وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

Apabila dibacakan tanda-tanda Kami yang jelas kepada mereka, orang-orang yang kufur berkata tentang kebenaran ketika datang kepada mereka, “Ini adalah sihir yang nyata.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍwa-idzaa tutlaa 'alayhim aayaatunaa bayyinaatinapabila dibacakan tanda-tanda Kami yang jelas kepada mereka
  2. قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْqaala lladziina kafaruu li-l-haqqi lammaa jaa'ahumorang-orang yang kufur berkata tentang kebenaran ketika datang kepada mereka
  3. هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌhaadzaa sihrun mubiinunini adalah sihir yang nyata

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. تُتْلَىٰtutlaadibacakan
  3. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  4. آيَاتُنَاaayaatunaatanda-tanda Kami
  5. بَيِّنَاتٍbayyinaatinyang nyata
  6. قَالَqaalaberkata
  7. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  8. كَفَرُواkafaruukufur
  9. لِلْحَقِّli-l-haqqipada kebenaran
  10. لَمَّاlammaaketika
  11. جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
  12. هَٰذَاhaadzaaini
  13. سِحْرٌsihrunsihir
  14. مُبِينٌmubiinunyang nyata

Inti bacaan

Kalimat (قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ, qaala lladziina kafaruu li-l-haqqi lammaa jaa'ahum) muncul dua kali di Al-Qur'an (34:43, 46:7).

Penjelasan pilihan kata

Kalimat pembuka (وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ, wa-idzaa tutlaa 'alayhim aayaatunaa bayyinaatin) yang berarti "apabila dibacakan tanda-tanda Kami yang jelas kepada mereka" memuat kata kerja pasif (تُتْلَىٰ, tutlaa) dari akar ت-ل-و, sehingga pembacanya tidak disebut. Susunan kalimat yang utuh ini muncul 6 kali di Al-Qur'an, yaitu 10:15, 19:73, 22:72, 34:43, 45:25, dan 46:7. Huruf wa- di awalnya tidak diterjemahkan supaya kalimat dibuka dengan "apabila", seperti terjemahan 22:72 dan 45:25. Kata (بَيِّنَاتٍ, bayyinaatin) berakar ب-ي-ن dan diterjemahkan "yang jelas". Akar yang sama muncul lagi di ujung ayat pada (مُبِينٌ, mubiinun), yang diterjemahkan "yang nyata", supaya dua kata dari satu akar itu tetap terlihat sebagai dua kata.

Kalimat (قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ, qaala lladziina kafaruu li-l-haqqi lammaa jaa'ahum) yang berarti "orang-orang yang kufur berkata tentang kebenaran ketika datang kepada mereka" muncul 2 kali, yaitu 34:43 dan 46:7. Huruf (لِ, li-) sesudah kata kerja "berkata" diterjemahkan "kepada" bila yang disebut sesudahnya diajak bicara, seperti pada (قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا, qaala lladziina kafaruu li-lladziina aamanuu) di 19:73 yang berarti "orang-orang yang kufur berkata kepada orang-orang yang beriman". Di 46:7 huruf yang sama diterjemahkan "tentang", sebab ucapan yang menyusul berbunyi "ini adalah sihir", dan kebenaran itu dibicarakan, tidak diajak bicara. Pembacaan yang sama dipakai di 46:11, tempat (لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ, law kaana khayran maa sabaquunaa ilayhi) yang berarti "sekiranya ia sesuatu yang baik, tentu mereka tidak mendahului kami kepadanya" menyebut orang-orang yang beriman dengan kata "mereka".

Kata (الْحَقِّ, l-haqqi) yang berarti "kebenaran" berakar ح-ق-ق. Kata kerja (جَاءَهُمْ, jaa'ahum) yang berarti "datang kepada mereka" memakai pelaku tunggal yang tidak ditulis sebagai subjek di ayat ini. Di 10:76, (فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ, fa-lammaa jaa'ahumu l-haqqu) yang berarti "maka ketika kebenaran datang kepada mereka" dan di 43:30, (وَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ, wa-lammaa jaa'ahumu l-haqqu) yang berarti "dan ketika kebenaran datang kepada mereka" menulis pelakunya, yaitu kebenaran. Karena itu pelaku yang tidak tertulis sebagai subjek di 46:7 dapat dibaca sama. Pada empat ayat itu, yaitu 10:76, 34:43, 43:30, dan 46:7, kata sihir menyusul tepat sesudah kalimat "ketika kebenaran datang kepada mereka". Kata (لَمَّا, lammaa) diterjemahkan "ketika" di keempatnya.

Kata (سِحْرٌ مُبِينٌ, sihrun mubiinun) yang berarti "sihir yang nyata" muncul 9 kali di 9 surah, yaitu 5:110, 6:7, 10:76, 11:7, 27:13, 34:43, 37:15, 46:7, dan 61:6. Kata (سِحْرٌ, sihrun) berakar س-ح-ر. Di 34:43, (إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ, in haadzaa illaa sihrun mubiinun) yang berarti "ini tidak lain sihir yang nyata" memakai penyangkalan, sedangkan 46:7 memakai (هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ, haadzaa sihrun mubiinun) sebagai pernyataan langsung tanpa penyangkalan. Kata (مُبِينٌ, mubiinun) sama dengan kata yang dipakai bagi pemberi peringatan di 46:9, dan di sana terjemahan memilih "yang menjelaskan" karena kata itu menyifati seorang pelaku. Untuk sihir, yang tidak berbicara, terjemahan memakai "nyata".

Kata (هَٰذَا, haadzaa) diterjemahkan "ini". Sesudah kata (الْحَقِّ, l-haqqi) dan (آيَاتُنَا, aayaatunaa) ada dua hal yang dapat ditunjuk oleh kata itu, yaitu kebenaran yang datang dan tanda-tanda yang dibacakan, dan ayat tidak memilih salah satunya. Terjemahan mempertahankan "ini" tanpa menambahkan nama benda.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan pembicaraan dari hari pengumpulan di 46:6 ke saat tanda-tanda dibacakan, dan memuat satu tanggapan yang diucapkan orang-orang yang kufur terhadap kebenaran. Kalimat pembukanya muncul 6 kali, tetapi tanggapan sesudahnya berlainan bentuk dari ayat ke ayat. Di 10:15 mereka menuntut bacaan lain, (ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَٰذَا أَوْ بَدِّلْهُ, ti bi-qur'aanin ghayri haadzaa aw baddilhu) yang berarti "datangkanlah bacaan lain selain ini, atau gantilah". Di 19:73 mereka membandingkan dua golongan. Di 22:72 ayat mencatat keingkaran pada wajah mereka. Di 34:43 mereka mengucapkan tiga tuduhan, tentang seorang laki-laki, tentang kebohongan yang diada-adakan, dan tentang sihir. Di 45:25 hujah mereka hanya permintaan agar nenek moyang didatangkan. Di 46:7 tanggapannya satu kalimat pendek tentang sihir. Karena kalimat pembuka yang sama diikuti tanggapan yang berlainan bentuk, ayat-ayat itu tidak menunjukkan satu jawaban baku terhadap bacaan yang sama.

Ucapan di 46:7 memakai kata yang satu akar dengan sifat tanda-tanda itu. Ayat menyebut tanda-tanda itu (بَيِّنَاتٍ, bayyinaatin), dan orang-orang yang kufur menyebut sihir itu (مُبِينٌ, mubiinun). Mereka memakai kata terang itu sendiri, tetapi untuk sebutan lain, yaitu sihir. Urutan dalam ayat adalah waktu dibacakan, lalu penutur yang diberi nama oleh sikapnya, yaitu kufur, lalu ucapan mereka.

Tuduhan sihir di sini bertemu tuduhan kedua di ayat berikutnya. Di 34:43 urutannya kebohongan yang diada-adakan, (إِفْكٌ مُفْتَرًى, ifkun muftaran), lebih dahulu, lalu sihir. Di 46:7 dan 46:8 urutannya terbalik: sihir lebih dahulu, lalu tuduhan bahwa pembicara mengada-adakan, dengan kata kerja (افْتَرَاهُ, ftaraahu) yang berarti "mengada-adakannya". Perubahan bentuk dari laporan, "berkata", ke pertanyaan, "ataukah mereka berkata", membuat 46:8 tampil sebagai tuduhan kedua yang menyusul.

Renungan dan Hikmah

  • Enam ayat membuka dengan kalimat yang sama, yaitu tanda-tanda Kami yang jelas dibacakan kepada mereka, dan reaksi yang dicatat berlainan dari ayat ke ayat. Allah menyebut tanda-tanda itu jelas sebelum mencatat satu reaksi pun. Karena bahan yang dibacakan sama sedangkan reaksinya berlainan, reaksi tidak dapat dijelaskan oleh bacaannya saja. Bila bacaan yang sama dapat melahirkan reaksi yang beraneka, apa yang menentukan reaksi pembaca sendiri ketika mendengar atau membaca?
  • Penutur dalam ayat ini memakai kata nyata untuk sihir, dan kata itu satu akar dengan jelas yang dipakai Allah bagi tanda-tanda. Mereka menyebut sihir itu nyata, yaitu memakai kata terang untuk sebutan yang lain. Pembaca dapat membedakan dua langkah: mengakui bahwa sesuatu tampak terang, dan menerima isinya. Di titik mana pembaca sendiri pernah berhenti di antara keduanya, dan nama apa yang dipasangnya pada apa yang sudah tampak terang baginya?
  • Ucapan yang dikutip ayat ini tidak memuat alasan, pembanding, atau pemeriksaan isi. Kutipannya langsung berbunyi ini adalah sihir yang nyata, tanpa kata pengantar apa pun, sehingga isinya sebuah nama, sihir, yang dipasang pada apa yang datang kepada mereka. Allah mengutip kalimat itu tanpa menambah alasan, sehingga pembaca dapat memperhatikan cara sebuah nama menutup pertanyaan tentang isi tanpa menjawabnya. Ayat tidak menyebut apakah isi kebenaran itu diperiksa sesudah nama itu diucapkan. Nama apa yang paling cepat diberikan pembaca pada hal yang tidak ingin ditanggapinya, dan apakah nama itu pernah diuji?
  • Kata lammaa mengaitkan ucapan itu dengan saat kebenaran datang kepada mereka, dan ayat tidak menyebut jeda untuk memeriksa. Kalimat itu menghubungkan dua peristiwa saja, datangnya kebenaran dan ucapan penutur, tanpa peristiwa ketiga di antaranya. Pembaca dapat memperhatikan jarak antara saat sesuatu datang kepadanya dan saat penilaian diberikan. Berapa banyak penilaian yang diberikan pada saat pertama sesuatu datang, dan berapa banyak yang diberikan sesudah dipelajari?
  • Sikap kufur disebut lebih dahulu daripada ucapan, dan karena tuduhan berganti dari sihir di 46:7 ke mengada-adakan di 46:8, dan di 34:43 urutannya terbalik, penolakan di ayat-ayat itu tidak bertumpu pada satu alasan yang tetap. Pembaca dapat bertanya, apakah alasan yang berganti itu sebab penolakan atau sekadar bentuk yang dipakai penolakan yang sudah ada lebih dulu, dan alasan mana yang pernah dipakai pembaca sendiri?
  • Ayat menyebut tanda-tanda itu milik pihak yang berbicara dengan kata Kami, dan pembacanya tidak disebut. Tentang pembacanya, ayat hanya mencatat bahwa tanda-tanda itu dibacakan kepada mereka. Pembaca yang mendengar bacaan dari seseorang dapat menimbang kepada siapa penilaiannya dialamatkan, kepada orang yang membacakan atau kepada pemilik tanda-tanda itu. Dua alamat itu dapat menghasilkan dua macam reaksi, dan ayat ini mencatat reaksi yang diarahkan pada kebenaran yang dibacakan, tidak pada pembacanya. Kepada siapa penilaian itu biasanya dialamatkan?