قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَأْفِكَنَا عَنْ آلِهَتِنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata, “Apakah engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari tuhan-tuhan kami? Maka, datangkanlah kepada kami apa yang engkau janjikan kepada kami, jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. أَجِئْتَنَا لِتَأْفِكَنَا عَنْ آلِهَتِنَاa-ji'tanaa li-ta'fikanaa 'an aalihatinaaapakah engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari tuhan-tuhan kami
  3. فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَfa-tinaa bi-maa ta'idunaa in kunta mina sh-shaadiqiinamaka, datangkanlah kepada kami apa yang engkau janjikan kepada kami, jika engkau termasuk orang-orang yang benar

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. أَجِئْتَنَاa-ji'tanaaapakah engkau datang kepada kami
  3. لِتَأْفِكَنَاli-ta'fikanaaagar engkau memalingkan kami
  4. عَنْ'andari
  5. آلِهَتِنَاaalihatinaatuhan-tuhan kami
  6. فَأْتِنَاfa-tinaamaka datangkanlah kepada kami
  7. بِمَاbi-maaapa yang
  8. تَعِدُنَاta'idunaaengkau janjikan kepada kami
  9. إِنْinjika
  10. كُنْتَkuntaengkau adalah
  11. مِنَminadari
  12. الصَّادِقِينَsh-shaadiqiinaorang-orang yang benar

Inti bacaan

Kalimat (فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا, fa-tinaa bimaa ta'idunaa) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:70, 11:32, dan 46:22.

Penjelasan pilihan kata

Ucapan kaum itu dibuka dengan pertanyaan (أَجِئْتَنَا, a-ji'tanaa) yang berarti "apakah engkau datang kepada kami". Kata ini tersusun dari huruf tanya (أَ, a), kata kerja (جِئْتَ, ji'ta) yang berarti "engkau datang" dan berakar ج-ي-ء, serta akhiran (نَا, -naa) yang berarti "kepada kami". Terjemahan menuliskan "kepada kami" seutuhnya. Bentuk persis a-ji'tanaa muncul lima kali, yaitu di 7:70, 10:78, 20:57, 21:55, dan 46:22, dan tiap kali diucapkan kepada orang yang baru saja berbicara kepada mereka. Di 7:70 penerimanya saudara Ad yang disebut di 7:65, di 10:78 dan 20:57 Musa, dengan sapaan (يَا مُوسَىٰ, yaa muusaa) "wahai Musa" di 20:57, dan di 21:55 Ibrahim yang disebut di 21:51.

Di empat dari lima ayat itu pertanyaannya disambung huruf (لِ, li-) yang berarti "untuk", lalu kata kerja yang menyebut maksud kedatangan menurut si penanya: (لِنَعْبُدَ, li-na'buda) di 7:70, (لِتَلْفِتَنَا, li-talfitanaa) di 10:78, (لِتُخْرِجَنَا, li-tukhrijanaa) di 20:57, dan (لِتَأْفِكَنَا, li-ta'fikanaa) di 46:22. Satu ayat sisanya, 21:55, memakai (بِالْحَقِّ, bi-l-haqqi) yang berarti "dengan kebenaran". Maksud kedatangan itu dirumuskan oleh pihak yang bertanya, tidak oleh orang yang datang.

Kata (لِتَأْفِكَنَا, li-ta'fikanaa) yang berarti "untuk memalingkan kami" memakai kata kerja (تَأْفِكَ, ta'fika) "engkau memalingkan" dari akar أ-ف-ك, dan bentuk persis ini hanya ada di 46:22. Akar yang sama muncul sebagai kata kerja pasif di 51:9, (يُؤْفَكُ, yu'faku) dan (أُفِكَ, ufika), yang berarti "dipalingkan", dan di 5:75, (يُؤْفَكُونَ, yu'fakuuna) yang berarti "mereka dipalingkan". Di kedua tempat itu pelaku yang memalingkan tidak disebut. Di 46:22 pelakunya ditunjuk langsung dengan kata "engkau".

Tujuan pemalingan itu disebut dengan (عَنْ آلِهَتِنَا, 'an aalihatinaa) yang berarti "dari tuhan-tuhan kami". Kata (عَنْ, 'an) berarti "dari", (آلِهَتِ, aalihati) adalah bentuk jamak dari (إِلَٰه, ilaah) "tuhan" yang berakar أ-ل-ه, dan (نَا, -naa) berarti "kami". Frasa lengkapnya muncul dua kali, yaitu di 25:42 dan 46:22. Kata (آلِهَتِنَا, aalihatinaa) sendiri muncul tujuh kali di lima surah, yaitu 11:53, 11:54, 21:59, 21:62, 25:42, 37:36, dan 46:22, dan di setiap tempat itu pihak yang sedang berbicara menyebut tuhan-tuhan itu sebagai miliknya sendiri. Dua di antaranya, 11:53 dan 11:54, diucapkan kepada Hud, dengan sapaan (يَا هُودُ, yaa huudu) "wahai Hud" di 11:53.

Tuntutannya berbunyi (فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا, fa-tinaa bimaa ta'idunaa) yang berarti "maka datangkanlah kepada kami apa yang engkau janjikan kepada kami". Kalimat utuh ini muncul tiga kali, yaitu di 7:70, 11:32, dan 46:22. Bagian (بِمَا تَعِدُنَا, bimaa ta'idunaa) muncul empat kali, yaitu 7:70, 7:77, 11:32, dan 46:22, dan di 11:32 serta 7:77 tuntutan itu disertai sapaan (يَا نُوحُ, yaa nuuhu) "wahai Nuh" dan (يَا صَالِحُ, yaa shaalihu) "wahai Saleh". Kata kerja (تَعِدُنَا, ta'idunaa) berakar و-ع-د, akar janji. Di 46:21 orang yang memperingatkan hanya menyatakan kekhawatiran, sedangkan kaumnya memakai kata "janji". Ayat tidak menyebut apa yang dimaksud dengan "apa yang engkau janjikan"; letaknya sesudah 46:21 membuat hari yang agung itu bacaan yang wajar.

Tuntutan itu ditutup syarat (إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ, in kunta mina sh-shaadiqiina) yang berarti "jika engkau termasuk orang-orang yang benar". Kata (الصَّادِقِينَ, sh-shaadiqiina) berakar ص-د-ق, dan syarat ini muncul sembilan kali di enam surah, yaitu 7:70, 7:106, 11:32, 15:7, 26:31, 26:154, 26:187, 29:29, dan 46:22, dengan surah 7 memuatnya dua kali dan surah 26 tiga kali. Di kesembilan ayat itu kebenaran orang yang diajak bicara digantungkan pada sesuatu yang harus didatangkan atau ditunjukkannya: tanda di 7:106 dan 26:154, sesuatu yang jelas di 26:31, malaikat di 15:7, kepingan dari langit di 26:187, azab Allah di 29:29, dan "apa yang engkau janjikan" di 7:70, 11:32, dan 46:22.

Tafsiran

Ayat ini mencatat ucapan kaum itu yang pertama dalam kisah ini, dan ucapan itu terdiri dari satu pertanyaan serta satu tuntutan. Pertanyaannya menggambarkan maksud kedatangan orang yang memperingatkan menurut mereka, yaitu memalingkan mereka dari tuhan-tuhan mereka. Tuntutannya meminta sesuatu didatangkan sebagai bukti. Keduanya menjawab dua bagian 46:21: larangan mengabdi kepada selain Allah mereka dengar sebagai usaha memalingkan, dan kekhawatiran tentang hari yang agung mereka ubah menjadi sesuatu yang harus didatangkan.

Ayat ini tidak memuat alasan mengapa tuhan-tuhan itu layak dipertahankan. Ayat yang paling dekat bunyinya, 7:70, memuat alasan: mereka menyebut (وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا, wa-nadzara maa kaana ya'budu aabaa'unaa) yang berarti "dan meninggalkan apa yang dahulu diabdi bapak-bapak kami". Di 11:53 mereka menyatakan tidak mau meninggalkan tuhan-tuhan mereka karena ucapan Hud. Di 46:22 tidak ada bapak-bapak dan tidak ada ucapan yang dikutip sebagai alasan. Alasannya diganti kepemilikan, "tuhan-tuhan kami".

Nama Allah tidak muncul dalam ucapan mereka, padahal larangan di 46:21 berakhir pada nama itu. Kaum yang sama di 7:70 menyebut nama itu ketika mengutip ajakan, (لِنَعْبُدَ اللَّهَ, li-na'buda llaaha) yang berarti "agar kami mengabdi kepada Allah". Di 46:22 nama itu tidak ada, dan pertanyaan mereka langsung menyebut tuhan-tuhan mereka.

Pergantian pembicara juga terlihat di sini. Sampai awal 46:22 satu orang berbicara, kemudian kata kerja jamak (قَالُوا, qaaluu) membuka suara kaumnya, sementara sapaan mereka tetap tunggal: "engkau". Kaum itu berbicara bersama-sama kepada satu orang. Jawaban orang itu tertulis di 46:23, dan jawabannya tidak menerima syarat di ujung 46:22.

Renungan dan Hikmah

  • Pertanyaan kaum itu menyebut maksud kedatangan orang yang memperingatkan, yaitu memalingkan mereka dari tuhan-tuhan mereka, padahal orang itu sendiri sudah mengucapkan maksudnya di 46:21 dengan kata yang lain. Larangan mengabdi kepada selain Allah mereka tangkap sebagai upaya memalingkan mereka dari sesuatu yang mereka miliki. Pola yang sama dapat dikenali dalam percakapan pembaca sendiri: kata-kata seseorang disusun ulang menjadi niat yang tidak diucapkannya, lalu jawabannya diberikan kepada niat itu. Kapan terakhir pembaca menjawab maksud yang ditafsirkannya sendiri dan melewatkan kalimat yang sebenarnya diucapkan lawan bicaranya?
  • Larangan di 46:21 berakhir pada nama Allah, tetapi ucapan kaum itu di 46:22 tidak memuat nama itu sama sekali. Mereka menyebut tuhan-tuhan kami, bentuk yang di tujuh ayat selalu diucapkan oleh pemiliknya sendiri. Dalam ucapan tentang pengabdian itu kata kepemilikan "kami" hadir, sedangkan nama yang disebut pada larangan tidak hadir. Pembaca dapat memperhatikan kata apa yang paling sering dipakainya ketika membela sesuatu yang diabdinya, dan apakah nama Allah muncul di sana atau digantikan oleh kata "milikku", "keluargaku", dan "kebiasaanku"?
  • Orang yang memperingatkan berkata "aku khawatir", sedangkan kaumnya menyebut hal yang dikhawatirkannya sebagai apa yang dijanjikannya. Kata janji dapat dibaca memindahkan beban, seakan-akan orang itu berhutang sesuatu yang harus didatangkannya sendiri. Padahal 46:23 menunjuk bahwa ilmu hanya ada pada Allah, dan orang itu tidak mengaku memegang ilmu itu. Menagih seperti ini memperlakukan kekhawatiran orang lain sebagai kontrak, yang dianggap batal bila isinya belum datang. Adakah peringatan yang pernah pembaca anggap kosong hanya karena penyampainya tidak sanggup mendatangkan buktinya pada hari bukti itu diminta?
  • Bila yang diminta di 46:22 adalah hal yang dikhawatirkan di 46:21, maka bukti yang mereka tuntut berupa bahaya bagi diri mereka sendiri. Di 29:29 tuntutan yang sama diucapkan dengan lebih terang, "datangkanlah kepada kami azab Allah", dan 26:187 meminta kepingan dari langit jatuh. Dalam ayat-ayat itu kebenaran orang yang diajak bicara diukur dari akibat yang menimpa penuntutnya. Pembaca dapat bertanya, dalam urusan apa bukti yang dituntutnya akan merugikan dirinya bila terbukti, dan apakah ada ukuran lain yang bisa dipakai sebelum bukti itu tiba?
  • Ayat ini tidak mengutip satu pun alasan mengapa tuhan-tuhan itu patut dipertahankan. Alasannya diganti kata "kami" yang menempel pada kata tuhan. Di 7:70 kaum itu masih menyebut bapak-bapak sebagai dasar, dan di 46:22 dasar itu tidak dikutip, sehingga yang tertulis hanya rasa memiliki. Pembaca dapat membandingkan seberapa banyak argumen dan seberapa banyak kepemilikan dalam pembelaannya terhadap hal yang dipegangnya erat, misalnya keyakinan, kebiasaan, atau pekerjaan. Bila argumennya diminta satu per satu, apakah pembaca masih punya sesuatu untuk disebutkan selain kata "milikku"?
  • Kalimat pertama kaum itu berbentuk pertanyaan, tetapi isinya sudah memuat putusan: kedatanganmu bermaksud memalingkan kami. Kalimat kedua baru datang dengan kata maka, sebagai tuntutan yang sepenuhnya bergantung pada putusan di kalimat pertama. Susunan ini dapat dibaca sebagai percakapan yang sudah tertutup di pihak penanya, sebab pertanyaannya tidak membuka ruang bagi jawaban lain. Pembaca dapat menandai pertanyaannya sendiri yang bentuknya tanya namun isinya putusan. Berapa banyak di antaranya yang benar-benar menunggu jawaban?