إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka istikamah, maka tidak ada ketakutan atas mereka, dan mereka tidak bersedih.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- إِنَّ الَّذِينَ قَالُواinna lladziina qaaluusesungguhnya orang-orang yang berkata
- رَبُّنَا اللَّهُrabbunaa llaahuTuhan kami adalah Allah
- ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَtsumma staqaamuu fa-laa khawfun 'alayhim wa-laa hum yahzanuunakemudian mereka istikamah, maka tidak ada ketakutan atas mereka, dan mereka tidak bersedih
Terjemahan per kata (13 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- قَالُواqaaluumereka berkata
- رَبُّنَاrabbunaaTuhan kami
- اللَّهُllaahuAllah
- ثُمَّtsummakemudian
- اسْتَقَامُواstaqaamuumereka istikamah
- فَلَاfa-laamaka tidak ada
- خَوْفٌkhawfunrasa takut
- عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- هُمْhummereka
- يَحْزَنُونَyahzanuunabersedih
Inti bacaan
Bunyi (رَبُّنَا اللَّهُ, rabbunaa llaahu) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 22:40, 41:30, dan 46:13.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا, inna lladziina qaaluu rabbunaa llaahu tsumma staqaamuu) yang berarti "sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka istikamah". Bunyi ini sama persis di 41:30 dan 46:13, dan hanya di dua ayat itu. Sesudah bagian pembuka itu kedua ayat berpisah: di 41:30 menyusul (تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ, tatanazzalu 'alayhimu l-malaa'ikatu) yang berarti "para malaikat turun kepada mereka" lalu (أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا, allaa takhaafuu wa-laa tahzanuu) yang berarti "janganlah kalian takut dan jangan bersedih", sedangkan di 46:13 menyusul (فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ, fa-laa khawfun 'alayhim wa-laa hum yahzanuuna) yang berarti "maka tidak ada ketakutan atas mereka, dan mereka tidak bersedih".
Kata pertama kalimat (رَبُّنَا اللَّهُ, rabbunaa llaahu) berakar ر-ب-ب, dan kalimat itu tidak memuat kata kerja. Terjemahan menambahkan "adalah" supaya dua nama itu terbaca sebagai satu pernyataan, dan memakai urutan ayatnya: "Tuhan kami adalah Allah". Urutan sebaliknya, (اللَّهُ رَبُّنَا, llaahu rabbunaa), ada di 7:89 dan 42:15, sehingga terjemahan 42:15 berbunyi "Allah Tuhan kami". Bunyi rabbunaa llaahu muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 22:40, 41:30, dan 46:13. Di 22:40, (إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ, illaa an yaquuluu rabbunaa llaahu) berarti "kecuali bahwa mereka berkata, 'Tuhan kami adalah Allah'", dan ayatnya mengaitkan pengusiran orang-orang itu dari kampung halaman dengan ucapan tersebut. Di ketiga ayat kalimat itu dikutip sebagai ucapan, dan konsekuensinya berbeda di tiap ayat.
Kata (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian" memisahkan dua tindakan, berkata dan istikamah. Ayat tidak menyebut jarak waktu di antara keduanya. Kata kerja (اسْتَقَامُوا, staqaamuu) berakar ق-و-م dan muncul dalam bentuk persis ini empat kali, yaitu di 9:7, 41:30, 46:13, dan 72:16. Di 9:7, (فَمَا اسْتَقَامُوا لَكُمْ, fa-maa staqaamuu lakum) berarti "selama mereka berlaku lurus terhadap kalian", dan di 72:16, (وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ, wa-an lawi staqaamuu 'alaa th-thariiqati) berarti "dan sekiranya mereka tetap lurus di atas jalan". Kedua ayat itu menyebut terhadap siapa atau di atas apa. Bentuk perintahnya ada di 11:112 dan 42:15, (فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ, fa-staqim ka-maa umirta) yang berarti "maka teguhlah, sebagaimana engkau diperintahkan", dan di 41:6, (فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ, fa-staqiimuu ilayhi) yang berarti "maka tetaplah kepada-Nya". Di 41:30 dan 46:13 kata kerja itu berdiri tanpa keterangan terhadap siapa atau dalam hal apa. Terjemahan memakai "istikamah", kata yang dalam kamus bahasa Indonesia berarti sikap teguh pendirian dan selalu konsisten, seperti terjemahan 41:30 dan 42:15.
Rangkaian (فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ, fa-laa khawfun 'alayhim wa-laa hum yahzanuuna) dengan fa muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:38, 5:69, 6:48, 7:35, dan 46:13. Dengan atau tanpa fa, dan tanpa awalan an di depannya, rangkaian yang sama muncul sebelas kali di enam surah, yaitu 2:38, 2:62, 2:112, 2:262, 2:274, 2:277, 5:69, 6:48, 7:35, 10:62, dan 46:13. Syarat sebelum rangkaian itu berbeda-beda: di 2:38 berbunyi (فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ, fa-man tabi'a hudaaya) yang berarti "siapa yang mengikuti petunjuk-Ku", di 5:69 berbunyi (مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا, man aamana bi-llaahi wa-l-yawmi l-aakhiri wa-'amila shaalihan) yang berarti "siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir serta beramal saleh", di 6:48 berbunyi (فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ, fa-man aamana wa-ashlaha) yang berarti "maka siapa yang beriman dan memperbaiki diri", dan di 7:35 berbunyi (فَمَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ, fa-mani ttaqaa wa-ashlaha) yang berarti "maka siapa yang bertakwa dan memperbaiki diri". Empat dari lima ayat berfa itu menyusun syaratnya dari dua hal yang disambung, dan di 46:13 hal pertamanya adalah sebuah ucapan, sedangkan di tiga ayat lainnya berupa iman atau takwa. Di 2:62 pola tanpa fa didahului (فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ, fa-lahum ajruhum 'inda rabbihim) yang berarti "maka bagi mereka pahala mereka di sisi Tuhan mereka", sedangkan di 46:13 pahala tidak disebut dan baru muncul di ayat berikutnya.
Kata (خَوْفٌ, khawfun) berakar خ-و-ف dan berupa kata benda, sedangkan (يَحْزَنُونَ, yahzanuuna) berakar ح-ز-ن dan berupa kata kerja. Ketakutan di ayat ini digambarkan sebagai sesuatu yang tidak ada di atas mereka, sedangkan kesedihan sebagai sesuatu yang tidak dialami oleh mereka sendiri. Dengan mengabaikan akhiran, khawf muncul dua puluh lima kali di enam belas surah, dan yahzanuuna tiga belas kali di delapan surah. Pasangan kedua akar ini, takut lalu sedih, dipakai juga di 41:30, tetapi di sana dalam bentuk larangan kepada orang-orang yang diajak bicara.
Tafsiran
Ayat ini menaruh dua kutipan ucapan dalam jarak tiga ayat, dan keduanya memakai kata kerja berkata dari akar yang sama. Di 46:11 orang-orang yang kufur berkata dengan kalimat panjang yang memuat perbandingan, alasan, dan putusan. Di 46:13 orang-orang lain berkata dalam dua kata Arab, dan seluruh bobot kalimatnya jatuh pada apa yang menyusul, yaitu kata kemudian dan istikamah. Ucapan kedua tidak berisi bantahan kepada siapa pun dan tidak menyebut pihak lain.
Pola dari 2:38, 5:69, 6:48, dan 7:35 memberikan peniadaan takut dan sedih kepada orang yang memenuhi syarat tertentu. Di empat ayat itu syaratnya berupa sikap atau perbuatan, dan di 46:13 syaratnya dibuka dengan ucapan lalu disambung istikamah. Ayat ini karena itu menempatkan ucapan sebagai pintu masuk dan istikamah sebagai hal yang menyertai janji itu. Ayat tidak menyebut berapa lama istikamah berlangsung, dan tidak menyebut apa saja yang diistikamahi.
Dibanding 41:30, yang membuka dengan kalimat sama, ayat 46:13 tidak memuat malaikat atau kabar yang datang dari luar. Yang tertulis hanya keadaan: tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak bersedih. Di 41:30 janji serupa disampaikan sebagai ucapan para malaikat yang turun, sedangkan di 46:13 ayat sendiri yang menyatakan keadaan itu. Janji yang sama muncul dua kali dengan dua cara, diumumkan oleh pihak yang datang dan dicatat sebagai keadaan. Keduanya tidak saling menjelaskan, dan ayat tidak menyatakan bahwa kejadian di 41:30 berlaku juga di 46:13.
Ayat berikutnya, 46:14, memakai kata (أُولَٰئِكَ, ulaa'ika) yang berarti "mereka itu" untuk menunjuk orang-orang di ayat ini, lalu menyebut tempat dan balasan. Rangkaian 46:11 sampai 46:14 dengan demikian menaruh penolakan, kitab yang sudah ada lebih dulu, ucapan yang disusul istikamah, dan balasan secara berurutan.
Renungan dan Hikmah
- Ucapan Tuhan kami adalah Allah di 46:13 pendek, dan ayat tidak menambahkan penjelasan, syarat, atau ancaman kepada siapa pun. Seluruh beban kalimatnya jatuh pada apa yang datang sesudahnya. Pembaca yang pernah mengucapkan kalimat sepenting itu, di depan orang lain atau di dalam dirinya, mengetahui bahwa ucapan semacam itu paling mudah diucapkan pada hari yang tenang. Ayat ini tidak meminta kalimat lain yang lebih panjang atau lebih fasih. Kalimat apa yang sudah pembaca ucapkan sekali dan sampai hari ini belum ia susul dengan apa pun?
- Kata kemudian memisahkan dua tindakan di 46:13, berkata dan istikamah, dan ayat tidak menyebut berapa lama jarak di antara keduanya. Ayat ini membiarkan jarak itu terbuka, sehingga setiap pembaca mengisinya dengan hidupnya sendiri: sehari, setahun, atau seumur hidup. Sebuah janji yang diucapkan pada satu hari sering dikenang sebagai peristiwa, padahal ayat ini menaruh bagian yang berat sesudahnya. Di antara ucapan dan istikamah pembaca, ada berapa hari yang paling mudah dilewatkan tanpa disadari?
- Janji di 46:13 disusun dari dua penyangkalan yang berbeda, tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak bersedih, dan ayat tidak menyatukannya menjadi satu kata seperti tenang atau aman. Pembaca dapat memeriksa yang mana dari dua itu lebih sering mengisi harinya, karena yang satu dinyatakan sebagai sesuatu yang berada di atas seseorang dan yang lain sebagai sesuatu yang dialami seseorang sendiri. Ucapan di ayat ini menyebut Tuhan sebagai milik pengucapnya, dan beban yang dibicarakan sesudahnya baru dua. Dari kedua beban itu, mana yang lebih dulu ingin dilepaskan pembaca?
- Orang-orang di 46:11 berbicara panjang tentang siapa yang lebih dulu dan mengapa pesan itu salah, sedangkan orang-orang di 46:13 berbicara dalam dua kata Arab. Pembaca dapat melihat bahwa kedua kutipan itu diucapkan oleh pihak yang berlainan dan ditaruh bersebelahan di dalam satu surah, dan bahwa panjang kalimat tidak ikut menentukan hasilnya. Kefasihan tidak menjadi bagian dari ucapan yang menyebut nama Allah itu, dan ayat hanya mencatat apa yang diucapkan lalu apa yang menyusul. Bila ucapan pembaca sendiri dipotong sampai tinggal inti, kalimat mana yang tersisa?
- Istikamah di 46:13 tidak disertai keterangan terhadap siapa atau dalam hal apa, berbeda dari 9:7 yang menyebut terhadap kalian dan dari 72:16 yang menyebut di atas jalan. Pembaca yang ingin tahu apakah dirinya sudah memenuhi syarat itu tidak menemukan daftar di ayat ini. Di 2:62 pola yang sama didahului pahala di sisi Tuhan mereka, sedangkan di 46:13 pahala itu baru muncul di ayat sesudahnya. Teks membiarkan pembaca menimbang keteguhannya sendiri tanpa tolok ukur dari luar. Apa yang akan pembaca tulis bila diminta menjelaskan, dalam satu kalimat, hal yang sedang ia istikamahi?
- Janji tanpa takut dan tanpa sedih datang dua kali dengan cara berbeda: di 41:30 diumumkan oleh malaikat yang turun kepada orang-orang yang berkata Tuhan kami adalah Allah, dan di 46:13 dinyatakan oleh ayat sebagai keadaan. Pembaca yang menerima kabar baik lewat seseorang yang datang membawanya mungkin merasakannya lain dari pembaca yang menemukannya tertulis. Kitab ini menaruh kedua bentuk itu di dua surah, dan tidak ada ayat yang meminta pembaca memilih salah satu. Bentuk mana yang lebih mudah dipercaya pembaca, kabar yang diantar atau kabar yang tertulis?