وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ

dan kenikmatan yang di dalamnya dahulu mereka bersuka ria.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَwa-na'matin kaanuu fiihaa faakihiinadan kenikmatan yang di dalamnya dahulu mereka bersuka ria

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَنَعْمَةٍwa-na'matindan kenikmatan
  2. كَانُواkaanuumereka selalu
  3. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  4. فَاكِهِينَfaakihiinaorang-orang yang bergembira

Inti bacaan

Bentuk (فَاكِهِينَ, faakihiina) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 44:27 dan 52:18.

Penjelasan pilihan kata

Kata pertama (وَنَعْمَةٍ, wa-na'matin) berarti "dan kenikmatan" dan berakar ن-ع-م. Bentuk na'matin muncul satu kali, yaitu di 44:27, dan kata yang sama dengan kata sandang muncul sekali lagi di 73:11, (أُولِي النَّعْمَةِ, ulii n-na'mati) yang berarti "yang memiliki kenikmatan", dalam ayat tentang para pendusta. Dengan demikian kata na'mah ada di dua ayat, yaitu 44:27 dan 73:11, dan terjemahan memakai "kenikmatan" di keduanya. Kata ini berbeda dari (نِعْمَةَ, ni'mata) yang berarti "nikmat" dalam (نِعْمَةَ اللَّهِ, ni'mata llaahi) di 2:211, 5:7, 5:20, 14:6, 16:18, dan 33:9, karena vokalnya lain, dan terjemahan membiarkan keduanya terpisah dengan "kenikmatan" bagi yang pertama dan "nikmat" bagi yang kedua.

Susunan (كَانُوا فِيهَا, kaanuu fiihaa) yang berarti "mereka dahulu di dalamnya" muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 44:27. Kata ganti -haa pada fiihaa berbentuk perempuan tunggal, sama dengan na'matin yang tepat di depannya, sehingga terjemahan menunjuk kenikmatan itu dan memperlakukannya sebagai ruang tempat orang berada. Kata terdekatnya memang na'matin, tetapi -haa juga bisa mencakup seluruh daftar sejak 44:25, dan ayat tidak memilih salah satunya. Kata kaanuu menaruh keadaan itu di masa lalu. Ayat tidak menyebut berapa lama mereka berada di sana, dan terjemahan memakai "dahulu" tanpa menambahkan "selama bertahun-tahun".

Kata terakhir (فَاكِهِينَ, faakihiina) yang berarti "bersuka ria" berakar ف-ك-ه. Bentuk persis ini muncul dua kali, yaitu di 44:27 dan 52:18. Di 52:18, (فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ, faakihiina bi-maa aataahum rabbuhum) yang berarti "bersuka ria dengan apa yang Tuhan mereka anugerahkan kepada mereka", kata itu dipakai untuk orang-orang yang bertakwa, dan 52:17 menyebut mereka berada di (فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ, fii jannaatin wa-na'iimin) yang berarti "taman-taman dan kenikmatan". Akar yang sama muncul dalam dua bentuk lain, yaitu (فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ, fii syughulin faakihuuna) di 36:55, untuk penghuni taman, dan (انْقَلَبُوا فَكِهِينَ, nqalabuu fakihiina) di 83:31, yang berarti "mereka kembali bergembira ria". Di 83:31 orang-orang berdosa pulang kepada keluarganya dengan bergembira, sesudah menertawakan orang beriman di 83:29. Akar yang sama itu dipakai untuk dua nasib yang berlawanan, dan 44:27 termasuk yang kedua. Terjemahan memakai "bersuka ria" di 44:27 dan 52:18, dan tidak memakai "menikmati", karena kenikmatan sudah dibawa oleh kata na'matin di awal ayat.

Akar ف-ك-ه muncul juga sebagai kata benda dalam surah yang sama, tetapi untuk pihak lain. Di 44:55, (بِكُلِّ فَاكِهَةٍ, bi-kulli faakihatin) yang berarti "segala macam buah-buahan" berada dalam kalimat (يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ آمِنِينَ, yad'uuna fiihaa bi-kulli faakihatin aaminiina) yang berarti "Mereka meminta di dalamnya segala macam buah-buahan dengan aman". Kata fiihaa yang menyambung kalimat itu sama dengan kaanuu fiihaa di 44:27, dan yang menambah di 44:55 ialah kata aaminiina, "dengan aman", yang tidak ada di 44:27.

Terjemahan tidak menambahkan sebab atau akhir kenikmatan itu, karena susunan (كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ, kaanuu fiihaa faakihiina) menyebut keadaan di masa lalu saja. Tanda titik menutup ayat sebagai ujung kalimat yang dibuka dengan "Betapa banyak" di 44:25.

Tafsiran

Ayat ini menutup daftar dengan sesuatu yang tidak berupa benda, yaitu keadaan batin yang pernah dijalani. Ayat sebelumnya menyebut taman, mata air, tanam-tanaman, dan tempat tinggal, semuanya hal yang dapat dilihat dan dihitung. Ayat 44:27 menyebut kenikmatan dan sukacita, dan keduanya disambung kata kerja lampau kaanuu. Kata kerja pertama di 44:25, (تَرَكُوا, tarakuu) yang berarti "mereka tinggalkan", menunjuk perbuatan, sedangkan kata kerja terakhir di 44:27 menunjuk keadaan. Di antara keduanya tidak tertulis apa yang dirasakan mereka ketika pergi.

Surah 26 memuat daftar yang berdekatan, tetapi urutannya berhenti pada tempat tinggal. Di 26:58 daftar itu memuat (وَكُنُوزٍ, wa-kunuuzin) yang berarti "dan harta kekayaan" dan susunan wa-maqaamin kariimin, lalu 26:59 langsung memuat pewarisan. Surah 44 menggantinya dengan kenikmatan dan sukacita di akhir, tanpa harta kekayaan. Perbedaan itu terbaca sebagai pergeseran dari apa yang dimiliki di surah 26 ke apa yang dialami di surah 44.

Sukacita ini juga punya cermin di surah yang sama. Di 44:55 orang-orang yang bertakwa meminta buah-buahan di dalam taman dengan aman, dan 44:56 menyebut Dia melindungi mereka dari azab neraka. Kaum Firaun di 44:27 digambarkan bersuka ria di dalam kenikmatannya, dan ayat itu tidak menyebut rasa aman maupun perlindungan. Dua penggambaran itu memakai akar dan kata depan yang sama, dan yang berbeda ialah apa yang menyertai sukacita itu.

Sesudah ayat ini kata kerja yang berpelaku kembali di 44:28, kali ini dengan Kami sebagai pelaku. Kaum yang tadi menjadi pelaku di 44:25 sampai 44:27 tidak lagi menjadi pokok kalimat, dan kenikmatan serta sukacitanya ditutup dengan bentuk lampau.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 44:27 memakai kata fiihaa, "di dalamnya", untuk kenikmatan, sehingga kenikmatan itu terbaca sebagai ruang yang ditempati dan tidak sebagai benda yang digenggam. Sebuah ruang baru memperlihatkan dindingnya ketika orang di dalamnya melangkah ke pintu. Ayat tidak menyebut apakah para penghuninya pernah memperhatikan kenikmatan itu selagi berada di dalamnya. Pembaca dapat memilih satu kenyamanan yang kini dijalaninya tiap hari, misalnya rumah yang kering saat hujan atau perut yang tidak kelaparan, lalu mengingat kapan terakhir kenyamanan itu disebutnya dengan nama. Apakah nama itu terucap saat pembaca masih berada di dalamnya, atau baru sesudah pergi?
  • Akar kata untuk "bersuka ria" di 44:27 dipakai juga di 83:31 untuk orang-orang berdosa yang pulang kepada keluarganya dengan bergembira ria sesudah menertawakan orang beriman, dan di 36:55 untuk penghuni taman. Di 52:18 sukacita itu disebut bersama apa yang Tuhan mereka anugerahkan kepada mereka. Satu kata menampung dua nasib, sehingga kata itu sendiri tidak memberi tahu apakah sukacita seseorang akan bertahan. Yang membedakan terletak pada apa yang disebut menyertainya. Pembaca yang mendengar dirinya sedang tertawa dapat bertanya apa yang menyertai tawa itu: rasa syukur atas sesuatu yang diberikan kepadanya, atau ejekan kepada orang lain?
  • Di 44:55 orang-orang yang bertakwa meminta buah-buahan di dalam taman, dan kata yang menyertainya ialah aaminiina, "dengan aman". Ayat 44:56 menambahkan bahwa Dia melindungi mereka dari azab neraka. Di 44:27 susunan kaanuu fiihaa melukiskan kaum Firaun bersuka ria, dan tidak ada kata aman atau perlindungan di ayat itu. Dua gambaran itu sama-sama menaruh orang di dalam kenikmatan, dan tampak serupa dari luar. Pembaca dapat menimbang, di dalam kenikmatan yang dijalaninya sekarang, apakah ada kata aman yang menyertainya, atau sukacitanya saja yang terasa?
  • Ayat 44:27 menyebut kenikmatan dalam satu kata tunggal, na'matin, tanpa daftar dan tanpa jumlah. Di 16:18 dan 14:34 kata nikmat dari akar yang sama berada dalam kalimat, "kalian tidak akan mampu menghitungnya". Ayat-ayat itu tidak berbicara tentang kaum Firaun, sehingga keduanya tidak disamakan. Pembaca dapat mencatat bahwa satu kata tunggal di 44:27 dan kalimat tentang hitungan yang tak habis di 16:18 menyebut hal yang bersaudara dengan cara yang berlawanan, yang satu meringkas dan yang lain membuka daftar tanpa akhir. Bila pembaca mencoba menghitung nikmat yang dijalaninya pagi ini, pada hitungan ke berapa pembaca berhenti?
  • Ayat 44:25 sampai 44:27 menyusun daftar dari yang paling mudah dihitung ke yang paling sulit: taman dan mata air, tanam-tanaman dan tempat tinggal, lalu kenikmatan dan sukacita. Kegembiraan menempati urutan terakhir, sesudah semua benda. Pembaca yang menulis daftar tentang apa yang ditakutnya hilang dapat memperhatikan dari mana daftar itu dimulai, dari benda atau dari perasaan. Ayat ini tidak menyatakan bahwa urutan itu harus dibalik, dan penuturan yang memuat semuanya meletakkan sukacita di ujung. Di urutan ke berapa pembaca menaruh kegembiraannya sendiri dalam daftar itu?
  • Ayat 44:17 sampai 44:19 menyebut seorang rasul datang kepada kaum Firaun dan berkata, "Dan janganlah kalian menyombongkan diri terhadap Allah". Ayat 44:27 menyebut kaum yang sama bersuka ria di dalam kenikmatan. Ayat-ayat itu tidak mengatur urutan waktunya, sehingga pembaca dapat membayangkan keduanya berjalan bersama: pesan di satu telinga, sukacita di seisi rumah. Dua ayat ini tidak menyatakan bahwa sukacita menghalangi pesan itu, dan pembacaan tersebut tetap milik pembaca. Pesan apa yang sedang sampai kepada pembaca ketika sukacitanya sedang paling penuh?