هَٰذَا هُدًى ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَهُمْ عَذَابٌ مِنْ رِجْزٍ أَلِيمٌ
Ini adalah petunjuk. Orang-orang yang kufur terhadap tanda-tanda Tuhan mereka akan mendapat azab berupa siksaan yang sangat pedih.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- هَٰذَا هُدًىhaadzaa hudanini adalah petunjuk
- وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَهُمْ عَذَابٌ مِنْ رِجْزٍ أَلِيمٌwa-lladziina kafaruu bi-aayaati rabbihim lahum 'adzaabun min rijzin aliimunorang-orang yang kufur terhadap tanda-tanda Tuhan mereka akan mendapat azab berupa siksaan yang sangat pedih
Terjemahan per kata (11 kata)
- هَٰذَاhaadzaaini
- هُدًىhudanpetunjuk
- وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- بِآيَاتِbi-aayaatipada tanda-tanda
- رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
- لَهُمْlahumbagi mereka
- عَذَابٌ'adzaabunazab
- مِنْmindari
- رِجْزٍrijzinazab
- أَلِيمٌaliimunyang pedih
Inti bacaan
Rangkaian (كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ, kafaruu bi-aayaati rabbihim) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 18:105 dan 45:11.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (هَٰذَا هُدًى, haadzaa hudan) yang berarti "ini adalah petunjuk". Kata (هَٰذَا, haadzaa) yang berarti "ini" menunjuk sesuatu yang dekat, dan ayat tidak menyebut apa yang ditunjuk. Terjemahan karena itu tidak menambahkan "Al-Qur'an" atau "kitab" sesudah "ini", sebab tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya. Kata "adalah" tidak punya pasangan Arab dan dipakai hanya untuk menyambung dua kata benda dalam kalimat Indonesia. Dua kata haadzaa hudan yang berdampingan seperti ini muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 45:11.
Kata (هُدًى, hudan) yang berarti "petunjuk" berakar ه-د-ي dan di 45:11 berdiri tanpa penerima. Di 2:2 hudan disusul (لِلْمُتَّقِينَ, li-l-muttaqiina) yang berarti "bagi orang-orang yang bertakwa", dan di 2:185 disusul (لِلنَّاسِ, li-n-naasi) yang berarti "bagi manusia". Di 45:20, dalam surah yang sama, bunyinya (هَٰذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ, haadzaa bashaa'iru li-n-naasi wa-hudan wa-rahmatun li-qawmin yuuqinuuna) yang berarti "ini adalah pedoman bagi manusia, dan petunjuk serta rahmat bagi kaum yang yakin", jadi petunjuk di sana ditemani pedoman dan rahmat serta diberi alamat. Gabungan (وَهُدًى, wa-hudan) yang berarti "dan petunjuk" ada di lima belas ayat, yaitu 2:97, 3:96, 3:138, 5:46, 6:91, 6:154, 6:157, 7:203, 10:57, 12:111, 16:64, 16:89, 16:102, 28:43, dan 45:20. Di 45:11 tidak ada kata benda lain di samping hudan, sehingga terjemahan memuat satu kata benda saja, "petunjuk".
Kalimat kedua dibuka dengan (وَالَّذِينَ كَفَرُوا, wa-lladziina kafaruu) yang berarti "dan orang-orang yang kufur". Kata kerja (كَفَرُوا, kafaruu) berakar ك-ف-ر dan mengambil objek lewat huruf (بِ, bi-) yang berarti "terhadap", yaitu (بِآيَاتِ رَبِّهِمْ, bi-aayaati rabbihim) yang berarti "terhadap tanda-tanda Tuhan mereka". Rangkaian (كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ, kafaruu bi-aayaati rabbihim) muncul dua kali, yaitu di 18:105 dan 45:11. Di 18:105 rangkaian itu bersambung ke (وَلِقَائِهِ, wa-liqaa'ihi) yang berarti "dan pertemuan dengan-Nya", sedangkan di 45:11 rangkaian itu bersambung ke ancaman azab. Akhiran (هِمْ, -him) pada rabbihim menunjuk orang-orang yang kufur itu sendiri dan berbentuk jamak, sehingga terjemahan memakai "Tuhan mereka", seperti di 6:4, 8:54, 18:105, 23:58, 25:73, dan 36:46, tempat frasa (آيَاتِ رَبِّهِمْ, aayaati rabbihim) diterjemahkan sama.
Frasa terakhir adalah (عَذَابٌ مِنْ رِجْزٍ أَلِيمٌ, 'adzaabun min rijzin aliimun) yang berarti "azab berupa siksaan yang sangat pedih". Kata (عَذَابٌ, 'adzaabun) berakar ع-ذ-ب dan berarti "azab". Kata (رِجْزٍ, rijzin) berakar ر-ج-ز dan didahului (مِنْ, min). Kata (أَلِيمٌ, aliimun) yang berarti "pedih" berakar أ-ل-م, dan akhirannya, -un, sama dengan akhiran 'adzaabun, tidak dengan akhiran rijzin yang -in. Karena itu "pedih" dapat dibaca menerangkan azab, sedangkan rijz menyebut jenis azab itu. Rangkaian utuh 'adzaabun min rijzin aliimun muncul dua kali, yaitu di 34:5 dan 45:11.
Akar ر-ج-ز ada di sembilan ayat, yaitu 2:59, 7:134, 7:135, 7:162, 8:11, 29:34, 34:5, 45:11, dan 74:5. Di 2:59, 7:162, dan 29:34 bunyinya (رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ, rijzan mina s-samaa'i) yang berarti "azab dari langit", yaitu sesuatu yang diturunkan atau dikirim kepada orang-orang yang zalim. Di 7:134, (الرِّجْزُ, ar-rijzu) menimpa orang-orang yang berbicara kepada Musa, dan di 7:135, (الرِّجْزَ, ar-rijza) dihilangkan, sehingga kata ini menunjuk sesuatu yang dapat menimpa dan dapat diangkat. Di 8:11, (رِجْزَ الشَّيْطَانِ, rijza sy-syaythaani) yang berarti "kekejian setan" dihilangkan dengan air dari langit. Di 74:5, (وَالرُّجْزَ, wa-r-rujza) berbunyi dengan vokal lain dan terjemahan memakai "perbuatan keji". Satu kata Indonesia karena itu tidak menutup semua pemakaian rijz. Di 45:11 terjemahan memakai "siksaan" supaya dua kata Arab, 'adzaab dan rijz, tidak menyusut menjadi satu kata Indonesia, dan ayat tidak merinci wujud siksaan itu.
Tafsiran
Ayat ini memasangkan kalimat pendek tentang petunjuk dengan kalimat panjang tentang azab, dan keduanya disambung oleh huruf wa- yang berarti "dan", bukan oleh kata yang berarti "tetapi". Kalimat pertama tidak menyebut penerima. Orang baru muncul di kalimat kedua, dan dikenali dari sikapnya terhadap tanda-tanda, bukan dari nama atau asalnya.
Rangkaian yang dimulai di 45:6 berakhir di ayat ini. Ayat 45:6 menyebut tanda-tanda Allah yang dibacakan, 45:8 menyebut orang yang mendengar tanda-tanda itu lalu tetap menyombongkan diri, dan 45:9 menyebut orang yang menjadikan tanda-tanda itu bahan olok-olok. Pemilik tanda-tanda itu disebut tiga cara: Allah di 45:6 dan 45:8, Kami di 45:9, dan Tuhan mereka di 45:11. Sikap yang digambarkan juga berganti, dari menyombongkan diri di 45:8 ke mengolok-olok di 45:9, lalu di 45:11 diberi satu nama, yaitu kufur. Ayat ini karena itu memberi sebutan bagi sikap yang sudah digambarkan di dua ayat sebelumnya.
Azabnya ikut diberi sifat yang berbeda dari ayat ke ayat: pedih di 45:8, menghinakan di 45:9, dan agung di 45:10. Di 45:11 sifat pedih kembali, kali ini bersama jenis azab yang disebut, yaitu rijz.
Sesudah ancaman ini, 45:12 dan 45:13 kembali menyebut hal-hal yang ditundukkan bagi manusia dan menutup dengan tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Rangkaian dari 45:6 sampai 45:13 karena itu berawal dan berakhir pada tanda-tanda. Di antara keduanya ayat 45:11 menjadi tempat petunjuk disebut dan akibat menolak tanda-tanda disebut dalam satu napas. Ayat 45:20 menyebut kata petunjuk lagi, kali ini bersama pedoman, rahmat, dan penerima, sedangkan 45:11 menyebutnya dalam dua kata.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat pertama ayat 45:11 hanya dua kata, dan tidak menyebut penerima. Di 2:2 petunjuk itu bagi orang-orang yang bertakwa dan di 2:185 bagi manusia, sedangkan di sini petunjuk itu berdiri tanpa alamat. Dua cara menyebut itu tidak bertentangan, tetapi menempatkan pembaca di tempat yang berbeda. Pada penyebutan beralamat, pembaca dapat mencari namanya di antara kelompok yang dituju, lalu merasa aman atau merasa terkecualikan. Pada penyebutan tanpa alamat, tidak ada daftar tempat pembaca bisa mencari namanya, sehingga kata "petunjuk" sampai kepadanya tanpa perantara. Apakah kalimat tanpa alamat itu terdengar baginya sebagai sesuatu yang terbuka untuk dipakai, atau sebagai sesuatu yang harus lebih dulu dibuktikan miliknya?
- Ayat 45:11 menyebut tanda-tanda yang dikufuri itu sebagai milik "Tuhan mereka", dengan akhiran -him yang menunjuk orang-orang yang kufur itu sendiri. Di 45:6 pemilik tanda yang sama disebut Allah dan tanda-tandanya dibacakan oleh "Kami", dan di 45:9 tanda-tanda itu disebut "tanda-tanda Kami". Penolakan yang digambarkan ayat ini karena itu ditujukan kepada pihak yang, menurut ayat itu sendiri, juga merupakan Tuhan bagi para penolaknya. Pembaca dapat memperhatikan bagaimana pembaca menyebut pemilik tanda-tanda ketika membicarakan sikapnya sendiri terhadap tanda-tanda itu: sebagai pihak yang jauh, atau sebagai Tuhan yang berhubungan langsung dengannya? Dari tiga sebutan di 45:6, 45:9, dan 45:11, mana yang paling dekat dengan caranya menyebut?
- Ayat 45:8 menggambarkan orang yang mendengar tanda-tanda Allah dibacakan lalu bertahan menyombongkan diri, 45:9 menggambarkan orang yang menjadikan tanda-tanda itu bahan olok-olok, dan 45:11 memberi satu nama pada sikap terhadap tanda-tanda Tuhan mereka, yaitu kufur. Ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa ketiganya orang yang sama, jadi pembaca tidak perlu membayangkan satu tokoh. Yang tampak dari urutannya ialah bahwa penolakan terhadap tanda-tanda dapat tampil dalam bentuk yang berbeda: sikap angkuh yang bertahan, olok-olok yang bersuara, dan penolakan yang disebut terang-terangan. Pembaca dapat memeriksa bentuk mana yang paling sering dipakainya ketika sebuah ajaran terasa tidak enak: bertahan dalam rasa lebih tinggi, bercanda tentangnya, atau menolaknya secara terbuka? Bentuk mana yang paling tidak terdengar seperti penolakan di telinganya sendiri?
- Pihak yang diancam di 45:11 dikenali dari sikap mereka terhadap tanda-tanda Tuhan mereka. Ayat tidak menyebut suku, negeri, jabatan, atau nama, dan tidak menyebut apakah mereka pernah menerima petunjuk lalu meninggalkannya. Akibatnya, keanggotaan dalam kelompok itu tidak bisa diperiksa dari kartu identitas atau dari silsilah; keanggotaan itu hanya bisa diperiksa dari apa yang dilakukan seseorang terhadap tanda-tanda itu. Hal ini membuat pertanyaan tentang kelompok mana yang dimaksud berubah menjadi pertanyaan tentang sikap yang sedang dijalani. Bila ayat ini dibaca tanpa menunjuk orang lain, sikap terhadap tanda-tanda mana yang sedang dijalani pembaca hari ini, dan siapa yang tahu persis sikap itu selain dirinya?
- Kata rijz di 7:134 menimpa orang-orang yang berkata kepada Musa, "mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu", dan mereka berjanji akan beriman bila rijz itu dihilangkan. Di 7:135 rijz itu dihilangkan hingga batas waktu tertentu, dan tiba-tiba mereka mengingkari janji. Dua ayat itu berbicara tentang kaum lain pada waktu lain, sehingga tidak dipakai untuk menafsirkan siapa pun di 45:11, tetapi keduanya memperlihatkan bahwa kata yang sama bisa disertai janji yang lahir dari tekanan dan hilang bersama tekanan itu. Ayat 45:11 tidak menyebut pengangkatan rijz. Pembaca dapat bertanya apakah keyakinannya bertahan ketika tekanan yang membawanya kepada Tuhan sudah lewat, dan apa yang tersisa dari janjinya sesudah itu?
- Ayat 45:11 tidak memakai kata yang berarti "tetapi" di antara kalimat tentang petunjuk dan kalimat tentang azab. Keduanya disambung dengan wa-, yang berarti "dan", dan terjemahan menaruh titik di antaranya tanpa kata penghubung lain. Pembaca yang mendengar kabar baik dan peringatan dalam satu ayat dapat memilih satu di antaranya untuk diingat, entah petunjuknya saja atau ancamannya saja. Susunan ayat ini menaruh keduanya berdampingan dengan bobot kata yang berbeda, dua kata untuk petunjuk dan satu frasa panjang untuk azab, tanpa menyatakan bahwa salah satu lebih penting. Apakah cara pembaca mengingat ayat ini mengikuti susunan itu, atau pembaca sudah lebih dulu memilih satu sisi sebelum selesai membacanya?