طَعَامُ الْأَثِيمِ
adalah makanan orang yang banyak berdosa,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- طَعَامُ الْأَثِيمِtha'aamu l-atsiimiadalah makanan orang yang banyak berdosa
Terjemahan per kata (2 kata)
- طَعَامُtha'aamumakanan
- الْأَثِيمِl-atsiimiyang banyak berdosa
Inti bacaan
Kata (أَثِيم, atsiim) dalam semua bentuknya muncul tujuh kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:276, 4:107, 26:222, 44:44, 45:7, 68:12, dan 83:12.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari dua kata. Kata pertama, (طَعَامُ, tha'aamu) yang berarti "makanan", berakar ط-ع-م dan dalam bentuk persis ini muncul lima kali di tiga surah, yaitu di 2:184, 5:5, 5:95, 5:96, dan 44:44. Di 2:184, 5:5, dan 5:95 kata itu langsung diikuti pemilik makanannya, yaitu (طَعَامُ مِسْكِينٍ, tha'aamu miskiinin) yang berarti "makanan seorang miskin", (طَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ, tha'aamu lladziina uutuu l-kitaaba) yang berarti "makanan orang-orang yang diberi Kitab", dan (طَعَامُ مَسَاكِينَ, tha'aamu masaakiina) yang berarti "makanan orang-orang miskin". Di 44:44 pemiliknya adalah (الْأَثِيمِ, l-atsiimi). Susunan dengan pemilik orang miskin muncul pula di 69:34, 89:18, dan 107:3 dalam bentuk (عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ, 'alaa tha'aami l-miskiini) yang berarti "pada makanan orang miskin", dan ketiga ayat itu sama-sama memuat penolakan untuk mendorong memberi makan.
Kata makanan dipakai di tiga ayat lain untuk makanan di tempat azab, yaitu 69:36, 73:13, dan 88:6. Di 69:36 bunyinya (وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ, wa-laa tha'aamun illaa min ghisliinin) yang berarti "dan tidak ada makanan kecuali dari nanah", di 73:13 (وَطَعَامًا ذَا غُصَّةٍ, wa-tha'aaman dzaa ghushshatin) yang berarti "dan makanan yang menyumbat kerongkongan", dan di 88:6 (لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ, laysa lahum tha'aamun illaa min dharii'in) yang berarti "tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon berduri". Ketiganya menerangkan makanan itu dari bahannya atau akibatnya. Di 69:37 pemakannya disebut dengan kata lain, (الْخَاطِئُونَ, l-khaathi'uuna) yang berarti "para pendosa". Di 44:44 makanan itu diterangkan dari pemakannya.
Pohon yang sama disebut dengan kata lain di dua ayat, yaitu (نُزُلًا, nuzulan) di 37:62 dan (نُزُلُهُمْ, nuzuluhum) di 56:56, dan keduanya diterjemahkan "jamuan". Kata nuzul muncul delapan kali di enam surah, yaitu di 3:198, 18:102, 18:107, 32:19, 37:62, 41:32, 56:56, dan 56:93. Di tiga ayat di antaranya, yaitu 3:198, 18:107, dan 32:19, kata itu menyebut apa yang disediakan bagi orang yang bertakwa atau beriman. Ayat 44:44 tidak memakai kata itu. Kata yang dipilih adalah kata makanan, yang juga dipakai untuk makanan yang diatur hukumnya di 2:184 dan 5:5.
Kata kedua, (الْأَثِيمِ, l-atsiimi), berakar ا-ث-م dan diterjemahkan "orang yang banyak berdosa". Kata (أَثِيم, atsiim) dalam semua bentuknya muncul tujuh kali di tujuh surah, yaitu di 2:276, 4:107, 26:222, 44:44, 45:7, 68:12, dan 83:12. Di enam ayat selain 44:44 kata itu jatuh sesudah sifat lain, yaitu (كَفَّارٍ أَثِيمٍ, kaffaarin atsiimin) di 2:276, (خَوَّانًا أَثِيمًا, khawwaanan atsiiman) di 4:107, (أَفَّاكٍ أَثِيمٍ, affaakin atsiimin) di 26:222 dan 45:7, serta (مُعْتَدٍ أَثِيمٍ, mu'tadin atsiimin) di 68:12 dan 83:12. Di 44:44 kata itu berdiri sendiri dengan kata sandang al-, tanpa sifat lain di depannya. Terjemahan "banyak berdosa" sama dengan yang dipakai di 26:222 dan 45:7. Ayat ini tidak merinci dosa yang dimaksud dan tidak menyamakan sebutan itu dengan (مُجْرِمِينَ, mujrimiina) di 44:37, kata lain yang diterjemahkan "pendosa".
Arab ayat ini tidak memuat kata kerja. Kata "adalah" dalam terjemahan menyambungkannya dengan 44:43, (إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ, inna syajarata z-zaqquumi) yang berarti "sesungguhnya pohon zaqqum", sebab dua frasa benda yang berdampingan dalam bahasa Indonesia membutuhkan penghubung agar terbaca sebagai satu kalimat.
Tafsiran
Ayat ini menyelesaikan kalimat yang dibuka di 44:43, bahwa pohon zaqqum adalah makanan orang yang banyak berdosa. Sesudah satu ayat yang hanya berisi nama, ayat ini memberi nama itu dua keterangan sekaligus, yaitu bahwa pohon itu dimakan dan siapa pemakannya. Rincian tentang apa yang terjadi sesudah dimakan baru datang di 44:45 dan 44:46.
Di 69:30 sampai 69:37 keterangan tentang orang dan keterangan tentang makanannya tersusun berurutan. Ayat 69:33 dan 69:34 menyebut orang itu tidak beriman kepada Allah Sang Agung dan tidak mendorong memberi makan orang miskin, lalu 69:36 dan 69:37 menyebut makanannya dan pemakannya. Di 44:44 tidak ada keterangan tentang orang itu yang mendahului atau menyusul, dan sebutan pemakan berdiri sendiri. Ayat 56:51 menyebut pemakan pohon yang sama dengan sebutan lain lagi, (الضَّالُّونَ الْمُكَذِّبُونَ, dh-dhaalluuna l-mukadzdzibuuna) yang berarti "orang-orang yang sesat lagi mendustakan". Tiga ayat itu memakai tiga sebutan berbeda untuk pemakan di tempat azab, yaitu para pendosa di 69:37, orang yang sesat lagi mendustakan di 56:51, dan orang yang banyak berdosa di 44:44, dan ayat-ayat itu tidak menyamakan golongannya.
Perintah di 44:47, (خُذُوهُ, khudzuuhu) yang berarti "tangkaplah dia", memakai kata ganti tunggal. Dapat dibaca bahwa kata ganti itu menunjuk pemakan yang disebut di 44:44, sebab ayat 44:43 sampai 44:46 tidak memperkenalkan tokoh lain. Dengan bacaan itu, sebutan umum "orang yang banyak berdosa" di ayat 44:44 berubah menjadi seorang yang diperintahkan untuk ditangkap di ayat 44:47. Ayat 44:49 kemudian menyapa orang yang dihukum itu dengan kata tunggal juga, (ذُقْ, dzuq) yang berarti "rasakanlah".
Renungan dan Hikmah
- Di 44:44, 2:184, dan 5:5 kata makanan datang bersama sebuah nama yang menjawab pertanyaan makanan siapa, yaitu orang yang banyak berdosa, seorang miskin, dan orang-orang yang diberi Kitab. Pembaca yang membawa pertanyaan itu ke meja makannya sendiri dapat memperhatikan atas nama siapa makanan yang disantapnya setiap hari tercatat, apakah atas nama tamu, orang miskin, atau namanya sendiri. Ayat ini menaruh pemilik di belakang kata makanan, sehingga pembaca mendengar nama pemiliknya sesudah mendengar bendanya. Makanan di meja pembaca saat ini disebut makanan siapa?
- Ayat 69:34, 89:18, dan 107:3 menyebut makanan orang miskin dalam kalimat penolakan untuk mendorong memberi makan, dan 69:33 menyebut orang yang sama tidak beriman kepada Allah Sang Agung. Di 44:44 makanan disandarkan pada pemilik lain, yaitu orang yang banyak berdosa. Ayat-ayat itu tidak menghubungkan kedua pemilik tersebut, sehingga hubungan di antara keduanya tidak tertulis. Kata makanan membawa dua pemilik yang berhadapan dalam kata yang sama, yang satu tidak diberi makan dan yang lain disebut sebagai pemilik pohon. Di bagian mana dari dua pemilik itu perhatian pembaca berhenti ketika membaca kata makanan?
- Surah yang sama memuat makanan bagi pihak lain. Ayat 44:55 menuturkan orang-orang yang bertakwa, (يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ, yad'uuna fiihaa bi-kulli faakihatin) yang berarti "mereka meminta di dalamnya segala macam buah-buahan", dan 44:57 menyebut keadaan itu karunia dari Tuhanmu. Makanan di 44:44 disebut lewat pemiliknya, sedangkan buah di 44:55 disebut lewat tindakan meminta, dan 44:44 tidak memuat permintaan apa pun. Pembaca dapat membandingkan dua ayat itu sebagai dua cara makanan sampai kepada pemakannya. Apa yang berbeda pada hubungan antara pemakan dan makanannya di dua ayat itu?
- Terjemahan memakai "banyak berdosa", sebuah sebutan yang menandai kadar, dan ayat tidak merinci dosa-dosa yang dimaksud maupun berapa jumlahnya. Pembaca yang menimbang dirinya dengan sebutan itu sedang membawa ukuran yang tidak tertulis di sini. Ukuran bagi kata "banyak" tidak diberikan oleh 44:43 maupun 44:45, dua ayat yang mengapitnya. Dengan ukuran apa pembaca menghitung kata "banyak" bagi dirinya, dan ayat mana yang menjadi sumber ukuran itu?
- Ayat ini menyebut pemakan sebelum rasa. Rasa makanan itu baru diumpamakan di 44:45, sedangkan di 44:44 pembaca hanya diberi tahu milik siapa pohon itu. Orang yang lebih dulu ingin mengetahui seperti apa rasanya dituntun ayat ini untuk mengetahui siapa yang memakannya. Urutan itu mengubah arah pertanyaan, dari benda ke manusia. Pertanyaan mana yang lebih dulu muncul pada pembaca ketika mendengar sebuah makanan disebut, seperti apa rasanya atau siapa yang memakannya?
- Ayat 37:62 dan 56:56 menyebut pohon yang sama dengan kata nuzul, "jamuan", sedangkan 44:44 memakai kata makanan. Kata nuzul dipakai juga di 3:198 untuk apa yang disediakan bagi orang bertakwa, (نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ, nuzulan min 'indi llaahi) yang berarti "sebagai jamuan dari sisi Allah". Kata jamuan membawa gambaran tuan rumah dan tamu, sedangkan kata makanan tidak membawa gambaran itu, dan 44:44 tidak menyebut tuan rumah mana pun. Siapa yang dibayangkan pembaca menyajikan makanan itu, dan dari kata apa gambaran tersebut datang?