مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۖ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

Siapa yang mengerjakan amal saleh, maka untuk dirinya sendiri; dan siapa yang berbuat jahat, maka atas dirinya sendiri; kemudian, kepada Tuhan kalian, kalian dikembalikan.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِman 'amila shaalihan fa-li-nafsihisiapa yang mengerjakan amal saleh, maka untuk dirinya sendiri
  2. وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَاwa-man asaa'a fa-'alayhaadan siapa yang berbuat jahat, maka atas dirinya sendiri
  3. ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَtsumma ilaa rabbikum turja'uunakemudian, kepada Tuhan kalian, kalian dikembalikan

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. مَنْmanorang yang
  2. عَمِلَ'amilaberamal
  3. صَالِحًاshaalihankebajikan
  4. فَلِنَفْسِهِfa-li-nafsihimaka untuk dirinya
  5. وَمَنْwa-mandan orang yang
  6. أَسَاءَasaa'aberbuat buruk
  7. فَعَلَيْهَاfa-'alayhaamaka atasnya
  8. ثُمَّtsummakemudian
  9. إِلَىٰilaakepada
  10. رَبِّكُمْrabbikumTuhan kalian
  11. تُرْجَعُونَturja'uunakalian dikembalikan

Inti bacaan

Rangkaian (فَلِنَفْسِهِ, fa-li-nafsihi) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:104, 39:41, 41:46, dan 45:15.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (مَنْ عَمِلَ صَالِحًا, man 'amila shaalihan) yang berarti "siapa yang mengerjakan amal saleh". Kata (مَنْ, man) yang berarti "siapa yang" menunjuk satu orang yang belum disebut namanya. Kata kerja (عَمِلَ, 'amila) berakar ع-م-ل dan berarti "mengerjakan", sedangkan (صَالِحًا, shaalihan) berakar ص-ل-ح dan diterjemahkan "amal saleh" bersama kata kerjanya, seperti di 41:46. Rangkaian man 'amila shaalihan muncul lima kali, yaitu di 16:97, 30:44, 40:40, 41:46, dan 45:15. Di 16:97 dan 40:40 rangkaian itu disusul (وَهُوَ مُؤْمِنٌ, wa-huwa mu'minun) yang berarti "sedang ia beriman", sedangkan di 30:44, 41:46, dan 45:15 kalimatnya langsung menyebut kepada siapa amal itu kembali.

Bagian berikutnya adalah (فَلِنَفْسِهِ, fa-li-nafsihi) yang berarti "maka untuk dirinya sendiri". Tiga bagiannya adalah (فَ, fa) yang berarti "maka", (لِ, li) yang berarti "untuk", dan (نَفْسِهِ, nafsihi) yang berarti "dirinya", dari akar ن-ف-س. Kata "sendiri" dalam terjemahan menandai bahwa nafs menunjuk diri pelaku, tidak orang lain. Rangkaian fa-li-nafsihi muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:104, 39:41, 41:46, dan 45:15. Di 6:104 dan 39:41 kalimat itu menyusul orang yang melihat dan orang yang mendapat petunjuk, sedangkan di 41:46 dan 45:15 menyusul orang yang mengerjakan amal saleh. Di 30:44, (فَلِأَنْفُسِهِمْ, fa-li-anfusihim) yang berarti "maka bagi diri mereka" memakai bentuk jamak untuk rangkaian yang sama.

Bagian kedua kalimat, (وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا, wa-man asaa'a fa-'alayhaa), berarti "dan siapa yang berbuat jahat, maka atas dirinya sendiri" dan memakai huruf yang berbeda dari bagian pertama. Kata kerja (أَسَاءَ, asaa'a) berakar س-و-ء dan diterjemahkan "berbuat jahat", sama dengan 41:46 serta dengan (أَسَاءُوا, asaa'uu) di 30:10 dan 53:31. Bentuk asaa'a dan asaa'uu, dengan atau tanpa akhiran jamak, muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 30:10, 41:46, 45:15, dan 53:31. Rangkaian wa-man asaa'a fa-'alayhaa muncul dua kali, yaitu di 41:46 dan 45:15. Bagian pertama memakai li- yang berarti "untuk", dan bagian kedua memakai (عَلَيْهَا, 'alayhaa) dari 'alaa yang berarti "atas". Akhiran (هَا, -haa) pada 'alayhaa berjenis perempuan, sama dengan jenis kata nafs, sedangkan akhiran -hi pada bagian pertama berjenis laki-laki. Karena itu 'alayhaa dapat dibaca menunjuk nafs, yaitu diri pelaku. Pola yang sama ada di 6:164, (إِلَّا عَلَيْهَا, illaa 'alayhaa) yang berarti "kecuali atas dirinya sendiri", sesudah kata nafs. Di 17:7 akibat keburukan ditulis (فَلَهَا, fa-lahaa) yang berarti "maka itu kembali kepadanya" dengan huruf li-, bukan 'alaa, dalam cerita yang berbeda.

Bagian terakhir adalah (ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ, tsumma ilaa rabbikum turja'uuna) yang berarti "kemudian, kepada Tuhan kalian, kalian dikembalikan". Kata (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian" menaruh pengembalian itu sesudah bagian sebelumnya. Kata (رَبِّكُمْ, rabbikum) berakar ر-ب-ب dan berakhiran -kum yang jamak, sehingga terjemahan memakai "Tuhan kalian". Kata kerja (تُرْجَعُونَ, turja'uuna) berakar ر-ج-ع dan berbentuk pasif, jadi pelaku yang mengembalikan tidak disebut. Rangkaian tsumma ilaa rabbikum turja'uuna muncul dua kali, yaitu di 32:11 dan 45:15. Dengan tsumma ilaa rabbikum saja, rangkaian itu ada empat kali, yaitu di 6:164, 32:11, 39:7, dan 45:15. Di 6:164 dan 39:7 rangkaian itu disusul (مَرْجِعُكُمْ, marji'ukum) yang berarti "tempat kembali kalian".

Tafsiran

Ayat ini menyusun tiga pernyataan dalam satu napas. Dua yang pertama berbentuk cermin, dan yang ketiga berpindah dari satu orang ke banyak orang. Pernyataan pertama menyebut amal saleh dan akibat yang kembali kepada pelakunya. Pernyataan kedua menyebut perbuatan jahat dan akibat yang menimpa pelakunya. Pernyataan ketiga memakai kata "kalian" dan menyebut Tuhan sebagai tujuan, sehingga dari "siapa yang" ayat bergerak ke "kalian" tanpa pergantian kalimat.

Kerangka ini muncul dengan isi lain di 41:46. Di sana dua pernyataan pertama sama persis, tetapi pernyataan ketiga berbunyi bahwa Tuhanmu sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba. Di 45:15 pernyataan ketiga adalah pengembalian kepada Tuhan kalian. Dua ayat itu memakai kerangka yang sama untuk dua penutup yang berbeda, dan penutup di 45:15 mengarahkan pembaca ke perjalanan, bukan ke sifat. Gagasan yang sama muncul lagi di surah ini pada 45:22, (وَلِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ, wa-li-tujzaa kullu nafsin bi-maa kasabat) yang berarti "dan agar setiap jiwa dibalas dengan apa yang ia usahakan". Di sana kata nafs muncul lagi dan mereka tidak dizalimi disebut sesudahnya.

Ayat 45:14 menyebut orang-orang yang diminta memaafkan dan balasan oleh Dia atas apa yang diusahakan suatu kaum. Ayat 45:15 membalik arah pandang dari kaum ke orang per orang: apa yang dikerjakan seseorang kembali kepada dirinya, lalu semua dikembalikan kepada Tuhan. Dua ayat itu berurutan, dan urutan itu menaruh balasan atas suatu kaum di 45:14 di samping akibat bagi tiap orang di 45:15.

Ayat ini tidak menyebut apa yang terjadi sesudah pengembalian itu. Kelanjutannya ada di tempat lain di surah yang sama, misalnya 45:17 yang menyebut Tuhanmu memutuskan di antara mereka pada hari kiamat.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 45:15 memakai dua kata depan untuk dua sisi yang bercermin, yaitu "untuk dirinya" bagi amal saleh dan "atas dirinya" bagi perbuatan jahat. Penerimanya sama, tetapi arah kata depannya berbeda: yang satu menyatakan manfaat dan yang lain menyatakan beban. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kata depan ini menaruh akibat tepat pada orang yang melakukan, tidak pada tetangga atau pasangan, dan tidak pada kelompok yang mendampingi. Orang yang menimbang apakah sebuah perbuatan layak dikerjakan dapat menghitung siapa yang akan menerima hasilnya. Bila hasil itu pertama-tama kembali kepada pelakunya, apa yang masih ada dalam hitungannya tentang siapa yang akan menanggung atau menikmati perbuatan itu?
  • Ayat 45:15 menyebut tiga pihak saja: orang yang berbuat, dirinya sendiri, dan Tuhan kalian. Ayat tidak menyebut keluarga, atasan, kelompok, atau pasangan sebagai perantara akibat. Di 6:164 kalimat serupa, yaitu "tidaklah setiap jiwa mengusahakan sesuatu kecuali atas dirinya sendiri", disusul "seorang pemikul beban tidak memikul beban orang lain" dan "kepada Tuhan kalian tempat kembali kalian". Kalimat di 6:164 itu berdiri dalam konteks lain, namun daftar akibatnya sama-sama tidak memuat perantara. Pembaca yang biasa menjelaskan sebuah keputusan dengan menyebut lingkungannya dapat memeriksa apa yang tersisa dari penjelasan itu bila hanya tiga pihak ini yang boleh disebut. Siapa yang dihilangkan dari ceritanya, dan siapa yang tetap ada?
  • Kata tsumma di 45:15 berarti "kemudian", dan menaruh pengembalian kepada Tuhan sesudah dua pernyataan tentang akibat bagi diri. Ayat tidak menyebut berapa lama jedanya dan apa yang terjadi di antaranya. Ayat itu hanya menyebut urutan: lebih dulu perbuatan dan akibatnya pada pelaku, lalu pengembalian. Bagi pembaca, jeda yang tidak berbatas ini berarti hari-hari biasa terletak di antara dua titik yang disebut ayat, yaitu perbuatan yang sudah dilakukan dan kepulangan kepada Tuhan. Ruang itu tidak kosong, karena perbuatan masih bisa ditambah. Pembaca dapat bertanya apa yang sedang dikerjakannya di ruang itu pada hari ini, dan apakah pekerjaan itu sesuai dengan kalimat bahwa akibatnya kembali kepada pelakunya?
  • Dua pernyataan pertama di 45:15 berbicara tentang "siapa yang", yaitu satu orang yang tidak disebut namanya. Pernyataan ketiga memakai "kalian" dan menyebut Tuhan kalian. Dalam satu ayat, perhatian bergerak dari orang per orang ke semua yang diajak bicara. Perpindahan ini membuat pembaca tidak bisa menaruh dirinya hanya di salah satu bagian: pembaca termasuk "siapa yang" ketika amalnya ditimbang, dan termasuk "kalian" ketika dikembalikan. Kebersamaan di bagian ketiga tidak menghapus akibat yang bersifat pribadi di bagian pertama dan kedua. Pembaca dapat bertanya pada bagian mana dari ayat ini dirinya sering terdengar, dan bagian mana yang jarang dibiarkan menyentuhnya?
  • Kata turja'uuna di 45:15 berbentuk pasif, jadi ayat menyebut tujuan pengembalian, yaitu Tuhan kalian, tanpa menyebut siapa yang mengembalikan. Di 32:11 bentuk yang sama muncul sesudah penyebutan malaikat maut yang mewafatkan, dengan tsumma ilaa rabbikum turja'uuna sebagai penutup. Kedua ayat itu memusatkan perhatian pada arah, bukan pada pelaku gerak. Bagi pembaca yang biasa bertanya siapa yang membawa dan kapan, ayat ini menawarkan pertanyaan lain: ke mana. Tujuan yang disebut ayat ini adalah Tuhan kalian, dengan akhiran -kum yang menyebut hubungan antara Tuhan itu dan orang-orang yang diajak bicara. Bila gerak itu diibaratkan perjalanan pulang, apakah pembaca lebih sering memikirkan jalannya atau rumah yang dituju?
  • Ayat 45:15 menaruh amal saleh pertama-tama "untuk dirinya sendiri". Kebaikan bisa dicatat sebagai pemberian kepada orang lain, lalu ucapan terima kasih ditunggu sebagai penggantinya. Ayat ini tidak menyatakan bahwa penerima lain tidak ada, tetapi menyebut pihak yang menanggung akibat lebih dahulu dan tidak dapat mengelak, yaitu pelakunya. Pembaca yang menimbang jasanya kepada orang lain dapat melihat bahwa sebagian dari hitungannya sudah terisi sebelum orang lain sempat berterima kasih atau tidak. Bila perbuatan baik itu sudah pertama-tama kembali kepada pelakunya, apa yang masih ditagih dari orang yang menerimanya? Dan apa yang berubah pada nada ucapan "terima kasih" bila sebagian upahnya sudah ada di tangan sendiri?