ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ
Rasakanlah! Sesungguhnya engkaulah yang digdaya lagi mulia.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ذُقْdzuqrasakanlah
- إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُinnaka anta l-'aziizu l-kariimusesungguhnya engkaulah yang digdaya lagi mulia
Terjemahan per kata (5 kata)
- ذُقْdzuqrasakanlah
- إِنَّكَinnakasesungguhnya engkau
- أَنْتَantaengkau
- الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
- الْكَرِيمُl-kariimuYang Mahamulia
Inti bacaan
Pasangan (الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ, l-'aziizu l-kariimu) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 44:49.
Penjelasan pilihan kata
Kata pertama, (ذُقْ, dzuq) yang berarti "rasakanlah", adalah perintah kepada satu orang dari akar ذ-و-ق. Bentuk tunggal ini hanya ada di 44:49. Perintah dari akar yang sama kepada beberapa orang lebih sering, dan umumnya disusul benda yang dirasakan. Bunyi (ذُوقُوا عَذَابَ, dzuuquu 'adzaaba) yang berarti "rasakanlah azab" muncul tujuh kali di enam surah, yaitu di 3:181, 8:50, 10:52, 22:22, 32:14, 32:20, dan 34:42. Bunyi (ذُوقُوا مَا, dzuuquu maa) yang berarti "rasakanlah apa yang" muncul tiga kali di tiga surah, yaitu di 9:35, 29:55, dan 39:24, disusul apa yang ditimbun atau dikerjakan, misalnya (ذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ, dzuuquu maa kuntum ta'maluuna) yang berarti "rasakanlah apa yang kalian kerjakan" di 29:55. Benda lain muncul sekali-sekali, seperti (ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ, dzuuquu massa saqara) yang berarti "rasakanlah sentuhan Saqar" di 54:48 dan (ذُوقُوا فِتْنَتَكُمْ, dzuuquu fitnatakum) yang berarti "rasakanlah cobaan kalian" di 51:14. Di 44:49 tidak ada benda yang menyusul. Kata azab yang terdekat ada di 44:48, dalam (مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ, min 'adzaabi l-hamiimi), dan terjemahan tidak menambahkan benda yang dirasakan.
Rangkaian (إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ, innaka anta l-'aziizu l-kariimu) yang berarti "sesungguhnya engkaulah yang digdaya lagi mulia" memuat dua kata ganti untuk satu orang, yaitu akhiran -ka pada (إِنَّكَ, innaka) dan kata (أَنْتَ, anta), keduanya berarti "engkau". Terjemahan "engkaulah" mewakili keduanya sekaligus. Susunan anta l-'aziizu muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:129, 5:118, 40:8, 44:49, dan 60:5. Empat di antaranya ditujukan kepada Tuhan. Ayat 2:129, 40:8, dan 60:5 berisi seruan "Tuhan kami" dan berbunyi (إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, innaka anta l-'aziizu l-hakiimu) yang berarti "sesungguhnya Engkaulah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah", sedangkan 5:118 menyebut "hamba-hamba-Mu" dan berbunyi (فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, fa-innaka anta l-'aziizu l-hakiimu). Di 44:49 al-'aziizu disambung dengan al-kariimu, dan pasangan l-'aziizu l-kariimu muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 44:49.
Surah yang sama sudah memakai al-'aziizu untuk Allah. Di 44:42, empat ayat sebelum 44:46, bunyinya (إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ, innahu huwa l-'aziizu r-rahiimu) yang berarti "sesungguhnya Dialah Sang Digdaya lagi Sang Pengasih". Akar ع-ز-ز dipakai dua kali di surah 44, yaitu di 44:42 dan 44:49.
Terjemahan 44:49 memakai "yang digdaya" untuk al-'aziizu, kata yang sama dengan terjemahan 5:118, sedangkan 2:129, 40:8, 60:5, dan 44:42 memakai "Sang Digdaya". Kata "Sang" tidak dipakai di 44:49 karena yang disapa orang yang diazab, dan tidak ada kata di ayat ini yang menyebutnya Tuhan. Seruan (يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ, yaa ayyuhaa l-'aziizu) yang berarti "wahai al-Aziz" untuk manusia ada di 12:78 dan 12:88, yaitu seruan saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, dan di sana terjemahan membiarkannya sebagai gelar. Di 44:49 kata itu menjadi sifat sesudah anta dan tidak berbentuk seruan, sehingga diterjemahkan sebagai sifat.
Kata (الْكَرِيمُ, l-kariimu) yang berarti "yang mulia" berakar ك-ر-م. Di 44:17 akar ini menerangkan seorang rasul, (رَسُولٌ كَرِيمٌ, rasuulun kariimun) yang berarti "seorang rasul yang mulia", dan terjemahan 44:49 memakai "mulia" seperti itu. Bentuk dengan kata sandang yang menerangkan Tuhan ada di 82:6, (بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ, bi-rabbika l-kariimi) yang berarti "terhadap Tuhanmu Sang Mulia". Bentuk l-kariimu dengan akhiran bunyi -u hanya ada di 44:49, dan di sana kata itu menerangkan orang yang disapa.
Tafsiran
Ayat ini memuat sapaan pertama kepada orang yang dibicarakan sejak 44:44. Di 44:47 dan 44:48 orang itu hanya disebut dengan -hu dan -hi oleh pembicara yang memerintah pelaksana, dan di 44:49 untuk pertama kalinya orang itu disapa dengan -ka dan anta. Sapaan itu dibuka perintah merasakan, lalu dilanjutkan penegasan dengan dua sifat.
Dua sifat itu dapat dibaca dalam dua cara. Dalam bacaan pertama sifat digdaya dan mulia disebutkan untuk dibenturkan dengan keadaan orang itu sesudah tuangan di 44:48. Dalam bacaan kedua sifat itu mengutip sebutan yang dahulu dipakai untuknya. Ayat ini tidak menyatakan salah satu dari keduanya, karena tidak ada kata di dalamnya yang menandai ejekan dan tidak ada kata yang menandai kutipan. Kedua bacaan sama-sama menaruh al-'aziizu dan al-kariimu, yang di 44:42 dan 82:6 menerangkan Allah dan Tuhan, pada orang yang sedang diazab.
Akar ذ-و-ق dipakai dua kali di surah ini, yaitu di 44:49 dan 44:56. Di 44:56 bunyinya (لَا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ, laa yadzuuquuna fiihaa l-mawta) yang berarti "mereka tidak merasakan kematian di dalamnya", menerangkan orang-orang yang bertakwa, yaitu kelompok lain dalam surah yang sama. Surah yang sama memakai kata kerja merasakan untuk dua nasib, yaitu perintah merasakan bagi satu orang dan penafian merasakan kematian bagi orang-orang di tempat yang aman.
Ayat berikutnya, 44:50, berpindah dari sapaan tunggal ke sapaan jamak, karena (كُنْتُمْ, kuntum) berarti "kalian". Sapaan -ka dan anta di 44:49 menunjuk satu orang, dan sapaan kalian di 44:50 menunjuk lebih dari satu orang. Siapa saja yang termasuk dalam kalian tidak tertulis di ayat ini.
Renungan dan Hikmah
- Dalam satu surah, gelar yang sama dipakai dua kali. Di 44:42 Allah disebut "Sang Digdaya lagi Sang Pengasih", dan di 44:49 orang yang diazab disapa sebagai yang digdaya lagi mulia. Ayat pertama menaruh kedigdayaan bersama kasih sayang, dan ayat kedua menaruh kedigdayaan pada orang yang sedang menerima tuangan air mendidih. Sebuah gelar dapat dipakai oleh siapa pun, tetapi yang ikut dibawa gelar itu berbeda dari satu pemegang ke pemegang lain. Gelar apa yang disandang pembaca atau disematkan orang lain kepadanya, dan apa yang akan tersisa dari gelar itu bila dilepas dari pemegangnya?
- Di 12:78 dan 12:88 saudara-saudara Yusuf menyapanya dengan "wahai al-Aziz", dan kedua kali sapaan itu disusul permintaan: di 12:78 supaya salah seorang dari mereka diambil sebagai pengganti, dan di 12:88 supaya takaran dipenuhi dan sedekah diberikan. Gelar dalam dua ayat itu keluar dari mulut orang yang sedang membutuhkan sesuatu. Di 44:49 tidak tertulis apa yang diinginkan siapa pun dari orang yang disapa. Sapaan hormat yang pernah diterima pembaca, dari bawahan, rekan, atau tamu, dapat dilihat kembali dari sisi ini. Siapa yang menyebut pembaca dengan gelar itu, dan apa yang mereka harapkan sesudah menyebutnya?
- Kata yang sama dengan al-kariimu di 44:49 dipakai di 82:6 untuk Tuhan, "Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Sang Mulia". Ayat 82:6 berbentuk pertanyaan kepada satu manusia, dan 44:49 berbentuk sapaan kepada satu orang yang sudah menerima tuangan. Satu ayat bertanya sebelum akibatnya tiba, dan satu ayat menyapa sesudah akibatnya tiba. Pembaca dapat mengambil pertanyaan 82:6 sebagai pertanyaan untuk dirinya sendiri hari ini. Apa yang sedang memperdayakan pembaca terhadap Tuhannya, dan sanggupkah hal itu disebut dengan nama?
- Di 44:56 orang-orang yang bertakwa "tidak merasakan kematian di dalamnya kecuali kematian yang pertama", dan Dia melindungi mereka dari azab neraka yang menyala-nyala. Di 44:49 kata kerja merasakan diperintahkan kepada satu orang. Kata kerja yang sama menjadi garis pemisah antara dua pihak dalam satu surah: pihak yang disuruh merasakan dan pihak yang tidak merasakan. Pembaca dapat menanyakan pada dirinya sendiri, rasa apa yang paling sering dihindarinya dalam hidup sehari-hari, dan apakah penghindaran itu pernah membuatnya menunda sesuatu yang perlu dihadapi?
- Di 9:35, 29:55, dan 39:24 perintah merasakan menyusul hasil perbuatan sendiri, "rasakanlah apa yang selama ini kalian timbun" di 9:35 dan "rasakanlah apa yang kalian kerjakan" di 29:55 dan 39:24, sedangkan di 54:48 perintah itu menyusul sentuhan Saqar dan di 51:14 menyusul cobaan. Di 44:49 benda yang dirasakan tidak disebut. Pembaca yang menemukan perintah tanpa objek dapat mengisi tempat kosongnya dengan salah satu dari objek itu. Objek mana yang diisi pembaca, dan apakah isian itu datang dari ayat atau dari apa yang ingin dipercayainya tentang diri sendiri?
- Kata digdaya dalam doa di 2:129 berpasangan dengan penuh hikmah: "Sesungguhnya Engkaulah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah". Di 44:42 kata itu berpasangan dengan pengasih, dan di 44:49 dengan mulia. Pasangan pertama menyertai kuasa dengan hikmah, pasangan kedua dengan kasih, dan pasangan ketiga dengan kemuliaan. Bagi pembaca yang memegang kekuatan, jabatan, atau pengaruh, sifat apa yang menyertai kekuatan itu di mata orang yang bergantung padanya, dan sudahkah hal itu ditanyakan kepada mereka?