وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ
Celakalah setiap pembohong lagi banyak berdosa,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍwaylun li-kulli affaakin atsiimincelakalah setiap pembohong lagi banyak berdosa
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَيْلٌwayluncelakalah
- لِكُلِّli-kullibagi setiap
- أَفَّاكٍaffaakinpendusta besar
- أَثِيمٍatsiiminyang banyak berdosa
Inti bacaan
Bentuk affaakin muncul dua kali di Al-Qur'an (26:222, 45:7), dan keduanya langsung disusul atsiimin.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَيْلٌ, waylun) yang berarti "celakalah". Kata celaka dengan akhiran "-ku" atau "-kami" diucapkan oleh pelakunya sendiri atas dirinya, misalnya di 5:31, 21:14, 36:52, dan 37:20. Di 45:7 kata itu tidak memakai akhiran kata ganti dan langsung disusul (لِكُلِّ, li-kulli) yang berarti "bagi setiap", sehingga celaka diumumkan tentang pihak ketiga. Susunan (وَيْلٌ لِكُلِّ, waylun li-kulli) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu 45:7 dan 104:1. Di 104:1 bunyinya (وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ, waylun li-kulli humazatin lumazatin) yang berarti "celakalah setiap pengumpat lagi pencela". Terjemahan menyatukan li- dan kulli menjadi "setiap", sama seperti di 104:1.
Kata (أَفَّاكٍ, affaakin) yang berarti "pembohong" berakar أ-ف-ك, dan morfologinya menandainya sebagai pelaku dalam bentuk partisip aktif. Bentuk persisnya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu 26:222 dan 45:7. Akar yang sama membentuk kata benda (إِفْكٌ, ifkun) yang berarti "kebohongan", misalnya di 24:12 dalam (هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ, haadzaa ifkun mubiinun) yang berarti "ini berita bohong yang nyata", di 25:4, dan di 46:11. Bentuk (إِفْكًا, ifkan) di 29:17 memuat (وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا, wa-takhluquuna ifkan) yang berarti "dan kalian membuat kebohongan", dan (إِفْكِهِمْ, ifkihim) di 37:151 berarti "kebohongan mereka". Terjemahan memakai "pembohong" untuk pelaku karena benda yang dihasilkannya diterjemahkan "kebohongan" atau "berita bohong" di ayat-ayat itu.
Kata (أَثِيمٍ, atsiimin) yang berarti "banyak berdosa" berakar أ-ث-م, dan morfologinya menandainya sebagai kata sifat yang berakhiran sama dengan affaakin. Bentuk persisnya muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu 2:276, 26:222, 45:7, 68:12, dan 83:12. Di kelima ayat itu atsiimin tidak berdiri sendiri, tetapi mengikuti kata lain yang menyebut watak: (كَفَّارٍ, kaffaarin) di 2:276, (أَفَّاكٍ, affaakin) di 26:222 dan 45:7, serta (مُعْتَدٍ, mu'tadin) di 68:12 dan 83:12. Bentuk (الْأَثِيمِ, al-atsiimi) di 44:44 diterjemahkan "orang yang banyak berdosa", dan terjemahan 45:7 memakai "banyak berdosa" seperti di 26:222 dan 44:44.
Dua sifat di (أَفَّاكٍ أَثِيمٍ, affaakin atsiimin) bersanding tanpa kata sambung. Tidak ada wa- di antara keduanya, sama seperti tidak ada di antara kedua sifat di 104:1. Terjemahan menyambungkannya dengan "lagi", yang juga dipakai di 26:222, 68:12, dan 104:1. Kata "lagi" itu menandai dua sifat dalam satu pelaku, tidak dua pelaku.
Ayat 45:8 dibuka dengan (يَسْمَعُ, yasma'u) tanpa kata penghubung apa pun, tepat sesudah atsiimin. Terjemahan menyambungkan keduanya dengan koma di akhir 45:7 dan kata "yang" di awal 45:8, sehingga kata kerja di 45:8 terbaca menerangkan pelaku yang disebut di 45:7.
Tafsiran
Ayat ini pendek, dan letaknya penting. Ayat 45:6 berakhir dengan pertanyaan tentang tuturan apa yang akan dipercaya sesudah Allah dan tanda-tanda-Nya, dan ayat berikutnya langsung memuat kata celaka tanpa penjelasan. Tidak ada kata yang menyebut siapa yang berkata celaka. Teks hanya memuat kata itu dan sasarannya.
Sasaran 45:7 berupa satu orang dengan dua sifat. Kata "setiap" menghitung pelaku satu per satu, sedangkan 45:8 melanjutkan dengan kata kerja tunggal, "dia mendengar", dan baru 45:9 beralih ke bentuk jamak dalam (أُولَٰئِكَ, ulaa'ika) yang berarti "merekalah". Pergeseran dari satu orang ke banyak orang terjadi dalam tiga ayat, tanpa kata yang menyatakannya sebagai perubahan topik.
Ayat 45:8 dan 45:9 memerinci sikap pelaku itu: mendengar tanda-tanda dibacakan lalu tetap menyombongkan diri, dan menjadikan tanda-tanda bahan olok-olok. Dapat dibaca bahwa kedua ayat itu menjelaskan seperti apa pembohong yang banyak berdosa itu. Teks tidak mengaitkan "pembohong" dengan sikap sombong secara eksplisit, jadi hubungannya bersifat kemungkinan.
Dua sifat yang sama muncul di 26:222 sebagai jawaban atas pertanyaan di 26:221, yaitu kepada siapa setan-setan itu turun. Di 26:222 kedua sifat itu menjadi sasaran turunnya setan-setan, dan di 45:7 menjadi sasaran kata celaka. Dua ayat itu berada di dua surah dan tidak saling merujuk, sehingga tidak disimpulkan sebagai satu rangkaian. Dua sifat yang sama dipasangkan dengan dua hal yang berbeda di dua tempat.
Rangkaian 45:6 sampai 45:11 dengan demikian bergerak dari pertanyaan ke kata celaka, lalu ke gambaran sikap, lalu ke azab, dan ditutup di 45:11 dengan pernyataan bahwa ini adalah petunjuk. Ayat 45:7 adalah titik ketika pertanyaan berhenti dan ancaman dimulai.
Renungan dan Hikmah
- Dua sifat itu bersanding tanpa kata sambung, sehingga teks tidak memisahkan bagian yang berbohong dari bagian yang berdosa. Keduanya ditulis sebagai satu potret. Pembaca yang menimbang dirinya dapat memperhatikan bahwa ayat ini tidak menyediakan ukuran tunggal. Orang yang merasa tidak pernah berbohong belum otomatis lolos dari sifat kedua, dan orang yang menghitung dosanya belum otomatis lolos dari sifat pertama. Di antara dua sifat itu, mana yang lebih mudah dilihat pada diri sendiri, dan mana yang hanya terlihat bila ada orang lain yang menunjuk?
- Kata setiap menghitung pelaku satu per satu, dan 45:8 sejalan dengannya lewat kata kerja tunggal untuk gambaran yang menyusul. Tidak ada kata kami atau kita di antara pelaku dan pembaca, sehingga ayat ini tidak memberi tempat bersembunyi di dalam sebutan kelompok. Kata celaka diumumkan tentang pelaku yang disebut, lalu pembaca dipersilakan membaca siapa yang cocok dengan potret itu tanpa dituntun. Dari semua sebutan kelompok yang pernah dipakai pembaca untuk menggambarkan dirinya, mana yang hilang bila ayat ini membacanya satu per satu?
- Ayat 45:6 bertanya dengan tuturan apa mereka akan beriman setelah Allah dan tanda-tanda-Nya, lalu 45:7 menyebut celaka. Dua ayat itu berurutan tanpa kalimat jawaban di antaranya. Pembaca yang tiba di 45:7 membawa pertanyaan 45:6 bersamanya, dan kata celaka itu terbaca sebagai kesudahan bagi orang yang menjawab pertanyaan itu dengan cara tertentu. Tanda-tanda Allah yang dibacakan kepada pembaca di 45:6 ditempatkan sebelum kata celaka, sehingga urutan itu memberi pembaca waktu berpikir. Apa yang akan ia jawab bila pertanyaan 45:6 ditanyakan kepadanya sebelum membaca kata celaka itu?
- Di 5:31, 21:14, 36:52, dan 37:20 kata celaka diucapkan pelakunya atas dirinya sendiri, dengan akhiran kata ganti aku atau kami. Di 45:7 kata yang sama diumumkan tentang orang lain. Pembaca mendengar kata itu sebagai pengumuman, sedangkan di empat ayat tadi pelakunya mengucapkannya sendiri. Teks tidak mengatakan apakah pengumuman itu masih dapat mengubah sesuatu. Bila kata itu diumumkan tentang orang lain, apa yang dilakukan pembaca dengan pengumuman itu?
- Pasangan sifat yang sama muncul di 26:222 sebagai sasaran turunnya setan-setan, dan di 45:7 sebagai sasaran kata celaka. Dua ayat itu berada di dua surah dan tidak mengatakan bahwa keduanya satu rangkaian. Pembaca dapat memperhatikan bahwa sebuah sifat dapat dikaitkan dengan lebih dari satu akibat dalam teks yang berbeda, dan bahwa akibat itu tidak selalu tampak pada saat sifatnya dijalani. Orang yang mendengar tanda-tanda Allah dibacakan kepadanya di 45:8 sedang berada di antara sifat itu dan akibatnya. Pada titik mana dari jarak itu pembaca merasa berada hari ini?
- Ayat 45:7 menyebut sifat, dan 45:8 serta 45:9 menyusulkan sikap: mendengar tanda-tanda Allah dibacakan lalu tetap menyombongkan diri, dan menjadikan tanda-tanda itu bahan olok-olok. Urutan sifat dulu lalu sikap menempatkan sifat sebagai wadah yang kemudian terlihat lewat tindakan. Pembaca yang ingin mengenali wadah itu pada dirinya tidak perlu menunggu nama sifat disebut orang lain, karena sikapnya dapat diperiksa lebih dulu. Ketika tanda-tanda Allah dibacakan dan ada dorongan untuk tidak mendengarkan, sifat mana yang sebenarnya sedang bekerja?