مِنْ فِرْعَوْنَ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَالِيًا مِنَ الْمُسْرِفِينَ

dari Firaun. Sesungguhnya dia adalah orang yang sombong lagi termasuk orang-orang yang melampaui batas.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. مِنْ فِرْعَوْنَmin fir'awnadari Firaun
  2. إِنَّهُ كَانَ عَالِيًا مِنَ الْمُسْرِفِينَinnahu kaana 'aaliyan mina l-musrifiinasesungguhnya dia adalah orang yang sombong lagi termasuk orang-orang yang melampaui batas

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. مِنْmindari
  2. فِرْعَوْنَfir'awnaFiraun
  3. إِنَّهُinnahusesungguhnya ia
  4. كَانَkaanaadalah
  5. عَالِيًا'aaliyanyang tinggi
  6. مِنَminadari
  7. الْمُسْرِفِينَl-musrifiinaorang-orang yang melampaui batas

Inti bacaan

Susunan mina l-musrifiina muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 10:83 dan 44:31, dan keduanya menyangkut Firaun.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (مِنْ فِرْعَوْنَ, min fir'awna) yang berarti "dari Firaun". Kalimat itu menyambung 44:30, yang berakhir pada (مِنَ الْعَذَابِ الْمُهِينِ, mina l-'adzaabi l-muhiini) yang berarti "dari azab yang menghinakan". Kata min muncul dua kali berturut-turut di antara dua ayat itu tanpa kata penghubung, sehingga terjemahan menaruh titik sebelum "dari Firaun" dan tidak menambahkan "yaitu" atau "siksaan", karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya. Frasa min fir'awna muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 10:83, 44:31, dan 66:11. Di 10:83 bunyinya (عَلَىٰ خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ, 'alaa khawfin min fir'awna) yang berarti "disertai ketakutan kepada Firaun", dan di 66:11 bunyinya (وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ, wa-najjinii min fir'awna) yang berarti "dan selamatkanlah aku dari Firaun". Kata kerja najjinii di 66:11 satu akar dengan (نَجَّيْنَا, najjaynaa) di 44:30, yaitu ن-ج-و, sehingga "selamat" dan "dari Firaun" bersambung pada kata kerja yang sama di dua tempat, dengan pelaku berbeda: orang yang berdoa di 66:11 dan "Kami" di 44:30.

Kata (عَالِيًا, 'aaliyan) berakar ع-ل-و dan menurut kata per kata berarti "yang tinggi", sedangkan terjemahan memakai "sombong". Bentuk persis 'aaliyan hanya muncul di 44:31. Akar yang sama dipakai di 44:19, dalam (وَأَنْ لَا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ, wa-an laa ta'luu 'alaa llaahi) yang berarti "dan janganlah kalian menyombongkan diri terhadap Allah", kata seorang rasul kepada kaum Firaun yang disebut di 44:17. Karena 44:19 dan 44:31 sama-sama berbicara tentang lingkungan Firaun dan memakai akar yang sama di surah yang sama, terjemahan mengikuti 44:19 dengan "sombong". Akar ini diterjemahkan menurut kalimatnya. Di 10:83, (لَعَالٍ فِي الْأَرْضِ, la-'aalin fii l-ardhi), dan di 28:4, (عَلَا فِي الْأَرْضِ, 'alaa fii l-ardhi), terjemahan memakai "sewenang-wenang" dan keduanya memuat "di bumi", sedangkan 44:31 tidak. Di 23:46, (قَوْمًا عَالِينَ, qawman 'aaliina), terjemahan memakai "kaum yang meninggikan diri". Padanan "sombong" punya batas: 38:75 menaruh (أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ, a-stakbarta am kunta mina l-'aaliina) yang berarti "apakah engkau menyombongkan diri ataukah termasuk golongan yang tinggi" sebagai dua kemungkinan yang dipisahkan oleh am, jadi ع-ل-و dan ك-ب-ر tidak otomatis bermakna sama. Pembaca yang ingin lebih dekat ke akarnya dapat membaca "yang meninggikan diri".

Kata (مِنَ الْمُسْرِفِينَ, mina l-musrifiina) yang berarti "termasuk orang-orang yang melampaui batas" memakai (الْمُسْرِفِينَ, l-musrifiina), bentuk jamak pelaku dari akar س-ر-ف. Bentuk l-musrifiina muncul tujuh kali di tujuh surah, yaitu 6:141, 7:31, 10:83, 21:9, 26:151, 40:43, dan 44:31. Di 6:141 dan 7:31 terjemahan memakai "berlebihan", karena kedua ayat itu berbicara tentang hasil panen, makan, dan minum, dengan larangan (وَلَا تُسْرِفُوا, wa-laa tusrifuu) yang berarti "dan janganlah berlebihan". Di lima ayat lainnya, yaitu 10:83, 21:9, 26:151, 40:43, dan 44:31, terjemahan memakai "melampaui batas". Susunan mina l-musrifiina dengan min yang berarti "termasuk" hanya muncul dua kali, yaitu di 10:83 dan 44:31, dan keduanya menyangkut Firaun. Di 10:83 pernyataan itu berdiri sendiri dengan wa dan lam penegas, (وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ, wa-innahu la-mina l-musrifiina) yang berarti "dan sesungguhnya dia benar-benar termasuk orang-orang yang melampaui batas". Di 44:31 kedua sifat berada dalam satu kalimat tanpa wa, sehingga terjemahan menyambungnya dengan "lagi".

Padanan "melampaui batas" dipakai juga untuk akar lain yang dikenakan kepada Firaun, yaitu ط-غ-ي dalam (إِنَّهُ طَغَىٰ, innahu thaghaa) yang berarti "sesungguhnya dia telah melampaui batas", di 20:24, 20:43, dan 79:17. Dua akar itu berbagi satu padanan Indonesia, jadi pembaca yang ingin membedakannya perlu melihat akarnya. Ayat 28:4 menutup uraian perbuatan Firaun dengan (إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ, innahu kaana mina l-mufsidiina) yang berarti "sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan". Susunan innahu kaana mina muncul dua kali, yaitu di 26:86 dan 28:4, dan 44:31 menyelipkan 'aaliyan di antara kaana dan mina.

Tafsiran

Ayat ini menaruh nama pelaku di ujung rangkaian yang dimulai dari penyelamatan. Ayat 44:30 menyebut Bani Israil dan azab yang menghinakan, lalu 44:31 menyebut Firaun dan menilainya dengan dua sifat. Rangkaian 44:17 sampai 44:29 sebelumnya menuturkan akhir kaum Firaun: kebun, mata air, dan tempat kediaman yang ditinggalkan di 44:25 sampai 44:27, dan langit serta bumi yang tidak menangisi mereka di 44:29. Penilaian atas Firaun karena itu datang sesudah akhir kisahnya, bukan sebelumnya.

Dalam 44:17 sampai 44:33 ucapan Firaun tidak dikutip. Ayat-ayat itu mengutip kata seorang rasul di 44:18 sampai 44:21, seruan rasul itu kepada Tuhannya di 44:22, dan perintah kepadanya di 44:23 sampai 44:24. Gambaran tentang Firaun datang dari luar, lewat dua sifat yang disebut di 44:31. Surah lain mengutip ucapannya sendiri, misalnya (أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ, anaa rabbukumu l-a'laa) di 79:24 yang berarti "Akulah Tuhanmu yang paling tinggi". Kata l-a'laa di sana berakar ع-ل-و, akar yang sama dengan 'aaliyan di 44:31. Dua ayat itu berasal dari dua mulut: di 79:24 Firaun memakai akar itu untuk dirinya, dan di 44:31 akar itu dipakai untuk menilainya.

Ayat ini tidak merinci perbuatan Firaun. Ayat 28:4 menyebut menindas segolongan orang dan menyembelih anak laki-laki, sedangkan 44:31 hanya memberi dua sifat, tanpa menghubungkannya dengan azab di 44:30 selain lewat kata min yang berurutan. Hubungan sebab antara sifat itu dan azab yang menimpa Bani Israil karena itu tidak dinyatakan oleh 44:31 sendiri. Sesudah ayat ini, 44:32 beralih ke apa yang dilakukan atas Bani Israil, sehingga 44:31 berada di engsel antara akhir Firaun dan awal pemilihan itu.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 44:30 menyebut penyelamatan lebih dulu, dan nama Firaun baru muncul di 44:31, sesudah Bani Israil disebut selamat dari azab yang menghinakan. Akibat disebut dahulu, lalu sumbernya diberi nama. Pembaca yang pernah menanggung perlakuan yang merendahkan dapat memperhatikan kapan, dalam ceritanya sendiri, nama pelaku itu mulai terucap, sebelum atau sesudah keadaannya terlepas. Pada 44:30 sampai 44:31, nama itu disebut oleh Allah, pihak yang menurut ayat itu menyelamatkan. Apa yang berubah pada sebuah luka bila namanya baru dapat diucapkan setelah luka itu lepas?
  • Sifat yang dikenakan kepada Firaun di 44:31 satu akar dengan kata yang ia pakai untuk dirinya di 79:24. Satu akar itu keluar dari dua mulut, satu dari Firaun tentang dirinya dan satu dari Allah tentang Firaun. Bila hidup seorang pembaca dicatat dalam dua kalimat, satu dari mulutnya sendiri dan satu dari pihak yang menyebut namanya di akhir cerita, apakah keduanya masih akan memakai akar yang sama?
  • Akar yang menjadi sifat Firaun di 44:31 juga dipakai di 6:141 untuk larangan atas hasil kebun, dalam kalimat yang menyebut bahwa Dia, yang menumbuhkan kebun-kebun itu, tidak mencintai orang-orang yang berlebihan. Dua ayat itu berbeda perkaranya: 44:31 menilai seorang penguasa dengan dua sifat, sedangkan 6:141 berbicara tentang makan dari buah dan memberikan haknya pada hari panen. Satu akar menjangkau keduanya. Apa yang tersisa dari ukuran cukup dalam hidup pembaca bila kata untuk melampauinya sama, baik di istana maupun di sebuah piring?
  • Ayat 44:19 menyebut arah ketinggian itu: (تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ, ta'luu 'alaa llaahi), terhadap Allah. Ayat 44:31 menyebut Firaun 'aaliyan tanpa menyebut terhadap siapa. Sebelas ayat berada di antara keduanya, dan pembaca diberi larangan lebih dulu, lalu gambaran orang yang tinggi sesudahnya. Pembaca dapat bertanya terhadap siapa ketinggian dalam dirinya bekerja: terhadap Allah, terhadap orang yang sedang dilayaninya, atau terhadap dirinya sendiri di masa yang lebih sulit?
  • Doa di 66:11 dibuka dengan (رَبِّ, rabbi), lalu menyebut nama yang sama dengan 44:31: (وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ, wa-najjinii min fir'awna). Di 44:30 sampai 44:31, kerangka itu menjadi cerita Allah: Kami menyelamatkan, dari azab, dari Firaun. Doa di 66:11 meminta penyelamatan dengan menyebut sumber ancamannya. Pembaca yang berdoa dapat memperhatikan apakah doanya menyebut nama atau hanya meminta selamat tanpa menunjuk dari apa, dan apakah menyebut nama itu mengubah isi permintaan?
  • Penilaian atas Firaun datang sesudah kebun, mata air, dan tempat kediaman berpindah ke kaum lain di 44:25 sampai 44:28. Ayat 44:29 menyebut mereka tidak diberi penangguhan, dan penilaian di 44:31 terbaca dalam urutan yang sama, sesudah semua itu. Kedudukan hilang lebih dulu, sifat disebut kemudian. Pembaca dapat membayangkan sebuah kalimat penutup tentang dirinya yang baru ditulis sesudah jabatan, rumah, dan kebunnya berpindah tangan, lalu menimbang sifat apa yang akan terbaca di sana, dan siapa yang menulisnya.