Ayat 44:43
إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ
Sesungguhnya pohon zaqqum,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِinna syajarata z-zaqquumisesungguhnya pohon zaqqum
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- شَجَرَتَsyajaratapohon
- الزَّقُّومِz-zaqquumizaqqum
Inti bacaan
Tulisan (شَجَرَتَ, syajarata) dijumpai dua kali dalam mushaf, yaitu di 44:43 dan 56:72.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya", tanpa huruf sambung seperti (وَ, wa) atau (فَ, fa) di depannya. Ayat 44:40 juga dibuka dengan inna, (إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ مِيقَاتُهُمْ أَجْمَعِينَ, inna yawma l-fashli miiqaatuhum ajma'iina) yang berarti "sesungguhnya hari keputusan adalah waktu yang ditetapkan bagi mereka semuanya", dan kalimatnya selesai di ayat itu juga. Di 44:43 yang menyusul inna hanya sebuah nama, sedangkan sisa kalimatnya datang di 44:44, sehingga terjemahan menutup ayat ini dengan koma dan tidak menambahkan kata "adalah" di sini.
Kata (شَجَرَتَ, syajarata) yang berarti "pohon" berakar ش-ج-ر. Bentuk persis ini muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 44:43 dan 56:72. Di 56:72 bunyinya (أَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا, ansya'tum syajaratahaa) yang berarti "kalian yang menumbuhkan pohonnya", dan pohon itu terhubung dengan api yang disebut di 56:71, (النَّارَ الَّتِي تُورُونَ, n-naara llatii tuuruuna) yang berarti "api yang kalian nyalakan". Frasa yang sama dengan 44:43 ditulis dengan ujung kata yang berbeda di 37:62, (شَجَرَةُ الزَّقُّومِ, syajaratu z-zaqquumi) yang berarti "pohon zaqqum". Perbedaan ujung kata itu tidak membawa kata Indonesia tambahan, jadi terjemahan memakai "pohon zaqqum" di kedua tempat.
Kata (الزَّقُّومِ, z-zaqquumi) berakar ز-ق-م dan disebut tiga kali di tiga surah, yaitu di 37:62, 44:43, dan 56:52. Di 56:52 bunyinya (لَآكِلُونَ مِنْ شَجَرٍ مِنْ زَقُّومٍ, la-aakiluuna min syajarin min zaqquumin) yang berarti "pasti memakan dari pohon, dari zaqqum". Kata ini tidak diterangkan artinya oleh ayat mana pun, sedangkan pohonnya diterangkan. Ayat 37:64 menyebutnya (تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ, takhruju fii ashli l-jahiimi) yang berarti "keluar dari dasar neraka yang menyala-nyala", dan 37:65 menyebut mayangnya (طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ, thal'uhaa ka-annahu ru'uusu sy-syayaathiini) yang berarti "mayangnya seperti kepala-kepala setan". Di 37:63 pohon itu disebut (فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ, fitnatan li-zh-zhaalimiina) yang berarti "cobaan bagi orang-orang yang zalim", dan terjemahan 44:43 tidak memuat kata "cobaan" karena ayat ini tidak memuatnya. Karena itu terjemahan memindahkan bunyi zaqqum apa adanya dan tidak menggantinya dengan nama tumbuhan lain, sebab nama lain akan menyatakan jenis pohon yang tidak diberikan ayat mana pun.
Kata zaqqum di 44:43 memakai kata sandang al-, (الزَّقُّومِ, z-zaqquumi), sedangkan di 56:52 kata itu tanpa kata sandang, (زَقُّومٍ, zaqquumin). Terjemahan tidak menambahkan "itu" pada keduanya, sebab Arabnya tidak memuat kata penunjuk, dan 37:62 pun diterjemahkan "pohon zaqqum" tanpa "itu".
Tafsiran
Ayat ini memindahkan surah dari hari keputusan ke satu benda bernama, dan tidak ada huruf sambung yang menghubungkan keduanya. Ayat 44:42 ditutup dengan Allah dan dua nama-Nya, lalu 44:43 langsung menyebut sebuah pohon. Sejak ayat ini sampai 44:50 surah menuturkan satu urutan yang bersambung, yaitu pohon di 44:43, makanan orang yang banyak berdosa di 44:44, cairan logam yang mendidih di perut di 44:45, air yang mendidih di 44:46, perintah menangkap dan menyeret di 44:47, perintah menuangkan di 44:48, kata "rasakanlah" di 44:49, dan penutup (مَا كُنْتُمْ بِهِ تَمْتَرُونَ, maa kuntum bihi tamtaruuna) yang berarti "apa yang dahulu kalian ragukan" di 44:50. Ayat 44:43 membuka urutan itu dengan unsur pertamanya.
Di dua surah lain nama pohon ini datang bersama pertanyaan atau sapaan. Di 37:62 nama itu hadir dalam pertanyaan, (أَذَٰلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ, a-dzaalika khayrun nuzulan am syajaratu z-zaqquumi) yang berarti "apakah itu lebih baik sebagai jamuan, ataukah pohon zaqqum", dan keterangannya menyusul pada ayat sesudahnya. Di 56:52 nama itu datang kepada kelompok yang disapa di 56:51, (إِنَّكُمْ أَيُّهَا الضَّالُّونَ الْمُكَذِّبُونَ, innakum ayyuhaa dh-dhaalluuna l-mukadzdzibuuna) yang berarti "sesungguhnya kalian, wahai orang-orang yang sesat lagi mendustakan", dan keterangannya juga langsung menyusul. Di 44:43 tidak ada pertanyaan dan tidak ada sapaan, dan keterangannya menyusul di 44:44 sampai 44:46. Di 44:43 nama pohon berdiri sendiri, dan 44:44 menjawab apa pohon itu bagi siapa.
Siapa yang menjadikan pohon itu tidak tertulis di 44:43. Ayat 37:63 memuat kata kerja dengan pelaku Kami, (إِنَّا جَعَلْنَاهَا, innaa ja'alnaahaa) yang berarti "sesungguhnya Kami menjadikannya", tetapi kalimat itu milik surah 37 dan tidak diulang di surah 44. Ayat 44:43 hanya memperkenalkan pohon itu, dan penyebutan tujuan, pemilik, serta rasanya diserahkan pada ayat-ayat sesudahnya.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini berhenti sesudah satu nama dan belum memuat kata kerja atau keterangan apa pun. Pembaca yang mendengar "sesungguhnya pohon zaqqum" harus menunggu satu ayat untuk mengetahui apa yang dikatakan tentang pohon itu. Rentang tunggu itu memperlihatkan seberapa cepat pembaca menyusun kesimpulan sendiri, misalnya tentang rasa, bentuk, atau tempat tumbuhnya, sebelum 44:44 tiba. Kesimpulan apa yang sudah terbentuk di benak pembaca pada tanda koma ini, dan dari ayat mana kesimpulan itu diambil?
- Ayat 44:42 ditutup dengan dua nama bagi Allah, Sang Digdaya dan Sang Pengasih, lalu 44:43 dibuka dengan satu nama lain, yaitu pohon zaqqum. Pembaca yang membawa ingatan dari ayat-ayat lain mendengar nama pertama dengan banyak ingatan yang menyertainya, sedangkan nama kedua hanya terdapat di tiga ayat, yaitu 37:62, 44:43, dan 56:52, dan datang dengan ingatan yang jauh lebih sedikit. Kedua nama itu berurutan tanpa huruf sambung. Bagaimana pembaca membedakan nama yang membawa banyak ingatan dari nama yang membawa sedikit, dan apa yang terjadi pada ayat ini bila ingatan itu tidak ada?
- Nama pohon ini muncul di surah 37, 44, dan 56, jadi pembaca yang bertemu dengannya untuk kali kedua atau ketiga membawa gambaran dari pertemuan sebelumnya, misalnya dasar neraka yang menyala-nyala di 37:64, tanpa diminta oleh 44:43. Ayat ini tidak mengulang gambaran itu. Satu nama dapat membawa lebih banyak isi daripada yang tertulis di ayat tempat nama itu muncul. Ketika nama itu muncul di sini, mana yang lebih banyak mengisi pikiran pembaca, kata-kata ayat ini atau ingatan dari ayat yang lain?
- Di 37:62 nama pohon ini hadir dalam pertanyaan kepada pendengar, dan di 56:51 kepada kelompok yang disapa dengan kata kalian. Di 44:43 tidak ada pertanyaan dan tidak ada kata kalian, sehingga pembaca mendengar nama itu tanpa dipanggil. Pembaca dapat memperhatikan perbedaan antara mendengar kabar yang ditujukan kepadanya dan mendengar kabar yang dilewatkan di depannya, sebab keduanya menuntut sikap yang berlainan dari pendengarnya. Pada 37:62 pendengar diminta memilih, di 56:51 pendengar diberi gelar, dan di 44:43 pendengar hanya diberi nama sebuah pohon. Pada ayat ini, di posisi mana pembaca berdiri?
- Ayat 44:42 menuliskan pelakunya dengan jelas, yaitu Allah yang memberi rahmat, sedangkan 44:43 tidak menuliskan pelaku apa pun karena ayatnya hanya berisi satu nama. Pembaca yang terbiasa menjawab "siapa yang melakukan ini" pada setiap kalimat akan mendapati kolom itu kosong di sini, dan ayat berikutnya pun menyebut pemilik makanan dan bukan pelaku. Kekosongan itu memperlihatkan bahwa tidak setiap ayat dalam rangkaian ini menaruh pelaku di depan. Jawaban apa yang dipasang pembaca di kolom itu, dan ayat mana yang mendukung jawaban tersebut?
- Ayat 44:42 menyebut orang yang diberi rahmat oleh Allah, dan 44:43 menyebut sebuah pohon, bersebelahan tanpa huruf sambung. Ayat 44:44 baru menyebut pemilik makanannya, orang yang banyak berdosa, dan tidak menyebut bahwa orang itu berseberangan dengan orang yang dirahmati. Pembaca yang menarik garis dari 44:42 ke 44:44 sedang melangkah lebih jauh dari tulisan itu. Apa yang menopang garis tersebut selain kedekatan letak kedua ayat?
Ayat 44:44
طَعَامُ الْأَثِيمِ
adalah makanan orang yang banyak berdosa,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- طَعَامُ الْأَثِيمِtha'aamu l-atsiimiadalah makanan orang yang banyak berdosa
Terjemahan per kata (2 kata)
- طَعَامُtha'aamumakanan
- الْأَثِيمِl-atsiimiyang banyak berdosa
Inti bacaan
Kata (أَثِيم, atsiim) dalam semua bentuknya muncul tujuh kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:276, 4:107, 26:222, 44:44, 45:7, 68:12, dan 83:12.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari dua kata. Kata pertama, (طَعَامُ, tha'aamu) yang berarti "makanan", berakar ط-ع-م dan dalam bentuk persis ini muncul lima kali di tiga surah, yaitu di 2:184, 5:5, 5:95, 5:96, dan 44:44. Di 2:184, 5:5, dan 5:95 kata itu langsung diikuti pemilik makanannya, yaitu (طَعَامُ مِسْكِينٍ, tha'aamu miskiinin) yang berarti "makanan seorang miskin", (طَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ, tha'aamu lladziina uutuu l-kitaaba) yang berarti "makanan orang-orang yang diberi Kitab", dan (طَعَامُ مَسَاكِينَ, tha'aamu masaakiina) yang berarti "makanan orang-orang miskin". Di 44:44 pemiliknya adalah (الْأَثِيمِ, l-atsiimi). Susunan dengan pemilik orang miskin muncul pula di 69:34, 89:18, dan 107:3 dalam bentuk (عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ, 'alaa tha'aami l-miskiini) yang berarti "pada makanan orang miskin", dan ketiga ayat itu sama-sama memuat penolakan untuk mendorong memberi makan.
Kata makanan dipakai di tiga ayat lain untuk makanan di tempat azab, yaitu 69:36, 73:13, dan 88:6. Di 69:36 bunyinya (وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ, wa-laa tha'aamun illaa min ghisliinin) yang berarti "dan tidak ada makanan kecuali dari nanah", di 73:13 (وَطَعَامًا ذَا غُصَّةٍ, wa-tha'aaman dzaa ghushshatin) yang berarti "dan makanan yang menyumbat kerongkongan", dan di 88:6 (لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ, laysa lahum tha'aamun illaa min dharii'in) yang berarti "tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon berduri". Ketiganya menerangkan makanan itu dari bahannya atau akibatnya. Di 69:37 pemakannya disebut dengan kata lain, (الْخَاطِئُونَ, l-khaathi'uuna) yang berarti "para pendosa". Di 44:44 makanan itu diterangkan dari pemakannya.
Pohon yang sama disebut dengan kata lain di dua ayat, yaitu (نُزُلًا, nuzulan) di 37:62 dan (نُزُلُهُمْ, nuzuluhum) di 56:56, dan keduanya diterjemahkan "jamuan". Kata nuzul muncul delapan kali di enam surah, yaitu di 3:198, 18:102, 18:107, 32:19, 37:62, 41:32, 56:56, dan 56:93. Di tiga ayat di antaranya, yaitu 3:198, 18:107, dan 32:19, kata itu menyebut apa yang disediakan bagi orang yang bertakwa atau beriman. Ayat 44:44 tidak memakai kata itu. Kata yang dipilih adalah kata makanan, yang juga dipakai untuk makanan yang diatur hukumnya di 2:184 dan 5:5.
Kata kedua, (الْأَثِيمِ, l-atsiimi), berakar ا-ث-م dan diterjemahkan "orang yang banyak berdosa". Kata (أَثِيم, atsiim) dalam semua bentuknya muncul tujuh kali di tujuh surah, yaitu di 2:276, 4:107, 26:222, 44:44, 45:7, 68:12, dan 83:12. Di enam ayat selain 44:44 kata itu jatuh sesudah sifat lain, yaitu (كَفَّارٍ أَثِيمٍ, kaffaarin atsiimin) di 2:276, (خَوَّانًا أَثِيمًا, khawwaanan atsiiman) di 4:107, (أَفَّاكٍ أَثِيمٍ, affaakin atsiimin) di 26:222 dan 45:7, serta (مُعْتَدٍ أَثِيمٍ, mu'tadin atsiimin) di 68:12 dan 83:12. Di 44:44 kata itu berdiri sendiri dengan kata sandang al-, tanpa sifat lain di depannya. Terjemahan "banyak berdosa" sama dengan yang dipakai di 26:222 dan 45:7. Ayat ini tidak merinci dosa yang dimaksud dan tidak menyamakan sebutan itu dengan (مُجْرِمِينَ, mujrimiina) di 44:37, kata lain yang diterjemahkan "pendosa".
Arab ayat ini tidak memuat kata kerja. Kata "adalah" dalam terjemahan menyambungkannya dengan 44:43, (إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ, inna syajarata z-zaqquumi) yang berarti "sesungguhnya pohon zaqqum", sebab dua frasa benda yang berdampingan dalam bahasa Indonesia membutuhkan penghubung agar terbaca sebagai satu kalimat.
Tafsiran
Ayat ini menyelesaikan kalimat yang dibuka di 44:43, bahwa pohon zaqqum adalah makanan orang yang banyak berdosa. Sesudah satu ayat yang hanya berisi nama, ayat ini memberi nama itu dua keterangan sekaligus, yaitu bahwa pohon itu dimakan dan siapa pemakannya. Rincian tentang apa yang terjadi sesudah dimakan baru datang di 44:45 dan 44:46.
Di 69:30 sampai 69:37 keterangan tentang orang dan keterangan tentang makanannya tersusun berurutan. Ayat 69:33 dan 69:34 menyebut orang itu tidak beriman kepada Allah Sang Agung dan tidak mendorong memberi makan orang miskin, lalu 69:36 dan 69:37 menyebut makanannya dan pemakannya. Di 44:44 tidak ada keterangan tentang orang itu yang mendahului atau menyusul, dan sebutan pemakan berdiri sendiri. Ayat 56:51 menyebut pemakan pohon yang sama dengan sebutan lain lagi, (الضَّالُّونَ الْمُكَذِّبُونَ, dh-dhaalluuna l-mukadzdzibuuna) yang berarti "orang-orang yang sesat lagi mendustakan". Tiga ayat itu memakai tiga sebutan berbeda untuk pemakan di tempat azab, yaitu para pendosa di 69:37, orang yang sesat lagi mendustakan di 56:51, dan orang yang banyak berdosa di 44:44, dan ayat-ayat itu tidak menyamakan golongannya.
Perintah di 44:47, (خُذُوهُ, khudzuuhu) yang berarti "tangkaplah dia", memakai kata ganti tunggal. Dapat dibaca bahwa kata ganti itu menunjuk pemakan yang disebut di 44:44, sebab ayat 44:43 sampai 44:46 tidak memperkenalkan tokoh lain. Dengan bacaan itu, sebutan umum "orang yang banyak berdosa" di ayat 44:44 berubah menjadi seorang yang diperintahkan untuk ditangkap di ayat 44:47. Ayat 44:49 kemudian menyapa orang yang dihukum itu dengan kata tunggal juga, (ذُقْ, dzuq) yang berarti "rasakanlah".
Renungan dan Hikmah
- Di 44:44, 2:184, dan 5:5 kata makanan datang bersama sebuah nama yang menjawab pertanyaan makanan siapa, yaitu orang yang banyak berdosa, seorang miskin, dan orang-orang yang diberi Kitab. Pembaca yang membawa pertanyaan itu ke meja makannya sendiri dapat memperhatikan atas nama siapa makanan yang disantapnya setiap hari tercatat, apakah atas nama tamu, orang miskin, atau namanya sendiri. Ayat ini menaruh pemilik di belakang kata makanan, sehingga pembaca mendengar nama pemiliknya sesudah mendengar bendanya. Makanan di meja pembaca saat ini disebut makanan siapa?
- Ayat 69:34, 89:18, dan 107:3 menyebut makanan orang miskin dalam kalimat penolakan untuk mendorong memberi makan, dan 69:33 menyebut orang yang sama tidak beriman kepada Allah Sang Agung. Di 44:44 makanan disandarkan pada pemilik lain, yaitu orang yang banyak berdosa. Ayat-ayat itu tidak menghubungkan kedua pemilik tersebut, sehingga hubungan di antara keduanya tidak tertulis. Kata makanan membawa dua pemilik yang berhadapan dalam kata yang sama, yang satu tidak diberi makan dan yang lain disebut sebagai pemilik pohon. Di bagian mana dari dua pemilik itu perhatian pembaca berhenti ketika membaca kata makanan?
- Surah yang sama memuat makanan bagi pihak lain. Ayat 44:55 menuturkan orang-orang yang bertakwa, (يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ, yad'uuna fiihaa bi-kulli faakihatin) yang berarti "mereka meminta di dalamnya segala macam buah-buahan", dan 44:57 menyebut keadaan itu karunia dari Tuhanmu. Makanan di 44:44 disebut lewat pemiliknya, sedangkan buah di 44:55 disebut lewat tindakan meminta, dan 44:44 tidak memuat permintaan apa pun. Pembaca dapat membandingkan dua ayat itu sebagai dua cara makanan sampai kepada pemakannya. Apa yang berbeda pada hubungan antara pemakan dan makanannya di dua ayat itu?
- Terjemahan memakai "banyak berdosa", sebuah sebutan yang menandai kadar, dan ayat tidak merinci dosa-dosa yang dimaksud maupun berapa jumlahnya. Pembaca yang menimbang dirinya dengan sebutan itu sedang membawa ukuran yang tidak tertulis di sini. Ukuran bagi kata "banyak" tidak diberikan oleh 44:43 maupun 44:45, dua ayat yang mengapitnya. Dengan ukuran apa pembaca menghitung kata "banyak" bagi dirinya, dan ayat mana yang menjadi sumber ukuran itu?
- Ayat ini menyebut pemakan sebelum rasa. Rasa makanan itu baru diumpamakan di 44:45, sedangkan di 44:44 pembaca hanya diberi tahu milik siapa pohon itu. Orang yang lebih dulu ingin mengetahui seperti apa rasanya dituntun ayat ini untuk mengetahui siapa yang memakannya. Urutan itu mengubah arah pertanyaan, dari benda ke manusia. Pertanyaan mana yang lebih dulu muncul pada pembaca ketika mendengar sebuah makanan disebut, seperti apa rasanya atau siapa yang memakannya?
- Ayat 37:62 dan 56:56 menyebut pohon yang sama dengan kata nuzul, "jamuan", sedangkan 44:44 memakai kata makanan. Kata nuzul dipakai juga di 3:198 untuk apa yang disediakan bagi orang bertakwa, (نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ, nuzulan min 'indi llaahi) yang berarti "sebagai jamuan dari sisi Allah". Kata jamuan membawa gambaran tuan rumah dan tamu, sedangkan kata makanan tidak membawa gambaran itu, dan 44:44 tidak menyebut tuan rumah mana pun. Siapa yang dibayangkan pembaca menyajikan makanan itu, dan dari kata apa gambaran tersebut datang?
Ayat 44:45
كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ
seperti cairan logam yang mendidih di dalam perut,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِka-l-muhli yaghlii fii l-buthuuniseperti cairan logam yang mendidih di dalam perut
Terjemahan per kata (4 kata)
- كَالْمُهْلِka-l-muhliseperti cairan logam
- يَغْلِيyaghliimendidih
- فِيfiidalam
- الْبُطُونِl-buthuuniperut
Inti bacaan
Akar غ-ل-ي terdapat dalam seluruh mushaf pada (يَغْلِي, yaghlii) di 44:45 dan (كَغَلْيِ, ka-ghalyi) di 44:46, masing-masing sekali.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (كَالْمُهْلِ, ka-l-muhli) yang berarti "seperti cairan logam", yaitu awalan (كَ, ka) yang berarti "seperti" ditambah kata sandang dan kata (مُهْلِ, muhli). Bentuk persis ini muncul tiga kali di tiga surah, yaitu di 18:29, 44:45, dan 70:8. Di 18:29 bunyinya (بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ, bi-maa'in ka-l-muhli yasywii l-wujuuha), dan di 70:8 (يَوْمَ تَكُونُ السَّمَاءُ كَالْمُهْلِ, yawma takuunu s-samaa'u ka-l-muhli). Di ketiga ayat itu muhl hadir sebagai pembanding bagi air, langit, dan apa yang mendidih di perut. Tidak ada ayat yang menerangkan bahan muhl, sehingga "cairan" dan "logam" adalah pilihan terjemahan, dan kata "cairan" mendapat dukungan dari 18:29 yang menyandingkan muhl dengan air. Terjemahan memakai "logam" tanpa nama jenisnya. Kata "tembaga" sudah dipakai untuk dua kata Arab lain, yaitu (قِطْرًا, qithran) di 18:96 dan (نُحَاسٌ, nuhaasun) di 55:35, sehingga memakainya juga untuk muhl akan menyamakan tiga kata Arab yang berbeda.
Kata kerja (يَغْلِي, yaghlii) yang berarti "mendidih" berakar غ-ل-ي. Akar ini hanya ada di dua ayat berurutan, yaitu kata kerja di 44:45 dan (كَغَلْيِ, ka-ghalyi) yang berarti "seperti mendidihnya" di 44:46. Kata kerja itu menyusul muhl langsung tanpa kata penghubung, sama seperti (يَشْوِي, yasywii) di 18:29 yang menyusul muhl pula, dan terjemahan memakai "yang" untuk keduanya, yaitu "yang mendidih" dan "yang menghanguskan". Ayat 44:46 juga dibuka dengan awalan (كَ, ka), (كَغَلْيِ الْحَمِيمِ, ka-ghalyi l-hamiimi), sehingga 44:45 dan 44:46 berupa dua perumpamaan berurutan yang masing-masing dibuka dengan "seperti".
Frasa (فِي الْبُطُونِ, fii l-buthuuni) yang berarti "di dalam perut" memakai bentuk jamak dari kata perut, sedangkan terjemahan memakai "perut" tanpa penanda jamak, seperti di 37:66 dan 56:53, (فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ, fa-maali'uuna minhaa l-buthuuna) yang berarti "lalu memenuhi perut darinya". Kata (الْبُطُونِ, l-buthuuni) dalam semua bentuk akhirannya muncul tiga kali di tiga surah, yaitu di 37:66, 44:45, dan 56:53. Di dua ayat lainnya perut adalah tempat yang diisi, dan di 44:45 perut adalah tempat sesuatu mendidih. Frasa (فِي بُطُونِهِمْ, fii buthuunihim) yang berarti "di dalam perut mereka" muncul tiga kali di tiga surah, yaitu di 2:174, 4:10, dan 22:20. Di 2:174 dan 4:10 perut menjadi tempat api, sedangkan di 22:20 perut menjadi tempat yang diluluhkan, (يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ, yusharu bihi maa fii buthuunihim) yang berarti "dengan itu diluluhkan apa yang ada dalam perut mereka".
Tafsiran
Ayat ini menjawab apa yang terjadi pada makanan yang di 44:44 dimiliki orang yang banyak berdosa. Jawabannya berupa sebuah perumpamaan dan sebuah tempat, yaitu seperti cairan logam yang mendidih, di dalam perut. Dari 44:43 sampai 44:45 gambarannya bergerak dari nama pohon, ke pemakannya, lalu ke bagian dalam tubuh pemakan itu.
Perumpamaan kedua datang di 44:46, (كَغَلْيِ الْحَمِيمِ, ka-ghalyi l-hamiimi) yang berarti "seperti mendidihnya air yang sangat panas". Ayat 44:45 membandingkan makanan itu dengan sebuah benda yang mendidih, dan 44:46 dengan gerak mendidihnya sebuah air. Di 37:67 dan 56:54 air yang mendidih hadir sebagai tambahan sesudah perut terisi, (لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ, la-syawban min hamiimin) yang berarti "campuran dari air mendidih" dan (فَشَارِبُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْحَمِيمِ, fa-syaaribuuna 'alayhi mina l-hamiimi) yang berarti "lalu meminum di atasnya air yang mendidih". Di 44:45 sampai 44:48 urutannya berbeda. Mendidih di dalam perut disebut lebih dulu, air mendidih muncul sebagai pembanding di 44:46, dan baru di 44:48 air itu dituangkan, (ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ, tsumma shubbuu fawqa ra'sihi min 'adzaabi l-hamiimi) yang berarti "kemudian tuangkanlah di atas kepalanya azab berupa air yang mendidih".
Ayat 2:174 dan 4:10 menaruh api di perut sesudah perbuatan yang disebut lebih dulu dalam ayat yang sama, yaitu menyembunyikan apa yang diturunkan Allah dan memakan harta anak yatim secara zalim. Ayat 44:45 tidak memuat perbuatan semacam itu. Sebutan tentang pemakannya sudah muncul di 44:44, dan ayat ini mengerjakan bagian lain dari urutan yang sama, yaitu keadaan di dalam.
Renungan dan Hikmah
- Perumpamaan di ayat ini menaruh panas di dalam perut, di tempat yang tidak terlihat dari luar. Ayat 2:174 dan 4:10 juga menyebut perut sebagai tempat api, dan 2:174 menambahkan bahwa Allah tidak menyapa mereka pada hari Kiamat, (وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, wa-laa yukallimuhumu llaahu yawma l-qiyaamati) yang berarti "dan Allah tidak akan menyapa mereka pada hari Kiamat". Pembaca yang menimbang apa yang masuk ke tubuhnya dapat memperhatikan bahwa ayat-ayat itu berbicara tentang bagian dalam, sehingga orang lain tidak dapat menilai isinya dari luar. Apa yang sedang masuk ke dalam diri pembaca hari ini, dan siapa yang dapat melihatnya selain pemiliknya?
- Ayat ini menyebut cairan logam tanpa menyebut jenis logamnya, dan 18:29 serta 70:8 memakai kata yang sama dengan air dan langit sebagai pembandingnya. Pembaca yang langsung membayangkan logam tertentu sedang menambahkan bahan yang tidak ada di tiga ayat itu. Gambaran yang dibiarkan tanpa bahan tetap memuat gerak mendidih, dan gerak itu cukup bagi 44:46 untuk mengulanginya dengan perumpamaan kedua. Apa yang dilakukan pikiran pembaca pada bagian gambar yang sengaja dibiarkan kosong oleh ayat?
- Di 37:66 dan 56:53 perut disebut sebagai tempat yang dipenuhi, sedangkan di 44:45 perut disebut sebagai tempat sesuatu mendidih. Pembaca yang menghubungkan perut yang penuh dengan rasa cukup akan mendapati ayat ini menaruh kata mendidih di tempat yang sama dengan kata dipenuhi. Satu tempat yang sama mendapat dua kata kerja yang berlawanan arah kesannya. Ketika pembaca mendengar kata kenyang, pertanyaan apa yang lebih dulu diajukannya, tentang rasa atau tentang apa yang terjadi sesudah makanan itu berada di dalam?
- Ayat 6:70 menyebut jiwa yang tidak memiliki pelindung dan pemberi syafaat selain Allah, (لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ, laysa lahaa min duuni llaahi waliyyun wa-laa syafii'un), lalu di ayat yang sama menyebut minuman dari air mendidih, (لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ, lahum syaraabun min hamiimin). Ayat 44:41 meniadakan pelindung antar manusia, dan 44:45 sampai 44:46 menggambarkan sesuatu yang mendidih. Ayat 44:45 tidak menghubungkan keduanya, dan pembaca hanya dapat mencatat bahwa 6:70 menaruh keduanya dalam satu ayat. Siapa yang disebut pelindung oleh pembaca, dan apakah daftar itu pernah dibaca bersama ayat tersebut?
- Ayat ini tidak memuat kata sakit, perih, atau takut. Isinya hanya dua gambaran, cairan logam dan mendidih, serta satu tempat. Rasa yang menyertai gambaran itu tidak tertulis, dan pendengar dapat menyusunnya dari pengalamannya sendiri dengan benda panas. Pembaca dapat memperhatikan perasaan mana yang muncul lebih dulu ketika membaca ayat ini, dan apakah perasaan itu berasal dari kata-kata ayat atau dari ingatan pembaca sendiri. Kata apa dalam ayat ini yang menurut pembaca membangkitkan perasaan itu?
- Di 44:45 panas berada di dalam perut, dan di 44:48 air mendidih dituangkan di atas kepala. Ayat 22:19 dan 22:20 menaruh kedua arah itu dalam satu rangkaian, yaitu air mendidih dituangkan dari atas kepala dan meluluhkan apa yang ada dalam perut serta kulit. Ayat 22:19 dibuka dengan dua golongan yang bertengkar tentang Tuhan mereka, (اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ, khtashamuu fii rabbihim). Pembaca yang mengingat kedua rangkaian itu dapat memperhatikan bahwa satu rangkaian berjalan dari dalam ke atas dan yang lain dari atas ke dalam. Dari arah mana pembaca biasanya membayangkan kabar semacam ini datang kepadanya?
Ayat 44:46
كَغَلْيِ الْحَمِيمِ
seperti mendidihnya air yang sangat panas.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَغَلْيِ الْحَمِيمِka-ghalyi l-hamiimiseperti mendidihnya air yang sangat panas
Terjemahan per kata (2 kata)
- كَغَلْيِka-ghalyiseperti mendidihnya
- الْحَمِيمِl-hamiimiair yang sangat panas
Inti bacaan
Akar غ-ل-ي hanya muncul dua kali di Al-Qur'an, dalam (يَغْلِي, yaghlii) di 44:45 dan (كَغَلْيِ, ka-ghalyi) di 44:46.
Penjelasan pilihan kata
Kata pertama ayat ini, (كَغَلْيِ, ka-ghalyi) yang berarti "seperti mendidihnya", tersusun dari awalan ka yang berarti "seperti" dan kata benda ghalyi yang berarti "mendidihnya". Kata benda ghalyi berakar غ-ل-ي, dan akar ini dipakai dua kali di seluruh Al-Qur'an, keduanya di ayat yang berurutan, yaitu (يَغْلِي, yaghlii) yang berarti "mendidih" di 44:45 dan ka-ghalyi di 44:46. Kata kerja yaghlii menandai perbuatan yang sedang berlangsung, sehingga 44:45 melukiskan sesuatu yang sedang mendidih. Kata ghalyi menyebut perbuatan yang sama sebagai nama benda, sehingga 44:46 menaruh satu mendidih di samping mendidih yang lain dan memakai yang kedua sebagai ukuran bagi yang pertama.
Awalan ka membuka dua perbandingan yang berurutan, yaitu (كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ, ka-l-muhli yaghlii fii l-buthuuni) yang berarti "seperti cairan logam yang mendidih di dalam perut" di 44:45, lalu ka-ghalyi l-hamiimi di 44:46. Keterangan tempat (فِي الْبُطُونِ, fii l-buthuuni) yang berarti "di dalam perut" hanya ada di 44:45, dan terjemahan 44:46 tidak mengulangnya. Ayat ini juga tidak memuat angka suhu, lamanya, atau rasa, dan ukuran yang diberikan adalah air yang mendidih.
Kata (الْحَمِيمِ, l-hamiimi) yang berarti "air yang sangat panas" berakar ح-م-م. Bentuk dengan kata sandang dan akhiran bunyi -i ini dipakai empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 40:72, 44:46, 44:48, dan 56:54, dan di keempatnya yang dimaksud adalah air, misalnya (فِي الْحَمِيمِ, fii l-hamiimi) yang berarti "ke dalam air yang mendidih" di 40:72 dan (مِنَ الْحَمِيمِ, mina l-hamiimi) yang berarti "dari air yang mendidih" di 56:54. Kata hamiim secara keseluruhan dipakai di sembilan belas ayat dan maknanya dua. Empat belas ayat memakainya untuk air mendidih, yaitu 6:70, 10:4, 22:19, 37:67, 38:57, 40:72, 44:46, 44:48, 47:15, 55:44, 56:42, 56:54, 56:93, dan 78:25. Lima ayat memakainya untuk teman karib, yaitu 26:101, 40:18, 41:34, 69:35, dan 70:10.
Terjemahan 44:46 memakai "air yang sangat panas" untuk l-hamiimi, sedangkan tiga ayat lain yang memuat bentuk yang sama, yaitu 40:72, 44:48, dan 56:54, memakai "air yang mendidih". Perbedaan itu berasal dari ghalyi di depannya yang sudah berarti "mendidihnya". Bila kata mendidih dipakai dua kali, kalimatnya terbaca "mendidihnya air yang mendidih", yaitu pengulangan tanpa tambahan arti.
Kata hamiim di 44:46 dan kata (الْجَحِيمِ, l-jahiimi) yang berarti "neraka yang menyala-nyala" di 44:47 saling berdampingan, dan susunan itu muncul tiga kali di Al-Qur'an, dengan hamiim di satu ayat dan jahiim di ayat sesudahnya, yaitu 37:67 dan 37:68, 44:46 dan 44:47, serta 56:93 dan 56:94. Di 37:67 bunyinya (مِنْ حَمِيمٍ, min hamiimin) yang berarti "dari air yang mendidih", disusul di 37:68 oleh (لَإِلَى الْجَحِيمِ, la-ilaa l-jahiimi) yang berarti "pasti menuju neraka yang menyala-nyala". Di 56:93 bunyinya (فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ, fa-nuzulun min hamiimin) yang berarti "maka, jamuan air mendidih", disusul di 56:94 oleh (وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ, wa-tashliyatu jahiimin) yang berarti "dan pembakaran di neraka yang menyala-nyala". Urutannya sama di ketiga tempat, yaitu air lebih dulu dan neraka kemudian.
Tafsiran
Ayat ini menutup kalimat panjang yang berjalan sejak 44:43, yaitu pohon zaqqum di 44:43, makanan orang yang banyak berdosa di 44:44, cairan logam yang mendidih di perut di 44:45, dan mendidihnya air di 44:46. Tanda titik pada terjemahan 44:46 menandai kalimat itu selesai, dan 44:47 membuka kalimat baru dengan perintah kepada pelaku yang tidak disebut.
Perbandingan di 44:45 menyebut bahan yang mendidih, dan perbandingan di 44:46 menyebut gerak mendidih itu dengan air, sehingga keduanya melukiskan hal yang berbeda. Keduanya dibuka awalan yang sama, sehingga pembaca menerima dua ukuran berturut-turut tanpa penjelasan di antaranya.
Air yang di 44:46 hanya berperan sebagai pembanding muncul lagi dua ayat sesudahnya sebagai benda yang dituangkan, (مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ, min 'adzaabi l-hamiimi) di 44:48. Bentuk l-hamiimi dipakai dua kali di surah ini, yaitu di 44:46 dan 44:48, dan di antaranya 44:47 menyebut l-jahiimi, sehingga urutannya air, neraka, lalu air lagi. Dengan urutan itu air yang pada 44:46 diumpamakan menjadi benda yang disebut langsung dalam adegan sesudahnya. Teksnya tidak menyatakan apakah air di 44:46 dan air di 44:48 itu satu benda, karena yang pertama berfungsi sebagai pembanding dan yang kedua sebagai sesuatu yang dituangkan.
Ayat lain menyebut kata hamiim untuk beberapa tempat pada tubuh. Di 22:19 air itu disiramkan ke atas kepala, (يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ, yushabbu min fawqi ru'uusihimu l-hamiimu) yang berarti "ke atas kepala mereka disiramkan air yang mendidih". Di 47:15 air itu diminum, (وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ, wa-suquu maa'an hamiiman fa-qaththa'a am'aa'ahum) yang berarti "dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga usus mereka terpotong-potong". Pelakunya disebut lewat perintah di 44:48, sedangkan 22:19 dan 47:15 menyebut apa yang terjadi tanpa menyebut siapa yang melakukannya, sehingga 44:46 tidak ikut menunjuk siapa yang menuangkan atau memberi minum.
Renungan dan Hikmah
- Di 44:46 tidak ada angka suhu, lama, atau luas, dan perbandingannya dengan air yang bergolak. Pembaca yang pernah menunggui panci sampai airnya mulai bergolak menyimpan gambar uap, buih, dan bunyi dari permukaan air itu, dan gambar itu menjadi takaran yang dibawa ke ayat ini. Pembaca yang belum pernah melihatnya membawa takaran yang lebih tipis, dan ayat tidak menambahkan keterangan untuk melengkapinya. Gambar apa yang muncul di benak ketika kata mendidih dibaca, dan seberapa jauh gambar dari dapur itu cukup untuk menimbang sesuatu yang belum pernah dilihat?
- Di 56:93 air yang mendidih disebut jamuan, dan kata jamuan yang sama dipakai di 3:198 untuk taman bagi orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka, "sebagai jamuan dari sisi Allah". Satu kata menampung dua hidangan yang jauh berbeda. Ayat 3:198 menyebut dari sisi mana jamuan taman itu datang, sedangkan 56:93 tidak menyebut dari sisi mana jamuan air itu datang, dan rangkaian 44:44 sampai 44:46 tidak menyebut dari sisi mana makanan itu datang. Pembaca yang menerima sambutan dari kantor, tetangga, atau keluarga dapat bertanya dari mana sambutan itu sebenarnya berasal. Jamuan dari sisi mana yang sedang dinantikan pembaca, dan sudah sejauh mana jawabannya dipikirkan?
- Di 44:45 mendidih terjadi di dalam perut, dan di 22:20 apa yang ada dalam perut diluluhkan oleh air yang sama, tepat sesudah 22:19 menyebut dua golongan yang bertengkar tentang Tuhan mereka. Perut adalah tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun dari luar. Makanan terlihat di piring, dan ayat-ayat ini menaruh akibatnya di tempat yang tidak terlihat dari piring. Pembaca dapat menghitung berapa kali dalam sehari ada sesuatu yang masuk ke dalam dirinya tanpa pernah terlihat akibatnya. Siapa yang mengetahui akibat itu lebih dulu daripada dirinya?
- Empat ayat sebelum ayat ini, 44:42 membuka pengecualian, "kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah", dan menutupnya dengan "Sesungguhnya Dialah Sang Digdaya lagi Sang Pengasih". Dari 44:43 sampai 44:46 pembicaraan beralih ke makanan, dan kata rahmat tidak muncul lagi di empat ayat itu. Perlindungan dari azab baru disebut lagi di 44:56, ketika Dia melindungi mereka dari azab neraka yang menyala-nyala. Pembaca yang berhenti di 44:46 membawa pulang air mendidih, sedangkan pembaca yang membaca sampai 44:56 membawa pulang perlindungannya juga. Dari seluruh bagian itu, apa yang paling menetap di ingatan pembaca, dan apa yang terjadi bila yang menetap hanya air mendidihnya?
- Kata hamiim di 44:46 berarti air, dan kata yang sama berarti teman setia di 69:35, "pada hari ini tidak ada baginya di sini seorang teman setia", yang disusul di 69:36 oleh "tidak ada makanan kecuali dari nanah". Dua ayat itu menaruh teman dan makanan berdampingan, dan 44:41 juga menyebut hari ketika seorang pelindung tidak mencukupkan pelindung lainnya. Satu kata yang sama menyebut teman setia di satu tempat dan air yang mendidih di tempat lain. Orang yang punya teman dekat dapat bertanya, kapan terakhir ia memikirkan apa yang akan tersisa bila hari itu tiba dan temannya tidak dapat mencukupkan apa pun baginya?
- Di 14:25 Allah membuat perumpamaan-perumpamaan untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran, dan di 59:21 perumpamaan itu dibuat agar mereka berpikir. Ayat 44:46 tidak memuat kata perumpamaan, tetapi bentuknya sejalan, yaitu menjelaskan sesuatu yang tidak terlihat lewat benda yang sudah dikenal. Dengan bentuk itu, sebuah peringatan tidak menuntut pembaca memahami hal asing dari awal, karena air mendidih dapat dibayangkan dari pengalaman sehari-hari. Gambar apa saja dalam hidup pembaca yang selama ini dipakai untuk menimbang hal yang belum terlihat, dan pernahkah ditanyakan siapa yang menaruh gambar itu di sana?