ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Kemudian, Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan. Maka, ikutilah ia dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِtsumma ja'alnaaka 'alaa syarii'atin mina l-amrikemudian, Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan
- فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَfa-ttabi'haa wa-laa tattabi' ahwaa'a lladziina laa ya'lamuunamaka, ikutilah ia dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui
Terjemahan per kata (13 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- جَعَلْنَاكَja'alnaakaKami menjadikanmu
- عَلَىٰ'alaaatas
- شَرِيعَةٍsyarii'atinsyariat
- مِنَminadari
- الْأَمْرِl-amriurusan
- فَاتَّبِعْهَاfa-ttabi'haamaka ikutilah ia
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- تَتَّبِعْtattabi'engkau mengikuti
- أَهْوَاءَahwaa'ahawa nafsu
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- لَاlaatidak
- يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui
Inti bacaan
Bentuk (شَرِيعَةٍ, syarii'atin) muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu di 45:18, sedangkan akar ش-ر-ع muncul lima kali di empat surah, yaitu di 5:48, 7:163, 42:13, 42:21, dan 45:18.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (ثُمَّ جَعَلْنَاكَ, tsumma ja'alnaaka) yang berarti "kemudian Kami jadikan engkau". Kata (ثُمَّ, tsumma) berarti "kemudian", kata kerja ja'ala berakar ج-ع-ل, -naa berarti "Kami", dan -ka berarti "engkau". Bentuk (جَعَلْنَاكَ, ja'alnaaka) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 6:107, 38:26, dan 45:18. Pelakunya di ketiga ayat itu Kami, dan yang dijadikan satu orang yang disapa dengan -ka. Di 6:107 kalimatnya penyangkalan, yaitu Kami tidak menjadikanmu penjaga atas mereka. Di 38:26 Kami menjadikanmu khalifah di bumi, dengan seruan kepada Daud. Di 45:18 kata kerja itu disusul keterangan tempat berpijak, sedangkan di dua ayat lain disusul nama peran.
Keterangan tempat itu ditulis (عَلَىٰ شَرِيعَةٍ, 'alaa syarii'atin) yang berarti "di atas suatu syariat". Kata (عَلَىٰ, 'alaa) berarti "atas". Terjemahan memakai "berada di atas" untuk rangkaian serupa di 2:5, 22:67, 31:5, dan 34:24, yaitu (عَلَىٰ هُدًى, 'alaa hudan), dan di 6:57, 11:88, dan 47:14, tiga dari enam ayat yang memuat (عَلَىٰ بَيِّنَةٍ, 'alaa bayyinatin). Kata kerja "mengikuti" tidak dipakai di kalimat ini karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya. Perintah mengikuti baru terbaca pada kata (فَاتَّبِعْهَا, fa-ttabi'haa) di kalimat berikutnya.
Kata (شَرِيعَةٍ, syarii'atin) yang berarti "syariat" berakar ش-ر-ع dan muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu di 45:18. Akarnya muncul lima kali di empat surah dalam lima bentuk, yaitu (شِرْعَةً, syir'atan) di 5:48, (شُرَّعًا, syurra'an) di 7:163, (شَرَعَ, syara'a) di 42:13, (شَرَعُوا, syara'uu) di 42:21, dan syarii'atin di 45:18. Surah 42 memuat dua dari kelimanya. Di 7:163 kata itu menyebut ikan-ikan yang datang bermunculan, jadi pemakaiannya lain. Di 5:48 kata kerja ja'ala dan akar ش-ر-ع berada dalam satu kalimat, yaitu (جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا, ja'alnaa minkum syir'atan wa-minhaajan), dengan penerima yang berbeda: tiap umat di sana, orang yang disapa di sini. Isi syariat itu tidak diuraikan di ayat ini.
Perintah ditulis dengan (فَاتَّبِعْهَا, fa-ttabi'haa) yang berarti "maka ikutilah ia". Kata kerjanya berakar ت-ب-ع. Akhiran -haa berjenis perempuan, sehingga menunjuk (شَرِيعَةٍ, syarii'atin) yang juga berjenis perempuan. Larangannya memakai (تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ, tattabi' ahwaa'a) yang berarti "engkau ikuti hawa nafsu". Kata (أَهْوَاءَ, ahwaa'a) adalah bentuk jamak dari kata hawa nafsu yang berakar ه-و-ي, sehingga larangan itu dapat dibaca menyangkut keinginan banyak orang sekaligus. Rangkaian (تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ, tattabi' ahwaa'a) muncul lima kali di empat surah, yaitu 5:48, 5:49, 6:150, 42:15, dan 45:18. Di 5:48, 5:49, dan 42:15 kata hawa nafsu diikuti akhiran -hum yang berarti "mereka", sedangkan di 6:150 dan 45:18 diikuti (الَّذِينَ, lladziina) yang berarti "orang-orang yang". Orang-orang itu di 6:150 ialah mereka yang mendustakan tanda-tanda Kami, dan di 45:18 mereka yang tidak mengetahui.
Pemilik keinginan itu ditulis dengan (الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ, lladziina laa ya'lamuuna) yang berarti "orang-orang yang tidak mengetahui". Rangkaian itu muncul enam kali di lima surah, yaitu 2:113, 2:118, 10:89, 30:59, 39:9, dan 45:18. Di 10:89 rangkaian itu berada dalam larangan yang bentuknya mirip, (سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ, sabiila lladziina laa ya'lamuuna) yang berarti "jalan orang-orang yang tidak mengetahui", dan larangan itu ditujukan kepada dua orang. Akar ع-ل-م pada ya'lamuuna sama dengan akar (الْعِلْمُ, l-'ilmu) di 45:17, sehingga dua ayat berurutan memuat akar itu, sekali sebagai pengetahuan yang datang kepada sebuah kaum dan sekali sebagai sebutan bagi orang-orang yang tidak memilikinya. Kelompok yang disebut di dua ayat itu mungkin sama dan mungkin berbeda, dan susunan ayat membiarkannya terbuka.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan penuturan dari satu kaum ke satu orang. Di 45:16 dan 45:17 subjeknya "mereka", sedangkan di sini subjeknya "engkau", dan kata kemudian meletakkan penempatan itu sesudah penuturan tentang kaum tadi. Ayat tidak menghubungkan syariat ini dengan kitab, putusan, dan kenabian di 45:16, dan tidak menyebut siapa yang digantikan atau dilanjutkan.
Susunan ayat memuat dua gerakan berurutan. Gerakan pertama ialah penempatan, yaitu Kami menjadikan engkau berada di atas suatu syariat. Gerakan kedua ialah perintah mengikuti syariat itu, bersama larangan mengikuti hawa nafsu. Penempatan datang dari pemberi sebelum perintah diucapkan, sehingga perintah mengikuti jatuh pada orang yang sudah berdiri di tempat itu.
Dua hal yang disebut untuk diikuti atau dijauhi berasal dari dua sumber. Syariat berasal dari Kami lewat kata kerja jadikan, sedangkan hawa nafsu milik orang-orang yang tidak mengetahui, dan bentuk jamaknya dapat dibaca mengumpulkan keinginan banyak orang dalam satu kata.
Urutan 45:16 sampai 45:18 sejajar dengan urutan 42:13 sampai 42:15. Ayat 42:13 menyebut Dia menetapkan sesuatu bagi kalian dari pertanggungjawaban, ayat 42:14 menyebut mereka berpecah setelah pengetahuan datang karena kedengkian di antara mereka, dan ayat 42:15 melarang mengikuti hawa nafsu mereka. Di surah 45 urutannya pemberian, perselisihan karena kedengkian sesudah pengetahuan datang, lalu syariat dan larangan yang sama. Perbedaannya, di 42:13 sapaannya "kalian" dan di 45:18 "engkau". Ayat 45:19 kemudian memberi alasan bagi larangan itu, dibuka dengan "sesungguhnya mereka".
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja pertama di ayat ini ialah penempatan, dan perintah mengikuti baru datang di kalimat sesudahnya. Allah, yang berbicara dengan kata Kami, lebih dulu menjadikan orang yang disapa berada di atas sesuatu, lalu memintanya mengikuti sesuatu itu. Perintah dengan demikian jatuh pada orang yang sudah berdiri di tempatnya. Seseorang yang menerima aturan dari atasan atau dari sebuah lembaga dapat memperhatikan urutan serupa pada hidupnya sendiri: ada aturan yang diterima sesudah orang itu ditempatkan di suatu posisi, dan ada yang datang sebelum posisinya dimengerti. Apa yang berubah pada cara seseorang menaati ketika lebih dulu diketahuinya di mana ia berdiri?
- Kata hawa nafsu di ayat ini berbentuk jamak, sehingga larangannya dapat dibaca menyangkut keinginan dari banyak orang sekaligus. Keinginan itu tidak satu arah, karena tiap pemiliknya membawa keinginannya sendiri. Orang yang berada di tengah banyak pendapat di grup percakapan, di ruang rapat, atau di meja makan keluarga dapat memperhatikan bahwa suara yang terdengar bersama-sama itu sebenarnya terdiri dari banyak keinginan yang berbeda. Ayat ini menyebut semuanya sebagai sesuatu yang tidak diikuti. Bila keinginan yang berlainan itu ditumpuk menjadi satu suara, bagian mana yang masih bisa disebut pengetahuan?
- Keinginan di ayat ini dikaitkan dengan orang-orang yang tidak mengetahui, dan ayat sebelumnya menyebut pengetahuan yang datang kepada sebuah kaum. Dua ayat berurutan memuat akar yang sama, satu kali sebagai sesuatu yang diterima dan satu kali sebagai sesuatu yang tidak dimiliki. Seseorang dapat menelusuri keputusan terakhir yang diambilnya dan menimbang seberapa banyak pengetahuan ikut menentukan, dibandingkan dengan keinginan yang sudah ada sebelum pengetahuan itu dicari. Ayat ini menaruh keduanya berdekatan dan membiarkan pembaca menghitung sendiri perbandingannya. Pada keputusan terakhir itu, mana yang datang lebih dulu, keinginan atau pengetahuannya?
- Syariat di ayat ini datang dari Kami, yaitu Allah, dan hawa nafsu datang dari orang-orang yang tidak mengetahui. Orang yang menjalani hari dengan banyak hal yang diikuti, mulai dari kebiasaan, selera, sampai arahan seseorang, dapat menanyakan pada tiap hal itu dari mana datangnya. Ayat ini menunjuk dua asal. Dari hal yang paling sering diikutinya hari ini, berapa yang asalnya dapat ditelusuri dengan jelas, dan berapa yang datang begitu saja?
- Ayat sebelumnya menuturkan sebuah kaum yang menerima banyak lalu berselisih, dan menutup dengan Tuhanmu. Ayat ini menjadikan orang yang disapa itu pokok kalimat dengan kata kemudian, dan Dia menempatkannya di atas sebuah syariat. Pergantian dari mereka ke engkau terbaca sebagai pergeseran dari cerita orang lain ke sapaan yang tertuju langsung. Seseorang yang membaca kisah kaum lain dapat memperhatikan di titik mana kisah itu berhenti menjadi tontonan dan mulai menyapa dirinya. Pada kalimat mana sebuah cerita berubah menjadi sapaan bagi pendengarnya?
- Larangan di ayat ini menyangkut mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Larangan di ayat ini jatuh pada tindakan mengikuti. Seseorang yang dikelilingi orang yang berbeda pandangan dapat memisahkan dua hal yang sering menyatu dalam kebiasaan: mendengar dan mengikuti. Allah, yang berbicara dengan kata Kami, menutup yang kedua dan tidak menyebut yang pertama. Di antara orang-orang yang berbeda pandangan dengannya, bagian mana yang diikutinya hanya karena letaknya dekat?