Ayat 46:5

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru siapa pun selain Allah yang tidak menyahutnya sampai hari kiamat, sedang mereka lalai terhadap seruan mereka?

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِwa-man adhallu mimman yad'uu min duuni llaahidan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru siapa pun selain Allah
  2. مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِman laa yastajiibu lahu ilaa yawmi l-qiyaamatiyang tidak menyahutnya sampai hari kiamat
  3. وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَwa-hum 'an du'aa'ihim ghaafiluunasedang mereka lalai terhadap seruan mereka

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. وَمَنْwa-mandan orang yang
  2. أَضَلُّadhallulebih sesat
  3. مِمَّنْmimmandari orang yang
  4. يَدْعُوyad'uumenyeru
  5. مِنْmindari
  6. دُونِduuniselain
  7. اللَّهِllaahiAllah
  8. مَنْmansiapa pun
  9. لَاlaatidak
  10. يَسْتَجِيبُyastajiibumenyahut
  11. لَهُlahubaginya
  12. إِلَىٰilaasampai
  13. يَوْمِyawmihari
  14. الْقِيَامَةِl-qiyaamatikiamat
  15. وَهُمْwa-humdan mereka
  16. عَنْ'anterhadap
  17. دُعَائِهِمْdu'aa'ihimseruan mereka
  18. غَافِلُونَghaafiluunaorang-orang yang lalai

Inti bacaan

Rangkaian (إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ilaa yawmi l-qiyaamati) muncul dua belas kali di Al-Qur'an, antara lain di 3:55, 28:71, 28:72, dan 46:5.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terbuka dengan pertanyaan pembanding, (وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ, wa-man adhallu mimman) yang berarti "dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang". Kata (أَضَلُّ, adhallu) berbentuk perbandingan dari akar ض-ل-ل. Susunan (مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ, man adhallu mimman) muncul dua kali di dua surah, yaitu di 41:52 dan 46:5. Di 41:52 bunyinya (مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ هُوَ فِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ, man adhallu mimman huwa fii syiqaaqin ba'iidin) yang berarti "siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berada dalam perselisihan yang jauh". Di 28:50 pertanyaan serupa memakai bentuk lain, (وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ, wa-man adhallu mimmani ttaba'a hawaahu bi-ghayri hudan mina llaahi) yang berarti "siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa petunjuk dari Allah". Tiga ayat itu mengajukan pertanyaan yang sama dengan tiga sasaran berbeda: perselisihan yang jauh di 41:52, keinginan sendiri di 28:50, dan menyeru selain Allah di 46:5. Terjemahan memakai "lebih sesat" dan tidak menambahkan jawaban.

Sasaran di 46:5 dirumuskan dengan (يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ, yad'uu min duuni llaahi) yang berarti "menyeru selain Allah". Kata kerja (يَدْعُو, yad'uu) berakar د-ع-و, berbentuk tunggal dan berpelaku orang ketiga, sedangkan di 46:4 kata kerjanya (تَدْعُونَ, tad'uuna) berbentuk jamak dengan pelaku "kalian". Dengan begitu ayat 46:5 berbicara tentang penyeru secara umum, tidak lagi kepada lawan bicara. Susunan (يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ, yad'uu min duuni llaahi) muncul dua kali di dua surah, yaitu di 22:12 dan 46:5. Di 22:12 benda yang diseru dirumuskan dengan maa, (مَا لَا يَضُرُّهُ وَمَا لَا يَنْفَعُهُ, maa laa yadhurruhu wa-maa laa yanfa'uhu) yang berarti "apa yang tidak merugikannya dan apa yang tidak memberinya manfaat", dan kalimat itu ditutup (ذَٰلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ, dzaalika huwa dh-dhalaalu l-ba'iidu) yang berarti "itu kesesatan yang jauh". Di 46:5 yang diseru dirumuskan dengan man, kata untuk orang, dan kalimatnya diteruskan dengan pertanyaan lebih sesat. Kontras antara maa dan man itu memperlihatkan bahwa 22:12 menimbang benda yang tidak berdaya, sedangkan 46:5 menimbang pihak yang diseru sebagai orang yang tidak menyahut.

Ketiadaan sahutan dinyatakan dengan (لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ, laa yastajiibu lahu) yang berarti "tidak menyahutnya". Kata kerja (يَسْتَجِيبُ, yastajiibu) berakar ج-و-ب dan muncul sebelas kali di sembilan surah, yaitu 2:186, 6:36, 7:194, 11:14, 13:14, 13:18, 18:52, 28:50, 28:64, 42:26, dan 46:5. Dalam sebelas kemunculan itu pihak yang menyahut berganti-ganti. Di 2:186 sahutan datang dari hamba-hamba yang diminta menyambut seruan Allah, (فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي, fa-l-yastajiibuu lii). Di 7:194 sahutan diminta dari yang diseru selain Allah, (فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ, fa-d'uuhum fa-l-yastajiibuu lakum), dan di 13:14 sahutan itu ditiadakan, (لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ, laa yastajiibuuna lahum bi-syay'in) yang berarti "mereka tidak menyahut sedikit pun bagi mereka". Dari sisi Allah, kalimat yang berseberangan terbaca di 40:60, (ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ, ud'uunii astajib lakum) yang berarti "serulah Aku, niscaya Aku menyahut kalian". Terjemahan 46:5 memakai "menyahut" untuk yastajiibu, sama dengan yang dipakai untuk 7:194.

Batas waktunya (إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ilaa yawmi l-qiyaamati) berarti "sampai hari kiamat". Rangkaian itu muncul dua belas kali di sepuluh surah, antara lain di 3:55, 28:71, 28:72, 45:26, dan 46:5. Dua di antaranya, 28:71 dan 28:72, dibuka (قُلْ أَرَأَيْتُمْ, qul a-ra'aytum), pembuka yang sama dengan 46:4. Di keduanya batas itu berada dalam kalimat andaian tentang malam atau siang yang dijadikan Allah tetap sampai hari kiamat, lalu disusul pertanyaan tentang tuhan selain Allah yang dapat mendatangkan cahaya atau malam. Terjemahan menulis "hari kiamat" dengan huruf kecil.

Kalimat terakhir memuat (وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ, wa-hum 'an du'aa'ihim ghaafiluuna) yang berarti "sedang mereka lalai terhadap seruan mereka". Kata (دُعَائِهِمْ, du'aa'ihim) berakar د-ع-و dan hanya muncul di 46:5. Bentuk dasarnya (دُعَاءُ, du'aa'u) muncul dua kali, yaitu di 13:14 dan 40:50, dan diterjemahkan "seruan" di 13:14. Kata (غَافِلُونَ, ghaafiluuna) berakar غ-ف-ل dan muncul sembilan kali di delapan surah, yaitu 6:131, 7:179, 10:7, 10:92, 12:13, 16:108, 30:7, 36:6, dan 46:5. Di 7:179 dan 16:108 bentuk itu menyebut pelakunya langsung, (أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ, ulaa'ika humu l-ghaafiluuna) yang berarti "mereka itu orang-orang yang lalai". Terjemahan 46:5 memakai "lalai terhadap" dengan kata depan 'an, sama dengan 10:7 dan 30:7.

Kata ganti di ayat ini berganti bentuk. Kata (مَنْ, man) berbentuk tunggal dan dipakai untuk (لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ, laa yastajiibu lahu), sedangkan (وَهُمْ, wa-hum) di kalimat terakhir berbentuk jamak. Ayat ini tidak menjelaskan siapa yang dimaksud oleh "mereka" di kalimat terakhir, dan terjemahan mengikutinya dengan memakai kata "mereka" saja.

Tafsiran

Ayat ini menjawab 46:4 dengan penilaian, dan penilaian itu diajukan dalam bentuk pertanyaan. Ayat 46:4 meminta bukti dari apa yang diseru selain Allah: perlihatkan ciptaan, tunjukkan andil, bawakan kitab. Ayat 46:5 tidak menunggu jawaban atas permintaan itu dan langsung bertanya siapa yang lebih sesat daripada orang yang menyeru yang tidak menyahut sampai hari kiamat. Pertanyaan itu tidak disusul jawaban, dan 22:12 menyediakan nama bagi keadaan semacam ini, kesesatan yang jauh. Kedekatan dua ayat itu membuat tantangan terbaca sebagai uji, dan pertanyaan terbaca sebagai penilaian atas uji itu.

Dua batas waktu muncul dalam tiga ayat. Ayat 46:3 menyebut waktu yang ditentukan sebagai bagian dari penciptaan, dan 46:5 menyebut hari kiamat sebagai batas ketiadaan sahutan. Kedua penyebutan itu menempatkan seruan dalam ruang waktu yang punya ujung, dan di ujung itu terbaca 46:6, tempat manusia dikumpulkan. Hubungan itu dapat dibaca sebagai urutan, tetapi 46:5 sendiri tidak merumuskannya sebagai sebab dan akibat.

Kalimat penutup ayat dapat dibaca dalam dua arah. Bila "mereka" menunjuk yang diseru, kelalaian itu menyangkut pihak yang diseru terhadap seruan yang ditujukan kepadanya. Bila "mereka" menunjuk para penyeru, kelalaian itu menyangkut seruan yang diucapkan tanpa disadari. Ayat 46:6 mengubah "mereka" menjadi (لَهُمْ, lahum), "bagi mereka", sehingga pembaca tetap menghadapi dua pembacaan yang sama-sama bertahan di teks. Tafsir ini tidak memilih salah satu, sebab kata ganti jamak itu tidak diberi pengikat dalam ayat.

Kata kerja menyeru berpindah antara tiga ayat berurutan. Di 46:4 pelakunya "kalian", di 46:5 pelakunya penyeru tunggal yang umum, dan di 46:6 penyebutan beralih ke (بِعِبَادَتِهِمْ, bi-'ibaadatihim), "terhadap ibadah mereka". Seruan dan ibadah berdampingan dalam pergantian itu, dan kedua kata tersebut tidak disamakan oleh teks.

Renungan dan Hikmah

  • Allah mengajukan pertanyaan di 46:5 dan tidak menyebut jawabannya. Pertanyaan semacam itu mengundang pembaca menimbang sendiri, dan menimbang menuntut perhatian yang tidak diperlukan oleh jawaban yang sudah jadi. Di 28:50 dan 41:52 pertanyaan serupa diarahkan ke keinginan sendiri dan perselisihan yang jauh, sehingga satu kalimat tanya yang sama berpindah sasaran dari ayat ke ayat. Pembaca dapat bertanya tentang dirinya mana di antara ketiganya yang paling sering mendekat. Bila pertanyaan yang sama diajukan Allah kepadanya malam ini, jawaban apa yang pertama kali muncul di dalam dirinya, dan dari mana jawaban itu berasal?
  • Sampai hari kiamat adalah batas yang disebut ayat ini untuk sahutan yang tidak datang. Panjang waktu itu mengubah arti menunggu: menunggu sehari memberi harapan, sedangkan menunggu sepanjang itu menjadi kebiasaan yang tidak menghasilkan apa pun. Sementara itu Allah menyatakan di 40:60 bahwa seruan kepada-Nya disahut, sehingga dua pernyataan berdiri berdampingan dalam satu mushaf. Pembaca dapat membayangkan seruan yang sudah lama diulang kepada sesuatu yang tidak menyahut, lengkap dengan catatan berapa kali seruan itu diulang. Berapa lama sebuah harapan dapat digantungkan pada sesuatu yang tidak pernah mengirim kabar, dan apa yang terjadi pada waktu yang dihabiskannya?
  • Kalimat penutup ayat ini menyebut kelalaian terhadap seruan sendiri. Seruan yang diucapkan berulang-ulang dapat kehilangan pendengarnya, dan yang paling dulu kehilangan pendengar adalah orang yang mengucapkannya. Ayat 46:5 tidak menjelaskan siapa yang lalai, sehingga pembaca dapat menaruh dirinya di kedua tempat. Kebiasaan menyebut nama, memanjatkan harapan, atau mengulang permohonan dapat berjalan tanpa kesadaran, seperti kalimat yang dihafal. Kapan terakhir pembaca mendengarkan seruannya sendiri sampai selesai, dan kepada siapa seruan itu sebenarnya diarahkan ketika diucapkan?
  • Ayat 46:5 memuat dua arah yang berlawanan: seruan keluar dari pembaca, sahutan seharusnya kembali kepadanya. Pada pihak yang disebut ayat ini arah kedua tidak pernah menyala, sedangkan Allah di 2:186 menyatakan dekat dan menyahut orang yang berseru kepada-Nya. Pembaca dapat memeriksa arah seruannya sendiri dengan cara yang sederhana, yaitu mengingat siapa yang diharapkan menjawab ketika terdesak. Apakah nama yang pertama muncul di pikirannya adalah nama yang sama dengan yang diucapkan bibirnya, dan apakah ia pernah memperhatikan selisih di antara keduanya?
  • Ayat 46:4 meminta bukti dan 46:5 menilai hasilnya, tetapi penilaian itu tidak berupa vonis. Ayat ini hanya bertanya siapa yang lebih sesat, dan membiarkan pembaca membandingkan sendiri. Urutan itu mengajarkan sesuatu tentang cara menyampaikan penilaian yang tidak memaksa, sebab pembaca yang diberi ukuran biasanya lebih mudah menerima hasilnya daripada pembaca yang diberi kesimpulan. Pembaca dapat menaruh ukuran 46:4 pada hal-hal yang dipegangnya: apa yang sudah dibuat, apa yang menjadi bagiannya, apa yang tertulis. Hasil penimbangan itu mungkin tidak enak, dan ayat ini tidak menjanjikan bahwa hasilnya menyenangkan. Apakah ia bersedia menimbang sampai selesai?
  • Ayat 46:5 menamai tindakan menyeru selain Allah dan menilainya, tetapi tidak menyebut apa yang diseru. Pembaca dapat mengisi sendiri daftar itu dari kehidupannya: jabatan, uang, kenalan, kepandaian, undian, atau perasaan bahwa semuanya akan beres. Daftar itu panjang karena yang diseru ketika terdesak jarang diumumkan, dan jarang pula dikenali sebagai seruan. Allah tidak muncul dalam daftar itu bila pembaca hanya mengingat-Nya pada hari tertentu. Dari semua yang pernah diharapkan menjawab, mana yang benar-benar pernah menjawab, dan mana yang hanya terasa menjawab karena pembaca sudah berhenti bertanya?

Ayat 46:6

وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

Dan apabila manusia dikumpulkan, mereka menjadi musuh bagi mereka, dan kufur terhadap pengabdian mereka.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُwa-idzaa husyira n-naasudan apabila manusia dikumpulkan
  2. كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءًkaanuu lahum a'daa'anmereka menjadi musuh bagi mereka
  3. وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَwa-kaanuu bi-'ibaadatihim kaafiriinadan kufur terhadap pengabdian mereka

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. حُشِرَhusyiradikumpulkan
  3. النَّاسُn-naasumanusia
  4. كَانُواkaanuumereka selalu
  5. لَهُمْlahumbagi mereka
  6. أَعْدَاءًa'daa'anmusuh-musuh
  7. وَكَانُواwa-kaanuudan mereka selalu
  8. بِعِبَادَتِهِمْbi-'ibaadatihimpada pengabdian mereka
  9. كَافِرِينَkaafiriinaorang-orang kafir

Inti bacaan

Kata (أَعْدَاءً, a'daa'an) yang berarti "musuh-musuh" muncul 3 kali di Al-Qur'an (3:103, 46:6, 60:2).

Penjelasan pilihan kata

Kalimat pembuka (وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ, wa-idzaa husyira n-naasu) yang berarti "dan apabila manusia dikumpulkan" memuat kata kerja pasif (حُشِرَ, husyira) dari akar ح-ش-ر, sehingga pengumpulnya tidak tertulis. Kata kerja pasif lampau dari akar ini muncul 3 kali di Al-Qur'an, yaitu 27:17, 46:6, dan 81:5. Di 27:17, (وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ, wa-husyira li-sulaymaana junuuduhu) yang berarti "dan dikumpulkanlah untuk Sulaiman bala tentaranya", dan di 81:5, (وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ, wa-idzaa l-wuhuusyu husyirat) yang berarti "dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan". Ketiganya tanpa pelaku. Bentuk aktif (نَحْشُرُهُمْ, nahsyuruhum) yang berarti "Kami mengumpulkan mereka" juga muncul 3 kali, yaitu 6:22, 10:28, dan 17:97, dan di ketiganya pelakunya disebut dengan kata "Kami". Terjemahan 46:6 mengikuti Arabnya dan memakai "dikumpulkan" tanpa pelaku. Pihak yang dikumpulkan ditulis (النَّاسُ, n-naasu) yang berarti "manusia", tanpa pembatas golongan.

Kalimat inti (كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً, kaanuu lahum a'daa'an) yang berarti "mereka menjadi musuh bagi mereka" memakai kata (أَعْدَاءً, a'daa'an) dari akar ع-د-و, bentuk jamak yang diterjemahkan "musuh". Bentuk ini muncul 3 kali, yaitu 3:103, 46:6, dan 60:2. Di 3:103, (إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً, idz kuntum a'daa'an) yang berarti "ketika kalian dahulu bermusuhan", dan di 60:2, (يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً, yakuunuu lakum a'daa'an) yang berarti "mereka menjadi musuh bagi kalian". Rangka kata kerja kaana, huruf li, dan a'daa'an di 60:2 sama dengan 46:6. Bedanya, di 60:2 kata ganti kedua pihak berlainan orang, yaitu "mereka" dan "kalian", sedangkan di 46:6 keduanya memakai kata ganti jamak orang ketiga yang sama, sehingga pihak yang memusuhi dan pihak yang dimusuhi tidak dapat dibedakan dari kata gantinya. Terjemahan mempertahankan kata ganti itu dan tidak menggantinya dengan kata benda.

Dua ayat lain memberi petunjuk tentang kedua pihak itu. Ayat 46:5 memakai (وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ, wa-hum 'an du'aa'ihim ghaafiluuna) yang berarti "sedang mereka lalai terhadap seruan mereka" untuk pihak yang diseru. Ayat 19:82 memakai (وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا, wa-yakuunuuna 'alayhim dhiddan) yang berarti "dan menjadi musuh bagi mereka", dan ayat itu tersambung dengan 19:81 yang menyebut tuhan-tuhan selain Allah. Karena itu pihak yang diseru dapat dibaca sebagai pelaku di 46:6, dan pihak yang menyeru sebagai sasarannya. Pembacaan ini tetap berupa kemungkinan, sebab ayat 46:6 sendiri memakai kata ganti yang sama untuk keduanya.

Kata kerja (كَانُوا, kaanuu) muncul dua kali dalam ayat ini. Pada kalimat pertama terjemahan memakainya sebagai "menjadi", sebab rangka yang sama di 60:2 diterjemahkan "menjadi musuh bagi kalian". Pada kalimat kedua kata itu menyatu dengan (كَافِرِينَ, kaafiriina) yang berarti "orang-orang yang kufur", dan terjemahan merapikannya menjadi satu kata kerja, "kufur", karena bahasa Indonesia tidak memerlukan dua kata kerja untuk satu keadaan.

Kalimat terakhir (وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ, wa-kaanuu bi-'ibaadatihim kaafiriina) yang berarti "dan kufur terhadap pengabdian mereka" memuat (بِعِبَادَتِهِمْ, bi-'ibaadatihim), yaitu kata 'ibaadah dengan awalan bi- yang berarti "terhadap" dan akhiran -him yang berarti "mereka". Akar ع-ب-د di sini dipadankan dengan "pengabdian", sama dengan padanan (نَعْبُدُ, na'budu) di 1:5 pada (إِيَّاكَ نَعْبُدُ, iyyaaka na'budu) yang berarti "hanya kepada-Mu kami mengabdi". Bentuk (عِبَادَتِهِمْ, 'ibaadatihim) dengan akhiran yang sama muncul dua kali, yaitu 19:82 dan 46:6. Di 19:82, (سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ, sa-yakfuruuna bi-'ibaadatihim) yang berarti "mereka akan kufur terhadap pengabdian mereka" memakai kata kerja yang menunjuk waktu mendatang, sedangkan 46:6 memakai kaanuu dan kaafiriina.

Rangka kaanuu, awalan bi-, sebuah kata benda, lalu kaafiriina hanya muncul dua kali, yaitu 30:13 dan 46:6. Di 30:13, (وَكَانُوا بِشُرَكَائِهِمْ كَافِرِينَ, wa-kaanuu bi-syurakaa'ihim kaafiriina) yang berarti "dan mereka kufur terhadap sekutu-sekutu mereka itu", orang-orang itu kufur terhadap pihak yang mereka jadikan sekutu. Di 46:6 mereka kufur terhadap pengabdian itu sendiri, yaitu apa yang pernah diberikan pihak penyeru. Terjemahan memakai "kufur terhadap" di kedua ayat.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan pembicaraan dari tantangan di 46:4 dan pertanyaan di 46:5 ke hari manusia dikumpulkan, dan di hari itu ayat ini mencatat dua keadaan, yaitu menjadi musuh dan kufur terhadap pengabdian. Ayat 46:4 menyuruh pihak yang menyeru selain Allah menunjukkan apa yang diciptakan sesembahan mereka, dan 46:5 menyebut pihak yang diseru itu tidak mengabulkan sampai hari kiamat serta lalai terhadap seruan mereka. Bila kata kerja kaanuu dibaca merujuk pada pihak yang diseru, 46:6 melanjutkan keadaan mereka dari lalai ke sikap yang jelas, meskipun ayat tidak menjelaskan bagaimana perubahan itu terjadi.

Ayat ini tidak memuat ucapan siapa pun. Hal itu berbeda dari 10:28, yang mencatat ucapan sekutu-sekutu itu sendiri, (مَا كُنْتُمْ إِيَّانَا تَعْبُدُونَ, maa kuntum iyyaanaa ta'buduuna) yang berarti "kalian tidak pernah mengabdi kepada kami", dan dari 6:22, yang mencatat pertanyaan kepada orang-orang yang mempersekutukan, (أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ, ayna syurakaa'ukumu) yang berarti "di mana sekutu-sekutu kalian". Ketiga ayat itu menyorot bagian yang berbeda dari persoalan yang sama, yaitu hubungan penyeru dengan yang diseru. Ayat 46:6 menyorot keadaan dan tidak menyorot percakapan, sehingga ketiganya tidak perlu dibaca sebagai satu adegan.

Ayat berikutnya memakai susunan yang serupa dengan arah yang berlainan. Ayat 46:6 dibuka (وَإِذَا حُشِرَ, wa-idzaa husyira) dengan kata kerja pasif, dan 46:7 dibuka (وَإِذَا تُتْلَىٰ, wa-idzaa tutlaa) dengan kata kerja pasif pula, tetapi 46:7 kembali ke saat tanda-tanda Kami dibacakan kepada mereka. Dengan begitu 46:6 berdiri sebagai gambaran akhir yang terletak di antara pertanyaan tentang kesesatan di 46:5 dan penuturan tanggapan terhadap bacaan di 46:7.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 46:4 dan 46:5 menyebut seruan yang ditujukan kepada selain Allah dan menyatakan seruan itu tidak dikabulkan sampai hari kiamat. Ayat 46:6 menambahkan bagian lain dari gambaran itu: pada hari manusia dikumpulkan, pihak yang diseru dapat dibaca mengambil sikap sendiri terhadap penyerunya. Karena ayat ini hanya memuat keadaannya, pembaca tidak diberi tahu mengapa sikap itu berubah. Pertanyaan yang tersisa ada pada pembaca: kepada apa harapannya paling sering dialamatkan, dan bila sandaran itu diminta bersikap di hadapan banyak orang, apakah sandaran itu akan membela pengharapnya atau menjauh?
  • Seruan yang tidak dikabulkan sampai hari kiamat di 46:5 mendapat tanggapan di 46:6, dan tanggapan itu dapat dibaca berupa permusuhan dan kekufuran, tidak berupa pengabulan. Dibaca berurutan, penantian yang panjang berujung pada sikap yang berlawanan dengan apa yang diminta. Menurut 46:4 dan 46:5, seruan itu ditujukan selain Allah, dan 46:6 mencatat tanggapan dari pihak yang diseru itu. Pembaca dapat bertanya, dari arah mana jawaban yang selama ini dinantikan akan datang, dan jawaban macam apa yang sudah disiapkan untuk diterima?
  • Ayat 46:6 menyebut penolakan yang diarahkan pada pengabdian, dan penolakan itu tidak berhenti pada permintaan yang tak terjawab. Bila pengabdian itu dibaca sebagai pengabdian penyeru kepada pihak yang diseru, yang menurut 46:4 dan 46:5 adalah selain Allah, ayat ini memperlihatkan bahwa ada pengabdian yang penerimanya sendiri menyangkalnya pada hari manusia dikumpulkan. Pembaca yang mengabdi pada sesuatu dapat menimbang, apakah penerima pengabdiannya akan mengakui bahwa pengabdian itu pernah diberikan kepadanya?
  • Kata kerja pasif dikumpulkan menaruh manusia sebagai pihak yang dikumpulkan dan tidak sebagai pihak yang mengumpulkan. Kata manusia tidak dibatasi golongan, sehingga ayat ini dapat dibaca sebagai gambaran tempat pembaca sendiri berada. Hari itu tidak diatur oleh pembaca, dan pengaturnya tidak tertulis di ayat ini. Pembaca masih dapat menimbang sekarang hubungan apa yang akan dibawanya ke sana, dengan siapa saja, dan atas dasar apa hubungan itu dipelihara.
  • Ayat 46:6 mencatat dua keadaan tanpa satu pun kutipan percakapan, sedangkan 10:28 mencatat ucapan sekutu-sekutu itu dan 6:22 mencatat pertanyaan kepada orang-orang yang mempersekutukan. Satu persoalan dapat dituturkan lewat ucapan, dan dapat dituturkan lewat keadaan. Ketika pembaca menilai hubungannya dengan sandaran hidupnya, pembaca dapat membedakan apa yang diucapkan sandaran itu dari keadaan yang ditimbulkannya. Pertanyaannya terbuka: keadaan apa yang tampak bila semua ucapan dikesampingkan, dan apakah keadaan itu sejalan dengan yang selama ini dipercayai?
  • Penyeru dan yang diseru memakai kata ganti yang sama dalam ayat ini, sehingga hubungan yang semula satu arah, seruan dari penyeru kepada yang diseru, tampil sebagai dua pihak yang berhadapan. Menurut 46:4 seruan itu ditujukan selain Allah, dan menurut 46:6 hubungan itu tampil sebagai permusuhan. Ayat tidak menyebut apa yang terjadi di antara keduanya selain dua keadaan itu. Pembaca dapat menimbang hubungan satu arah yang sedang dijalani, yaitu memohon atau bergantung pada sesuatu, dan apakah hubungan itu akan tetap searah bila kedua pihak dikumpulkan?