وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَخْسَرُ الْمُبْطِلُونَ

Dan milik Allahlah kerajaan langit dan bumi; dan pada hari kiamat terjadi, pada hari itu rugilah orang-orang yang membatalkan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِwa-li-llaahi mulku s-samaawaati wa-l-ardhidan milik Allahlah kerajaan langit dan bumi
  2. وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَخْسَرُ الْمُبْطِلُونَwa-yawma taquumu s-saa'atu yawma'idzin yakhsaru l-mubthiluunadan pada hari kiamat terjadi, pada hari itu rugilah orang-orang yang membatalkan

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. وَلِلَّهِwa-li-llaahidan milik Allah
  2. مُلْكُmulkukerajaan
  3. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  4. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  5. وَيَوْمَwa-yawmadan pada hari
  6. تَقُومُtaquumuberdiri
  7. السَّاعَةُs-saa'atuhari Kiamat
  8. يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
  9. يَخْسَرُyakhsarumerugi
  10. الْمُبْطِلُونَl-mubthiluunaorang-orang yang membatalkan

Inti bacaan

Susunan (تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ, taquumu s-saa'atu yawma'idzin) muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 30:14 dan 45:27.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-li-llaahi mulku s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "dan milik Allahlah kerajaan langit dan bumi". Awalan (لِ, li-) pada li-llaahi diterjemahkan "milik", sama dengan rumus wa-li-llaahi maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi di 3:109, 3:129, 4:126, 4:131, 4:132, dan 53:31 yang di keenamnya berarti "dan milik Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi". Karena kata Allah ditaruh sebelum (مُلْكُ, mulku) yang berarti "kerajaan", pemilik disebut lebih dulu daripada yang dimiliki, dan terjemahan mengikuti urutan itu. Kata mulku berakar م-ل-ك. Susunan wa-li-llaahi mulku s-samaawaati wa-l-ardhi muncul enam kali di lima surah, yaitu 3:189, 5:17, 5:18, 24:42, 45:27, dan 48:14, dan di keenamnya pemilik berada di depan. Dengan kata ganti, urutan yang sama ada di 57:2, (لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, lahu mulku s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi".

Kalimat kedua dimulai dengan (وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ, wa-yawma taquumu s-saa'atu) yang berarti "dan pada hari kiamat terjadi". Kata kerja (تَقُومُ, taquumu) berakar ق-و-م, dan subjeknya (السَّاعَةُ, s-saa'atu) yang di sini diterjemahkan "hari kiamat". Susunan wa-yawma taquumu s-saa'atu muncul lima kali di tiga surah, yaitu 30:12, 30:14, 30:55, 40:46, dan 45:27, dan terjemahan memakai "terjadi" untuk taquumu di kelimanya. Akar ق-و-م sama dengan akar (الْقِيَامَةِ, l-qiyaamati) di 45:26, sehingga dua ayat berurutan memuat dua kata dari satu akar untuk hari yang sama: qiyaamah di 45:26 dan taquumu di 45:27. Kedua nama hari itu tetap dua kata Arab yang berbeda, karena as-saa'ah berakar س-و-ع dan al-qiyaamah berakar ق-و-م. Terjemahan 45:27 memakai "hari kiamat" untuk as-saa'ah seperti di 40:46 dan 45:32.

Sesudah itu datang (يَوْمَئِذٍ, yawma'idzin) yang berarti "pada hari itu". Kata ini mengulang kata hari yang sudah dibuka oleh wa-yawma, sehingga kalimat memuat dua penanda hari berturut-turut. Susunan (تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ, taquumu s-saa'atu yawma'idzin) muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 30:14 dan 45:27. Di 30:14 kata kerja sesudahnya adalah (يَتَفَرَّقُونَ, yatafarraquuna) yang berarti "mereka terpisah-pisah", sedangkan di 45:27 kata kerja sesudahnya menyebut kerugian.

Kata kerja itu (يَخْسَرُ, yakhsaru) yang berarti "rugi" berakar خ-س-ر, dan bentuk persisnya ada di 45:27 saja. Akar yang sama ada di 40:78, (وَخَسِرَ هُنَالِكَ, wa-khasira hunaalika) yang berarti "dan di sana rugilah", dan di 29:52 yang menyebut orang-orang yang rugi sesudah (وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ, wa-lladziina aamanuu bi-l-baathili) yang berarti "dan orang-orang yang memercayai kebatilan". Tiga ayat, yaitu 29:52, 40:78, dan 45:27, memuat akar rugi bersama akar ب-ط-ل dalam satu ayat.

Pelaku kerugian di 45:27 adalah (الْمُبْطِلُونَ, l-mubthiluuna) yang berarti "orang-orang yang membatalkan". Kata ini berakar ب-ط-ل. Dengan kata sandang al-, kata ini muncul empat kali di empat surah, yaitu 7:173, 29:48, 40:78, dan 45:27, dan tanpa kata sandang bentuknya ada sekali di 30:58. Kata kerja dari pola yang sama diterjemahkan "membatalkan" di empat ayat: (لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ, laa tubthiluu shadaqaatikum) yang berarti "jangan membatalkan sedekah kalian" di 2:264, (وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ, wa-laa tubthiluu a'maalakum) yang berarti "dan janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian" di 47:33, (وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ, wa-yubthila l-baathila) yang berarti "dan membatalkan kebatilan" di 8:8, dan (سَيُبْطِلُهُ, sa-yubthiluhu) yang berarti "akan membatalkannya" di 10:81. Terjemahan 45:27 memakai arti kata kerja itu untuk bentuk pelakunya. Pada keempat kata kerja ada sesuatu yang dibatalkan, yaitu sedekah, amal, kebatilan, dan sihir yang dibawa. Di 45:27 kata ini berdiri tanpa sasaran, sehingga terjemahan tidak menambahkan "kebenaran" atau "ayat" sebagai sasarannya.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan pembicaraan dari tiga perbuatan Allah di 45:26 ke pemilik kerajaan dan hari ketika kerugian disebut. Ayat 45:27 tidak memuat perintah quli, jadi kalimatnya berdiri sesudah kutipan jawaban di 45:26 selesai.

Enam ayat dibuka dengan wa-li-llaahi mulku s-samaawaati wa-l-ardhi, dan sambungannya berbeda-beda. Di 3:189 menyusul kuasa atas segala sesuatu. Di 5:17 menyusul penciptaan menurut kehendak dan kuasa atas segala sesuatu, di 5:18 menyusul kata bahwa kepada-Nya semua kembali, di 24:42 menyusul kata bahwa kepada Allah tempat kembali, dan di 48:14 menyusul ampunan dan azab menurut kehendak. Di antara keenam ayat itu, 45:27 sendiri menyambung kepemilikan langsung dengan terjadinya hari kiamat dan kerugian dalam satu kalimat, dan lima lainnya tidak.

Kerajaan dan hari itu bertemu di tempat lain dalam ungkapan yang lebih pendek. Ayat 22:56 menulis (الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ, al-mulku yawma'idzin li-llaahi) yang berarti "segala kekuasaan pada hari itu milik Allah", dan 40:16 mengajukannya sebagai pertanyaan, (لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ, li-mani l-mulku l-yawma) yang berarti "milik siapakah kerajaan pada hari ini". Di kedua ayat itu kerajaan dibatasi oleh hari, sedangkan 45:27 menyebut kerajaan langit dan bumi tanpa batas waktu, lalu menyambungkan hari itu dengan kerugian.

Ayat ini menyebut satu pihak yang rugi, yaitu orang-orang yang membatalkan, tanpa menyebut siapa mereka. Pihak lain dibuka di 45:30 dengan fa-ammaa. Ayat 40:78 menyusun pasangan serupa dengan lebih rinci: (قُضِيَ بِالْحَقِّ, qudhiya bi-l-haqqi) yang berarti "diputuskan dengan hak" disusul kerugian di sana. Ayat 45:29 dua ayat sesudah ini memuat (بِالْحَقِّ, bi-l-haqqi) lagi, sehingga kerugian di 45:27 dan kebenaran di 45:29 berada dalam satu rangkaian.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut pemilik kerajaan lebih dulu dan baru sesudahnya yang rugi. Pemilik yang berada di depan juga ada di lima ayat lain yang dibuka dengan kata milik Allah. Allah disebut sebagai pemilik langit dan bumi tanpa pembatas yang mengecualikan bagian mana pun. Pembaca yang biasa mengucapkan kata milikku dapat menaruh ayat ini di sebelah ucapan itu. Kepemilikan apa saja yang selama ini disebut tanpa pernah ditanyakan asalnya, dan apakah kata milik di mulut pembaca memakai ukuran yang sama dengan kata milik di ayat ini?
  • Ayat 45:26 menutup dengan keadaan pengetahuan, yaitu kebanyakan manusia tidak mengetahui, dan ayat 45:27 menyebut kerugian pada golongan yang disebut lewat sebuah perbuatan, yaitu membatalkan. Kedua ayat itu tidak menyatakan golongannya sama, dan kerugian tidak dikaitkan dengan ketidaktahuan. Kerugian dihubungkan dengan apa yang dikerjakan. Bila perhitungan pada hari itu menyangkut perbuatan, pembaca dapat meninjau apa yang sedang dikerjakannya hari ini yang bisa masuk ke dalam hitungan itu.
  • Kata kerja yang menjadi dasar kata orang-orang yang membatalkan dipakai di 2:264 dan 47:33 untuk orang-orang yang beriman: jangan membatalkan sedekah kalian, dan janganlah kalian membatalkan amal kalian. Ayat 2:264 menyebut cara pembatalan itu, yaitu menyebut-nyebutnya dan menyakiti. Dua ayat itu tidak menyamakan orang beriman dengan orang-orang yang rugi di 45:27, dan ayat 45:27 tidak menyebut apa yang dibatalkan. Pembaca dapat bertanya, perbuatan baik apa yang pernah dikerjakannya dengan sungguh-sungguh lalu dibuatnya sendiri tidak lagi berarti, entah dengan kata-kata atau dengan sikap sesudahnya?
  • Ayat 57:2 menuliskan milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi, lalu Dia menghidupkan dan mematikan, dalam dua kalimat yang berdampingan. Ayat 45:26 dan 45:27 memuat dua hal yang sama dalam urutan terbalik: menghidupkan, mematikan, dan mengumpulkan di ayat pertama, kerajaan langit dan bumi di ayat kedua. Pemilik kerajaan dan pelaku hidup serta mati sama-sama Allah, dalam satu rangkaian ayat. Pembaca yang memegang sesuatu, entah rumah, jabatan, atau waktu luang, dapat menimbang hubungan dua hal itu. Apa artinya memegang sesuatu bila hidup yang dipakai untuk memegangnya juga berasal dari pemilik yang sama?
  • Kalimat kedua memakai dua penanda hari berturut-turut, pada hari kiamat terjadi dan pada hari itu, dan kerugian dilekatkan pada penanda yang kedua, sehingga ayat tidak menyebut waktu lain untuknya. Di 30:14 susunan dua penanda yang sama dipakai untuk hal lain, yaitu mereka terpisah-pisah. Pembaca yang menunda penilaian atas perbuatannya karena merasa perhitungan masih jauh dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh kerugian pada sebuah hari tertentu. Perkara apa yang sekarang disebut nanti saja, dan apakah daftar itu pernah ditulis?
  • Kata kerja untuk hari kiamat di ayat ini berakar ق-و-م, dan makna harfiahnya berdiri. Di ayat berikutnya setiap umat digambarkan berlutut. Dua sikap tubuh itu berhadapan lewat dua ayat berurutan: hari itu berdiri, lalu semua umat berlutut. Keduanya berada di bawah pernyataan pembuka bahwa kerajaan langit dan bumi milik Allah. Pembaca yang membayangkan hari itu dapat memperhatikan sikap tubuh apa yang ada dalam gambaran tentang dirinya sendiri di hadapan perkara besar, dan dari mana gambaran itu berasal. Apakah gambaran itu memuat apa yang tertulis di dua ayat ini, atau tambahan dari kebiasaan membayangkan?