إِنْ هِيَ إِلَّا مَوْتَتُنَا الْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُنْشَرِينَ
“Tidak ada kecuali kematian kita yang pertama, dan kita tidak akan dibangkitkan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنْ هِيَ إِلَّا مَوْتَتُنَا الْأُولَىٰin hiya illaa mawtatunaa l-uulaatidak ada kecuali kematian kita yang pertama
- وَمَا نَحْنُ بِمُنْشَرِينَwa-maa nahnu bi-munsyariinadan kita tidak akan dibangkitkan
Terjemahan per kata (8 kata)
- إِنْintidaklah
- هِيَhiyaia
- إِلَّاillaakecuali
- مَوْتَتُنَاmawtatunaakematian kami
- الْأُولَىٰl-uulaayang pertama
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- نَحْنُnahnukami
- بِمُنْشَرِينَbi-munsyariinaorang-orang yang dibangkitkan
Inti bacaan
Kata (مَوْتَتُنَا, mawtatunaa) muncul satu kali di Al-Qur'an, di 44:35, sedangkan bentuk mawtah dengan huruf ta di ujung hanya tiga kali (37:59, 44:35, 44:56), selalu bersama kata l-uulaa.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنْ هِيَ إِلَّا, in hiya illaa) yang berarti "tidak ada kecuali". Susunan itu terdiri dari in yang berarti "tidak", hiya, kata ganti perempuan tunggal, dan illaa yang berarti "kecuali". Susunan in hiya illaa muncul lima kali di lima surah, yaitu 6:29, 7:155, 23:37, 44:35, dan 53:23, dan kata sesudahnya berbeda di tiap ayat. Di 6:29 dan 23:37 bunyinya (إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا, in hiya illaa hayaatunaa d-dunyaa) yang berarti "tidak ada kecuali kehidupan dunia kita". Di 7:155 bunyinya (إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ, in hiya illaa fitnatuka) yang berarti "itu tidak lain cobaan-Mu", ucapan seorang yang berseru kepada Tuhannya. Di 53:23 bunyinya (إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ, in hiya illaa asmaa'un) yang berarti "itu tidak lain nama-nama". Di 44:35 kata sesudahnya (مَوْتَتُنَا, mawtatunaa) yang berarti "kematian kita". Hiya di 44:35 tidak menunjuk apa pun yang disebut sebelumnya dalam kutipan, sebab kutipan baru dibuka di sini. Terjemahan karena itu melesapkan hiya dan tidak mengisinya dengan "itu" atau "hal itu". Ayat ini juga tidak menyebut apa yang sedang dijawab.
Kata mawtatunaa memakai bentuk mawtah dengan huruf ta di ujung, dan bentuk ini hanya muncul tiga kali di tiga surah: 37:59, 44:35, dan 44:56. Ketiganya disertai (الْأُولَىٰ, l-uulaa) yang berarti "yang pertama". Di 37:59 bunyinya (إِلَّا مَوْتَتَنَا الْأُولَىٰ, illaa mawtatanaa l-uulaa) yang berarti "kecuali kematian kita yang pertama", dan di 44:56 bunyinya (إِلَّا الْمَوْتَةَ الْأُولَىٰ, illaa l-mawtata l-uulaa) yang berarti "kecuali kematian yang pertama". Ayat 44:56 menaruh dua bentuk berdampingan dalam satu kalimat, (الْمَوْتَ, l-mawta) tanpa ta dan l-mawtata dengan ta, dan terjemahan memakai "kematian" untuk keduanya. Kata l-uulaa muncul tujuh belas kali di sebelas surah dalam pemakaian yang beragam, tetapi dengan kata mawtah hanya tiga kali. Ayat 44:35 menyebut "pertama" tanpa menyebut "kedua", dan tidak menjelaskan apa yang dimaksud pembicara dengan hitungan itu. Ayat 40:11, (أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ, amattanaa tsnatayni) yang berarti "Engkau telah mematikan kami dua kali", menghitung dua kali mati, tetapi pembicaranya lain dan keadaannya lain, sehingga tidak dipakai untuk menafsirkan hitungan di 44:35. Kata ganti -naa dan nahnu menunjuk pembicara jamak. Terjemahan memakai "kita" di 44:35, 23:37, dan 37:59, dan "kami" di 6:29.
Kalimat kedua dibuka dengan (وَمَا نَحْنُ, wa-maa nahnu) yang berarti "dan kita tidak", lalu (بِمُنْشَرِينَ, bi-munsyariina) yang berarti "dibangkitkan". Susunan wa-maa nahnu bi- muncul sebelas kali di sebelas surah, yaitu 6:29, 11:53, 12:44, 23:37, 26:138, 34:35, 37:59, 44:35, 45:32, 56:60, dan 70:41. Kata sesudah bi- berbeda-beda. Di 6:29 dan 23:37 kata itu (بِمَبْعُوثِينَ, bi-mab'uutsiina) dengan arti "dibangkitkan", di 26:138, 34:35, dan 37:59 (بِمُعَذَّبِينَ, bi-mu'adzdzabiina) dengan arti "diazab", dan di 56:60 dan 70:41 (بِمَسْبُوقِينَ, bi-masbuuqiina) dengan arti "didahului", dua ayat yang diucapkan oleh pembicara Kami. Kata munsyariina hanya muncul di 44:35. Akarnya ن-ش-ر, dan bentuk kata kerja pola yang sama muncul di tiga ayat lain dengan pelaku yang disebut: (إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ, idzaa syaa'a ansyarahu) yang berarti "apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya" di 80:22, (فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا, fa-anasyarnaa bihi baldatan maytan) yang berarti "lalu, dengan air itu Kami menghidupkan negeri yang mati" di 43:11, dan (يُنْشِرُونَ, yunsyiruuna) yang berarti "mereka menghidupkan" di 21:21. Di 44:35 bentuknya pasif dan pelakunya tidak disebut. Terjemahan memakai "dibangkitkan" seperti untuk mab'uutsiina di 6:29 dan 23:37 dan seperti "membangkitkannya" di 80:22.
Tafsiran
Ayat ini memuat isi kutipan yang dibuka di 44:34, dan terdiri dari dua pernyataan dalam satu kalimat: batas pada kematian pertama, dan penyangkalan kebangkitan. Kerangka kalimatnya sama dengan 6:29 dan 23:37, yang membatasi segala sesuatu pada kehidupan dunia. Di 44:35 batas itu dipasang pada kematian, sehingga kalimat yang sama menutup dari ujung yang lain. Ayat ini tidak memuat alasan, dan 44:36 menyusul dengan tantangan kepada lawan bicara.
Ucapan ini hadir di surah yang sejak awal menyebut peran Dia dalam hidup dan mati. Ayat 44:8 menyatakan (يُحْيِي وَيُمِيتُ, yuhyii wa-yumiitu) yang berarti "Dia menghidupkan dan mematikan". Kalimat di 44:35 menyebut kematian dan kebangkitan, dengan kata dibangkitkan dalam bentuk pasif dan tanpa pelaku, sedangkan 44:8 menyebut Dia sebagai pelaku menghidupkan dan mematikan.
Dua kata yang sama, kematian yang pertama, muncul di tiga tempat dengan lanjutan berbeda. Di 44:35 lanjutannya "dan kita tidak akan dibangkitkan". Di 37:59 lanjutannya "dan kita tidak akan diazab", diucapkan orang yang di 37:55 menengok seorang temannya di tengah neraka. Di 44:56 lanjutannya "dan Dia melindungi mereka dari azab neraka yang menyala-nyala", sebagai keterangan tentang orang-orang bertakwa yang di 44:51 berada di tempat yang aman. Dua kata yang sama itu menopang penyangkalan kebangkitan di satu tempat dan perlindungan dari azab di tempat lain, bergantung pada kalimat yang menyusul. Ketiga ayat tidak saling menafsirkan, karena pembicara dan keadaannya berbeda.
Jawaban atas ucapan ini tidak ada di 44:36, yang berisi tantangan. Sesudah itu 44:37 sampai 44:39 memuat pertanyaan tentang kaum Tubba' dan orang-orang sebelum mereka, lalu pernyataan bahwa langit dan bumi tidak diciptakan dengan main-main.
Renungan dan Hikmah
- Kerangka in hiya illaa dipakai di 6:29 dan 23:37 untuk membatasi dunia pada kehidupan dunia, dan di 44:35 untuk membatasi pada kematian pertama. Kerangka yang sama dapat menutup dari dua ujung. Pembaca dapat mendengarkan kerangka itu dalam kalimatnya sendiri, misalnya tidak ada kecuali pekerjaan ini, tidak ada kecuali kelompok ini, tidak ada kecuali tahun ini, dan memeriksa apa yang ditutup kata kecuali itu. Di 7:155 kerangka yang sama dipakai dalam seruan kepada Tuhan: itu tidak lain cobaan-Mu. Bagian mana dari kehidupan pembaca yang sudah ditutup dengan kata kecuali tanpa pernah diperiksa apa yang tertinggal di luarnya?
- Pembicara di 44:35 menghitung satu kematian, pembicara di 40:11 menghitung dua kali mati dan dua kali hidup, dan 44:8 menyatakan bahwa Dia yang menghidupkan dan mematikan. Tiga hitungan itu tidak disusun berdampingan oleh ayatnya sendiri, tetapi pembaca dapat meletakkannya berdampingan. Kalimat bahwa hidup hanya sekali memuat angka, dan angka itu harus dipegang oleh pihak tertentu. Siapa yang memegang hitungan dalam kalimat seperti itu, dan dari mana diketahui bahwa hitungannya dimulai dari satu?
- Kalimat di 44:35 berbunyi kita tidak akan dibangkitkan, dengan kata kerja pasif dan tanpa pelaku. Di 80:22 kata kerja yang akarnya sama punya pelaku, yaitu Dia yang menghendaki dan membangkitkan, dan di 43:11 pelakunya Kami, yang menghidupkan negeri yang mati dengan air. Pembaca dapat memeriksa kalimat-kalimat pasif dalam ceritanya sendiri, misalnya aku dikecewakan, aku ditinggalkan, aku tidak dihargai, dan bertanya oleh siapa. Ketika pelaku dikembalikan ke dalam kalimat, apakah bunyi kalimat itu masih sama?
- Susunan wa-maa nahnu bi- dipakai orang-orang yang menyangkal di 26:138 dan 34:35 untuk kata kami tidak akan diazab, dan di 6:29, 23:37, serta 44:35 untuk kami tidak akan dibangkitkan. Susunan yang sama dipakai pembicara Kami di 56:60 dan 70:41 dengan kata didahului. Di ayat-ayat yang disebut ini, pernyataan pasti tentang apa yang tidak akan terjadi diucapkan oleh dua jenis pembicara: orang-orang yang menyangkal tentang diri mereka, dan Kami tentang Kami sendiri. Pembaca dapat menghitung berapa kalimat jenis itu yang pernah diucapkannya tentang hal-hal yang berada di luar kendali pembaca, dan apakah ada yang diucapkan sambil menunjuk kepada Dia yang menentukan.
- Ayat 44:35 dibuka dengan hiya, kata ganti yang tidak menunjuk apa pun yang disebut sebelumnya dalam kutipan. Ayat ini hanya memuat jawaban, dan pertanyaan yang menyebabkannya tidak dikutip. Pembaca yang pernah mendengar jawaban orang lain tanpa mendengar pertanyaannya dapat menimbang apakah isinya masih terbaca sama tanpa pertanyaannya. Bila pembaca menceritakan ulang jawaban orang lain, sebagian pertanyaannya ikut dibawa atau tertinggal di tempat semula?
- Ayat 44:35 memakai nahnu dan akhiran -naa, kata ganti pembicara jamak, dan ayat sesudahnya menambahkan aabaa'inaa, nenek moyang kami. Pembicara mengucapkan kalimat atas nama sebuah kelompok. Ayat ini tidak menyebut apakah tiap anggota kelompok itu setuju. Pembaca yang pernah memulai kalimat dengan kita, padahal belum menanyakan kepada tiap orang yang termasuk dalam kata itu, dapat memperhatikan siapa saja yang dimasukkannya, dan apakah ada yang akan menjawab lain bila ditanya satu per satu.