فَأْتُوا بِآبَائِنَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Maka, datangkanlah nenek moyang kami jika kalian orang-orang yang benar.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَأْتُوا بِآبَائِنَاfa-tuu bi-aabaa'inaamaka, datangkanlah nenek moyang kami
  2. إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَin kuntum shaadiqiinajika kalian orang-orang yang benar

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. فَأْتُواfa-tuumaka datangkanlah
  2. بِآبَائِنَاbi-aabaa'inaapada bapak-bapak kami
  3. إِنْinjika
  4. كُنْتُمْkuntumkalian adalah
  5. صَادِقِينَshaadiqiinaorang-orang yang benar

Inti bacaan

Bentuk (بِآبَائِنَا, bi-aabaa'inaa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 44:36 dan 45:25, dan keduanya memuat permintaan yang sama dari para penolak.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَأْتُوا, fa-tuu) yang berarti "maka datangkanlah". Awalan (فَ, fa) berarti "maka" dan menyambung perintah ini dengan pernyataan di 44:35 dalam satu kutipan. Kata kerjanya berakar أ-ت-ي, berbentuk perintah, dan ditujukan kepada beberapa orang. Di ayat ini kata kerja itu disusul huruf (بِ, bi-) yang berarti "dengan", sehingga susunannya terbaca "datang dengan", dan terjemahan memilih "datangkanlah" dengan benda yang diminta langsung sesudahnya. Susunan fa-tuu bi- muncul delapan kali di delapan surah, yaitu 2:23, 3:93, 10:38, 11:13, 21:61, 28:49, 37:157, dan 44:36. Enam dari delapan ayat itu meminta surah atau kitab: (فَأْتُوا بِسُورَةٍ, fa-tuu bi-suuratin) yang berarti "maka datangkanlah satu surah" di 2:23, bunyi yang hampir sama di 10:38, lalu (فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ, fa-'tuu bi-t-tawraati) yang berarti "maka datangkanlah Taurat" di 3:93, dan (فَأْتُوا بِكِتَابِكُمْ, fa-'tuu bi-kitaabikum) yang berarti "maka bawalah kitab kalian" di 37:157. Ayat 11:13 meminta sepuluh surah dan 28:49 meminta sebuah kitab dari sisi Allah.

Dua ayat sisanya meminta orang. Di 21:61 bunyinya (فَأْتُوا بِهِ, fa-'tuu bihi) yang berarti "maka bawalah ia", dan "ia" di sana ialah pemuda bernama Ibrahim yang disebut di 21:60 oleh pihak yang membicarakannya. Di 44:36 yang diminta ialah (بِآبَائِنَا, bi-aabaa'inaa) yang berarti "dengan nenek moyang kami". Kata ini tersusun dari bi- yang berarti "dengan", (آبَائِنَا, aabaa'inaa) yang berarti "nenek moyang kami", dan akhiran -naa yang berarti "kami". Akarnya أ-ب-و. Padanan "nenek moyang" sama dengan yang dipakai untuk aabaa'ukum di 7:71, 12:40, 21:54, dan 53:23, sehingga satu kata Arab mendapat satu padanan di semua ayat itu. Nenek moyang di ayat ini disebut tanpa nama dan tanpa jumlah.

Bentuk aabaa'inaa muncul empat kali di empat surah, yaitu di 23:24, 28:36, 44:36, dan 45:25. Di 23:24 dan 28:36 bunyinya (فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ, fii aabaa'inaa l-awwaliina) yang berarti "pada nenek moyang kami yang terdahulu", dalam ucapan orang-orang yang menolak sesuatu yang baru datang kepada mereka dan berkata bahwa mereka belum pernah mendengarnya pada nenek moyang itu. Di dua ayat itu nenek moyang menjadi tempat mencari apa yang pernah didengar. Di 45:25 bunyinya (ائْتُوا بِآبَائِنَا, iituu bi-aabaa'inaa) yang berarti "datangkanlah nenek moyang kami", sama dengan 44:36 kecuali awalan fa, dan di sana nenek moyang diminta hadir. Empat kemunculan itu semuanya berada dalam ucapan penolak, dan tidak satu pun memuat nenek moyang dalam ucapan pihak lain.

Ayat ini ditutup dengan (إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ, in kuntum shaadiqiina) yang berarti "jika kalian orang-orang yang benar". Susunannya terdiri atas (إِنْ, in) yang berarti "jika", (كُنْتُمْ, kuntum) yang berarti "kalian adalah", dan (صَادِقِينَ, shaadiqiina) yang berarti "orang-orang yang benar". Kata shaadiqiina berakar ص-د-ق dan berbentuk pelaku jamak. Terjemahan memakai "benar" untuk akar ini, seperti pada (مَقْعَدِ صِدْقٍ, maq'adi shidqin) yang berarti "tempat kedudukan yang benar" di 54:55. Susunan in kuntum shaadiqiina muncul dua puluh delapan kali di dua puluh surah, yaitu 2:23, 2:31, 2:94, 2:111, 3:93, 3:168, 3:183, 6:40, 6:143, 7:194, 10:38, 10:48, 11:13, 21:38, 27:64, 27:71, 28:49, 32:28, 34:29, 36:48, 37:157, 44:36, 45:25, 46:4, 49:17, 56:87, 62:6, dan 67:25. Jumlah surahnya lebih kecil karena Surah 2 memuatnya empat kali, Surah 3 tiga kali, dan Surah 6, 10, serta 27 masing-masing dua kali. Tujuh dari delapan ayat dengan fa-tuu bi- menutup dengan susunan ini, dan satu yang tidak, yaitu 21:61, menutup dengan harapan agar mereka menyaksikan.

Tafsiran

Ayat ini menutup kutipan yang dibuka di 44:34 dengan satu perintah dan satu syarat. Ayat 44:34 mengantar kutipan, ayat 44:35 memuat dua pernyataan penolak, yaitu tidak ada kecuali kematian pertama dan mereka tidak akan dibangkitkan, lalu ayat 44:36 meminta agar nenek moyang mereka didatangkan. Tanda kutip tertutup di akhir ayat ini, dan 44:37 kembali pada suara yang berkata Kami. Di 44:5 suara itu menyebut dirinya yang mengutus, dan 44:6 menyebut pengutusan itu rahmat dari Tuhanmu.

Kalimat yang sama muncul di 45:25 dan di sana ayatnya menamai kalimat itu (حُجَّتَهُمْ, hujjatahum) yang berarti "hujah mereka", sesudah tanda-tanda yang jelas dibacakan kepada mereka. Ayat 45:26 menjawab dengan perintah "Katakanlah" dan tiga kata kerja: Allah menghidupkan kalian, mematikan kalian, lalu mengumpulkan kalian pada hari kiamat. Jawaban itu tidak menyebut nenek moyang didatangkan. Ayat 44:36 sendiri tidak diikuti jawaban dalam bentuk itu, karena 44:37 mengajukan pertanyaan tentang kaum Tubba' dan orang-orang sebelum mereka.

Surah 44 sudah menyebut nenek moyang di 44:8. Di sana Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia disebut Tuhan kalian serta Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu. Ayat 44:36 membawa nenek moyang ke dalam kalimat tentang kematian, sedangkan 44:8 menaruh nenek moyang di kalimat tentang Tuhan yang menghidupkan dan mematikan. Kata gantinya berbeda, yaitu "kalian" di 44:8 dan "kami" di 44:36.

Ayat ini tidak mengatakan apakah nenek moyang itu dapat didatangkan, dan tidak mengatakan apa yang akan dilakukan penolak bila itu terjadi. Waktu bagi mereka semuanya baru disebut di 44:40.

Renungan dan Hikmah

  • Dari delapan ayat dengan perintah mendatangkan, enam meminta surah atau kitab, yaitu benda yang dapat dijawab dengan keterangan. Ayat 44:36 meminta nenek moyang, dan bentuk pembuktian itu sudah ditentukan peminta sebelum jawaban apa pun diberikan. Pembaca yang pernah berkata "tunjukkan buktinya" dapat memeriksa apakah bukti yang dimintanya masih terbuka bagi keterangan, atau sudah dipatok sedemikian rupa sehingga jawaban lain pasti ditolak. Ayat 45:26 menjawab tuntutan yang sama dengan menyebut Allah menghidupkan, mematikan, dan mengumpulkan, tanpa menghadirkan siapa pun. Apakah pembaca sanggup menerima jawaban yang bentuknya berbeda dari bentuk permintaannya?
  • Syarat jika kalian orang-orang yang benar dipakai penolak di 44:36 dan 45:25, sedangkan di 3:93, 10:38, 11:13, dan 28:49 syarat yang sama mengikuti perintah Katakanlah dan ditujukan kepada pihak yang membantah. Satu susunan kalimat dapat dipakai oleh kedua pihak dalam perdebatan yang sama. Pembaca yang biasa mengajukan syarat itu kepada lawan bicara dapat membayangkan kalimat yang sama diarahkan kepada dirinya sendiri, lalu memperhatikan jawaban apa yang tersedia untuknya. Syarat yang hanya berani diucapkan ke satu arah mungkin belum diuji pada pengucapnya. Apa yang tersisa dari tuntutan itu bila pengucapnya diminta menjawab dengan ukuran yang sama?
  • Di 23:24 dan 28:36 nenek moyang menjadi ukuran yang dipakai penolak untuk menilai hal baru yang didengarnya, dan di 44:36 serta 45:25 nenek moyang menjadi saksi yang diminta hadir. Dalam keempat ayat itu ukuran dan saksi dipilih oleh penolak sendiri. Ayat 44:8 menyebut Dia sebagai Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu. Bila nenek moyang yang diminta di 44:36 termasuk di antara mereka, orang-orang yang diminta hadir itu berada di bawah Tuhan yang sama dengan Tuhan para peminta. Pembaca dapat menanyai dirinya tentang siapa yang diangkatnya menjadi ukuran dan saksi atas sesuatu yang baru didengarnya, dan apakah mereka yang dipanggil itu ikut menjawab kepada Tuhan yang ditolaknya.
  • Ayat 44:35 menyatakan mereka tidak akan dibangkitkan, lalu 44:36 meminta nenek moyang didatangkan. Dapat dibaca bahwa permintaan itu sudah mengandaikan hal yang disangkal sebelumnya, karena orang yang telah mati dapat hadir kembali bila ada yang menghidupkannya. Ayat 44:8 menyebut Dia menghidupkan dan mematikan, jadi hal yang diminta dari lawan bicara itu menurut ayat tersebut berada di tangan-Nya. Pembaca yang menuntut bukti dapat memeriksa tuntutannya sendiri: bila bukti itu diberikan sesuai permintaannya, apakah bukti itu membenarkan hal yang sedang ditolaknya? Dan bila jawabannya ya, apa lagi yang masih menahan penolakan itu?
  • Ayat 45:25 menaruh tuntutan ini sesudah tanda-tanda yang jelas dibacakan kepada mereka, dan menyebutnya hujah mereka. Tanda-tanda itu berisi keterangan, sedangkan tanggapan yang tercatat berupa permintaan akan hal lain. Pembaca yang pernah mendengarkan penjelasan panjang lalu menanggapinya dengan "coba hadirkan ini dulu" dapat memeriksa apakah tanggapan itu menyentuh isi penjelasan atau menggeser perhatian ke tempat lain. Tanggapan yang tidak menyentuh isi mungkin terasa seperti jawaban bagi pengucapnya, padahal pertanyaan yang dibawa tanda-tanda itu masih berdiri di tempatnya. Apakah tanggapan pembaca sendiri, bila dicatat apa adanya, menjawab isi penjelasan itu?
  • Ayat 44:36 tidak diikuti kalimat yang menolak atau memenuhi permintaan nenek moyang itu. Ayat 44:37 mengajukan pertanyaan tentang kaum lain yang sudah dibinasakan oleh Kami, suara yang di 44:5 menyebut dirinya mengutus dan di 44:6 menyebut pengutusan itu rahmat dari Tuhanmu. Tuntutan yang berbentuk "datangkan ini" dijawab dengan "lihat yang sudah terjadi". Pembaca yang menerima tuntutan serupa dapat memperhatikan bahwa sebuah jawaban tidak selalu berada pada titik yang ditunjuk penanya, dan kadang berada pada peristiwa yang lebih dulu ada tetapi belum dilihat. Peristiwa lama apa yang ada di dekat pembaca dan belum pernah dihitung sebagai jawaban?