kerja tentang pekerjaan manusia. Ayat 44:26 sendiri tidak menyebut siapa penanamnya.

Kata (وَمَقَامٍ, wa-maqaamin) yang berarti "dan tempat tinggal" berakar ق-و-م, akar yang menyangkut berdiri. Di 27:39, (أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ, an taquuma min maqaamika) yang berarti "engkau berdiri dari tempatmu" memakai kata kerja dan kata benda dari akar itu dalam satu kalimat. Bentuk persis maqaamin muncul 3 kali di 2 surah, yaitu di 26:58, 44:26, dan 44:51. Susunan (وَمَقَامٍ كَرِيمٍ, wa-maqaamin kariimin) muncul dua kali, yaitu di 26:58 dan 44:26, dan terjemahan 44:26 mengikuti 26:58 karena susunan Arabnya sama. Di 44:51 kata itu disifati lain, (فِي مَقَامٍ أَمِينٍ, fii maqaamin amiinin) yang berarti "di tempat yang aman". Di tempat lain kata maqaam bersambung dengan pemiliknya, misalnya (مَقَامَ رَبِّهِ, maqaama rabbihi) di 55:46 dan 79:40, dan di sana terjemahannya "kedudukan". Di 44:26 kata itu berdiri sendiri dan diikuti sifat tempat, sehingga terjemahan memilih "tempat tinggal".

Kata (كَرِيمٍ, kariimin) yang berarti "yang mulia" berakar ك-ر-م. Bentuk persis kariimin muncul 8 kali di 7 surah, yaitu di 26:7, 26:58, 31:10, 36:11, 44:26, 56:44, 69:40, dan 81:19. Terjemahan memakai "mulia" di 44:26 dan tidak memakai "indah", karena sifat ini dipakai di Al-Qur'an untuk rasul, (رَسُولٌ كَرِيمٌ, rasuulun kariimun) di 44:17, untuk ucapan, (قَوْلًا كَرِيمًا, qawlan kariiman) di 17:23, dan untuk pahala, (أَجْرٌ كَرِيمٌ, ajrun kariimun) di 57:11. Ketiganya menyangkut martabat dan nilai, tidak menyangkut rupa.

Kata-kata di ayat ini tidak bersandang al-, dan ketiganya berakhiran -in seperti (جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ, jannaatin wa-'uyuunin) di 44:25. Zuruu'in dan maqaamin sama-sama kata benda tak tentu dengan akhiran yang sama seperti kedua kata di 44:25, dan wa- menyambung keduanya ke kata min di ayat sebelumnya. Itu sebabnya ayat ini tidak memuat kata kerja sendiri, dan terjemahan menutupnya dengan koma tanpa mengulang "yang mereka tinggalkan". Terjemahan juga tidak menyebut jenis tanaman, bahan bangunan, atau jumlah tempat tinggal, karena ayat tidak merincinya.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan dua benda ke daftar yang ditinggalkan, yaitu sesuatu yang ditanam dan sesuatu yang ditempati. Daftar itu dibuka di 44:25 dengan taman-taman dan mata air, berlanjut di 44:26, dan ditutup di 44:27 dengan kenikmatan. Ayat 44:26 tidak memuat kata kerja maupun penilaian, sehingga urutan bendanya yang membawa maknanya: dari yang tumbuh di tanah, ke yang dihuni, lalu ke yang dirasakan.

Urutan serupa ada di 26:57 sampai 26:59. Di sana (فَأَخْرَجْنَاهُمْ مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ, fa-akhrajnaahum min jannaatin wa-'uyuunin) yang berarti "Maka Kami keluarkan mereka dari taman-taman dan mata air" disusul harta kekayaan dan tempat tinggal yang mulia, lalu pewarisan di 26:59. Bedanya ada pada kata kerja pembukanya. Di 26:57 Kami yang mengeluarkan, sedangkan di 44:25 mereka yang meninggalkan, dan keadaan yang mendahuluinya tertulis di 44:24, yaitu mereka bala tentara yang akan ditenggelamkan. Daftar di surah 44 memuat tanam-tanaman dan kenikmatan, dan tidak memuat harta kekayaan.

Kosakata yang hampir sama muncul untuk pihak lain di surah yang sama. Di 44:51, (فِي مَقَامٍ أَمِينٍ, fii maqaamin amiinin) yang berarti "di tempat yang aman" disebut untuk orang-orang yang bertakwa, dan 44:52 menyusulkan taman-taman dan mata air. Dua kelompok dalam satu surah mendapat gambaran tempat, taman, dan mata air yang bunyinya berdekatan. Perbedaannya tertulis pada sifat tempat, yaitu "mulia" di 44:26 dan "aman" di 44:51, serta pada kata yang membawa daftar itu, yaitu "meninggalkan" di 44:25 dan "berada di" di 44:51.

Sifat kariim dipakai tiga kali di surah ini. Pemakaian pertama untuk rasul yang datang kepada kaum Firaun di 44:17, yang kedua untuk tempat tinggal mereka di 44:26, dan yang ketiga di 44:49, (الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ, l-'aziizu l-kariimu) yang berarti "yang digdaya lagi mulia", diucapkan kepada orang yang diseret ke neraka di 44:47. Ketiga pemakaian itu tidak menyatakan siapa yang menilai kemuliaannya. Ayat 44:26 pun tidak menjelaskan mengapa tempat itu disebut mulia, dan menaruhnya di antara hal-hal yang ditinggalkan.

Renungan dan Hikmah

  • Akar yang sama dengan zuruu'in dipakai di 12:47 untuk orang yang bercocok tanam tujuh tahun berturut-turut, sehingga tanam-tanaman di 44:26 dapat dibaca sebagai hasil kerja yang berlangsung lama. Ayat ini tidak menyebut siapa penanamnya atau berapa lama penanam itu bekerja, dan menaruh hasilnya dalam satu kata sambung di antara taman-taman dan tempat tinggal. Pembaca yang pernah menanam sesuatu dari awal, entah sepetak sayur, sebuah usaha, atau sebuah hubungan, dapat memperhatikan betapa pendek kalimat yang memuat hasil kerja bertahun-tahun itu. Apakah ukuran sebuah usaha berubah bila hasilnya berdiri di sebelah mata air dan tempat tinggal yang sama-sama akan ditinggalkan?
  • Di 14:37 Ibrahim menyebut lembah (غَيْرِ ذِي زَرْعٍ, ghayri dzii zar'in) yang berarti "yang tidak ada tanamannya", tempat Ibrahim menempatkan sebagian keturunannya di sisi Rumah Tuhan, lalu memohon agar mereka diberi rezeki dari buah-buahan. Ayat itu dan 44:26 memakai akar yang sama untuk dua keadaan yang berseberangan, yaitu tempat tanpa tanaman yang diisi dengan doa kepada Tuhan, dan tempat bertanam-tanaman yang ditinggalkan. Teks tidak membandingkan keduanya, jadi perbandingan ini milik pembaca. Pembaca dapat bertanya, kapan sebuah permohonan kepada Tuhan lebih mudah diucapkan: ketika ladang masih kosong, atau ketika ladang sudah terhampar?
  • Taman-taman dan mata air disebut untuk kaum Firaun di 44:25, dan untuk orang-orang yang bertakwa di 44:52, 15:45, dan 51:15. Kata maqaamin di 44:26 dan 44:51 juga dipakai untuk kedua pihak, dengan sifat "mulia" bagi yang pertama dan "aman" bagi yang kedua. Karena itu memiliki taman, mata air, dan tempat tinggal yang baik tidak menjadi ciri pembeda di dalam teks. Yang tertulis berbeda ialah kata kerjanya: kaum Firaun meninggalkan, sedangkan orang bertakwa di 51:16 digambarkan mengambil apa yang diberikan Tuhan mereka. Pembaca dapat menimbang apakah benda yang kini dipegangnya disebut miliknya atau sesuatu yang diterimanya?
  • Sifat kariim dipakai untuk rasul di 44:17 dan untuk tempat tinggal di 44:26, dalam surah dan kisah yang sama. Rasul itu berkata di 44:18, "Serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah", lalu di 44:22 rasul itu mengadukan bahwa mereka kaum yang berdosa. Dua hal yang disifati mulia berdiri berdampingan dalam satu penuturan, yang satu datang kepada mereka dan yang lain mereka tinggalkan. Ayat tidak menghubungkan keduanya, jadi pembaca dapat mencatat bahwa kata yang sama dipakai untuk seorang pembawa pesan dan untuk sebuah tempat yang penuh barang. Bila kemuliaan tempat diukur dengan isinya, dengan apa kemuliaan seorang rasul diukur?
  • Di 43:51 Firaun berseru, "Bukankah kerajaan Mesir milikku, dan sungai-sungai ini mengalir di bawahku?", dengan kata ganti milik pada lii dan tahtii. Di 44:25 dan 44:26 daftar benda itu muncul tanpa kata ganti milik: taman, mata air, tanam-tanaman, dan tempat tinggal berdiri sebagai benda saja. Dua surah yang berurutan ini memperlihatkan dua cara menyebut benda yang sama, yang pertama dalam ucapan pemiliknya yang merasa berkuasa, yang kedua dalam penuturan sesudah mereka tiada. Pembaca dapat memeriksa kata yang dipakainya sendiri saat menyebut miliknya. Apakah kata ganti yang dipasang pembaca pada tempat tinggalnya masih akan terdengar utuh bila suatu saat daftarnya ditulis orang lain?
  • Kata maqaam dipakai untuk tempat tinggal kaum Firaun di 44:26 dan, bersambung dengan Tuhan, di 55:46, (وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ, wa-li-man khaafa maqaama rabbihi jannataani) yang berarti "Dan bagi siapa yang takut akan kedudukan Tuhannya, ada dua taman". Dua ayat itu memakai kata yang sama: yang satu berupa tempat yang ditinggalkan dengan tamannya, yang lain berupa kedudukan Tuhan yang disusul dua taman. Ayat tidak mengaitkan keduanya, dan pembaca dapat mencatat bahwa tempat berdiri manusia dan kedudukan Tuhan dibahasakan dengan kata yang sama. Pada tempat mana ia lebih sering memikirkan tempat berdirinya sendiri, dan pada saat mana ia teringat pada kedudukan Tuhannya?