وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ ۚ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَٰذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ
Dan orang-orang yang kufur berkata tentang orang-orang yang beriman, “Sekiranya ia sesuatu yang baik, tentu mereka tidak mendahului kami kepadanya.” Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, mereka akan berkata, “Ini adalah kebohongan lama.”
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُواwa-qaala lladziina kafaruu li-lladziina aamanuudan orang-orang yang kufur berkata tentang orang-orang yang beriman
- لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِlaw kaana khayran maa sabaquunaa ilayhisekiranya ia sesuatu yang baik, tentu mereka tidak mendahului kami kepadanya
- وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَwa-idz lam yahtaduu bihi fa-sa-yaquuluunadan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, mereka akan berkata
- هَٰذَا إِفْكٌ قَدِيمٌhaadzaa ifkun qadiimunini adalah kebohongan lama
Terjemahan per kata (19 kata)
- وَقَالَwa-qaaladan berkata
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- لَوْlawsekiranya
- كَانَkaanaadalah
- خَيْرًاkhayrankebaikan
- مَاmaatidaklah
- سَبَقُونَاsabaquunaamereka mendahului kami
- إِلَيْهِilayhikepadanya
- وَإِذْwa-idzdan ketika
- لَمْlamtidak
- يَهْتَدُواyahtaduumereka mendapat petunjuk
- بِهِbihidengannya
- فَسَيَقُولُونَfa-sa-yaquuluunamaka mereka akan berkata
- هَٰذَاhaadzaaini
- إِفْكٌifkunkebohongan
- قَدِيمٌqadiimunyang lama
Inti bacaan
Susunan (إِذْ لَمْ, idz lam) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 4:72, 24:13, 46:11, dan 58:13.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا, wa-qaala lladziina kafaruu li-lladziina aamanuu) yang berarti "dan orang-orang yang kufur berkata tentang orang-orang yang beriman". Kata kerja dan dua kelompok yang sama muncul tiga kali lagi, yaitu di 19:73, 29:12, dan 36:47, dan di ketiganya terjemahan memakai "kepada". Alasannya ada pada kalimat yang menyusul. Di 29:12 menyusul perintah (اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا, ttabi'uu sabiilanaa) yang berarti "ikutilah jalan kami", dan di 36:47 menyusul (إِنْ أَنْتُمْ, in antum) yang berarti "kalian tidak lain", sehingga orang beriman di sana menjadi lawan bicara. Di 46:11 kalimat yang menyusul memakai kata ganti mereka, yaitu (سَبَقُونَا, sabaquunaa) yang berarti "mereka mendahului kami", sehingga orang beriman menjadi bahan pembicaraan. Huruf li di sini karena itu diterjemahkan "tentang", seperti di 46:7, (قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ, qaala lladziina kafaruu li-l-haqqi) yang berarti "orang-orang yang kufur berkata tentang kebenaran". Kebenaran tidak bisa menjadi pendengar, dan susunan yang sama dengan terjemahan yang sama ada juga di 34:43. Ayat ini tidak menyebut apakah orang-orang beriman mendengar ucapan itu.
Kata kerja (سَبَقُونَا, sabaquunaa) berakar س-ب-ق dan tersusun dari bentuk jamak "mendahului" ditambah akhiran -naa yang berarti "kami". Bentuk persis ini muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 46:11 dan 59:10. Di 59:10 bunyinya (الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ, lladziina sabaquunaa bi-l-iimaani) yang berarti "yang telah beriman lebih dahulu daripada kami", dan kata itu diucapkan orang-orang yang berdoa kepada Tuhan mereka agar di hati mereka tidak ada kedengkian terhadap orang-orang beriman. Satu kata kerja yang sama karena itu dipakai dua kali untuk dua sikap terhadap pihak yang datang lebih dulu. Di 46:11 kata itu disusul (إِلَيْهِ, ilayhi) yang berarti "kepadanya", sehingga sasaran gerak itu berupa sebuah tujuan, bukan seseorang. Kata ganti -hi menunjuk hal yang sama dengan pokok kalimat pengandaian di depannya, dan ayat ini tidak menamai hal itu.
Pengandaian (لَوْ كَانَ خَيْرًا, law kaana khayran) yang berarti "sekiranya ia sesuatu yang baik" hanya muncul di 46:11. Kata (خَيْرًا, khayran) berakar خ-ي-ر. Pembicara dengan susunan yang sama, orang-orang yang kufur berbicara kepada orang beriman, memakai khayr sebagai ukuran juga di 19:73, (أَيُّ الْفَرِيقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا, ayyu l-fariiqayni khayrun maqaaman) yang berarti "manakah di antara kedua golongan yang lebih baik tempat tinggalnya". Pertanyaan di 19:73 menyangkut tempat, sedangkan ukuran di 46:11 berupa urutan siapa yang sampai lebih dulu. Jawaban pengandaian di 46:11 memakai (مَا, maa) yang berarti "tidak", dan terjemahan menambahkan "tentu" supaya kalimat pengandaiannya terbaca utuh dalam bahasa Indonesia.
Rangkaian (وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ, wa-idz lam yahtaduu bihi) yang berarti "dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya" memuat (إِذْ, idz) yang bertemu (لَمْ, lam) empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 4:72, 24:13, 46:11, dan 58:13. Di 24:13, (فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ, fa-idz lam ya'tuu bi-sy-syuhadaa'i) yang berarti "maka karena mereka tidak membawa saksi-saksi", akibatnya menyusul dengan fa, sama dengan 46:11 yang menyusulkan (فَسَيَقُولُونَ, fa-sa-yaquuluuna). Terjemahan proyek memakai "karena" di 4:72, 24:13, dan 46:11, sehingga alasan bagi kalimat sesudahnya tertulis. Kata kerja (يَهْتَدُوا, yahtaduu) berakar ه-د-ي dan muncul dalam bentuk persis ini dua kali, yaitu di 18:57 dan 46:11. Di 18:57, (فَلَنْ يَهْتَدُوا, fa-lan yahtaduu) berarti "niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk", sedangkan di 46:11 bunyinya tidak memakai lan dan terjemahannya "tidak mendapat petunjuk". Huruf (بِ, bi-) pada (بِهِ, bihi) diterjemahkan "dengan", jadi petunjuk di sini dinyatakan sebagai sesuatu yang bisa didapat lewat sesuatu yang lain.
Kata (فَسَيَقُولُونَ, fa-sa-yaquuluuna) yang berarti "maka mereka akan berkata" berakar ق-و-ل dan memuat sa yang berarti "akan". Bentuk persis ini muncul empat kali, yaitu di 10:31, 17:51, 46:11, dan 48:15. Di keempatnya sa menandai ucapan yang masih akan datang. Di 10:31 bunyinya (فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ, fa-sa-yaquuluuna llaahu) yang berarti "maka mereka akan menjawab, Allah", dan di 48:15 ucapan yang diramalkan adalah tuduhan dengki. Di 46:11 isi ucapannya adalah (هَٰذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ, haadzaa ifkun qadiimun) yang berarti "ini adalah kebohongan lama".
Kata (إِفْكٌ, ifkun) yang berarti "kebohongan" berakar أ-ف-ك. Dengan mengabaikan awalan dan akhiran, kata ini muncul sembilan kali di enam surah, yaitu di 24:11, 24:12, 25:4, 29:17, 34:43, 37:86, 37:151, 46:11, dan 46:28. Di 25:4, (إِفْكٌ افْتَرَاهُ, ifkun iftaraahu), dan di 34:43, (إِفْكٌ مُفْتَرًى, ifkun muftaran), kata itu disertai kata kerja dari akar ف-ر-ي yang berarti "mengada-adakan", sehingga kebohongan di sana punya pembuat. Di 46:11 ifk disertai (قَدِيمٌ, qadiimun) yang berarti "lama" dan tidak ada pembuat yang disebut. Akar ق-د-م pada kata qadiim muncul tiga kali dengan mengabaikan akhiran, yaitu di 12:95, 36:39, dan 46:11. Di 36:39, (كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ, ka-l-'urjuuni l-qadiimi) yang berarti "seperti tandan kurma yang tua", kata itu menunjuk umur sebuah benda. Di 46:11 kata itu karena itu dibaca sebagai umur, dan terjemahan memakai "lama" untuk ukuran waktu yang sama.
Tafsiran
Ayat ini memuat dua kutipan yang dijahit oleh satu alasan yang ditulis ayatnya sendiri. Kutipan pertama mengukur sebuah pesan dari urutan datangnya: kalau pesan itu baik, kata para pembicara, orang-orang beriman tidak akan sampai kepadanya lebih dulu daripada mereka. Kutipan kedua sudah berupa putusan, yaitu "kebohongan lama". Di antara keduanya ayat menaruh sebab, bahwa mereka tidak mendapat petunjuk dengan pesan itu. Putusan karena itu ditempatkan sesudah keadaan tidak mendapat petunjuk dengan pesan itu. Tidak ada kalimat di ayat ini yang memuat pemeriksaan isi pesan.
Di sekitarnya surah ini mencatat tiga tuduhan yang berbeda. Di 46:7 pesan itu disebut (سِحْرٌ مُبِينٌ, sihrun mubiinun) yang berarti "sihir yang nyata", di 46:8 pembicaranya berkata (افْتَرَاهُ, ftaraahu) yang berarti "dia telah mengada-adakannya", dan di 46:11 pesan itu disebut kebohongan lama. Tuduhan kedua menunjuk seorang pembuat yang baru bekerja, sedangkan tuduhan ketiga menunjuk umur, dan keduanya sulit berdiri bersama. Ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa pembicaranya orang yang sama, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa satu kelompok sedang berganti-ganti tuduhan.
Ayat berikutnya menyebut (وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَىٰ, wa-min qablihi kitaabu muusaa) yang berarti "sebelumnya telah ada Kitab Musa". Sesuatu yang sudah ada sebelum pesan ini disebut di 46:12 sebagai pendahulu dengan nilai baik, sedangkan di 46:11 kata lama dipakai sebagai cacat. Ayat 46:12 tidak memakai kata lama, dan kaitan kedua ayat itu adalah pembacaan. Di 46:10 ayat yang bersebelahan sudah menaruh seorang saksi dari Bani Israil yang beriman. Ayat 46:11 tidak menghubungkan orang itu dengan "mereka" yang disebut mendahului, dan juga tidak menamai golongan, kedudukan, atau jumlah orang-orang beriman itu. Pembaca yang ingin menutup celah itu harus mengisinya dari luar teks, padahal ayat ini cukup dengan menunjukkan cara sebuah penolakan disusun.
Renungan dan Hikmah
- Ukuran yang dikutip di 46:11 adalah urutan: kalau pesan itu baik, orang-orang beriman tidak akan sampai kepadanya lebih dulu. Ukuran semacam itu terasa wajar sampai orang yang memakainya mendapati dirinya berada di barisan belakang. Pembaca dapat mengingat kapan terakhir menunda memeriksa sebuah gagasan, dengan alasan pembawa pertamanya orang yang dianggap kurang berhak mendahului. Ayat ini menaruh kalimat itu di mulut orang lain, sehingga pembaca bisa mendengarnya dari jarak yang cukup. Bagaimana bunyi kalimat serupa bila suaranya milik pembaca sendiri?
- Di 46:10 pertanyaannya adalah apakah pesan itu datang dari Allah, dan di 46:11 yang tercatat sebagai tanggapan bukan jawaban atas pertanyaan itu. Tercatat penilaian tentang siapa yang tiba lebih dulu dan putusan bahwa pesan itu kebohongan lama. Ayat menaruh alasan di antara keduanya: mereka tidak mendapat petunjuk dengan pesan itu. Orang yang menolak sesuatu dapat menanyai dirinya apakah penolakan itu datang sesudah isinya diperiksa, atau sesudah dirinya tidak mendapat petunjuk dengannya. Dari dalam, keduanya terasa sama. Ayat ini memisahkan keduanya lewat urutan.
- Kata lama dipakai di 46:11 sebagai alasan untuk menolak, padahal ayat berikutnya menyebut Kitab Musa yang sudah ada sebelumnya sebagai imam dan rahmat. Menurut 46:2 kitab ini diturunkan dari Allah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah, dan ayat itu tidak menyebut umur sebagai ukuran benar atau salahnya. Pembaca yang pernah mengabaikan sebuah nasihat dengan alasan sudah sering didengar dapat bertanya apakah keseringan itu bukti bahwa nasihat itu keliru atau bukti bahwa nasihat itu bertahan. Dua ayat berurutan menilai yang sudah ada sebelumnya dengan nilai yang berlawanan.
- Kutipan kedua di 46:11 ditulis dengan awalan yang berarti akan, sehingga ayat ini mencatat sebuah kalimat sebelum ada yang mengucapkannya. Ayat yang menurut 46:10 berbicara tentang apa yang datang dari Allah itu ikut menyediakan kalimat penolakan lebih dulu, lengkap dengan kata-katanya. Pembaca yang mendapati kalimat serupa mulai terbentuk di kepalanya sendiri berada di posisi yang tidak lazim, sebab kalimat itu sudah menunggu dalam bentuk tertulis. Bagaimana rasanya mengenali ucapannya sendiri di halaman yang dibaca banyak orang sebelum ia sempat mengucapkannya?
- Kata kerja yang berarti mendahului terulang di 59:10, tetapi di sana kata itu menjadi isi doa. Orang-orang yang datang kemudian memohon kepada Tuhan mereka ampunan bagi saudara-saudara yang beriman lebih dahulu, dan memohon agar di hati mereka tidak ada kedengkian terhadap orang-orang beriman. Dua ayat memakai kata kerja yang sama untuk dua sikap, dan kata kerjanya sendiri tidak memihak. Orang yang mendapati dirinya berada sesudah orang lain mempunyai dua kalimat siap pakai dalam kitab ini. Kalimat mana yang lebih dulu muncul di dalam dirinya ketika melihat orang lain sampai lebih awal?
- Orang-orang yang kufur di 46:11 berbicara tentang orang beriman dengan kata mereka dan kami, bukan kepada orang beriman, dan ayat tidak menyebut apakah ada yang mendengarnya. Sebuah penilaian, bila tidak disampaikan kepada orangnya, tidak bisa dijawab olehnya. Menurut 46:10, perkara petunjuk berada pada Allah yang tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim, dan bukan pada penilai yang berkomentar dari jauh. Pembaca dapat bertanya kalimat apa yang paling sering diucapkan tentang orang yang tidak ada di ruangan, dan apakah kalimat itu bertahan bila orangnya berdiri di sana.