وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah. Mengandungnya dan menyapihnya selama tiga puluh bulan. Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berkata, “Wahai Tuhanku, ilhamkanlah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk beramal saleh yang Engkau ridai, dan perbaikilah bagiku dalam keturunanku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Terjemahan bertahap (7 jeda)
- وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًاwa-washshaynaa l-insaana bi-waalidayhi ihsaananKami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya
- حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًاhamalat-hu ummuhu kurhan wa-wadha'at-hu kurhanibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah
- وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًاwa-hamluhu wa-fishaaluhu tsalaatsuuna syahranmengandungnya dan menyapihnya selama tiga puluh bulan
- حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةًhattaa idzaa balagha asyuddahu wa-balagha arba'iina sanatansehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun
- قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّqaala rabbi awzi'nii an asykura ni'mataka llatii an'amta 'alayya wa-'alaa waalidayyaia berkata, wahai Tuhanku, ilhamkanlah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku
- وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِيwa-an a'mala shaalihan tardhaahu wa-ashlih lii fii dzurriyyatiidan untuk beramal saleh yang Engkau ridai, dan perbaikilah bagiku dalam keturunanku
- إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَinnii tubtu ilayka wa-innii mina l-muslimiinasesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri
Terjemahan per kata (45 kata)
- وَوَصَّيْنَاwa-washshaynaadan Kami mewasiatkan
- الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
- بِوَالِدَيْهِbi-waalidayhikepada kedua orang tuanya
- إِحْسَانًاihsaananberbuat baik
- حَمَلَتْهُhamalat-huia mengandungnya
- أُمُّهُummuhuibunya
- كُرْهًاkurhandengan susah payah
- وَوَضَعَتْهُwa-wadha'at-hudan ia melahirkannya
- كُرْهًاkurhandengan susah payah
- وَحَمْلُهُwa-hamluhudan mengandungnya
- وَفِصَالُهُwa-fishaaluhudan menyapihnya
- ثَلَاثُونَtsalaatsuunatiga puluh
- شَهْرًاsyahranbulan
- حَتَّىٰhattaasampai
- إِذَاidzaaapabila
- بَلَغَbalaghamencapai
- أَشُدَّهُasyuddahukedewasaannya
- وَبَلَغَwa-balaghadan mencapai
- أَرْبَعِينَarba'iinaempat puluh
- سَنَةًsanatantahun
- قَالَqaalaberkata
- رَبِّrabbiTuhan
- أَوْزِعْنِيawzi'niiilhamkanlah kepadaku
- أَنْanuntuk
- أَشْكُرَasykuraaku bersyukur
- نِعْمَتَكَni'matakanikmat-Mu
- الَّتِيllatiiyang
- أَنْعَمْتَan'amtatelah Engkau beri nikmat
- عَلَيَّ'alayyakepadaku
- وَعَلَىٰwa-'alaadan atas
- وَالِدَيَّwaalidayyakedua orang tuaku
- وَأَنْwa-andan untuk
- أَعْمَلَa'malaaku beramal
- صَالِحًاshaalihankebajikan
- تَرْضَاهُtardhaahuEngkau meridainya
- وَأَصْلِحْwa-ashlihdan perbaikilah
- لِيliibagiku
- فِيfiipada
- ذُرِّيَّتِيdzurriyyatiiketurunanku
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- تُبْتُtubtuaku bertobat
- إِلَيْكَilaykakepadamu
- وَإِنِّيwa-inniidan sesungguhnya aku
- مِنَminadari
- الْمُسْلِمِينَl-muslimiinaorang-orang yang berserah diri
Inti bacaan
Permohonan (أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ, awzi'nii an asykura ni'mataka) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 27:19 dan 46:15.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا, wa-washshaynaa l-insaana bi-waalidayhi ihsaanan) yang berarti "Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya". Kalimat pembuka (وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ, wa-washshaynaa l-insaana bi-waalidayhi) dipakai tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 29:8, 31:14, dan 46:15, dan ketiganya menyambungnya dengan kata yang berbeda: (حُسْنًا, husnan) di 29:8, (حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ, hamalat-hu ummuhu wahnan 'alaa wahnin) di 31:14, dan (إِحْسَانًا, ihsaanan) di 46:15. Kata ihsaanan berakar ح-س-ن dan muncul enam kali dengan ejaan ini, yaitu di 2:83, 4:36, 4:62, 6:151, 17:23, dan 46:15. Di 2:83, 4:36, 6:151, dan 17:23 bunyinya (وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا, wa-bi-l-waalidayni ihsaanan) yang berarti "dan berbuat baik kepada kedua orang tua", sehingga perintah berbuat baik kepada orang tua dengan kata ihsaan tertulis di lima ayat.
Kata (كُرْهًا, kurhan) muncul dua kali di ayat ini, pada (حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا, hamalat-hu ummuhu kurhan) yang berarti "ibunya telah mengandungnya dengan susah payah" dan pada (وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا, wa-wadha'at-hu kurhan) yang berarti "dan melahirkannya dengan susah payah". Kata kerja pertama berakar ح-م-ل, dan bentuk hamalat-hu ummuhu hanya ada di 31:14 dan 46:15, dengan 31:14 melanjutkannya ke (وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ, wahnan 'alaa wahnin) yang berarti "dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah". Kata kerja kedua berakar و-ض-ع dan ejaan wa-wadha'at-hu hanya ada di 46:15. Akar ini berarti "meletakkan" bila objeknya benda, seperti di 55:10, (وَضَعَهَا, wadha'ahaa) yang berarti "Dia letakkan", dan berarti "melahirkan" bila objeknya anak, seperti di 3:36, (وَضَعَتْهَا, wadha'at-haa) yang berarti "melahirkannya". Objek -hu di 46:15 adalah manusia yang disebut di awal ayat, sehingga terjemahan memakai "melahirkan".
Kata kurhan berbeda ejaan dari (كَرْهًا, karhan) di 3:83, 4:19, 9:53, 13:15, dan 41:11, dan data morfologi memberi dua lema terpisah: kurh hanya di 2:216 dan 46:15, sedangkan karh di kelima ayat tadi. Karh berpasangan dengan (طَوْعًا, thaw'an) yang berarti "dengan sukarela", seperti di 9:53, (طَوْعًا أَوْ كَرْهًا, thaw'an aw karhan) yang berarti "dengan sukarela atau terpaksa", dan di 4:19, (أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا, an taritsuu n-nisaa'a karhan) yang berarti "mewarisi perempuan dengan paksa". Di 2:216, (وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ, wa-huwa kurhun lakum) yang berarti "padahal itu kalian benci", kurh menunjuk sesuatu yang tidak disukai oleh orang yang menanggungnya. Di 46:15 tidak ada pasangan sukarela dan tidak ada pihak yang memaksa, sehingga terjemahan memakai "susah payah" dan tidak memakai "terpaksa".
Rangkaian (وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا, wa-hamluhu wa-fishaaluhu tsalaatsuuna syahran) yang berarti "mengandungnya dan menyapihnya selama tiga puluh bulan" memuat dua kata benda yang disambung huruf wa. Terjemahan menulis keduanya sebagai dua kata kerja berurutan karena ayat ini tidak memakai kata yang berarti "sampai" di antara keduanya. Kata (فِصَالُهُ, fishaaluhu) berakar ف-ص-ل dan muncul dua kali dengan ejaan ini, yaitu di 31:14 dan 46:15. Di 31:14 bunyinya (وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ, wa-fishaaluhu fii 'aamayni) yang berarti "dan penyapihannya dalam dua tahun", dan kata bendanya muncul sekali lagi di 2:233, (فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ, fishaalan 'an taraadhin) yang berarti "penyapihan berdasarkan kerelaan". Angka dua ayat itu menghitung dua rentang yang berbeda: 31:14 menghitung penyapihan saja, sedangkan 46:15 menghitung mengandung dan menyapih bersama-sama. Kedua ayat tidak saling merujuk dan tidak menyatakan bagaimana kedua angka itu dihubungkan. Kata (ثَلَاثُونَ, tsalaatsuuna) yang berarti "tiga puluh" hanya ada di 46:15 dengan ejaan ini, dan (شَهْرًا, syahran) yang berarti "bulan" ada di 9:36 dan 46:15.
Rangkaian (حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً, hattaa idzaa balagha asyuddahu wa-balagha arba'iina sanatan) yang berarti "sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun" memuat kata kerja (بَلَغَ, balagha) dua kali. Kata (أَشُدَّهُ, asyuddahu) berakar ش-د-د dan muncul enam kali dengan ejaan ini, yaitu di 6:152, 12:22, 17:34, 18:82, 28:14, dan 46:15. Frasa (بَلَغَ أَشُدَّهُ, balagha asyuddahu) ada di tiga ayat, yaitu 12:22, 28:14, dan 46:15. Di 12:22, (وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا, wa-lammaa balagha asyuddahu aataynaahu hukman wa-'ilman), dan di 28:14, (وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ, wa-lammaa balagha asyuddahu wa-stawaa), sesudahnya datang pemberian atau kesempurnaan, sedangkan di 46:15 sesudahnya datang ucapan manusia itu sendiri. Rangkaian (أَرْبَعِينَ سَنَةً, arba'iina sanatan) yang berarti "empat puluh tahun" hanya ada di 5:26 dan 46:15. Di 5:26 angka itu mengikuti (مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ, muharramatun 'alayhim) yang berarti "diharamkan atas mereka", sehingga menghitung masa sebuah larangan atas suatu kaum, dan di 46:15 angka itu menghitung umur seorang manusia. Ayat 46:15 tidak menyatakan bahwa empat puluh tahun adalah syarat doa itu; angka itu hanya menandai titik tempat doa diucapkan.
Permohonan (رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ, rabbi awzi'nii an asykura ni'mataka llatii an'amta 'alayya wa-'alaa waalidayya wa-an a'mala shaalihan tardhaahu) muncul dua kali di Al-Qur'an dengan susunan yang persis sama, yaitu di 27:19 dan 46:15. Sesudahnya kedua ayat berpisah. Di 27:19 menyusul (وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ, wa-adkhilnii bi-rahmatika fii 'ibaadika sh-shaalihiina), sedangkan di 46:15 menyusul permintaan tentang keturunan dan dua pernyataan. Kata kerja (أَوْزِعْنِي, awzi'nii) berakar و-ز-ع dan hanya ada di 27:19 dan 46:15. Terjemahan memakai "ilhamkanlah aku", sama dengan terjemahan 27:19, dan tidak memakai "berilah petunjuk" karena kata petunjuk berasal dari akar lain, ه-د-ي. Kata (نِعْمَتَكَ, ni'mataka) yang berarti "nikmat-Mu" berakar ن-ع-م, dan (وَالِدَيَّ, waalidayya) yang berarti "kedua orang tuaku" ada di empat ayat, yaitu 14:41, 27:19, 46:15, dan 71:28. Di 14:41 dan 71:28 orang tua itu dimintakan ampun, sedangkan di 27:19 dan 46:15 mereka disebut sebagai penerima nikmat.
Kata kerja (وَأَصْلِحْ, wa-ashlih) yang berarti "dan perbaikilah" berakar ص-ل-ح, akar yang sama dengan (صَالِحًا, shaalihan) beberapa kata sebelumnya. Bentuk perintah ini ada di 7:142 dan 46:15. Di 7:142 kata itu berdiri tanpa objek, dan di 46:15 kata itu disusul (لِي, lii) yang berarti "bagiku" serta (فِي ذُرِّيَّتِي, fii dzurriyyatii) yang berarti "dalam keturunanku". Ayat tidak menyebut apa yang diperbaiki, sehingga terjemahan memakai "perbaikilah bagiku dalam keturunanku" tanpa menambahkan "kesalehan" atau "anak cucu". Kata (ذُرِّيَّتِي, dzurriyyatii) ada di empat ayat, yaitu 2:124, 14:37, 14:40, dan 46:15. Di 2:124 dan 14:40 bunyinya (وَمِنْ ذُرِّيَّتِي, wa-min dzurriyyatii) yang berarti "dan dari keturunanku", dan di 14:37 juga memakai min, sedangkan 46:15 memakai (فِي, fii) yang berarti "dalam".
Kata kerja (تُبْتُ, tubtu) yang berarti "aku bertobat" berakar ت-و-ب dan berbentuk lampau orang pertama tunggal. Bentuk ini ada tiga kali, yaitu di 4:18, 7:143, dan 46:15. Di 4:18, (إِنِّي تُبْتُ الْآنَ, innii tubtu l-aana), kalimat itu diucapkan oleh orang yang kematiannya sudah datang kepadanya, dan di 7:143, (تُبْتُ إِلَيْكَ, tubtu ilayka), kalimat itu diucapkan sesudah seseorang yang meminta melihat Tuhannya sadar dari pingsan. Di 46:15, (إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ, innii tubtu ilayka), kalimat itu diucapkan di akhir doa tentang syukur, amal, dan keturunan. Kalimat penutupnya, (وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ, wa-innii mina l-muslimiina) yang berarti "dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri", hanya ada di 46:15 dengan ejaan ini. Rangkaian (مِنَ الْمُسْلِمِينَ, mina l-muslimiina) muncul enam kali, yaitu di 10:72, 10:90, 27:91, 41:33, 46:15, dan 51:36. Lima di antaranya diucapkan pembicara tentang dirinya sendiri, dan satu, 51:36, menyebut sebuah rumah. Terjemahan memakai "orang-orang yang berserah diri" di keenamnya.
Tafsiran
Ayat ini berganti pembicara di tengah jalan. Pembukanya adalah Kami yang berwasiat dan menerangkan apa yang dialami ibu, lalu pada kata "ia berkata" suara berpindah ke manusia itu sendiri, dan sisa ayat berupa kalimat orang pertama yang ditujukan kepada Tuhan. Perpindahan itu terjadi tepat sesudah dua angka, tiga puluh bulan dan empat puluh tahun, sehingga bagian pertama ayat mencatat apa yang sudah diterima manusia itu, dan bagian kedua mencatat apa yang diucapkan sesudahnya.
Doa itu memuat tiga permintaan dan dua pernyataan, dan permintaannya menjangkau tiga generasi. Syukur atas nikmat yang diberikan kepada pembicara dan kepada kedua orang tuanya menyangkut generasi sebelumnya, amal saleh menyangkut dirinya, dan perbaikan dalam keturunan menyangkut generasi sesudahnya. Ayat yang dibuka dengan kedua orang tua (وَالِدَيْهِ, waalidayhi) kembali kepada mereka di tengah doa dalam bentuk (وَالِدَيَّ, waalidayya), sehingga orang tua, diri sendiri, dan keturunan tertulis dalam satu ayat.
Titik hidup yang sama, ketika seseorang mencapai kedewasaannya, dicatat di dua ayat lain dengan kelanjutan yang berbeda. Di 12:22 dan 28:14 sesudahnya datang pemberian, sedangkan di 46:15 sesudahnya datang permintaan. Kitab ini karena itu mencatat titik yang sama dari dua arah, dari pihak yang memberi dan dari pihak yang meminta. Ayat tidak menyatakan bahwa permintaan itu dikabulkan. Ayat sesudahnya, 46:16, memakai bentuk jamak untuk orang-orang yang amal terbaiknya diterima, dan tidak menyebut manusia di ayat ini secara tunggal.
Dua ayat sesudahnya memakai kata yang sama untuk orang tua, tetapi dengan anak yang berbeda. Ayat 46:17 menghadirkan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya (قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا, qaala li-waalidayhi uffin lakumaa) yang berarti "berkata kepada kedua orang tuanya, 'Cih bagi kalian berdua'". Satu anak berdoa untuk orang tuanya dan memohon agar dimampukan bersyukur, dan anak lain menolak mereka, dengan satu ayat tentang penerimaan amal di antara keduanya.
Renungan dan Hikmah
- Perintah di 46:15 hanya satu kata, berbuat baik, dan sesudahnya ayat memakai tiga kalimat untuk menerangkan apa yang dialami ibu: mengandung dengan susah payah, melahirkan dengan susah payah, lalu tiga puluh bulan. Pembaca yang menganggap kebaikan kepada orang tua sebagai urusan sopan santun mendapati bahwa wasiat ini datang bersama rincian, seakan alasannya perlu ditulis supaya tidak hilang. Ayat tidak merinci apa yang dialami ayah dan tidak menjelaskan mengapa rincian ibu yang dipilih. Bila pembaca diminta menuliskan tiga kalimat tentang apa yang dialami ibunya sebelum dirinya dapat berbicara, kalimat apa yang akan tertulis?
- Tiga puluh bulan adalah angka yang dapat diperiksa di kalender, dan ayat menaruhnya di tempat rasa lelah biasanya disimpan. Orang yang terbiasa mengenang jasa dengan kata besar dan banyak mendapati ayat ini memilih bilangan. Di 31:14 wasiat yang sama berbunyi "bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu", dan angkanya di sana dua tahun untuk penyapihan saja. Dua ayat memberi dua bilangan untuk dua rentang, dan tidak ada yang meminta pembaca menyatukannya. Berapa bulan dari hidup pembaca yang dijalani orang lain tanpa diketahuinya, dan tercatat di mana?
- Empat puluh tahun di 46:15 disebut sebagai tempat doa diucapkan, dan ayat tidak menjadikannya syarat. Pembaca yang menunggu usia tertentu untuk memulai doa semacam itu tidak menemukan ketentuan umur di ayat ini. Doa itu dialamatkan kepada Tuhan dengan kata Tuhanku, dan isinya bisa diucapkan oleh siapa pun yang telah menerima nikmat. Yang ditulis ayat hanya urutan: wasiat, rincian, angka, lalu doa. Doa apa yang pembaca simpan untuk nanti, padahal bagian-bagiannya sudah tertulis di sini dan menunggu diucapkan?
- Doa di 46:15 menyebut diri sendiri, orang tua, dan keturunan dalam satu kalimat. Pembaca yang menyusun doanya hanya untuk dirinya, atau hanya untuk anak-anaknya, mendapati bahwa ayat ini menaruh ketiganya berdampingan di depan Tuhan. Urutan itu bergerak ke depan tanpa meninggalkan yang di belakang: wasiat di awal ayat menyebut orang tua lebih dulu, lalu doa menyebut diri sendiri, orang tua, dan keturunan. Doa seperti itu tidak memberi tahu siapa yang lebih penting, karena yang disebut hanya urutannya. Siapa yang tidak pernah masuk ke dalam doa pembaca padahal namanya disebut dalam hari-harinya?
- Syukur di 46:15 ditujukan pada nikmat yang diberikan kepada pembicara dan kepada kedua orang tuanya, sehingga nikmat yang jatuh pada orang tua ikut dihitung sebagai bahan syukur. Orang yang terbiasa menghitung nikmat dari keadaannya sendiri mendapati hitungan yang lebih panjang. Doa itu tidak memerinci nikmat apa yang dimaksud, dan pembicara menyebut Tuhannya dengan kata ganti Engkau. Nikmat apa yang pernah diterima orang tua pembaca dan tidak pernah dihitung sebagai bagian dari nikmatnya sendiri?
- Dua permintaan pertama di 46:15 berupa kemampuan, yaitu kemampuan mensyukuri nikmat dan kemampuan beramal saleh yang diridai, dan tidak ada benda atau kedudukan di dalamnya. Pembaca yang hari ini meminta sesuatu kepada Tuhannya dapat mengurai isi permintaannya: benda, keadaan, atau kemampuan. Ayat tidak mengatakan mana yang lebih baik untuk diminta, tetapi menunjukkan satu doa yang isinya hampir seluruhnya kemampuan. Bila doa pembaca pekan ini ditulis ulang, berapa barisnya yang berisi kemampuan?
- Dua pernyataan menutup doa di 46:15: aku bertobat kepada-Mu, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Kalimat yang sama, aku bertobat, dikutip di 4:18 dari orang yang kematiannya sudah datang, dan di 7:143 dari seseorang yang baru sadar dari pingsan. Di 46:15 kalimat itu diucapkan di akhir doa tentang syukur, amal, dan keturunan, dan ayat tidak menyebut peristiwa yang mendesaknya. Pembaca yang menyimpan kalimat itu untuk keadaan terdesak mendapati bahwa kitab ini juga mencatatnya pada hari yang biasa. Kapan terakhir kalimat itu diucapkan pembaca kepada Tuhannya, dan apa yang sedang terjadi saat itu?