وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ مَا كَانَ حُجَّتَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتُوا بِآبَائِنَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Apabila dibacakan kepada mereka tanda-tanda Kami yang jelas, tidak ada hujah mereka, kecuali mengatakan, “Datangkanlah nenek moyang kami jika kalian orang-orang yang benar.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍwa-idzaa tutlaa 'alayhim aayaatunaa bayyinaatinapabila dibacakan kepada mereka tanda-tanda Kami yang jelas
  2. مَا كَانَ حُجَّتَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُواmaa kaana hujjatahum illaa an qaaluutidak ada hujah mereka, kecuali mengatakan
  3. ائْتُوا بِآبَائِنَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَiituu bi-aabaa'inaa in kuntum shaadiqiinadatangkanlah nenek moyang kami jika kalian orang-orang yang benar

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. تُتْلَىٰtutlaadibacakan
  3. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  4. آيَاتُنَاaayaatunaatanda-tanda Kami
  5. بَيِّنَاتٍbayyinaatinyang nyata
  6. مَاmaatidaklah
  7. كَانَkaanaadalah
  8. حُجَّتَهُمْhujjatahumhujah mereka
  9. إِلَّاillaakecuali
  10. أَنْanbahwa
  11. قَالُواqaaluumereka berkata
  12. ائْتُواiituudatangkanlah kalian
  13. بِآبَائِنَاbi-aabaa'inaapada bapak-bapak kami
  14. إِنْinjika
  15. كُنْتُمْkuntumkalian adalah
  16. صَادِقِينَshaadiqiinaorang-orang yang benar

Inti bacaan

Bentuk (بِآبَائِنَا, bi-aabaa'inaa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 44:36 dan 45:25.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ, wa-idzaa tutlaa 'alayhim aayaatunaa bayyinaatin) yang berarti "dan apabila dibacakan kepada mereka tanda-tanda Kami yang jelas". Kalimat pembuka yang sama ada enam kali, yaitu di 10:15, 19:73, 22:72, 34:43, 45:25, dan 46:7, dan lanjutannya berbeda-beda. Di 10:15 orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami meminta bacaan lain atau penggantian. Di 19:73 orang yang kufur bertanya kepada orang beriman golongan mana yang lebih baik tempat tinggalnya. Di 22:72 keingkaran terlihat pada wajah mereka. Di 34:43 mereka berkata bahwa pembaca itu ingin menghalangi mereka dari apa yang disembah nenek moyang mereka. Di 46:7 mereka menyebut kebenaran itu sihir yang nyata. Di 45:25 lanjutannya permintaan agar nenek moyang didatangkan. Kata (تُتْلَىٰ, tutlaa) yang berarti "dibacakan" berakar ت-ل-و dan tidak menyebut siapa yang membacakan.

Rangkaian (إِلَّا أَنْ قَالُوا, illaa an qaaluu) yang berarti "kecuali mereka berkata" ada sembilan kali, yaitu di 3:147, 6:23, 7:5, 7:82, 17:94, 27:56, 29:24, 29:29, dan 45:25. Delapan di antaranya didahului kata kerja kaana atau takun dan satu kata benda yang menamai ucapan itu: (قَوْلَهُمْ, qawlahum) yang berarti "ucapan mereka" di 3:147, (فِتْنَتُهُمْ, fitnatuhum) yang berarti "dalih mereka" di 6:23, (دَعْوَاهُمْ, da'waahum) yang berarti "seruan mereka" di 7:5, (جَوَابَ قَوْمِهِ, jawaaba qawmihi) yang berarti "jawaban kaumnya" di 7:82, 27:56, 29:24, dan 29:29, serta (حُجَّتَهُمْ, hujjatahum) yang berarti "hujah mereka" di 45:25. Susunan ini tidak khusus untuk pengingkar, karena di 3:147 ucapan yang dikutip berupa doa memohon ampun dan keteguhan. Nama ucapan itu "hujah" hanya di 45:25.

Kata (حُجَّتَهُمْ, hujjatahum) berakar ح-ج-ج. Kata benda hujjah ada tujuh kali di lima surah, yaitu di 2:150, 4:165, 6:83, 6:149, 42:15, 42:16, dan 45:25. Di 6:83 dan 6:149 hujah itu milik Allah. Di 2:150 dan 4:165 hujah dibicarakan sebagai sesuatu yang dapat dipegang manusia terhadap pihak lain, dan kedua ayat menyebut tujuan agar hujah itu tidak ada. Di 42:15 ayat meniadakan hujah antara dua pihak, dan di 42:16 hujah orang yang berhujah tentang Allah dinilai dalam (حُجَّتُهُمْ دَاحِضَةٌ, hujjatuhum daahidhatun) yang berarti "hujah mereka sia-sia" di sisi Tuhan mereka. Di 45:25 kata itu dipakai untuk ucapan yang tercatat di ayat itu, dan ayat tidak menilainya dengan kata sifat seperti di 42:16.

Permintaan (ائْتُوا بِآبَائِنَا, iituu bi-aabaa'inaa) yang berarti "datangkanlah nenek moyang kami" ada satu kali dalam bentuk ini, yaitu di 45:25. Di 44:36 bunyinya (فَأْتُوا بِآبَائِنَا, fa-tuu bi-aabaa'inaa), sehingga bentuk (بِآبَائِنَا, bi-aabaa'inaa) ada dua kali, yaitu di 44:36 dan 45:25. Kata kerja perintah iituu berbentuk "kalian", dan di 29:29 permintaan serupa ditujukan kepada satu orang, (ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ, tinaa bi-'adzaabi llaahi) yang berarti "datangkanlah kepada kami azab Allah". Kata (آبَائِنَا, aabaa'inaa) yang berarti "nenek moyang kami" ada empat kali, yaitu di 23:24, 28:36, 44:36, dan 45:25. Di 23:24 dan 28:36 bunyinya (فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ, fii aabaa'inaa l-awwaliina) yang berarti "pada nenek moyang kami yang terdahulu", dan di sana nenek moyang menjadi rujukan bagi apa yang pernah atau tidak pernah didengar para pembicara. Di 44:36 dan 45:25 nenek moyang diminta datang.

Penutup (إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ, in kuntum shaadiqiina) yang berarti "jika kalian orang-orang yang benar" ada juga di ayat lain, antara lain di 2:23, 2:31, dan 3:93. Syarat itu mengikat permintaan pada kebenaran orang yang ditujunya: jika mereka benar, maka nenek moyang didatangkan. Terjemahan mempertahankan kata "kalian" yang jamak, dan ayat tidak menyebut siapa yang dimaksud.

Tafsiran

Ayat ini mencatat apa yang diucapkan ketika tanda-tanda Allah dibacakan dengan jelas: sebuah permintaan agar nenek moyang didatangkan. Ayat menyatakan bahwa tidak ada hujah mereka selain permintaan itu, sehingga bantahan terhadap isi bacaan tidak tercatat di sini. Dua ayat yang berurutan ini menyebut dua hal yang tidak mereka miliki atau tidak mereka tawarkan: pengetahuan di 45:24, dan hujah selain permintaan di 45:25.

Rangkaian yang mirip dengan 45:24 sampai 45:25 ada di 44:35 sampai 44:36. Ayat 44:35, (إِنْ هِيَ إِلَّا مَوْتَتُنَا الْأُولَىٰ, in hiya illaa mawtatunaa l-uulaa) yang berarti "tidak ada kecuali kematian kita yang pertama", memuat penolakan dibangkitkan, dan 44:36 memuat permintaan yang hampir sama dengan 45:25. Di kedua surah permintaan itu datang sesudah pernyataan tentang mati. Dapat dibaca bahwa permintaan itu menguji pernyataan kebangkitan, sebab nenek moyang adalah generasi yang lebih dulu, dan mendatangkan mereka berarti memperlihatkan orang-orang yang kembali. Ayat tidak menyatakan pembacaan itu, dan yang tertulis adalah permintaan serta syaratnya.

Ayat 45:26 menjawab tanpa menghadirkan seorang pun dari nenek moyang itu. Ayat itu dibuka dengan perintah mengatakan, lalu menyebut Allah menghidupkan, mematikan, dan mengumpulkan ke hari kiamat, dan menutup dengan bahwa tidak ada keraguan padanya. Jawaban itu membuka kembali kosakata hidup dan mati dari 45:21 dan 45:24. Sesudah kutipan di 45:24 dan permintaan di 45:25, ayat 45:26 meletakkan hidup dan mati pada pihak yang disebut sebagai pelakunya.

Ayat 34:43 menunjukkan peran lain bagi nenek moyang dalam ucapan para pengingkar. Di sana nenek moyang menjadi ukuran apa yang pantas disembah, sedangkan di 45:25 mereka menjadi pihak yang diminta hadir. Dua ayat dengan kalimat pembuka yang sama itu memuat nenek moyang dalam dua peran, yaitu sebagai sumber kebiasaan dan sebagai pihak yang dimintakan hadir.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 45:25 mencatat bahwa ketika tanda-tanda yang jelas dibacakan, tidak ada hujah selain sebuah permintaan. Seseorang yang mendengar penjelasan lalu menjawab dengan permintaan bukti baru dapat memeriksa apakah permintaan itu menyentuh isi penjelasan atau menggeser pokoknya. Di 45:6 tanda-tanda Allah disebut dibacakan dengan benar, lalu ditanyakan tuturan mana lagi yang akan dipercaya setelah Allah dan tanda-tandanya. Permintaan baru dapat memberi rasa bahwa percakapan masih berjalan, sementara pokoknya belum disentuh. Dalam percakapan terakhir yang diingatnya, apakah permintaan bukti diajukan setelah isi penjelasan dijawab, atau sebagai ganti menjawabnya?
  • Permintaan di 45:25 disertai syarat, yaitu jika kalian orang-orang yang benar. Syarat itu menaruh kebenaran pihak lain pada sesuatu yang ditentukan oleh si peminta. Orang yang pernah berkata bahwa ia akan percaya kalau diberi bukti tertentu dapat memeriksa siapa yang memilih jenis bukti itu. Ayat mencatat permintaan yang dipasang pada pihak yang membacakan tanda-tanda Allah, dan permintaan itu menjadi seluruh hujah yang tertulis. Bila syaratnya ditulis ulang, adakah syarat yang bisa dipenuhi tetapi tidak pernah disebutkan terang-terangan?
  • Permintaan di 45:25 ditujukan kepada pihak yang membacakan tanda-tanda, sedangkan jawaban di 45:26 menyebut Allah sebagai yang menghidupkan, mematikan, lalu mengumpulkan. Dua ayat itu menaruh perkara hidup dan mati pada alamat yang berbeda dari alamat permintaan. Seseorang yang pernah menuntut bukti dari orang lain atas sesuatu yang pemenuhannya tidak berada di tangan orang itu dapat menimbang kembali kepada siapa tuntutan itu sebenarnya dialamatkan. Bukti apa yang selama ini diminta dari orang lain padahal pemenuhannya berada di luar kuasa mereka?
  • Dua ayat yang berkalimat pembuka sama menaruh nenek moyang pada dua kedudukan: di 34:43 ukuran apa yang pantas disembah, di 45:25 pihak yang diminta datang. Seseorang yang menimbang pilihannya dengan apa yang dilakukan keluarga atau leluhurnya dapat memperhatikan dua peran itu dalam dirinya, sebagai sumber kebiasaan dan sebagai pihak yang seolah diminta menguatkan. Ayat mencatat ucapan yang menjadikan leluhur pengganti hujah ketika tanda-tanda dibacakan. Bila leluhur itu diminta menjelaskan pilihan tersebut, apa yang akan dikatakannya?
  • Di 42:16 hujah orang yang berhujah tentang Allah dinilai sia-sia di sisi Tuhan mereka, jadi penilaian atas hujah itu ditempatkan di hadapan Tuhan dan tidak diserahkan kepada pihak yang berhujah. Di 45:25 kata hujah dipakai untuk ucapan yang tercatat, tanpa kata sifat yang menilainya. Dua ayat itu menyebut hujah dengan dua cara, dan keduanya tidak meminjam penilaian satu sama lain. Seseorang yang memenangkan sebuah perdebatan di hadapan orang lain dapat menimbang bahwa kemenangan itu dinilai di tempat yang lain. Alasan mana yang selama ini dimenangkannya di hadapan manusia tetapi belum pernah ditimbangnya di hadapan Tuhan?
  • Orang yang menyampaikan sesuatu dan dibalas dengan tuntutan di luar kemampuannya dapat melihat cara 45:26 menjawab. Jawaban itu tidak mendatangkan nenek moyang dan tidak berhenti menjawab. Ayat itu dibuka dengan perintah mengatakan, lalu menyebut perbuatan Allah yang sedang berlangsung, yaitu menghidupkan dan mematikan, serta pengumpulan ke hari kiamat. Dengan susunan itu tuntutan tidak dipenuhi dan tidak dibiarkan tanpa jawaban. Bagaimana menjawab tuntutan semacam itu tanpa pura-pura memenuhinya dan tanpa berhenti menjawab?