فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ
Maka, langit dan bumi tidak menangisi mereka, dan mereka tidak diberi penangguhan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُfa-maa bakat 'alayhimu s-samaa'u wa-l-ardhumaka, langit dan bumi tidak menangisi mereka
- وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَwa-maa kaanuu munzhariinadan mereka tidak diberi penangguhan
Terjemahan per kata (8 kata)
- فَمَاfa-maamaka tidak
- بَكَتْbakatmenangis
- عَلَيْهِمُ'alayhimuatas mereka
- السَّمَاءُs-samaa'ulangit
- وَالْأَرْضُwa-l-ardhudan bumi
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- كَانُواkaanuumereka adalah
- مُنْظَرِينَmunzhariinaorang-orang yang diberi tangguh
Inti bacaan
Bentuk (بَكَتْ, bakat) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 44:29.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَمَا بَكَتْ, fa-maa bakat) yang berarti "maka tidak menangis". Awalan fa menyambung ayat ini ke 44:28, dan maa meniadakan kata kerja lampau bakat yang berakar ب-ك-ي. Akar ini muncul 7 kali di 7 ayat, yaitu 9:82, 12:16, 17:109, 19:58, 44:29, 53:43, dan 53:60. Bentuk (بَكَتْ, bakat) muncul satu kali, di 44:29. Di enam ayat lain pelaku tangis ialah manusia, atau, di 53:43, (أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ, adhaka wa-abkaa) yang berarti "membuat tertawa dan membuat menangis", Dia yang menjadi penyebab tangis. Langit dan bumi tidak menjadi pelaku tangis di ayat lain, dan di 44:29 keduanya pelakunya.
Kata (عَلَيْهِمُ, 'alayhimu) yang berarti "atas mereka" bersambung dengan kata kerja tangis hanya di sini: susunan (بَكَتْ عَلَيْهِمُ, bakat 'alayhimu) muncul satu kali. Di enam ayat lain kata kerja dari akar yang sama berdiri tanpa kata depan, sehingga terjemahan di sana "menangis". Sambungan 'alayhim di 44:29 menjadikan tangis itu ditujukan kepada seseorang, dan terjemahan memakai "menangisi mereka". Kata ganti -him menunjuk kaum Firaun yang sejak 44:25 menjadi pelaku "mereka tinggalkan". Ayat ini tidak menyebut nama mereka lagi.
Pasangan (السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ, s-samaa'u wa-l-ardhu) yang berarti "langit dan bumi" dalam bentuk ini muncul dua kali, yaitu di 30:25 dan 44:29. Di 30:25, (أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ, an taquuma s-samaa'u wa-l-ardhu bi-amrihi) yang berarti "bahwa langit dan bumi berdiri dengan perintah-Nya", keduanya juga menjadi pelaku sebuah kata kerja. Surah ini menyebut langit dan bumi berdampingan di tiga ayat, yaitu 44:7, 44:29, dan 44:38. Di 44:7 pasangan itu berbentuk jamak, (رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, rabbi s-samaawaati wa-l-ardhi), dan di 44:29 berbentuk tunggal. Kata kerja bakat berbentuk perempuan tunggal, dan langit serta bumi sama-sama kata berbentuk perempuan. Terjemahan menaruh keduanya sebagai pelaku tangis.
Kata (مُنْظَرِينَ, munzhariina) yang berarti "diberi penangguhan" berakar ن-ظ-ر, akar yang sama dengan (أَنْظِرْنِي, anzhirnii) yang berarti "berilah aku penangguhan". Bentuk munzhariina, dengan atau tanpa kata sandang, muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 7:15, 15:8, 15:37, 38:80, dan 44:29. Tiga ayat di surah 7, 15, dan 38 memuat jawaban kepada Iblis, (إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ, innaka mina l-munzhariina) yang berarti "Sesungguhnya engkau termasuk golongan yang diberi penangguhan", sesudah Iblis berkata anzhirnii di 7:14. Di 15:8, (وَمَا كَانُوا إِذًا مُنْظَرِينَ, wa-maa kaanuu idzan munzhariina) yang berarti "dan jika demikian mereka tidak akan diberi penangguhan", kata itu dinegasikan seperti di 44:29, dengan kata idzan di tengahnya. Di 44:29, (وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ, wa-maa kaanuu munzhariina), kata kaanuu dan munzhariina berurutan tanpa idzan di antaranya. Di 26:203, (هَلْ نَحْنُ مُنْظَرُونَ, hal nahnu munzharuuna) yang berarti "Apakah kami diberi penangguhan?", orang-orang yang baru melihat azab di 26:201 bertanya apakah mereka diberi penangguhan. Terjemahan memakai "diberi penangguhan" di 44:29 seperti di 7:15 dan 15:8.
Dua peniadaan di ayat ini sama-sama dibuka maa, yaitu fa-maa bakat dan wa-maa kaanuu, dan terjemahan memakai "tidak" untuk keduanya. Kata kerja kedua memakai kaanuu, bentuk lampau, dan ayat tidak menyebut siapa yang bisa memberi penangguhan itu.
Tafsiran
Ayat ini menutup uraian tentang kaum Firaun dengan dua peniadaan: tidak ditangisi, dan tidak ditangguhkan. Yang pertama menyangkut alam yang tidak bereaksi, yang kedua menyangkut waktu yang tidak diberikan. Ayat tidak menyebut sebab keduanya. Sebabnya terbaca dari ayat-ayat sebelumnya: rasul yang datang di 44:17, permintaan agar mereka tidak menyombongkan diri terhadap Allah di 44:19, penilaian mereka sebagai kaum yang berdosa di 44:22, dan keputusan bahwa mereka bala tentara yang akan ditenggelamkan di 44:24.
Tangis dinegasikan di dua tempat saja, yaitu 44:29 dan 53:60. Di 53:60, (وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ, wa-tadhakuuna wa-laa tabkuuna) yang berarti "dan kalian tertawa dan tidak menangis", pelakunya manusia yang diajak bicara. Di 44:29 pelakunya langit dan bumi. Dua ayat itu berbeda konteks dan tidak disamakan, tetapi keduanya sama-sama menyebut tangis yang tidak datang.
Al-Qur'an menyebut langit dan bumi bereaksi di tempat lain. Di 19:90, (تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ, takaadu s-samaawaatu yatafaththarna minhu) yang berarti "hampir saja langit pecah karenanya", reaksi itu muncul sebagai akibat ucapan bahwa Ar-Rahman mempunyai anak di 19:88. Ayat 44:29 meniadakan reaksi yang lain, yaitu tangis, atas kepergian kaum Firaun. Perbandingan itu memperlihatkan bahwa teks mengenal reaksi langit dan bumi, sehingga tiadanya tangis di 44:29 terbaca sebagai peniadaan atas kemungkinan yang dikenal teks sendiri.
Penangguhan yang disebut di akhir ayat punya dua sisi. Iblis meminta dan diberi di 7:14 dan 7:15, sedangkan kaum Firaun di 44:29 tidak diberi, dan teksnya tidak mencatat bahwa mereka meminta. Di 26:203 permintaan seperti itu datang dari orang-orang yang baru melihat azab. Ayat 44:29 menyebut penangguhan sebagai hal yang tidak mereka terima, dan tidak menyebut apakah mereka memintanya.
Renungan dan Hikmah
- Di 19:90 langit hampir pecah dan bumi terbelah karena ucapan tentang Ar-Rahman, sedangkan di 44:29 langit dan bumi tidak menangisi kepergian kaum Firaun. Dua ayat itu menaruh langit dan bumi di sisi yang berbeda dari peristiwa yang berbeda, dan tidak dibandingkan oleh teksnya. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kata yang sama untuk alam muncul dalam dua suasana, yang satu hampir meledak dan yang lain tidak bergerak. Peristiwa mana dalam hidup pembaca yang membuat seisi ruang di sekelilingnya terasa hampir pecah, dan peristiwa mana yang berlalu tanpa ada satu pun yang menoleh?
- Di 53:43 tertulis bahwa Dialah yang membuat tertawa dan membuat menangis, dan di 53:60 kelompok yang diajak bicara tertawa dan tidak menangis. Ayat pertama menyebut tangis berada dalam kuasa-Nya, dan ayat kedua menyebut tangis yang tidak muncul. Ayat 44:29 menyebut tangis yang tidak muncul pada langit dan bumi, tanpa menyebut siapa yang tidak membuatnya muncul. Pembaca dapat membaca ketiganya berdampingan sambil mengakui bahwa ayat-ayat itu berbeda subjeknya. Bila tangis adalah sesuatu yang dapat tidak datang, apakah pembaca lebih sering menunggu tangis itu datang atau lebih sering menghindarinya?
- Iblis berkata di 15:36, "Tuhanku, maka tangguhkanlah aku sampai hari mereka dibangkitkan", dan di 15:37 jawabannya menyebut Iblis termasuk yang diberi penangguhan. Di 26:203 orang-orang yang melihat azab bertanya, "Apakah kami diberi penangguhan?". Dua ayat itu mencatat permintaan akan waktu tambahan dari dua pihak yang keadaannya berbeda, dan 44:29 mencatat penangguhan yang tidak diterima tanpa menyebut ada permintaan. Pembaca dapat memperhatikan bahwa waktu tambahan dicatat sebagai sesuatu yang diminta, diberikan, atau ditolak, dan bukan sebagai sesuatu yang sudah tersedia. Bila pembaca diberi waktu tambahan sesudah sebuah kesalahan, apa yang diminta pembaca dengan waktu itu?
- Rasul di 44:19 berkata, "Dan janganlah kalian menyombongkan diri terhadap Allah", sedangkan 44:31, dua ayat sesudah 44:29, menyebut Firaun sebagai orang yang sombong. Ayat 44:29 mencatat bahwa bagi kaum yang sama, langit dan bumi tidak menangis. Ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa kesombongan menyebabkan tiadanya tangis, dan hubungan itu terbaca dari urutannya saja. Pembaca dapat membandingkan ukuran besar yang dikejar ketika hidup dengan ukuran yang ditulis sesudahnya. Apakah ada ukuran yang dikejarnya sekarang yang tidak akan pernah muncul dalam kalimat seperti 44:29?
- Di 30:25 tertulis bahwa langit dan bumi berdiri dengan perintah-Nya, dan itu termasuk tanda-tanda-Nya. Ayat 44:29 memakai pasangan yang sama sebagai pelaku, dan kata kerjanya meniadakan tangis. Dua ayat itu dapat dibaca bersama sebagai gambaran tatanan yang terus berdiri sementara sebuah kaum pergi. Pembacaan ini tetap tafsir pembaca, karena 44:29 tidak menyebut berdirinya langit dan bumi. Pembaca yang membayangkan dunia tetap bekerja sesudah kepergiannya dapat menimbang apa yang ditinggalkannya dalam tatanan itu. Apakah ada yang akan menoleh kepada pembaca, atau tatanan itu akan berjalan sama?
- Di 19:58 para nabi yang diberi nikmat oleh Allah, ketika ayat-ayat Ar-Rahman dibacakan kepada mereka, menyungkur sujud dan menangis, dan di 17:107 sampai 17:109 orang-orang yang telah diberi pengetahuan, ketika dibacakan kepada mereka, menyungkurkan wajah seraya menangis. Di kedua tempat itu tangis dicatat sebagai jawaban atas sesuatu yang dibacakan. Ayat 44:29 menyebut tidak ada tangis atas kepergian kaum Firaun, dan tidak menyebut bacaan apa pun yang menyertainya. Perbandingan ini milik pembaca dan tidak dinyatakan oleh teks. Apa yang terakhir kali membuat mata pembaca basah, sesuatu yang dibacakan kepadanya atau sesuatu yang menimpanya sendiri?