أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Maka, apakah engkau memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan, Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan penutup atas penglihatannya, siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah? Apakah kalian tidak mengambil pelajaran?
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُa-fa-ra'ayta mani ttakhadza ilaahahu hawaahumaka, apakah engkau memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya
- وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍwa-adhallahu llaahu 'alaa 'ilmindan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan
- وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةًwa-khatama 'alaa sam'ihi wa-qalbihi wa-ja'ala 'alaa basharihi ghisyaawatanAllah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan penutup atas penglihatannya
- فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِfa-man yahdiihi min ba'di llaahisiapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah
- أَفَلَا تَذَكَّرُونَa-fa-laa tadzakkaruunaapakah kalian tidak mengambil pelajaran
Terjemahan per kata (24 kata)
- أَفَرَأَيْتَa-fa-ra'aytamaka apakah engkau memperhatikan
- مَنِmanisiapa yang
- اتَّخَذَttakhadzamengambil
- إِلَٰهَهُilaahahutuhannya
- هَوَاهُhawaahuhawa nafsunya
- وَأَضَلَّهُwa-adhallahudan menyesatkannya
- اللَّهُllaahuAllah
- عَلَىٰ'alaaatas
- عِلْمٍ'ilminpengetahuan
- وَخَتَمَwa-khatamadan Dia mengunci
- عَلَىٰ'alaaatas
- سَمْعِهِsam'ihipendengarannya
- وَقَلْبِهِwa-qalbihidan hatinya
- وَجَعَلَwa-ja'aladan Dia menjadikan
- عَلَىٰ'alaaatas
- بَصَرِهِbasharihipenglihatannya
- غِشَاوَةًghisyaawatanpenutup
- فَمَنْfa-manmaka orang yang
- يَهْدِيهِyahdiihimemberinya petunjuk
- مِنْmindari
- بَعْدِba'disesudah
- اللَّهِllaahiAllah
- أَفَلَاa-fa-laamaka tidakkah
- تَذَكَّرُونَtadzakkaruunakalian mengambil pelajaran
Inti bacaan
Rangkaian (إِلَٰهَهُ هَوَاهُ, ilaahahu hawaahu) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 25:43 dan 45:23.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَفَرَأَيْتَ, a-fa-ra'ayta) yang berarti "maka, apakah engkau memperhatikan". Bentuk ini terdiri dari huruf tanya, huruf fa yang berarti "maka", dan kata kerja (رَأَيْتَ, ra'ayta) yang menunjuk satu orang yang diajak bicara. Bentuk persis a-fa-ra'ayta ada empat kali, yaitu di 19:77, 26:205, 45:23, dan 53:33. Kalimat yang nyaris sama dengan awal ayat ini ada di 25:43, (أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ, a-ra'ayta mani ttakhadza ilaahahu hawaahu) yang berarti "apakah engkau memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya", hanya tanpa huruf fa. Rangkaian (إِلَٰهَهُ هَوَاهُ, ilaahahu hawaahu) ada di dua ayat itu, yaitu 25:43 dan 45:23.
Kata (هَوَاهُ, hawaahu) yang berarti "hawa nafsunya" ada enam kali, yaitu di 7:176, 18:28, 20:16, 25:43, 28:50, dan 45:23. Empat di antaranya bergandengan dengan kata kerja (اتَّبَعَ, ttaba'a) yang berarti "mengikuti", sehingga rangkaian (اتَّبَعَ هَوَاهُ, ttaba'a hawaahu) yang berarti "mengikuti hawa nafsunya" ada empat kali, yaitu di 7:176, 18:28, 20:16, dan 28:50. Di 25:43 dan 45:23 kata kerjanya lain, yaitu (اتَّخَذَ, ttakhadza) yang berarti "menjadikan", dan hawa nafsu ditempatkan sebagai tuhan. Kata (إِلَٰهَهُ, ilaahahu) yang berarti "tuhannya" berakar أ-ل-ه, akar yang sama dengan nama (اللَّهُ, llaahu) di ayat yang sama, sehingga satu ayat memuat tuhan milik orang itu dan Allah yang bertindak terhadapnya.
Rangkaian (وَأَضَلَّهُ اللَّهُ, wa-adhallahu llaahu) yang berarti "dan dibiarkan sesat oleh Allah" ada satu kali, di 45:23. Kata kerjanya berakar ض-ل-ل, dengan Allah sebagai pelaku dan orang tadi sebagai yang dikenai. Pertanyaan yang mirip penutup ayat ini ada di 30:29: "maka siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah", dengan potongan (مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ, man adhalla llaahu) yang berarti "orang yang telah disesatkan Allah". Ayat 30:29 didahului pernyataan bahwa orang-orang zalim mengikuti hawa nafsu mereka (بِغَيْرِ عِلْمٍ, bi-ghayri 'ilmin) yang berarti "tanpa ilmu".
Rangkaian (عَلَىٰ عِلْمٍ, 'alaa 'ilmin) ada lima kali, yaitu di 7:52, 28:78, 39:49, 44:32, dan 45:23. Di 7:52, (فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ, fashshalnaahu 'alaa 'ilmin) yang berarti "Kami jelaskan secara terperinci atas dasar pengetahuan", dan di 44:32, (اخْتَرْنَاهُمْ عَلَىٰ عِلْمٍ, khtarnaahum 'alaa 'ilmin) yang berarti "Kami pilih mereka dengan pengetahuan", kata kerjanya dipegang Kami. Di 28:78 dan 39:49 pembicaranya manusia yang berkata bahwa dirinya diberi sesuatu karena ilmu, dan di 28:78 ilmu itu disebut milik pembicara lewat (عِنْدِي, 'indii) yang berarti "yang ada padaku". Di 45:23 kata kerjanya dipegang Allah, tetapi tidak ada kata ganti yang menunjuk pemilik ilmu. Terjemahan menulis "dengan pengetahuan" tanpa kata ganti, seperti Arabnya, dan pembacaan siapa pemilik pengetahuan itu tetap terbuka.
Kata kerja (خَتَمَ, khatama) yang di sini diterjemahkan "mengunci" ada tiga kali dalam bentuk ini, yaitu di 2:7, 6:46, dan 45:23. Ketiganya melibatkan hati, tetapi urutannya berbeda. Di 2:7 hati disebut lebih dulu, lalu pendengaran, dan penutup ada pada penglihatan. Di 6:46 pendengaran dan penglihatan diambil, lalu hati ditutup. Di 45:23 pendengaran dan hati dikunci, lalu penutup diletakkan di penglihatan. Kata (غِشَاوَةً, ghisyaawatan) yang berarti "penutup" berakar غ-ش-و dan hanya berada di dua ayat, yaitu 2:7 dalam bentuk (غِشَاوَةٌ, ghisyaawatun) dan 45:23. Di 2:7 penutup itu disebut tanpa pelaku, sedangkan di 45:23 penutup itu diletakkan oleh pelaku yang sama dengan pelaku kata kerja mengunci, yaitu Allah, dalam (وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً, wa-ja'ala 'alaa basharihi ghisyaawatan) yang berarti "dan meletakkan penutup atas penglihatannya". Ketiga anggota di 45:23, (سَمْعِهِ, sam'ihi) yang berarti "pendengarannya", (وَقَلْبِهِ, wa-qalbihi) yang berarti "dan hatinya", dan (بَصَرِهِ, basharihi) yang berarti "penglihatannya", berbentuk tunggal karena yang dibicarakan satu orang, sedangkan 2:7 memakai kata ganti jamak untuk satu kelompok.
Rangkaian (فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ, fa-man yahdiihi min ba'di llaahi) yang berarti "siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah" ada satu kali, di 45:23. Kata (بَعْدِ, ba'di) berarti "setelah", dan terjemahan tidak memakai "selain" karena kata itu tidak ada di Arabnya. Pertanyaan lain dalam surah yang sama memakai bentuk (بَعْدَ اللَّهِ, ba'da llaahi), yaitu di 45:6, (فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ, fa-bi-ayyi hadiitsin ba'da llaahi wa-aayaatihi yu'minuuna) yang berarti "maka dengan tuturan apa mereka akan beriman setelah Allah dan tanda-tanda-Nya". Penutup ayat, (أَفَلَا تَذَكَّرُونَ, a-fa-laa tadzakkaruuna) yang berarti "apakah kalian tidak mengambil pelajaran", ada tujuh kali di enam surah, yaitu di 10:3, 11:24, 11:30, 16:17, 23:85, 37:155, dan 45:23. Kata kerja tadzakkaruuna berakar ذ-ك-ر dan ditujukan kepada banyak orang, sedangkan pembuka ayat ini menyapa satu orang dengan "engkau". Ayat tidak menyatakan siapa yang dimaksud "kalian" itu.
Tafsiran
Ayat ini mengangkat satu orang sebagai contoh dan menyusun ayatnya menjadi tiga bagian: apa yang orang itu lakukan, apa yang Allah lakukan terhadapnya, dan dua pertanyaan. Orang itu menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan, lalu perbuatan Allah menyusul dalam tiga kata kerja: dibiarkan sesat, dikunci pendengaran dan hatinya, serta diletakkan penutup atas penglihatannya. Perbuatan orang itu disebut lebih dulu, tetapi huruf wa yang menyambung kedua bagian tidak menyatakan urutan waktu atau sebab.
Ayat 45:18 sebelumnya sudah menyebut hawa nafsu, yaitu pada larangan mengikuti (أَهْوَاءَ, ahwaa'a) yang berarti "hawa nafsu" orang-orang yang tidak mengetahui. Ayat 45:23 memperlihatkan keadaan orang yang melangkah lebih jauh dari mengikuti, yaitu menjadikan hawa nafsunya tuhan. Ayat 45:24 membuka dengan "mereka berkata" tanpa menyatakan apakah pembicaranya orang yang dibicarakan di 45:23, jadi hubungan keduanya tidak dinyatakan ayat.
Pertanyaan tentang siapa yang mampu memberi petunjuk tidak dijawab secara tertulis di 45:23. Jawaban dengan bunyi yang dekat ada di 30:29, yang menutup pertanyaan serupa dengan pernyataan bahwa tidak ada seorang penolong pun bagi mereka. Pertanyaan pembuka menyapa satu orang dan pertanyaan penutup menyapa banyak orang, sehingga perkara satu orang itu diajukan kepada lebih banyak pendengar. Ayat ini tidak menyebut apakah ketiga anggota yang dikunci dan ditutup itu dapat terbuka lagi, dan berhenti pada pertanyaan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 45:23 menyebut tuhan milik orang itu, yakni hawa nafsunya sendiri. Tidak ada patung yang disebut dan tidak ada tempat yang dituju, dan yang tertulis hanya hawa nafsu milik orang itu. Allah disebut dalam ayat yang sama sebagai pihak yang bertindak atas orang tersebut, jadi ayat ini menaruh dua kata tuhan berdampingan, yang satu milik si orang dan yang lain bernama Allah. Pembaca dapat memeriksa kepada keinginan apa keputusannya paling sering diserahkan tanpa ditimbang. Sudah berapa lama keinginan itu menempati kedudukan yang di ayat ini disebut milik tuhan?
- Ayat 45:23 dimulai dengan meminta satu orang memperhatikan orang lain. Di 25:43 kalimat pembuka yang hampir sama disambung dengan pertanyaan apakah engkau akan menjadi wakil atasnya, sedangkan di 45:23 disambung dengan perbuatan Allah dan dua pertanyaan. Dua sambungan itu memperlihatkan dua arah dari pandangan yang sama: tanggung jawab terhadap orang itu, dan pertanyaan tentang siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah. Seseorang yang melihat orang lain menyerahkan dirinya pada keinginannya dapat memeriksa arah mana yang biasanya diambil pikirannya: menilai, merasa bertanggung jawab, atau bertanya. Bagaimana ia memandang orang semacam itu bila yang tertulis di depannya hanya kata memperhatikan?
- Pendengaran, hati, dan penglihatan disebut berurutan di ayat ini. Dua yang pertama dikunci oleh satu kata kerja, sedangkan penglihatan diberi penutup oleh kata kerja lain. Seseorang dapat mengamati satu pekan terakhir dan mencatat anggota mana yang paling sering dipakainya untuk menerima teguran, dan mana yang paling jarang. Ayat 45:23 menaruh pendengaran dan hati bersama, dan penglihatan sendirian. Apakah penerimaan lewat penglihatan terasa berbeda dari penerimaan lewat dua yang lain bagi pembaca ini?
- Kata ilmu di 45:23 tidak disertai kata ganti, sehingga ayat tidak menyebut siapa pemiliknya. Bila pemiliknya orang itu sendiri, ayat ini menggambarkan seseorang yang memiliki pengetahuan namun tetap tersesat, dan pembaca dapat bertanya apa yang terjadi pada pengetahuan itu. Bila pemiliknya Allah, ayat ini menyatakan bahwa keadaan orang itu tidak tersembunyi dari-Nya. Di 30:29 orang yang mengikuti hawa nafsu disebut tanpa ilmu, dan 45:23 memakai kata ilmu dengan huruf lain, sehingga keduanya tidak bisa dibaca sebagai kalimat yang sama. Pembaca dapat menimbang pengetahuan apa yang dimilikinya tentang dirinya sendiri dan belum pernah mengubah satu keputusan pun. Apa yang menahan pengetahuan itu di tempatnya?
- Dua pertanyaan dalam surah yang sama memakai kata setelah Allah. Ayat 45:6 menanyakan dengan tuturan apa orang akan beriman setelah Allah dan tanda-tanda-Nya, dan 45:23 menanyakan siapa yang mampu memberi petunjuk setelah Allah. Pembaca dapat mengamati ke mana ia menoleh sesudah mendengar sesuatu yang berasal dari Allah, apakah kepada sumber lain yang menawarkan pegangan atau kepada pertanyaan itu sendiri. Pertanyaan di 45:23 tidak diikuti jawaban tertulis, dan 45:6 pun berakhir sebagai pertanyaan. Sumber lain apa yang paling sering dituju pembaca setelah mendengar sebuah peringatan?
- Ayat ini memulai dengan menyapa satu orang, lalu menutup dengan menyapa banyak orang. Perkara satu orang yang menjadikan keinginannya tuhan diperlihatkan, lalu pertanyaan mengambil pelajaran dialamatkan kepada semua yang mendengar. Pembaca yang membaca contoh tentang orang lain dapat memperhatikan bahwa ayat ini tidak membiarkannya hanya menjadi penonton, sebab pertanyaan terakhirnya memakai kata kalian. Ayat tidak menyebut siapa kalian itu, dan karena itu pembaca tidak dapat mengecualikan dirinya begitu saja. Bila pertanyaan itu ditujukan kepadanya, hal apa dalam hidupnya yang paling layak dipelajari dari contoh tadi?