وَإِذَا عَلِمَ مِنْ آيَاتِنَا شَيْئًا اتَّخَذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Apabila dia mengetahui sesuatu dari tanda-tanda Kami, dia menjadikannya olok-olok. Merekalah yang akan menerima azab yang menghinakan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَإِذَا عَلِمَ مِنْ آيَاتِنَا شَيْئًا اتَّخَذَهَا هُزُوًاwa-idzaa 'alima min aayaatinaa syay'an ittakhadzahaa huzuwanapabila dia mengetahui sesuatu dari tanda-tanda Kami, dia menjadikannya olok-olok
  2. أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌulaa'ika lahum 'adzaabun muhiinunmerekalah yang akan menerima azab yang menghinakan

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. عَلِمَ'alimamengetahui
  3. مِنْmindari
  4. آيَاتِنَاaayaatinaatanda-tanda Kami
  5. شَيْئًاsyay'ansedikit pun
  6. اتَّخَذَهَاittakhadzahaamenjadikannya
  7. هُزُوًاhuzuwanejekan
  8. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  9. لَهُمْlahumbagi mereka
  10. عَذَابٌ'adzaabunazab
  11. مُهِينٌmuhiinunyang menghinakan

Inti bacaan

Susunan ulaa'ika lahum 'adzaabun muhiinun muncul tiga kali di Al-Qur'an (22:57, 31:6, 45:9), dan di 31:6 dan 45:9 kalimat itu menyusul kata kerja berpelaku tunggal.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَإِذَا عَلِمَ, wa-idzaa 'alima) yang berarti "dan apabila dia mengetahui". Ayat 45:8 menggambarkan orang itu dengan kata kerja yang sedang berlangsung, sedangkan 45:9 memakai (إِذَا, idzaa) yang berarti "apabila" dan kata kerja yang sudah selesai, sehingga gambarannya menjadi syarat: bila pengetahuan terjadi, olok-olok mengikutinya. Kata (عَلِمَ, 'alima) berakar ع-ل-م dan berbeda dari (يَسْمَعُ, yasma'u) di 45:8 yang berarti "mendengar". Ayat 45:8 menekankan pendengaran yang sampai, dan 45:9 menyebut isi yang diketahui.

Susunan (مِنْ آيَاتِنَا, min aayaatinaa) yang berarti "dari tanda-tanda Kami" muncul empat kali, yaitu 17:1, 18:9, 20:23, dan 45:9. Di 17:1, (لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا, li-nuriyahu min aayaatinaa), dan di 20:23, (لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا, li-nuriyaka min aayaatinaa), huruf min diterjemahkan "sebagian", yaitu "sebagian tanda-tanda Kami". Terjemahan 45:9 memakai "dari" untuk (مِنْ, min), tanpa kata "tentang" yang tidak berasal dari kata Arab di ayat ini. Dengan min, hal yang diketahui digambarkan sebagai sesuatu yang diambil dari tanda-tanda itu.

Kata (شَيْئًا, syay'an) diterjemahkan "sesuatu" sesudah kata kerja yang tidak diingkari, seperti di 45:9 dan di 18:74 dalam (جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا, ji'ta syay'an nukran) yang berarti "engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar", dan diterjemahkan "sedikit pun" sesudah kata kerja yang diingkari, seperti di 45:19 dan di 2:48. Karena kalimat 45:9 tidak memuat penyangkalan, terjemahannya "sesuatu". Sesuatu yang diketahui itu tidak diberi ukuran selain kata min. Dapat dibaca bahwa gambaran ayat berlaku juga bagi pengetahuan yang sedikit.

Kata (اتَّخَذَهَا, ittakhadzahaa) yang berarti "menjadikannya" berakar أ-خ-ذ dalam bentuk kedelapan, dengan -haa sebagai kata ganti perempuan tunggal yang kembali ke aayaatinaa. Kata (هُزُوًا, huzuwan) yang berarti "olok-olok" berakar ه-ز-ء dan muncul sebelas kali di tujuh surah, yaitu 2:67, 2:231, 5:57, 5:58, 18:56, 18:106, 21:36, 25:41, 31:6, 45:9, dan 45:35. Lima di antaranya menjadikan tanda-tanda sebagai benda olok-olok, yaitu 2:231, 18:56, 18:106, 45:9, dan 45:35. Di 45:35 bunyinya (اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا, ittakhadztum aayaati llaahi huzuwan) yang berarti "kalian telah menjadikan tanda-tanda Allah sebagai olok-olok", jadi perbuatan yang sama dalam satu surah dibicarakan sekali dengan "dia" dan sekali dengan "kalian". Terjemahan 45:9 memakai "olok-olok" tanpa "bahan", sama seperti 31:6 yang menulis (وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا, wa-yattakhidzahaa huzuwan) sebagai "menjadikannya olok-olok".

Kata (أُولَٰئِكَ, ulaa'ika) yang berarti "merekalah" berbentuk jamak, sedangkan kata kerja sebelumnya tunggal. Perpindahan dari tunggal ke jamak ada juga di 31:6, tempat (مَنْ يَشْتَرِي, man yasytarii) yang tunggal disusul ulaa'ika. Susunan (أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ, ulaa'ika lahum 'adzaabun muhiinun) muncul tiga kali, yaitu 22:57 dengan awalan fa- di depannya, 31:6, dan 45:9. Bentuk (عَذَابٌ مُهِينٌ, 'adzaabun muhiinun) muncul delapan kali di tujuh surah, yaitu 2:90, 3:178, 4:14, 22:57, 31:6, 45:9, 58:5, dan 58:16, dan di semuanya diterjemahkan "azab yang menghinakan". Kata (مُهِينٌ, muhiinun) berakar ه-و-ن dan ditandai sebagai partisip aktif. Tiga ayat berurutan memakai tiga sifat berbeda untuk azab: (أَلِيمٍ, aliimin) "pedih" di 45:8, muhiinun "menghinakan" di 45:9, dan (عَظِيمٌ, 'azhiimun) "agung" di 45:10.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan satu langkah pada gambaran 45:8. Di 45:8 orang itu mendengar tanda-tanda dibacakan lalu tetap menyombongkan diri. Di 45:9 dia mengetahui sesuatu dari tanda-tanda itu, dan pengetahuan itu menjadi olok-olok. Dapat dibaca bahwa kedua ayat menggambarkan dua cara menolak yang berurutan: menolak dengan sikap, lalu menolak dengan perlakuan yang merendahkan. Teks tidak mengatakan bahwa orang yang sama menjalani keduanya, tetapi ayatnya berurutan dan pelakunya dua kali disebut tunggal.

Letak kata penutup penting. Setelah dua ayat tentang satu orang, 45:9 ditutup dengan kata jamak, merekalah. Dapat dibaca bahwa ayat menghitung semua orang yang berbuat demikian sebagai satu golongan yang menerima akibat yang sama, meskipun siapa lagi yang bergabung tidak disebut.

Sifat azab di ayat ini ditaruh tepat sesudah olok-olok. Mengolok-olok menaruh sesuatu di bawah diri sendiri, dan kata menghinakan bergerak di wilayah yang sama. Dapat dibaca bahwa sifat azab dipilih sesuai perbuatannya, tetapi pada 45:8 dan 45:10 sifatnya berbeda, yaitu pedih dan agung, sehingga pembacaan ini tidak berlaku sebagai aturan.

Dalam surah ini perbuatan menjadikan tanda-tanda sebagai olok-olok muncul dua kali. Di 45:9 perbuatan itu dibicarakan dengan kata dia, dan di 45:35 dikatakan kepada kalian bersama alasannya, yaitu kehidupan dunia yang memperdayakan mereka. Dari satu perbuatan yang sama, 45:9 memperlihatkannya dari luar, dan 45:35 memperlihatkannya dalam percakapan di hadapan pelakunya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 45:9 menyebut pengetahuan yang kecil, sesuatu dari tanda-tanda Kami, dan sudah di titik itu olok-olok bisa terjadi. Ayat ini tidak menunggu pelakunya tahu semuanya. Pembaca yang memegang sedikit pengetahuan tentang tanda-tanda Allah dapat memperhatikan ke mana pengetahuan itu terakhir kali dibawa, apakah ke renungan yang tenang atau ke ruang yang penuh tawa. Pengetahuan apa tentang tanda-tanda Allah yang sekarang dimilikinya, dan untuk apa pengetahuan itu terakhir dipakai?
  • Ayat 45:9 menaruh olok-olok sesudah mengetahui. Dengan urutan itu, olok-olok digambarkan sebagai sesuatu yang bisa tumbuh dari tempat yang dari luar tampak sudah memahami. Di 45:8 orang itu juga mendengar lebih dulu. Pembaca yang pernah menertawakan sesuatu yang dipahaminya dapat memeriksa apakah tawa itu datang karena merasa sudah di atas hal yang ditertawakan. Bila yang ditertawakan adalah tanda-tanda Allah, di atas apa pembaca sedang berdiri?
  • Menjadikan tanda-tanda sebagai olok-olok dibicarakan dua kali dalam surah ini. Di 45:9 pelakunya disebut dia, dan di 45:35 perbuatan itu dikatakan kepada kalian, disusul alasan yang lebih panjang tentang kehidupan dunia yang memperdayakan mereka. Bagi pembaca, dua ayat itu menaruh perbuatan yang sama pada dua tempat duduk, sebagai bahan cerita tentang orang lain dan sebagai tuduhan kepada diri sendiri. Dari kedua tempat itu, mana yang lebih sering ditempati ketika pembaca membaca ayat tentang tanda-tanda Allah yang diolok-olok?
  • Azab di tiga ayat berurutan diberi tiga sifat yang berbeda: pedih di 45:8, menghinakan di 45:9, dan agung di 45:10. Pembaca dapat melihat bahwa kata menghinakan ditaruh tepat sesudah perbuatan merendahkan sesuatu, dan bahwa mengolok-olok dapat dibaca sebagai cara menaruh tanda-tanda di tempat yang lebih rendah dari diri. Dalam gambaran itu, siapa yang akhirnya ditaruh di tempat rendah, orang yang menertawakan atau tanda-tanda yang ditertawakan?
  • Di 45:6 tanda-tanda itu dibacakan dengan benar oleh Kami, dan di 45:9 tanda-tanda yang sama dijadikan bahan olok-olok oleh pihak lain. Benda yang diperlakukan berbeda itu sama, yaitu tanda-tanda Allah. Pembaca dapat memperhatikan bahwa ayat tidak meminta tanda-tandanya diganti, hanya memperlihatkan dua cara memperlakukannya yang berdampingan dalam surah yang sama. Ketika sesuatu dibacakan kepada pembaca dengan benar, perlakuan mana yang lebih sering diberikannya, dan siapa yang menjadi saksi perlakuan itu?
  • Ayat 45:9 bergerak dari dia ke mereka tanpa menyebut siapa lagi yang bergabung. Perpindahan itu memberi kesan bahwa orang yang mengolok-olok tanda-tanda Allah dihitung bersama orang lain yang berbuat serupa. Pembaca yang tertawa bersama di depan sesuatu yang dibacakan dari tanda-tanda Allah dapat bertanya golongan mana yang sedang diikutinya, dan apakah pernah menghitung dirinya sebagai bagian dari kata mereka di ayat ini?