وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Bagi-Nya segala kebesaran di langit dan bumi. Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِwa-lahu l-kibriyaa'u fii s-samaawaati wa-l-ardhibagi-Nya segala kebesaran di langit dan bumi
- وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُwa-huwa l-'aziizu l-hakiimuDialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah
Terjemahan per kata (8 kata)
- وَلَهُwa-lahudan bagi-Nya
- الْكِبْرِيَاءُl-kibriyaa'ukebesaran
- فِيfiidi
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- وَهُوَwa-huwadan Dia
- الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
- الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah
Inti bacaan
Susunan (وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, wa-huwa l-'aziizu l-hakiimu) muncul 12 kali di Al-Qur'an, yaitu di 14:4, 16:60, 29:42, 30:27, 31:9, 35:2, 45:37, 57:1, 59:1, 59:24, 61:1, dan 62:3.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَلَهُ, wa-lahu) yang berarti "dan bagi-Nya", tersusun dari wa yang berarti "dan", li yang berarti "bagi", dan akhiran -hu yang berarti "-Nya", yang menunjuk Allah yang disebut di 45:36. Sesudahnya datang (الْكِبْرِيَاءُ, l-kibriyaa'u) yang berarti "kebesaran", kata benda berakar ك-ب-ر. Kata ini muncul 2 kali di Al-Qur'an, yaitu di 10:78 dan 45:37. Di 10:78 kata itu ada dalam ucapan kepada dua orang, dengan (لَكُمَا, lakumaa) yang berarti "bagi kalian berdua" di depannya, dan tempatnya hanya bumi, yaitu (لَكُمَا الْكِبْرِيَاءُ فِي الْأَرْضِ, lakumaa l-kibriyaa'u fii l-ardhi). Di 45:37 pemilik kebesaran itu adalah Dia, dan wilayahnya langit dan bumi sekaligus.
Akar ك-ب-ر dipakai tiga kali di surah ini: (مُسْتَكْبِرًا, mustakbiran) yang berarti "menyombongkan diri" di 45:8, (فَاسْتَكْبَرْتُمْ, fa-stakbartum) yang berarti "lalu kalian menyombongkan diri" di 45:31, dan l-kibriyaa'u di 45:37. Dua yang pertama menjadi perbuatan manusia, sedangkan yang terakhir menjadi benda yang dimiliki Allah. Terjemahan memakai "kebesaran" untuk l-kibriyaa'u. Padanan yang sama dipakai untuk (الْجَلَالِ, l-jalaali) di 55:27 dan 55:78, tetapi akarnya ج-ل-ل dan tidak sekerabat dengan ك-ب-ر, sehingga dua kata Arab yang berbeda terbaca sama dalam bahasa Indonesia.
Susunan (فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, fii s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "di langit dan bumi" disusul (وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, wa-huwa l-'aziizu l-hakiimu) yang berarti "dan Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah" di 4 ayat, yaitu 30:27, 45:37, 57:1, dan 59:24. Kalimat 30:27 dan 45:37 punya kerangka yang sama: (وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ, wa-lahu l-matsalu l-a'laa) yang berarti "dan bagi-Nya sifat yang tertinggi" di 30:27, lalu "di langit dan bumi", lalu penutup yang sama. Bedanya hanya benda yang dimiliki, yaitu sifat yang tertinggi di 30:27 dan kebesaran di 45:37. Di 57:1 dan 59:24 apa yang ada di langit dan bumi bertasbih sebelum penutup itu.
Susunan wa-huwa l-'aziizu l-hakiimu muncul 12 kali di 11 surah, yaitu 14:4, 16:60, 29:42, 30:27, 31:9, 35:2, 45:37, 57:1, 59:1, 59:24, 61:1, dan 62:3. Pasangan sifat itu dalam bentuk lain, (الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ, l-'aziizi l-hakiimi), muncul 5 kali, yaitu 3:126, 39:1, 45:2, 46:2, dan 62:1, dan di 45:2 pasangan itu menjadi sifat Allah yang menurunkan Kitab. Kedua sifat memakai kata sandang al-, sehingga masing-masing didahului "Sang" dan dihubungkan dengan "lagi". Kata (الْعَزِيزُ, l-'aziizu) tidak khusus untuk Allah: di 12:30, 12:51, 12:78, dan 12:88 kata yang sama menjadi sebutan bagi seorang manusia, misalnya (يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ, yaa ayyuhaa l-'aziizu) di 12:78 dan 12:88, dan terjemahan membiarkannya sebagai "al-Aziz". Di 45:37 kata itu menunjuk Allah karena didahului (وَهُوَ, wa-huwa) yang berarti "dan Dia" dan disandingkan dengan (الْحَكِيمُ, l-hakiimu) yang berarti "Sang Penuh Hikmah".
Tafsiran
Ayat ini menutup surah dengan dua pernyataan tentang Allah, dan keduanya tidak memuat kata kerja: kebesaran adalah milik-Nya di langit dan bumi, dan Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah. Kata ganti manusia yang memenuhi 45:28 sampai 45:35 tidak ada lagi di sini. Kedua kata ganti yang tersisa, -Nya dan Dia, menunjuk Allah.
Penutup ini membingkai surah. Surah dibuka di 45:2 dengan turunnya Kitab dari Allah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah, dan di 45:3 dengan tanda-tanda di langit dan bumi bagi orang-orang mukmin. Di 45:37 pasangan sifat yang sama kembali, dan langit serta bumi kembali sebagai tempat, kali ini tempat kebesaran. Dapat dibaca bahwa tanda-tanda yang dijadikan olok-olok di 45:35 berada di dua wilayah yang di akhir surah disebut sebagai wilayah kebesaran-Nya. Pembacaan ini bersandar pada kesamaan nama tempat, karena tidak ada kata yang menghubungkannya secara langsung.
Kebesaran yang dimiliki Allah di ayat ini memakai akar yang sama dengan kesombongan yang disebut di tengah surah. Orang yang mendengar tanda-tanda dibacakan lalu menyombongkan diri di 45:8 dan 45:31, dan surah ini ditutup dengan kata yang memakai akar itu sebagai milik Allah. Surah tidak menjelaskan hubungan kedua pemakaian tersebut dan meletakkan pemiliknya.
Urutan 45:35, 45:36, dan 45:37 bergerak dari dua jalan yang ditutup, ke puji, ke kebesaran. Kata terakhir surah ini adalah sifat Allah, sedangkan ayat-ayat sebelum itu dipenuhi kata tentang nasib manusia.
Renungan dan Hikmah
- Kebesaran di ayat ini milik-Nya di langit dan bumi, sedangkan di 45:8 dan 45:31 akar kata yang sama dipakai untuk manusia yang menyombongkan diri. Pembaca dapat memperhatikan rasa besar yang muncul dalam dirinya, misalnya ketika dipuji atau ketika menang berdebat, lalu menimbang bahwa surah ini ditutup dengan menyebut pemilik kebesaran. Ayat tidak menilai rasa itu salah atau benar, dan hanya menyebut milik siapa kebesaran itu. Kapan terakhir kali pembaca merasa besar, dan apakah sempat menyebut kepada diri sendiri milik siapa kebesaran yang sesungguhnya?
- Dua sifat disandingkan di ayat ini dengan kata sandang yang sama: Sang Digdaya dan Sang Penuh Hikmah. Pasangan itu menyertai kata Dia di 12 ayat. Pembaca dapat memikirkan siapa yang disebutnya kuat dan siapa yang disebutnya bijak, lalu bertanya apakah keduanya pernah ditaruh pada satu nama. Di ayat ini keduanya disematkan pada satu pihak, yaitu Dia yang bagi-Nya kebesaran di langit dan bumi. Pembaca yang melihat kekuatan dan kebijaksanaan sebagai dua hal terpisah mendapati ayat ini menyebutnya sekaligus.
- Kata terakhir surah ini adalah sifat Allah, Sang Penuh Hikmah, sedangkan ayat-ayat sebelumnya dipenuhi kata ganti kalian dan mereka. Kata ganti terakhir di surah ini adalah Dia. Pembaca yang mengikuti kata ganti dari 45:28 sampai 45:37 dapat mengamati perpindahannya: dari orang-orang yang dibalas, ke orang-orang yang kufur, dan berakhir pada Dia. Pada kata ganti mana perhatian pembaca berhenti ketika membaca surah ini?
- Surah ini menyebut langit dan bumi di awal sebagai tempat tanda-tanda bagi orang-orang mukmin, dan di akhir sebagai tempat kebesaran milik-Nya. Pembaca yang membaca dari 45:3 sampai 45:37 kembali ke tempat yang sama dengan sebutan berbeda. Langit dan bumi di sana tetap sama, sedangkan apa yang dikatakan tentangnya berganti. Pembaca dapat bertanya apa yang terlihat ketika menengadah dan menunduk pada hari-hari biasa, tanda yang menunjuk kepada Allah, atau latar yang sudah terlalu akrab untuk dilihat?
- Di 45:2 Kitab diturunkan dari Allah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah, dan di 45:37 pasangan sifat itu menutup surah. Di antara dua ayat itu tanda-tanda Allah dibacakan kepada orang-orang, dan sebagian menyombongkan diri atau menjadikannya olok-olok. Pembaca yang membaca surah ini sedang menerima bacaan yang diapit oleh dua penyebutan sifat itu. Pembaca dapat bertanya bagaimana bacaan seperti itu diperlakukan di rumah, di jalan, dan di hadapan orang lain?
- Kata yang sama dengan Sang Digdaya dipakai di 12:30, 12:51, 12:78, dan 12:88 untuk seorang manusia, dan di 12:78 serta 12:88 orang itu disapa dengan kata itu saja, tanpa sifat penuh hikmah di sampingnya. Di 45:37 kata itu berdiri bersama sifat penuh hikmah dan menunjuk Dia yang memiliki kebesaran di langit dan bumi. Ayat-ayat itu berbeda konteksnya dan tidak disamakan. Pembaca dapat bertanya, ketika melihat orang yang berkuasa di sekitarnya, apakah sifat kedua itu ikut dicari, dan apakah dicari juga pada diri sendiri?