Ayat 45:7

وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ

Celakalah setiap pembohong lagi banyak berdosa,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍwaylun li-kulli affaakin atsiimincelakalah setiap pembohong lagi banyak berdosa

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَيْلٌwayluncelakalah
  2. لِكُلِّli-kullibagi setiap
  3. أَفَّاكٍaffaakinpendusta besar
  4. أَثِيمٍatsiiminyang banyak berdosa

Inti bacaan

Bentuk affaakin muncul dua kali di Al-Qur'an (26:222, 45:7), dan keduanya langsung disusul atsiimin.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَيْلٌ, waylun) yang berarti "celakalah". Kata celaka dengan akhiran "-ku" atau "-kami" diucapkan oleh pelakunya sendiri atas dirinya, misalnya di 5:31, 21:14, 36:52, dan 37:20. Di 45:7 kata itu tidak memakai akhiran kata ganti dan langsung disusul (لِكُلِّ, li-kulli) yang berarti "bagi setiap", sehingga celaka diumumkan tentang pihak ketiga. Susunan (وَيْلٌ لِكُلِّ, waylun li-kulli) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu 45:7 dan 104:1. Di 104:1 bunyinya (وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ, waylun li-kulli humazatin lumazatin) yang berarti "celakalah setiap pengumpat lagi pencela". Terjemahan menyatukan li- dan kulli menjadi "setiap", sama seperti di 104:1.

Kata (أَفَّاكٍ, affaakin) yang berarti "pembohong" berakar أ-ف-ك, dan morfologinya menandainya sebagai pelaku dalam bentuk partisip aktif. Bentuk persisnya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu 26:222 dan 45:7. Akar yang sama membentuk kata benda (إِفْكٌ, ifkun) yang berarti "kebohongan", misalnya di 24:12 dalam (هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ, haadzaa ifkun mubiinun) yang berarti "ini berita bohong yang nyata", di 25:4, dan di 46:11. Bentuk (إِفْكًا, ifkan) di 29:17 memuat (وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا, wa-takhluquuna ifkan) yang berarti "dan kalian membuat kebohongan", dan (إِفْكِهِمْ, ifkihim) di 37:151 berarti "kebohongan mereka". Terjemahan memakai "pembohong" untuk pelaku karena benda yang dihasilkannya diterjemahkan "kebohongan" atau "berita bohong" di ayat-ayat itu.

Kata (أَثِيمٍ, atsiimin) yang berarti "banyak berdosa" berakar أ-ث-م, dan morfologinya menandainya sebagai kata sifat yang berakhiran sama dengan affaakin. Bentuk persisnya muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu 2:276, 26:222, 45:7, 68:12, dan 83:12. Di kelima ayat itu atsiimin tidak berdiri sendiri, tetapi mengikuti kata lain yang menyebut watak: (كَفَّارٍ, kaffaarin) di 2:276, (أَفَّاكٍ, affaakin) di 26:222 dan 45:7, serta (مُعْتَدٍ, mu'tadin) di 68:12 dan 83:12. Bentuk (الْأَثِيمِ, al-atsiimi) di 44:44 diterjemahkan "orang yang banyak berdosa", dan terjemahan 45:7 memakai "banyak berdosa" seperti di 26:222 dan 44:44.

Dua sifat di (أَفَّاكٍ أَثِيمٍ, affaakin atsiimin) bersanding tanpa kata sambung. Tidak ada wa- di antara keduanya, sama seperti tidak ada di antara kedua sifat di 104:1. Terjemahan menyambungkannya dengan "lagi", yang juga dipakai di 26:222, 68:12, dan 104:1. Kata "lagi" itu menandai dua sifat dalam satu pelaku, tidak dua pelaku.

Ayat 45:8 dibuka dengan (يَسْمَعُ, yasma'u) tanpa kata penghubung apa pun, tepat sesudah atsiimin. Terjemahan menyambungkan keduanya dengan koma di akhir 45:7 dan kata "yang" di awal 45:8, sehingga kata kerja di 45:8 terbaca menerangkan pelaku yang disebut di 45:7.

Tafsiran

Ayat ini pendek, dan letaknya penting. Ayat 45:6 berakhir dengan pertanyaan tentang tuturan apa yang akan dipercaya sesudah Allah dan tanda-tanda-Nya, dan ayat berikutnya langsung memuat kata celaka tanpa penjelasan. Tidak ada kata yang menyebut siapa yang berkata celaka. Teks hanya memuat kata itu dan sasarannya.

Sasaran 45:7 berupa satu orang dengan dua sifat. Kata "setiap" menghitung pelaku satu per satu, sedangkan 45:8 melanjutkan dengan kata kerja tunggal, "dia mendengar", dan baru 45:9 beralih ke bentuk jamak dalam (أُولَٰئِكَ, ulaa'ika) yang berarti "merekalah". Pergeseran dari satu orang ke banyak orang terjadi dalam tiga ayat, tanpa kata yang menyatakannya sebagai perubahan topik.

Ayat 45:8 dan 45:9 memerinci sikap pelaku itu: mendengar tanda-tanda dibacakan lalu tetap menyombongkan diri, dan menjadikan tanda-tanda bahan olok-olok. Dapat dibaca bahwa kedua ayat itu menjelaskan seperti apa pembohong yang banyak berdosa itu. Teks tidak mengaitkan "pembohong" dengan sikap sombong secara eksplisit, jadi hubungannya bersifat kemungkinan.

Dua sifat yang sama muncul di 26:222 sebagai jawaban atas pertanyaan di 26:221, yaitu kepada siapa setan-setan itu turun. Di 26:222 kedua sifat itu menjadi sasaran turunnya setan-setan, dan di 45:7 menjadi sasaran kata celaka. Dua ayat itu berada di dua surah dan tidak saling merujuk, sehingga tidak disimpulkan sebagai satu rangkaian. Dua sifat yang sama dipasangkan dengan dua hal yang berbeda di dua tempat.

Rangkaian 45:6 sampai 45:11 dengan demikian bergerak dari pertanyaan ke kata celaka, lalu ke gambaran sikap, lalu ke azab, dan ditutup di 45:11 dengan pernyataan bahwa ini adalah petunjuk. Ayat 45:7 adalah titik ketika pertanyaan berhenti dan ancaman dimulai.

Renungan dan Hikmah

  • Dua sifat itu bersanding tanpa kata sambung, sehingga teks tidak memisahkan bagian yang berbohong dari bagian yang berdosa. Keduanya ditulis sebagai satu potret. Pembaca yang menimbang dirinya dapat memperhatikan bahwa ayat ini tidak menyediakan ukuran tunggal. Orang yang merasa tidak pernah berbohong belum otomatis lolos dari sifat kedua, dan orang yang menghitung dosanya belum otomatis lolos dari sifat pertama. Di antara dua sifat itu, mana yang lebih mudah dilihat pada diri sendiri, dan mana yang hanya terlihat bila ada orang lain yang menunjuk?
  • Kata setiap menghitung pelaku satu per satu, dan 45:8 sejalan dengannya lewat kata kerja tunggal untuk gambaran yang menyusul. Tidak ada kata kami atau kita di antara pelaku dan pembaca, sehingga ayat ini tidak memberi tempat bersembunyi di dalam sebutan kelompok. Kata celaka diumumkan tentang pelaku yang disebut, lalu pembaca dipersilakan membaca siapa yang cocok dengan potret itu tanpa dituntun. Dari semua sebutan kelompok yang pernah dipakai pembaca untuk menggambarkan dirinya, mana yang hilang bila ayat ini membacanya satu per satu?
  • Ayat 45:6 bertanya dengan tuturan apa mereka akan beriman setelah Allah dan tanda-tanda-Nya, lalu 45:7 menyebut celaka. Dua ayat itu berurutan tanpa kalimat jawaban di antaranya. Pembaca yang tiba di 45:7 membawa pertanyaan 45:6 bersamanya, dan kata celaka itu terbaca sebagai kesudahan bagi orang yang menjawab pertanyaan itu dengan cara tertentu. Tanda-tanda Allah yang dibacakan kepada pembaca di 45:6 ditempatkan sebelum kata celaka, sehingga urutan itu memberi pembaca waktu berpikir. Apa yang akan ia jawab bila pertanyaan 45:6 ditanyakan kepadanya sebelum membaca kata celaka itu?
  • Di 5:31, 21:14, 36:52, dan 37:20 kata celaka diucapkan pelakunya atas dirinya sendiri, dengan akhiran kata ganti aku atau kami. Di 45:7 kata yang sama diumumkan tentang orang lain. Pembaca mendengar kata itu sebagai pengumuman, sedangkan di empat ayat tadi pelakunya mengucapkannya sendiri. Teks tidak mengatakan apakah pengumuman itu masih dapat mengubah sesuatu. Bila kata itu diumumkan tentang orang lain, apa yang dilakukan pembaca dengan pengumuman itu?
  • Pasangan sifat yang sama muncul di 26:222 sebagai sasaran turunnya setan-setan, dan di 45:7 sebagai sasaran kata celaka. Dua ayat itu berada di dua surah dan tidak mengatakan bahwa keduanya satu rangkaian. Pembaca dapat memperhatikan bahwa sebuah sifat dapat dikaitkan dengan lebih dari satu akibat dalam teks yang berbeda, dan bahwa akibat itu tidak selalu tampak pada saat sifatnya dijalani. Orang yang mendengar tanda-tanda Allah dibacakan kepadanya di 45:8 sedang berada di antara sifat itu dan akibatnya. Pada titik mana dari jarak itu pembaca merasa berada hari ini?
  • Ayat 45:7 menyebut sifat, dan 45:8 serta 45:9 menyusulkan sikap: mendengar tanda-tanda Allah dibacakan lalu tetap menyombongkan diri, dan menjadikan tanda-tanda itu bahan olok-olok. Urutan sifat dulu lalu sikap menempatkan sifat sebagai wadah yang kemudian terlihat lewat tindakan. Pembaca yang ingin mengenali wadah itu pada dirinya tidak perlu menunggu nama sifat disebut orang lain, karena sikapnya dapat diperiksa lebih dulu. Ketika tanda-tanda Allah dibacakan dan ada dorongan untuk tidak mendengarkan, sifat mana yang sebenarnya sedang bekerja?

Ayat 45:8

يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

yang mendengar tanda-tanda Allah dibacakan kepadanya, kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan tidak mendengarnya. Maka, berilah kabar gembira kepadanya dengan azab yang pedih.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَىٰ عَلَيْهِyasma'u aayaati llaahi tutlaa 'alayhiyang mendengar tanda-tanda Allah dibacakan kepadanya
  2. ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَاtsumma yushirru mustakbiran ka-an lam yasma'haakemudian, dia tetap menyombongkan diri seakan-akan tidak mendengarnya
  3. فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍfa-basysyirhu bi-'adzaabin aliiminmaka, berilah kabar gembira kepadanya dengan azab yang pedih

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. يَسْمَعُyasma'umendengar
  2. آيَاتِaayaatitanda-tanda
  3. اللَّهِllaahiAllah
  4. تُتْلَىٰtutlaadibacakan
  5. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  6. ثُمَّtsummakemudian
  7. يُصِرُّyushirruterus-menerus
  8. مُسْتَكْبِرًاmustakbirandengan sombong
  9. كَأَنْka-anseakan-akan
  10. لَمْlamtidak
  11. يَسْمَعْهَاyasma'haamendengarnya
  12. فَبَشِّرْهُfa-basysyirhumaka berilah dia kabar
  13. بِعَذَابٍbi-'adzaabindengan azab
  14. أَلِيمٍaliiminyang pedih

Inti bacaan

Susunan tutlaa 'alayhi aayaatunaa muncul tiga kali di Al-Qur'an (31:7, 68:15, 83:13), dan ketiganya didahului idzaa, kata untuk syarat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَىٰ عَلَيْهِ, yasma'u aayaati llaahi tutlaa 'alayhi) yang berarti "yang mendengar tanda-tanda Allah dibacakan kepadanya". Kata (يَسْمَعُ, yasma'u) berakar س-م-ع dan berbentuk sedang berlangsung, sehingga ayat membuka dengan pernyataan bahwa pendengaran itu terjadi. Akar yang sama muncul lagi di ujung ayat sebagai (يَسْمَعْهَا, yasma'haa) yang didahului (لَمْ, lam) yang berarti "tidak". Satu ayat dengan demikian memuat pernyataan mendengar dan penyangkalan mendengar. Akhiran -haa pada yasma'haa adalah kata ganti perempuan tunggal yang kembali ke aayaati.

Kata (تُتْلَىٰ, tutlaa) yang berarti "dibacakan" memakai bentuk pasif dari akar ت-ل-و, akar yang di 45:6 muncul sebagai (نَتْلُوهَا, natluuhaa) "Kami bacakan". Di 45:6 pembacanya disebut, di 45:8 tidak. Susunan (تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا, tutlaa 'alayhi aayaatunaa) yang berarti "dibacakan kepadanya tanda-tanda Kami" muncul tiga kali, yaitu 31:7, 68:15, dan 83:13, dan ketiganya didahului (إِذَا, idzaa) yang berarti "apabila", sehingga menyatakan syarat. Ayat 45:8 menggambarkan orang yang pendengarannya sudah terjadi. Di 68:15 dan 83:13 tanggapan atas pembacaan itu berupa ucapan, yaitu (أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ, asaathiiru l-awwaliina) yang berarti "dongeng orang-orang terdahulu", sedangkan di 31:7 dan 45:8 tanggapannya berupa sikap.

Kata (يُصِرُّ, yushirru) yang berarti "tetap" berakar ص-ر-ر dan didahului (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian". Akar yang sama dipakai di 3:135 dalam (وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا, wa-lam yushirruu 'alaa maa fa'aluu) yang berarti "dan mereka tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan itu", dan di 56:46 dalam (وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيمِ, wa-kaanuu yushirruuna 'alaa l-hintsi l-'azhiimi) yang berarti "dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang agung". Di kedua ayat itu kata kerja bersambung ke (عَلَىٰ, 'alaa) dan hal yang diteruskan. Di 45:8 tidak ada 'alaa, dan kata kerja itu disertai (مُسْتَكْبِرًا, mustakbiran) yang berarti "dengan menyombongkan diri". Dua akar itu, ص-ر-ر dan ك-ب-ر, juga berdampingan di 71:7 dalam (وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا, wa-asharruu wa-stakbaruu).

Bentuk (مُسْتَكْبِرًا, mustakbiran) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu 31:7 dan 45:8. Surah ini juga memuat akar yang sama dalam bentuk kata kerja di 45:31, (فَاسْتَكْبَرْتُمْ, fa-stakbartum) yang berarti "lalu kalian menyombongkan diri", tepat sesudah (آيَاتِي تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ, aayaatii tutlaa 'alaykum) yang berarti "tanda-tanda-Ku dibacakan kepadamu". Susunan (مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا, mustakbiran ka-an lam yasma'haa) yang berarti "dengan menyombongkan diri seakan-akan tidak mendengarnya" juga muncul dua kali, di 31:7 dan 45:8. Di 31:7 sebelum susunan itu ada (وَلَّىٰ, wallaa) yang berarti "berpaling", dan sesudahnya masih ada perumpamaan kedua tentang sumbatan di telinga. Di 45:8 sebelum susunan itu ada pernyataan mendengar, dan perumpamaan kedua tidak ada. Kata (كَأَنْ, ka-an) menandai perumpamaan, jadi ketulian di ayat ini adalah sikap yang diperagakan, sedangkan kata kerja di awal ayat sudah menyatakan bahwa pendengaran terjadi.

Perintah penutup dibuka (فَبَشِّرْهُ, fa-basysyirhu) yang berarti "maka berilah kabar gembira kepadanya", dari akar ب-ش-ر dalam bentuk perintah. Bentuk perintah akar ini disusul azab pedih di tujuh ayat, yaitu 3:21, 4:138, 9:3, 9:34, 31:7, 45:8, dan 84:24. Empat di antaranya diterjemahkan "berilah kabar gembira", yaitu 3:21, 4:138, 9:3, dan 31:7, sedangkan 9:34 dan 84:24 diterjemahkan "kabarkanlah". Bentuk perintah yang sama dipakai untuk kabar baik di 2:25, (وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا, wa-basysyiri lladziina aamanuu) yang berarti "dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman". Kata untuk memperingatkan berasal dari akar lain, ن-ذ-ر, seperti di 14:44 dalam (وَأَنْذِرِ النَّاسَ, wa-andziri n-naasa) yang berarti "dan peringatkanlah manusia". Terjemahan 45:8 karena itu memakai "berilah kabar gembira", sama dengan 31:7 yang memuat kalimat identik, (فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ, fa-basysyirhu bi-'adzaabin aliimin). Kata (أَلِيمٍ, aliimin) yang berakar أ-ل-م diterjemahkan "yang pedih" seperti di 3:21, 4:138, 9:3, dan 31:7, dan tambahan "amat" dilepas.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan satu orang dalam tiga gerakan: mendengar, tetap menyombongkan diri, lalu menerima perintah kabar azab. Gerakan pertama dan kedua dipisahkan satu kata, yaitu tsumma, sehingga mendengar dan bertahan dalam kesombongan berada dalam satu urutan. Dapat dibaca bahwa ayat menutup alasan tidak sampai: pendengaran dinyatakan terjadi, dan ketulian muncul sebagai perumpamaan yang ditandai ka-an.

Di dalam surah, ayat ini melanjutkan 45:7 tanpa kata penghubung. Ayat 45:7 menamai pelakunya dengan dua sifat, dan 45:8 menunjukkan sikapnya terhadap tanda-tanda yang dibacakan. Ayat 45:9 menambahkan gerak berikutnya, yaitu menjadikan tanda-tanda itu bahan olok-olok bila ada yang diketahui darinya. Tiga ayat berurutan itu bergerak dari nama ke sikap ke perlakuan.

Tanggapan terhadap tanda-tanda yang dibacakan muncul tiga kali dalam surah ini. Di 45:8 tanggapannya mendengar lalu menyombongkan diri, di 45:25 tanggapannya permintaan agar nenek moyang didatangkan, dan di 45:31 tanggapannya menyombongkan diri yang kini ditanyakan kembali kepada pelakunya. Susunan dibacakan lalu menyombongkan diri sama di 45:8 dan 45:31. Perbedaannya ada pada sudut pandang: 45:8 menggambarkannya sebagai peristiwa yang sedang berlangsung, dan 45:31 menanyakannya kepada pelaku sesudah peristiwa itu.

Perintah penutup memakai kata yang di 2:25 dipakai untuk kabar baik bagi orang-orang yang beriman. Teks tidak menjelaskan mengapa kata itu dipakai di 45:8. Dapat dibaca bahwa kabar itu sampai dengan cara yang sama tetapi isinya berlawanan. Perintahnya berbentuk tunggal, seperti penerima bacaan di 45:6 yang disapa dengan bentuk tunggal pula, dan teks tidak menyatakan apakah keduanya orang yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 45:8 menyatakan lebih dulu bahwa orang itu mendengar tanda-tanda Allah dibacakan kepadanya. Ketulian muncul sesudahnya, dan itu pun berupa perumpamaan. Pembaca yang pernah mendengar sebuah peringatan lalu bersikap seperti tidak mendengar dapat memperhatikan bahwa ayat ini sudah menyatakan pendengaran itu terjadi. Pada saat tanda-tanda Allah dibacakan, bagian mana dari dirinya yang memutuskan untuk bersikap tidak mendengar, dan siapa yang diuntungkan oleh keputusan itu?
  • Kata mendengar muncul dua kali dalam satu ayat, pertama sebagai kenyataan dan kedua sebagai sesuatu yang diperagakan dengan kata seakan-akan. Keduanya menempel pada orang yang sama dan tanda-tanda yang sama, sehingga pembaca tidak diminta memilih salah satunya sebagai penjelasan tunggal tentang orang itu. Ayat ini menaruh keduanya berdampingan, dan perbedaan antara yang pertama dan yang kedua dibiarkan pembaca kenali dari pengalamannya sendiri. Bila tanda-tanda Allah dibacakan hari ini, kalimat mana di ayat ini yang paling dekat dengan keadaan pembaca, mendengar atau seakan-akan tidak mendengar?
  • Kata kerja tetap berbentuk sedang berlangsung dan didahului kata kemudian, sehingga kesombongan digambarkan sebagai sikap yang diteruskan sesudah mendengar. Di 56:46 akar yang sama dipakai untuk dosa yang dikerjakan terus-menerus. Orang yang bertahan pada sebuah sikap sesudah mendengar mengambil keputusan yang sama berulang kali. Dari semua kesempatan mendengar tanda-tanda Allah, pada kesempatan mana keputusan itu pertama kali terasa berat untuk dilanjutkan, dan apa yang membuatnya terus berjalan?
  • Di 45:6 pembacanya disebut, yaitu Kami yang membacakan tanda-tanda kepada engkau. Di 45:8 bentuknya pasif, dibacakan kepadanya, dan pembacanya tidak disebut. Gambaran di 45:8 dengan demikian memuat bacaan yang sampai ke telinga tanpa sebutan siapa yang membacakan. Pembaca ayat ini dapat memeriksa, ketika sebuah ayat dibacakan kepadanya, apakah perhatiannya tertuju kepada siapa yang berbicara atau kepada bunyi yang masuk. Dalam bacaan yang sampai hari ini, kepada siapa kalimat itu dikembalikan, kepada pembaca di sekitarnya atau kepada Allah yang disebut di dalamnya?
  • Perintah penutup memakai kata yang di 2:25 dipakai untuk kabar baik bagi orang-orang yang beriman, sedangkan isinya di 45:8 azab yang pedih. Kata yang sama membawa dua isi yang berlawanan di dua tempat, sehingga kata itu sendiri tidak menentukan baik atau buruknya kabar. Pembaca yang menerima kabar dari tanda-tanda Allah dapat memperhatikan kabar mana yang sedang diterimanya, yang di 2:25 atau yang di 45:8. Jawaban yang muncul dari dalam dirinya terhadap kabar itu berasal dari mendengar, atau dari seakan-akan tidak mendengar?
  • Di 45:8 orang yang mendengar tanda-tanda dibacakan lalu menyombongkan diri digambarkan sebagai peristiwa yang berlangsung. Di 45:31 susunan itu muncul lagi dalam pertanyaan, bukankah tanda-tanda-Ku telah dibacakan kepada kalian, lalu kalian menyombongkan diri. Pertanyaan di 45:31 ditujukan kepada orang yang sudah menjalani sikap itu. Pembaca dapat melihat bahwa sikap yang di 45:8 masih berupa gambaran dari luar, di 45:31 berubah menjadi pertanyaan yang diajukan langsung kepada pelakunya. Bagaimana pembaca ingin menjawab pertanyaan itu bila diajukan kepadanya?