وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain adalah kehidupan kita di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Padahal, mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu. Mereka hanya menduga-duga.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- وَقَالُواwa-qaaluumereka berkata
- مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَاmaa hiya illaa hayaatunaa d-dunyaa namuutu wa-nahyaakehidupan ini tidak lain adalah kehidupan kita di dunia, kita mati dan kita hidup
- وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُwa-maa yuhlikunaa illaa d-dahrudan tidak ada yang membinasakan kita selain masa
- وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍwa-maa lahum bi-dzaalika min 'ilminpadahal, mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu
- إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَin hum illaa yazhunnuunamereka hanya menduga-duga
Terjemahan per kata (21 kata)
- وَقَالُواwa-qaaluudan mereka berkata
- مَاmaatidaklah
- هِيَhiyaia
- إِلَّاillaakecuali
- حَيَاتُنَاhayaatunaakehidupan kami
- الدُّنْيَاd-dunyaadunia
- نَمُوتُnamuutukami mati
- وَنَحْيَاwa-nahyaadan kami hidup
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- يُهْلِكُنَاyuhlikunaamembinasakan kami
- إِلَّاillaakecuali
- الدَّهْرُd-dahrumasa
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- لَهُمْlahumbagi mereka
- بِذَٰلِكَbi-dzaalikadengan itu
- مِنْmindari
- عِلْمٍ'ilminpengetahuan
- إِنْintidaklah
- هُمْhummereka
- إِلَّاillaakecuali
- يَظُنُّونَyazhunnuunamereka menduga
Inti bacaan
Bentuk (إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا, illaa hayaatunaa d-dunyaa) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:29, 23:37, dan 45:24.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَقَالُوا, wa-qaaluu) yang berarti "dan mereka berkata", dan kutipan yang menyusul dibuka serta ditutup di dalam ayat ini sendiri. Kalimat pertama kutipan, (مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا, maa hiya illaa hayaatunaa d-dunyaa), memakai (مَا, maa) yang berarti "tidak", lalu (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali", dan kata (حَيَاتُنَا, hayaatunaa) yang berarti "kehidupan kita", dengan akhiran (نَا, -naa) yang berarti "kita". Kalimat yang sama muncul di 6:29 dan 23:37 dengan (إِنْ, in) sebagai kata peniadaan, bukan (مَا, maa), sehingga bentuk (إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا, illaa hayaatunaa d-dunyaa) ada tiga kali, yaitu di 6:29, 23:37, dan 45:24. Di 6:29 dan 23:37 kalimat itu berujung pada (وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ, wa-maa nahnu bi-mab'uutsiina) yang berarti "dan kami tidak akan dibangkitkan". Di 45:24 ujung semacam itu tidak ada, dan kalimatnya dilanjutkan dengan kata kerja mati dan hidup serta kata masa.
Rangkaian (نَمُوتُ وَنَحْيَا, namuutu wa-nahyaa) yang berarti "kita mati dan kita hidup" ada dua kali, yaitu di 23:37 dan 45:24. Kata kerja (نَمُوتُ, namuutu) berakar م-و-ت dan (نَحْيَا, nahyaa) berakar ح-ي-ي, dan keduanya berbentuk "kita". Terjemahan menulis "kehidupan kita di dunia" karena akhiran -naa ada di Arabnya, dan menulis "kita mati dan kita hidup" mengikuti urutan Arab: mati lebih dulu, hidup kemudian.
Kata (الدَّهْرُ, d-dahru) yang berarti "masa" dengan akhiran seperti ini muncul 1 kali di Al-Qur'an, yaitu di 45:24. Kata yang sama muncul sekali lagi di 76:1 dalam bentuk (الدَّهْرِ, d-dahri), pada rangkaian (حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ, hiinun mina d-dahri). Di 76:1 kata itu menjadi tempat sebuah rentang yang pernah datang atas manusia sebelum manusia menjadi sesuatu yang disebut. Di 45:24 kata itu menjadi pelaku yang membinasakan, menurut ucapan para pembicara. Kata kerja (يُهْلِكُنَا, yuhlikunaa) yang berarti "membinasakan kita" berakar ه-ل-ك, dan akar yang sama dipakai dengan Allah sebagai pelaku di 28:78, (قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ, qad ahlaka min qablihi mina l-quruuni) yang berarti "sungguh telah membinasakan sebelumnya generasi-generasi". Di 45:24 para pembicara menyebut masa sebagai pelakunya.
Kalimat (وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ, wa-maa lahum bi-dzaalika min 'ilmin) yang berarti "dan mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu" memuat (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "itu", dan dalam urutan ayat ini kata tersebut terbaca menunjuk ucapan yang baru dikutip. Bentuk (بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ, bi-dzaalika min 'ilmin) ada dua kali, yaitu di 43:20 dan 45:24. Terjemahan "sedikit pun" untuk (مِنْ عِلْمٍ, min 'ilmin) dipakai juga di 53:28 dengan pengantar yang berbeda, (وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ, wa-maa lahum bihi min 'ilmin) yang berarti "dan mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentangnya".
Penutup (إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ, in hum illaa yazhunnuuna) ada dua kali, yaitu di 2:78 dan 45:24. Susunan serupa dengan kata kerja lain, (إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ, in hum illaa yakhrushuuna) yang berarti "mereka tidak lain mengira-ngira", ada di 6:116, 10:66, dan 43:20. Kata kerja (يَظُنُّونَ, yazhunnuuna) tidak selalu berarti menduga. Di 2:46 dan 2:249 kata itu disusul (أَنَّهُمْ مُلَاقُو, annahum mulaaquu) yang berarti "bahwa mereka akan menjumpai", dan di sana terjemahan memilih "yakin". Di 45:24 kata kerja itu berdiri sesudah peniadaan pengetahuan dan kata pengecualian tanpa pernyataan yang menyusul, sehingga terjemahan memilih "menduga-duga", seperti di 2:78 dan di 45:32, tempat pembicaranya sendiri berkata (إِنْ نَظُنُّ إِلَّا ظَنًّا, in nazhunnu illaa zhannan) yang berarti "kami tidak lain menduga-duga".
Tafsiran
Ayat ini mengutip sebuah pernyataan tentang hidup, mati, dan masa, lalu menilainya dengan dua kalimat di luar kutipan: mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, dan mereka menduga-duga. Batas antara kutipan dan penilaian jelas, karena kutipan ditutup sebelum kalimat penilaian dimulai. Pernyataan itu diberi ruang untuk diucapkan sampai habis, dan baru sesudahnya dinilai.
Isi kutipan terdiri atas tiga bagian: hidup yang dikenal adalah hidup di dunia, mati dan hidup berganti, dan pembinasa disebut masa. Pelaku yang disebut dalam kutipan hanya masa. Di 45:26 Allah disebut sebagai pelaku untuk akar kata mati dan hidup yang sama, dalam bentuk kata kerja yang berbeda, dan ada kata kerja ketiga, mengumpulkan, yang tidak ada dalam kutipan 45:24. Urutannya pun berbeda. Kutipan menyebut mati lebih dulu lalu hidup, sedangkan 45:21 menyebut kehidupan lalu kematian, dan 45:26 menyebut Allah menghidupkan lalu mematikan.
Ayat 6:29 dan 23:37 memuat kalimat pembuka yang sama dan berujung pada penolakan kebangkitan. Ayat 45:24 tidak memuat penolakan itu secara tertulis. Ayat berikutnya, 45:25, mencatat apa yang diucapkan ketika tanda-tanda Allah dibacakan, dan 45:26 menjawab dengan menyebut Allah menghidupkan, mematikan, dan mengumpulkan ke hari kiamat. Dapat dibaca bahwa kutipan di 45:24 menjadi latar bagi permintaan di 45:25, tetapi ayat tidak mengaitkan keduanya dengan kata sebab.
Ayat 45:32 memuat kata dugaan dari arah lain: sekelompok orang yang diajak bicara berkata sendiri bahwa mereka tidak lain menduga-duga, ketika dikatakan bahwa janji Allah benar. Ayat tidak menyatakan bahwa kelompok itu sama dengan para pembicara di 45:24. Kata dugaan di dua tempat itu dipakai dari dua arah, sebagai penilaian atas pembicara di 45:24 dan sebagai pengakuan pembicara di 45:32.
Renungan dan Hikmah
- Kutipan di 45:24 menyebut orang mati dan hidup, dan hanya masa yang disebut sebagai pelakunya. Di 45:26 akar kata yang sama bergandeng dengan Allah sebagai pelaku, disusul kata kerja mengumpulkan. Seseorang yang menceritakan peristiwa hidup dan mati tanpa menyebut siapa pun di baliknya dapat memperhatikan apakah dirinya memang tidak menaruh siapa pun di sana atau belum pernah menimbangnya. Bila kalimat tentang hidup dan matinya sendiri dibaca keras-keras, siapa yang terdengar sebagai pelakunya?
- Dalam kutipan, masa diberi peran membinasakan, sedangkan di 28:78 peran membinasakan generasi-generasi sebelumnya dipegang Allah. Pembaca yang pernah menyebut waktu sebagai penyebab, seperti dalam ungkapan bahwa waktu yang mengubah atau menghabiskan sesuatu, memakai kalimat yang menaruh masa sebagai pelaku. Ayat ini tidak menilai ungkapan sehari-hari semacam itu. Penilaiannya diarahkan pada kutipan yang menyebut masa sebagai pembinasa tanpa menyebut pihak lain di baliknya. Pembaca dapat memeriksa kapan terakhir kali sebuah kehilangan dinamainya dengan waktu, dan siapa yang terlewati dalam penamaan itu.
- Kalimat pertama kutipan berbentuk tidak ada kecuali, yaitu pernyataan yang menutup semua kemungkinan selain satu, dan ayat 45:24 menilainya dengan menyebut tidak adanya pengetahuan di baliknya. Orang yang pernah berkata bahwa tidak ada apa-apa sesudah sesuatu berakhir, atau bahwa tidak ada yang dapat dilakukan, dapat memeriksa kalimat penutupnya. Berapa kali kata tidak ada kecuali terucap tanpa pernah dicari satu pengecualian pun?
- Ayat ini mengukur kutipan dengan satu pertanyaan, yaitu pengetahuan apa yang mendasarinya. Penilaiannya berbunyi mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu. Ayat ini sendiri tidak menguraikan benar atau salahnya kutipan itu, dan hanya menyebut tidak adanya pengetahuan pada pembicaranya. Seseorang yang berbicara dengan yakin tentang apa yang terjadi sesudah mati, baik untuk menolak maupun untuk menerima, dapat menanyai dirinya apa yang menjadi dasar keyakinan itu. Di 45:26 Allah disebut mengumpulkan manusia ke hari kiamat tanpa keraguan, dan ayat itu menutup dengan bahwa kebanyakan manusia tidak mengetahui. Pengetahuan apa yang dimilikinya tentang hal itu, dan dari mana pengetahuan itu datang?
- Di 45:32 kata dugaan keluar sebagai jawaban atas kabar yang disampaikan dengan kepastian: dikatakan bahwa janji Allah benar dan hari kiamat tidak diragukan, lalu sekelompok orang menjawab bahwa mereka tidak tahu dan tidak lain menduga-duga. Ayat tidak menyatakan bahwa kelompok itu sama dengan para pembicara di 45:24, tetapi dua ayat itu memperlihatkan dugaan dari dua arah, sebagai penilaian dan sebagai jawaban. Seseorang yang menerima kabar yang disampaikan dengan pasti dapat memperhatikan jawaban pertamanya sendiri: bertanya, mengaku tidak tahu, atau menyebut dugaan. Jawaban mana yang paling cepat keluar dari dirinya, dan apa yang membuatnya cepat?
- Ayat 45:24 memberi kutipan tiga bagian tentang hidup, mati, dan masa sampai selesai, dan baru sesudahnya menilai. Susunan ini memperdengarkan pandangan yang berlawanan secara utuh, dan penilaian datang sesudah pandangan itu rampung. Seseorang yang cepat memotong pembicaraan lawan dengan bantahan dapat membandingkan kebiasaannya dengan susunan ayat ini. Kapan terakhir kali ia membiarkan lawan bicara menyelesaikan kalimat pertama sebelum menjawabnya?