وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru siapa pun selain Allah yang tidak menyahutnya sampai hari kiamat, sedang mereka lalai terhadap seruan mereka?

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِwa-man adhallu mimman yad'uu min duuni llaahidan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru siapa pun selain Allah
  2. مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِman laa yastajiibu lahu ilaa yawmi l-qiyaamatiyang tidak menyahutnya sampai hari kiamat
  3. وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَwa-hum 'an du'aa'ihim ghaafiluunasedang mereka lalai terhadap seruan mereka

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. وَمَنْwa-mandan orang yang
  2. أَضَلُّadhallulebih sesat
  3. مِمَّنْmimmandari orang yang
  4. يَدْعُوyad'uumenyeru
  5. مِنْmindari
  6. دُونِduuniselain
  7. اللَّهِllaahiAllah
  8. مَنْmansiapa pun
  9. لَاlaatidak
  10. يَسْتَجِيبُyastajiibumenyahut
  11. لَهُlahubaginya
  12. إِلَىٰilaasampai
  13. يَوْمِyawmihari
  14. الْقِيَامَةِl-qiyaamatikiamat
  15. وَهُمْwa-humdan mereka
  16. عَنْ'anterhadap
  17. دُعَائِهِمْdu'aa'ihimseruan mereka
  18. غَافِلُونَghaafiluunaorang-orang yang lalai

Inti bacaan

Rangkaian (إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ilaa yawmi l-qiyaamati) muncul dua belas kali di Al-Qur'an, antara lain di 3:55, 28:71, 28:72, dan 46:5.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terbuka dengan pertanyaan pembanding, (وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ, wa-man adhallu mimman) yang berarti "dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang". Kata (أَضَلُّ, adhallu) berbentuk perbandingan dari akar ض-ل-ل. Susunan (مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ, man adhallu mimman) muncul dua kali di dua surah, yaitu di 41:52 dan 46:5. Di 41:52 bunyinya (مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ هُوَ فِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ, man adhallu mimman huwa fii syiqaaqin ba'iidin) yang berarti "siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berada dalam perselisihan yang jauh". Di 28:50 pertanyaan serupa memakai bentuk lain, (وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ, wa-man adhallu mimmani ttaba'a hawaahu bi-ghayri hudan mina llaahi) yang berarti "siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa petunjuk dari Allah". Tiga ayat itu mengajukan pertanyaan yang sama dengan tiga sasaran berbeda: perselisihan yang jauh di 41:52, keinginan sendiri di 28:50, dan menyeru selain Allah di 46:5. Terjemahan memakai "lebih sesat" dan tidak menambahkan jawaban.

Sasaran di 46:5 dirumuskan dengan (يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ, yad'uu min duuni llaahi) yang berarti "menyeru selain Allah". Kata kerja (يَدْعُو, yad'uu) berakar د-ع-و, berbentuk tunggal dan berpelaku orang ketiga, sedangkan di 46:4 kata kerjanya (تَدْعُونَ, tad'uuna) berbentuk jamak dengan pelaku "kalian". Dengan begitu ayat 46:5 berbicara tentang penyeru secara umum, tidak lagi kepada lawan bicara. Susunan (يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ, yad'uu min duuni llaahi) muncul dua kali di dua surah, yaitu di 22:12 dan 46:5. Di 22:12 benda yang diseru dirumuskan dengan maa, (مَا لَا يَضُرُّهُ وَمَا لَا يَنْفَعُهُ, maa laa yadhurruhu wa-maa laa yanfa'uhu) yang berarti "apa yang tidak merugikannya dan apa yang tidak memberinya manfaat", dan kalimat itu ditutup (ذَٰلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ, dzaalika huwa dh-dhalaalu l-ba'iidu) yang berarti "itu kesesatan yang jauh". Di 46:5 yang diseru dirumuskan dengan man, kata untuk orang, dan kalimatnya diteruskan dengan pertanyaan lebih sesat. Kontras antara maa dan man itu memperlihatkan bahwa 22:12 menimbang benda yang tidak berdaya, sedangkan 46:5 menimbang pihak yang diseru sebagai orang yang tidak menyahut.

Ketiadaan sahutan dinyatakan dengan (لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ, laa yastajiibu lahu) yang berarti "tidak menyahutnya". Kata kerja (يَسْتَجِيبُ, yastajiibu) berakar ج-و-ب dan muncul sebelas kali di sembilan surah, yaitu 2:186, 6:36, 7:194, 11:14, 13:14, 13:18, 18:52, 28:50, 28:64, 42:26, dan 46:5. Dalam sebelas kemunculan itu pihak yang menyahut berganti-ganti. Di 2:186 sahutan datang dari hamba-hamba yang diminta menyambut seruan Allah, (فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي, fa-l-yastajiibuu lii). Di 7:194 sahutan diminta dari yang diseru selain Allah, (فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ, fa-d'uuhum fa-l-yastajiibuu lakum), dan di 13:14 sahutan itu ditiadakan, (لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ, laa yastajiibuuna lahum bi-syay'in) yang berarti "mereka tidak menyahut sedikit pun bagi mereka". Dari sisi Allah, kalimat yang berseberangan terbaca di 40:60, (ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ, ud'uunii astajib lakum) yang berarti "serulah Aku, niscaya Aku menyahut kalian". Terjemahan 46:5 memakai "menyahut" untuk yastajiibu, sama dengan yang dipakai untuk 7:194.

Batas waktunya (إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ilaa yawmi l-qiyaamati) berarti "sampai hari kiamat". Rangkaian itu muncul dua belas kali di sepuluh surah, antara lain di 3:55, 28:71, 28:72, 45:26, dan 46:5. Dua di antaranya, 28:71 dan 28:72, dibuka (قُلْ أَرَأَيْتُمْ, qul a-ra'aytum), pembuka yang sama dengan 46:4. Di keduanya batas itu berada dalam kalimat andaian tentang malam atau siang yang dijadikan Allah tetap sampai hari kiamat, lalu disusul pertanyaan tentang tuhan selain Allah yang dapat mendatangkan cahaya atau malam. Terjemahan menulis "hari kiamat" dengan huruf kecil.

Kalimat terakhir memuat (وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ, wa-hum 'an du'aa'ihim ghaafiluuna) yang berarti "sedang mereka lalai terhadap seruan mereka". Kata (دُعَائِهِمْ, du'aa'ihim) berakar د-ع-و dan hanya muncul di 46:5. Bentuk dasarnya (دُعَاءُ, du'aa'u) muncul dua kali, yaitu di 13:14 dan 40:50, dan diterjemahkan "seruan" di 13:14. Kata (غَافِلُونَ, ghaafiluuna) berakar غ-ف-ل dan muncul sembilan kali di delapan surah, yaitu 6:131, 7:179, 10:7, 10:92, 12:13, 16:108, 30:7, 36:6, dan 46:5. Di 7:179 dan 16:108 bentuk itu menyebut pelakunya langsung, (أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ, ulaa'ika humu l-ghaafiluuna) yang berarti "mereka itu orang-orang yang lalai". Terjemahan 46:5 memakai "lalai terhadap" dengan kata depan 'an, sama dengan 10:7 dan 30:7.

Kata ganti di ayat ini berganti bentuk. Kata (مَنْ, man) berbentuk tunggal dan dipakai untuk (لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ, laa yastajiibu lahu), sedangkan (وَهُمْ, wa-hum) di kalimat terakhir berbentuk jamak. Ayat ini tidak menjelaskan siapa yang dimaksud oleh "mereka" di kalimat terakhir, dan terjemahan mengikutinya dengan memakai kata "mereka" saja.

Tafsiran

Ayat ini menjawab 46:4 dengan penilaian, dan penilaian itu diajukan dalam bentuk pertanyaan. Ayat 46:4 meminta bukti dari apa yang diseru selain Allah: perlihatkan ciptaan, tunjukkan andil, bawakan kitab. Ayat 46:5 tidak menunggu jawaban atas permintaan itu dan langsung bertanya siapa yang lebih sesat daripada orang yang menyeru yang tidak menyahut sampai hari kiamat. Pertanyaan itu tidak disusul jawaban, dan 22:12 menyediakan nama bagi keadaan semacam ini, kesesatan yang jauh. Kedekatan dua ayat itu membuat tantangan terbaca sebagai uji, dan pertanyaan terbaca sebagai penilaian atas uji itu.

Dua batas waktu muncul dalam tiga ayat. Ayat 46:3 menyebut waktu yang ditentukan sebagai bagian dari penciptaan, dan 46:5 menyebut hari kiamat sebagai batas ketiadaan sahutan. Kedua penyebutan itu menempatkan seruan dalam ruang waktu yang punya ujung, dan di ujung itu terbaca 46:6, tempat manusia dikumpulkan. Hubungan itu dapat dibaca sebagai urutan, tetapi 46:5 sendiri tidak merumuskannya sebagai sebab dan akibat.

Kalimat penutup ayat dapat dibaca dalam dua arah. Bila "mereka" menunjuk yang diseru, kelalaian itu menyangkut pihak yang diseru terhadap seruan yang ditujukan kepadanya. Bila "mereka" menunjuk para penyeru, kelalaian itu menyangkut seruan yang diucapkan tanpa disadari. Ayat 46:6 mengubah "mereka" menjadi (لَهُمْ, lahum), "bagi mereka", sehingga pembaca tetap menghadapi dua pembacaan yang sama-sama bertahan di teks. Tafsir ini tidak memilih salah satu, sebab kata ganti jamak itu tidak diberi pengikat dalam ayat.

Kata kerja menyeru berpindah antara tiga ayat berurutan. Di 46:4 pelakunya "kalian", di 46:5 pelakunya penyeru tunggal yang umum, dan di 46:6 penyebutan beralih ke (بِعِبَادَتِهِمْ, bi-'ibaadatihim), "terhadap ibadah mereka". Seruan dan ibadah berdampingan dalam pergantian itu, dan kedua kata tersebut tidak disamakan oleh teks.

Renungan dan Hikmah

  • Allah mengajukan pertanyaan di 46:5 dan tidak menyebut jawabannya. Pertanyaan semacam itu mengundang pembaca menimbang sendiri, dan menimbang menuntut perhatian yang tidak diperlukan oleh jawaban yang sudah jadi. Di 28:50 dan 41:52 pertanyaan serupa diarahkan ke keinginan sendiri dan perselisihan yang jauh, sehingga satu kalimat tanya yang sama berpindah sasaran dari ayat ke ayat. Pembaca dapat bertanya tentang dirinya mana di antara ketiganya yang paling sering mendekat. Bila pertanyaan yang sama diajukan Allah kepadanya malam ini, jawaban apa yang pertama kali muncul di dalam dirinya, dan dari mana jawaban itu berasal?
  • Sampai hari kiamat adalah batas yang disebut ayat ini untuk sahutan yang tidak datang. Panjang waktu itu mengubah arti menunggu: menunggu sehari memberi harapan, sedangkan menunggu sepanjang itu menjadi kebiasaan yang tidak menghasilkan apa pun. Sementara itu Allah menyatakan di 40:60 bahwa seruan kepada-Nya disahut, sehingga dua pernyataan berdiri berdampingan dalam satu mushaf. Pembaca dapat membayangkan seruan yang sudah lama diulang kepada sesuatu yang tidak menyahut, lengkap dengan catatan berapa kali seruan itu diulang. Berapa lama sebuah harapan dapat digantungkan pada sesuatu yang tidak pernah mengirim kabar, dan apa yang terjadi pada waktu yang dihabiskannya?
  • Kalimat penutup ayat ini menyebut kelalaian terhadap seruan sendiri. Seruan yang diucapkan berulang-ulang dapat kehilangan pendengarnya, dan yang paling dulu kehilangan pendengar adalah orang yang mengucapkannya. Ayat 46:5 tidak menjelaskan siapa yang lalai, sehingga pembaca dapat menaruh dirinya di kedua tempat. Kebiasaan menyebut nama, memanjatkan harapan, atau mengulang permohonan dapat berjalan tanpa kesadaran, seperti kalimat yang dihafal. Kapan terakhir pembaca mendengarkan seruannya sendiri sampai selesai, dan kepada siapa seruan itu sebenarnya diarahkan ketika diucapkan?
  • Ayat 46:5 memuat dua arah yang berlawanan: seruan keluar dari pembaca, sahutan seharusnya kembali kepadanya. Pada pihak yang disebut ayat ini arah kedua tidak pernah menyala, sedangkan Allah di 2:186 menyatakan dekat dan menyahut orang yang berseru kepada-Nya. Pembaca dapat memeriksa arah seruannya sendiri dengan cara yang sederhana, yaitu mengingat siapa yang diharapkan menjawab ketika terdesak. Apakah nama yang pertama muncul di pikirannya adalah nama yang sama dengan yang diucapkan bibirnya, dan apakah ia pernah memperhatikan selisih di antara keduanya?
  • Ayat 46:4 meminta bukti dan 46:5 menilai hasilnya, tetapi penilaian itu tidak berupa vonis. Ayat ini hanya bertanya siapa yang lebih sesat, dan membiarkan pembaca membandingkan sendiri. Urutan itu mengajarkan sesuatu tentang cara menyampaikan penilaian yang tidak memaksa, sebab pembaca yang diberi ukuran biasanya lebih mudah menerima hasilnya daripada pembaca yang diberi kesimpulan. Pembaca dapat menaruh ukuran 46:4 pada hal-hal yang dipegangnya: apa yang sudah dibuat, apa yang menjadi bagiannya, apa yang tertulis. Hasil penimbangan itu mungkin tidak enak, dan ayat ini tidak menjanjikan bahwa hasilnya menyenangkan. Apakah ia bersedia menimbang sampai selesai?
  • Ayat 46:5 menamai tindakan menyeru selain Allah dan menilainya, tetapi tidak menyebut apa yang diseru. Pembaca dapat mengisi sendiri daftar itu dari kehidupannya: jabatan, uang, kenalan, kepandaian, undian, atau perasaan bahwa semuanya akan beres. Daftar itu panjang karena yang diseru ketika terdesak jarang diumumkan, dan jarang pula dikenali sebagai seruan. Allah tidak muncul dalam daftar itu bila pembaca hanya mengingat-Nya pada hari tertentu. Dari semua yang pernah diharapkan menjawab, mana yang benar-benar pernah menjawab, dan mana yang hanya terasa menjawab karena pembaca sudah berhenti bertanya?