وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, “Cih bagi kalian berdua! Apakah kalian menjanjikanku bahwa aku akan dikeluarkan, padahal generasi-generasi sebelumku telah berlalu?” sedang keduanya memohon pertolongan kepada Allah, “Celakalah engkau, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah benar.” Lalu ia berkata, “Ini tidak lain adalah dongeng orang-orang terdahulu.”
Terjemahan bertahap (7 jeda)
- وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِwa-lladzii qaala li-waalidayhidan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya
- أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَuffin lakumaa a-ta'idaaninii an ukhrajacih bagi kalian berdua! apakah kalian menjanjikanku bahwa aku akan dikeluarkan
- وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِيwa-qad khalati l-quruunu min qabliipadahal generasi-generasi sebelumku telah berlalu
- وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَwa-humaa yastaghiitsaani llaahasedang keduanya memohon pertolongan kepada Allah
- وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّwaylaka aamin inna wa'da llaahi haqquncelakalah engkau, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah benar
- فَيَقُولُfa-yaquululalu ia berkata
- مَا هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَmaa haadzaa illaa asaathiiru l-awwaliinaini tidak lain adalah dongeng orang-orang terdahulu
Terjemahan per kata (28 kata)
- وَالَّذِيwa-lladziidan yang
- قَالَqaalaberkata
- لِوَالِدَيْهِli-waalidayhikepada kedua orang tuanya
- أُفٍّuffincih
- لَكُمَاlakumaabagi kalian berdua
- أَتَعِدَانِنِيa-ta'idaaniniiapakah kalian berdua menjanjikanku
- أَنْanbahwa
- أُخْرَجَukhrajadikeluarkan
- وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
- خَلَتِkhalatitelah berlalu
- الْقُرُونُl-quruunugenerasi-generasi
- مِنْmindari
- قَبْلِيqabliisebelumku
- وَهُمَاwa-humaadan keduanya
- يَسْتَغِيثَانِyastaghiitsaanikeduanya memohon pertolongan
- اللَّهَllaahaAllah
- وَيْلَكَwaylakacelaka engkau
- آمِنْaaminberimanlah
- إِنَّinnasesungguhnya
- وَعْدَwa'dajanji
- اللَّهِllaahiAllah
- حَقٌّhaqqunbenar
- فَيَقُولُfa-yaquulumaka ia berkata
- مَاmaatidaklah
- هَٰذَاhaadzaaini
- إِلَّاillaakecuali
- أَسَاطِيرُasaathiirudongeng-dongeng
- الْأَوَّلِينَl-awwaliinaorang-orang terdahulu
Inti bacaan
Kata (أُفٍّ, uffin) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 17:23, 21:67, dan 46:17.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ, wa-lladzii qaala li-waalidayhi) yang berarti "dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya". Kata penghubung (الَّذِي, lladzii) berbentuk tunggal laki-laki, sedangkan 46:16 dan 46:18 memakai bentuk jamak (الَّذِينَ, lladziina). Kata (قَالَ, qaala) berakar ق-و-ل dan memakai bentuk selesai. Kata (لِوَالِدَيْهِ, li-waalidayhi) berakar و-ل-د, berbentuk dua, dengan huruf li yang berarti "kepada" dan akhiran -hi yang berarti "-nya". Bentuk waalidayhi dengan huruf bi di depannya ada di 19:14, 29:8, 31:14, dan 46:15, sedangkan dengan huruf li hanya di 46:17.
Kata (أُفٍّ, uffin) berakar أ-ف-ف dan muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 17:23, 21:67, dan 46:17. Morfologi menandainya sebagai kata benda tak tentu tanpa kata kerja di depannya, jadi kata itu berdiri sebagai seruan. Di 17:23 seruan itu dilarang diucapkan kepada orang tua, (فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ, fa-laa taqul lahumaa uffin) yang berarti "maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya" kata itu, dan ayat yang sama memerintahkan lawannya, (وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا, wa-qul lahumaa qawlan kariiman) yang berarti "dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia". Di 21:67, (أُفٍّ لَكُمْ, uffin lakum) ditujukan kepada kaum yang menyembah selain Allah. Di 46:17 kata itu bersambung dengan (لَكُمَا, lakumaa) yang berarti "bagi kalian berdua", bentuk dua yang oleh morfologi ditandai orang kedua. Karena akar ini hanya punya tiga kemunculan dan ketiganya berupa seruan, maknanya ditarik dari lawannya di 17:23, yaitu perkataan yang mulia. Terjemahan memakai "cih" sebagai seruan yang tidak membawa alasan apa pun.
Kata (أَتَعِدَانِنِي, a-ta'idaaninii) yang berarti "apakah kalian berdua menjanjikanku" memuat huruf tanya a di depan, yang oleh morfologi ditandai sebagai penanda pertanyaan, lalu kata kerja dari akar و-ع-د dengan akhiran dua, dan akhiran -nii yang berarti "aku". Frasa (أَنْ أُخْرَجَ, an ukhraja) yang berarti "bahwa aku akan dikeluarkan" memuat kata kerja pasif bentuk keempat dari akar خ-ر-ج, dan bentuk persis ini hanya ada di 46:17. Pasangan menjanjikan dan dikeluarkan muncul bersama di 23:35, (أَيَعِدُكُمْ, a-ya'idukum) yang berarti "apakah dia menjanjikan kepada kalian" disusul (مُخْرَجُونَ, mukhrajuuna) yang berarti "dikeluarkan", dan bentuk mukhrajuuna ada juga di 27:67. Di 23:35 isi yang dijanjikan dirinci, yaitu sesudah mati dan menjadi tanah serta tulang belulang. Di 46:17 rincian itu tidak ditulis, sehingga dari mana si anak dikeluarkan tidak dinyatakan, dan terjemahan memakai "dikeluarkan" tanpa tambahan.
Frasa (وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي, wa-qad khalati l-quruunu min qablii) yang berarti "padahal generasi-generasi sebelumku telah berlalu" memuat kata kerja (خَلَتِ, khalati) berakar خ-ل-و yang berarti "telah berlalu", dan (الْقُرُونُ, l-quruunu) berakar ق-ر-ن yang berarti "generasi-generasi". Bentuk persis l-quruunu hanya di 46:17. Bentuk yang berbeda harakatnya, (الْقُرُونَ, l-quruuna), ada di 10:13 dan 28:43, dan di kedua ayat itu generasi menjadi objek kata kerja, (أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ, ahlaknaa l-quruuna) yang berarti "Kami telah membinasakan generasi-generasi". Di 46:17 generasi menjadi pelaku, dan kata kerjanya khalati dipakai si anak sebagai alasan.
Frasa (وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ, wa-humaa yastaghiitsaani llaaha) yang berarti "sedang keduanya memohon pertolongan kepada Allah" memuat kata ganti (هُمَا, humaa) yang berarti "keduanya" dan kata kerja bentuk kesepuluh dari akar غ-و-ث. Bentuk kesepuluh akar ini ada di empat ayat, yaitu 8:9, 18:29, 28:15, dan 46:17. Di 8:9, (تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ, tastaghiitsuuna rabbakum) yang berarti "kalian memohon pertolongan kepada Tuhan kalian", yang dimintai ditulis langsung sesudah kata kerja tanpa huruf penyambung, dan susunan yang sama dipakai di 46:17 dengan Allah. Terjemahan memakai "memohon pertolongan kepada" di kedua ayat. Isi permohonan di 46:17 tidak ditulis.
Frasa (وَيْلَكَ آمِنْ, waylaka aamin) yang berarti "celakalah engkau, berimanlah" memuat (وَيْلَكَ, waylaka), yaitu seruan wayl dengan akhiran -ka yang berarti "engkau" tunggal; korpus tidak memberi akar untuk wayl. Dengan akhiran jamak, (وَيْلَكُمْ, waylakum), seruan ini ada di 20:61 dan 28:80, diucapkan oleh Musa di 20:61 dan oleh orang-orang yang dianugerahi ilmu di 28:80, dan di kedua ayat itu langsung disusul larangan atau pernyataan tentang yang lebih baik. Di 46:17 seruan itu disusul (آمِنْ, aamin) yang berarti "berimanlah", bentuk perintah tunggal dari akar أ-م-ن bentuk keempat, dan bentuk persis ini hanya di 46:17. Perintah tunggal berarti yang diseru satu orang, sedangkan yang berbicara dua.
Kalimat (إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ, inna wa'da llaahi haqqun) yang berarti "sesungguhnya janji Allah benar" ada delapan kali di tujuh surah, yaitu 10:55, 30:60, 31:33, 35:5, 40:55, 40:77, 45:32, dan 46:17. Surah 40 memuatnya dua kali, dan itu sebab delapan dan tujuh berbeda. Di 30:60, 40:55, dan 40:77 kalimat itu didahului (فَاصْبِرْ, fa-shbir) yang berarti "maka bersabarlah", dan di 31:33 disusul (فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا, fa-laa taghurrannakumu l-hayaatu d-dunyaa) yang berarti "maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kalian". Di 45:32 kalimat itu diucapkan kepada orang-orang yang menjawab dengan keraguan, dan di 46:17 diucapkan oleh kedua orang tua kepada anak yang menolak. Kata (حَقٌّ, haqqun) berakar ح-ق-ق dan diterjemahkan "benar".
Kata (فَيَقُولُ, fa-yaquulu) yang berarti "lalu ia berkata" memakai bentuk sedang berlangsung dari akar yang sama dengan qaala di awal ayat, sedangkan qaala memakai bentuk selesai. Terjemahan memakai "berkata" di keduanya karena ayat tidak memuat kata untuk berulang-ulang. Jawaban si anak, (مَا هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ, maa haadzaa illaa asaathiiru l-awwaliina), berarti "ini tidak lain dari dongeng orang-orang terdahulu". Rumus (مَا هَٰذَا إِلَّا, maa haadzaa illaa) ada lima kali di empat surah, yaitu 23:24, 23:33, 28:36, 34:43, dan 46:17, dan di kelimanya diucapkan oleh orang-orang yang menolak. Kata (أَسَاطِيرُ, asaathiiru) berakar س-ط-ر dan bersama (الْأَوَّلِينَ, l-awwaliina) yang berakar أ-و-ل membentuk sebutan yang muncul sembilan kali di sembilan surah, yaitu 6:25, 8:31, 16:24, 23:83, 25:5, 27:68, 46:17, 68:15, dan 83:13, selalu dalam ucapan orang yang menolak. Di 23:83 dan 27:68 sebutan itu menyusul (لَقَدْ وُعِدْنَا, la-qad wu'idnaa) yang berarti "sungguh telah dijanjikan kepada kami", jadi kata janji dan sebutan dongeng bertemu di tiga ayat, yaitu 23:83, 27:68, dan 46:17.
Tafsiran
Ayat ini menaruh tiga ucapan dalam satu kalimat panjang: seruan seorang anak kepada kedua orang tuanya, permohonan kedua orang tua itu kepada Allah disertai seruan kepada si anak, dan jawaban si anak. Urutannya mengikuti sebuah percakapan yang tidak selesai. Si anak berbicara lebih dulu, kedua orang tua menjawab dalam keadaan yang menyertai, dan si anak menutup percakapan dengan satu penilaian.
Ayat 46:15 dan 46:17 memakai bentuk dua yang sama, waalidayhi, tetapi membawa kata yang berlawanan. Di 46:15 manusia diwasiatkan berbuat baik kepada kedua orang tuanya, dan di 46:17 seorang anak mengucapkan seruan jengkel kepada kedua orang tuanya. Dua kutub itu sudah berdampingan dalam satu ayat di 17:23, (وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا, wa-bi-l-waalidayni ihsaanan) yang berarti "dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua", lalu disusul larangan atas seruan jengkel tadi. Ayat 46:15 mewakili kutub pertama dan 46:17 mewakili kutub kedua.
Si anak menjawab dengan dua hal. Pertama, kata janji dipakainya untuk apa yang menurutnya diajukan kedua orang tuanya, sedangkan kedua orang tua menyebutnya janji Allah. Kedua, alasannya ialah generasi-generasi yang telah berlalu, dan alasan itu kembali di ayat berikutnya. Ayat 46:18 memakai kata kerja yang sama, (قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ, qad khalat min qablihim) yang berarti "telah berlalu sebelum mereka", untuk umat-umat yang menjadi tempat orang-orang seperti si anak ditaruh. Kata kerjanya sama, tetapi 46:17 tidak menghubungkannya dengan ayat berikut dan 46:18 tidak menyebut si anak.
Kalimat yang diucapkan kedua orang tua juga ada di 31:33, dan di sana kalimat itu mengikuti, dalam ayat yang sama, penyebutan hari ketika seorang ayah tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat menolong ayahnya. Konteks kedua ayat berbeda dan keduanya tidak saling menafsirkan. Di 46:17 kalimat itu diucapkan orang tua yang sedang tidak didengar, dan di 31:33 dalam seruan kepada seluruh manusia.
Dalam alur surah, 46:16 menyebut kelompok yang diterima amalnya dan dilewati keburukannya, lalu 46:17 menyajikan satu orang yang menolak, dan 46:18 menyebut kelompok yang dikenai ketetapan. Siapa anak itu dan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya sesudahnya tidak ditulis di ayat ini.
Renungan dan Hikmah
- Anak dalam ayat ini membuka dengan satu seruan jengkel sebelum satu alasan pun diucapkan. Ayat 17:23 menyebut seruan sekecil itu dalam larangannya, di ayat yang dibuka dengan penetapan Tuhanmu agar tidak menyembah selain Dia dan agar berbuat baik kepada kedua orang tua. Pembaca yang pernah menjawab nasihat orang tuanya dengan helaan napas atau dengusan dapat melihat bahwa bunyi pertama itu sudah menentukan arah percakapan sebelum isi nasihat sempat didengar. Isi nasihat dan nada jawaban berjalan di dua jalur, dan ayat ini mencatat jalur yang pertama kali terdengar. Apa yang keluar dari mulut pembaca pada detik pertama ketika orang tuanya menyampaikan sesuatu yang tidak ingin didengar?
- Kata janji dalam ayat ini dipakai dua mulut dengan arah berbeda. Anak itu memakainya untuk apa yang menurutnya diajukan kedua orang tuanya kepadanya, sedangkan kedua orang tua memakainya untuk apa yang dipegang Allah. Satu akar kata, dua pendengar. Pembaca yang menerima sebuah kabar tentang hari esok dapat memeriksa dirinya sendiri: kabar itu terdengar sebagai pemberian dari Dia yang menjanjikan, atau sebagai tagihan dari orang yang menyampaikannya? Kabar yang sama dapat dibaca sebagai tanggungan pemberinya atau sebagai beban penyampainya, dan ayat ini menaruh keduanya berdampingan dalam satu kalimat. Dari pihak mana pembaca mendengar sebuah janji, dan pernahkah hal itu ditanyakan kepada dirinya sendiri?
- Alasan si anak ialah bahwa generasi-generasi sebelumnya telah berlalu. Ayat tidak mencatat bahwa anak itu melihat seseorang kembali, dan juga tidak mencatat bahwa ia melihat seseorang tidak kembali. Anak itu hanya menyebut bahwa mereka telah berlalu. Bentuk alasan ini dapat dikenali: sesuatu yang belum pernah disaksikan dijadikan dasar bahwa sesuatu itu tidak akan terjadi. Pembaca dapat bertanya, hal apa dalam hidupnya yang disebut mustahil hanya karena belum pernah dilihatnya, dan apakah hal itu pernah disebut sebagai janji oleh seseorang yang ia percayai?
- Tentang kedua orang tua, ayat ini mencatat bahwa mereka memohon pertolongan kepada Allah, lalu berseru kepada anaknya. Isi permohonan mereka tidak ditulis, dan ayat tidak mengatakan apakah anak itu mendengarnya. Pembaca yang pernah ditolak nasihatnya oleh orang yang disayanginya mengenal saat ketika kata-kata telah habis dan perkara itu hanya dapat diserahkan kepada pihak yang lebih sanggup mengubah hati. Ayat ini menaruh Allah pada titik itu, sebagai pihak yang dimintai pertolongan oleh dua orang yang tak lagi didengar. Apakah nasihat yang tak sampai itu sudah dititipkan juga kepada Dia, dan bagaimana rasanya menitipkan sesuatu tanpa melihat jawabannya?
- Orang tua dalam ayat ini mengucapkan seruan keras dan perintah berimanlah dalam satu napas. Seruan serupa di 20:61 dan 28:80 juga diucapkan oleh pihak yang menasihati dan langsung disusul kalimat tentang yang lebih baik. Nada keras dan isi ajakan dapat berjalan berdampingan, padahal pembaca terbiasa menilai sebuah nasihat dari nadanya lebih dulu. Jawaban si anak menilai isi kabar dan tidak menjawab ajakan berimanlah yang ditujukan kepadanya. Seberapa sering sebuah ajakan dijawab dengan penilaian atas bahan pembicaraannya, sehingga ajakan itu sendiri tidak pernah mendapat jawaban?
- Jawaban terakhir si anak memakai sebutan yang muncul sembilan kali di sembilan surah dalam ucapan orang yang menolak. Sebutan itu menaruh sebuah kabar di rak cerita lama tanpa menyebut isinya. Pembaca yang menolak sebuah ajaran dapat memperhatikan nama yang diberikannya: bila nama itu menjelaskan isinya, penimbangan sedang berjalan, tetapi bila nama itu hanya menunjuk umurnya atau asalnya, penimbangan belum dimulai. Ayat ini menaruh nama itu berhadapan dengan pernyataan bahwa janji Allah benar, sehingga yang satu menyebut kebenaran dan yang lain menyebut umur. Nama apa yang pembaca berikan pada kabar dari Allah yang belum ingin dipikirkannya?