فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka, ketika mereka melihatnya berupa awan yang menuju lembah-lembah mereka, mereka berkata, “Ini awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.” Bahkan itu apa yang kalian minta agar disegerakan: angin yang mengandung azab yang pedih,

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْfa-lammaa ra'awhu 'aaridhan mustaqbila awdiyatihimmaka, ketika mereka melihatnya berupa awan yang menuju lembah-lembah mereka
  2. قَالُواqaaluumereka berkata
  3. هَٰذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَاhaadzaa 'aaridhun mumthirunaaini awan yang akan menurunkan hujan kepada kita
  4. بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِbal huwa maa sta'jaltum bihibahkan itu apa yang kalian minta agar disegerakan
  5. رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌriihun fiihaa 'adzaabun aliimunangin yang mengandung azab yang pedih

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
  2. رَأَوْهُra'awhumereka melihatnya
  3. عَارِضًا'aaridhanawan
  4. مُسْتَقْبِلَmustaqbilayang menuju
  5. أَوْدِيَتِهِمْawdiyatihimlembah-lembah mereka
  6. قَالُواqaaluumereka berkata
  7. هَٰذَاhaadzaaini
  8. عَارِضٌ'aaridhunawan
  9. مُمْطِرُنَاmumthirunaayang membawa hujan kepada kami
  10. بَلْbalbahkan
  11. هُوَhuwaitu
  12. مَاmaaapa yang
  13. اسْتَعْجَلْتُمْsta'jaltumkalian minta disegerakan
  14. بِهِbihipadanya
  15. رِيحٌriihunangin
  16. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  17. عَذَابٌ'adzaabunazab
  18. أَلِيمٌaliimunyang pedih

Inti bacaan

Kata (عَارِضًا, 'aaridhan) dan (عَارِضٌ, 'aaridhun) muncul dua kali di Al-Qur'an, keduanya di 46:24.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَلَمَّا رَأَوْهُ, fa-lammaa ra'awhu) yang berarti "maka ketika mereka melihatnya". Awalan (فَ, fa) berarti "maka", (لَمَّا, lammaa) berarti "ketika", (رَأَوْ, ra'aw) berarti "mereka melihat" dan berakar ر-أ-ي, dan akhiran (هُ, -hu) berarti "-nya". Rangkaian ini muncul dua kali, yaitu di 46:24 dan 67:27. Di 67:27 benda yang dilihat disebut (زُلْفَةً, zulfatan) yang berarti "sudah dekat", dan di 46:24 benda itu disebut (عَارِضًا, 'aaridhan).

Kata (عَارِضًا, 'aaridhan) yang dalam terjemahan menjadi "berupa awan" muncul sekali di 46:24, dan (عَارِضٌ, 'aaridhun) pada ucapan kaum itu muncul sekali juga; keduanya hanya ada di ayat ini. Data morfologi menandainya sebagai kata dari akar ع-ر-ض, akar yang ada di tujuh puluh dua ayat. Arti "awan" tidak datang dari kata ini sendiri, karena tidak ada ayat lain yang memakainya dan tidak ada keterangan di ayat ini yang menyebut isinya. Pilihan "awan" dibaca dari kata-kata di sekelilingnya: benda itu menuju lembah dan kaum itu menyebutnya pembawa hujan. Kata (سَحَابًا, sahaaban), yang dipakai antara lain di 7:57, 30:48, dan 35:9, menyebut awan secara langsung dan tidak dipakai di ayat ini.

Kata (مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ, mustaqbila awdiyatihim) yang berarti "yang menuju lembah-lembah mereka" tersusun dari (مُسْتَقْبِلَ, mustaqbila), kata dari akar ق-ب-ل, dan (أَوْدِيَتِهِمْ, awdiyatihim), bentuk jamak "lembah-lembah" dengan akhiran (هِمْ, -him) "mereka". Kata mustaqbila hanya ada di ayat ini, sehingga terjemahan "menuju" dibaca dari kata sesudahnya, yaitu lembah-lembah mereka. Bentuk jamak lembah muncul dua kali, yaitu di 13:17 dan 46:24, dan di 13:17 (أَوْدِيَةٌ, awdiyatun) disebut bersama air dari langit: "lalu mengalirlah lembah-lembah sesuai ukurannya".

Ucapan kaum itu memakai (مُمْطِرُنَا, mumthirunaa) yang berarti "yang akan menurunkan hujan kepada kita". Kata ini berakar م-ط-ر dan berasal dari kata kerja yang berarti menjatuhkan hujan. Kata "akan" dalam terjemahan tidak punya kata Arab tersendiri, dan dipakai karena pada saat itu hujannya belum turun. Kata kerja dari bentuk yang sama muncul di tujuh ayat lain, yaitu 7:84, 8:32, 11:82, 15:74, 25:40, 26:173, dan 27:58, dengan (أَمْطَرْنَا, amtharnaa) "Kami menghujani" di 7:84, 11:82, 15:74, 26:173, dan 27:58, (فَأَمْطِرْ, fa-amthir) "hujanilah" di 8:32, dan (أُمْطِرَتْ, umthirat) "dijatuhi hujan" di 25:40. Di ketujuhnya yang jatuh adalah hukuman: batu di 8:32, 11:82, dan 15:74, hujan yang disebut buruk di 25:40, 26:173, dan 27:58, dan di 7:84 ayatnya berlanjut dengan akibat orang-orang yang berdosa. Kaum di 46:24 memakai kata dari keluarga ini untuk hal yang mereka harapkan.

Bagian (مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ, maa sta'jaltum bihi) yang berarti "apa yang kalian minta agar disegerakan" memakai kata kerja dari akar ع-ج-ل. Bentuk lampau (اسْتَعْجَلْتُمْ, sta'jaltum) hanya ada di 46:24. Bentuk yang sedang berlangsung, (تَسْتَعْجِلُونَ, tasta'jiluuna), muncul enam kali, yaitu di 6:57, 6:58, 10:51, 27:46, 27:72, dan 51:14. Di 10:51 dan 51:14 bunyinya sama, (كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ, kuntum bihi tasta'jiluuna) yang berarti "kalian dahulu meminta agar ia disegerakan", dan di 51:14 ucapan itu dialamatkan kepada orang yang sedang merasakan cobaannya. Awal bagian ini, (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan", menolak bacaan kaum itu, dan kata ganti (هُوَ, huwa) menunjuk benda yang tadi disebut (عَارِضٌ, 'aaridhun). Kata kerja "berkata" tidak ditulis sebelum bagian ini, dan penuturnya tidak disebut. Sapaan "kalian" menunjukkan bahwa bagian ini diarahkan kepada mereka.

Ayat ditutup dengan (رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ, riihun fiihaa 'adzaabun aliimun) yang berarti "angin yang di dalamnya ada azab yang pedih". Kata (رِيحٌ, riihun) berakar ر-و-ح dan menyebut angin. Pada kaum Ad angin disebut di lima ayat, yaitu 41:16, 46:24, 51:41, 54:19, dan 69:6, dengan bentuk (رِيحًا, riihan) di 41:16 dan 54:19, (الرِّيحَ, ar-riiha) di 51:41, dan (بِرِيحٍ, bi-riihin) di 69:6. Bentuk jamaknya, (الرِّيَاحَ, r-riyaaha), menyebut angin yang dikirim sebagai kabar gembira sebelum rahmat di 7:57, 25:48, 27:63, dan 30:46. Terjemahan menuliskan (فِيهَا, fiihaa) "di dalamnya", dengan akhiran (هَا, -haa) yang menunjuk angin itu.

Tafsiran

Ayat ini memuat pembacaan yang keliru dan koreksinya dalam satu ayat. Kaum itu melihat sesuatu, memberinya nama, lalu nama itu dibalas dengan nama lain sebelum ayat selesai. Urutannya adalah penglihatan, ucapan mereka, bantahan, dan isi yang sebenarnya. Pendengar membaca kekeliruan itu di tengah ayat, saat benda yang sama sudah disebut dua kali dengan dua nama, "awan" dan "angin".

Hubungan dengan 46:22 dapat dibaca di sini. Di sana kaum itu menuntut agar didatangkan apa yang dijanjikan. Di 46:24 bagian bantahan menyebut hal itu sebagai apa yang mereka "minta agar disegerakan". Tuntutan yang di 46:22 berbunyi seperti ujian bagi kebenaran seseorang ternyata diberi nama lain di 46:24, yaitu permintaan agar azab datang lebih cepat. Ayat tidak menyebut apakah mereka masih mengingat ucapan itu ketika melihat benda tersebut.

Pembanding paling dekat ada di 67:27. Rangkaian pembukanya sama, fa-lammaa ra'awhu, dan di sana benda yang dilihat disebut dekat, wajah orang-orang yang kufur menjadi muram, lalu dikatakan bahwa itu yang dahulu mereka minta. Konteks kedua ayat berbeda, sebab 67:27 tidak menyebut Ad. Di 46:24 kaum itu sendiri yang lebih dulu memberi nama pada benda yang dilihat, dan namanya keliru. Di 67:27 keterangan tentang benda itu datang dari ucapan yang ditujukan kepada mereka sesudah mereka melihatnya.

Bagi urutan kisah, ayat ini menjawab 46:21 sampai 46:23. Peringatan tentang hari yang agung, tuntutan, dan jawaban "ilmu hanya pada Allah" kini diikuti peristiwa. Ayat ini tidak menyebut berapa lama jarak antara penglihatan dan kedatangan angin. Terjemahan ayat ini berhenti dengan koma, dan 46:25 melanjutkan kalimat yang sama: angin itu menghancurkan segala sesuatu.

Renungan dan Hikmah

  • Kaum itu memberi nama pada apa yang mereka lihat sebelum ada yang menjelaskannya, dan nama itu lahir dari apa yang mereka harapkan. Pembacaan itu punya dasar di luar harapan mereka: di 7:57 Dialah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira sebelum rahmat-Nya, dan di 30:48 angin menggerakkan awan sampai hujan keluar dari celah-celahnya. Bahan bacaan yang sama memang pernah membawa kabar baik, sehingga pembacaan mereka masuk akal dari luar. Pembaca dapat mengingat tanda dalam hidupnya yang dibacanya sesuai harapan karena tanda serupa pernah membawa kabar baik. Seberapa sering tanda itu diperiksa sebelum disambut?
  • Kata kerja dari keluarga yang dipakai kaum itu untuk berharap hujan muncul di tujuh ayat lain, dan di semuanya yang turun adalah hukuman. Di 8:32 kata kerjanya diucapkan oleh orang yang meminta kepada Allah hujan batu dari langit atau azab yang pedih. Kosakata harapan dan kosakata hukuman dapat berbagi satu akar. Orang yang memilih kata untuk menyebut apa yang dinantikannya tidak selalu tahu bahwa kata itu, di tempat lain, sudah dipakai untuk hal yang sama sekali berlainan. Pembaca dapat menelusuri kata-kata yang biasa dipakainya ketika menanti sesuatu, dan bertanya apakah kata itu pernah dipakai pula untuk hal yang dihindarinya.
  • Bantahan di ayat ini menyebut benda itu sebagai apa yang mereka minta agar disegerakan. Permintaan itu sudah diucapkan di 46:22, dan di 10:51 serta 51:14 permintaan semacam itu disebut kembali kepada orang-orang yang kini berhadapan dengan isinya. Kedatangan itu merupakan jawaban atas desakan yang sudah diucapkan lebih dulu. Pembaca dapat memeriksa permintaan yang diulang-ulangnya di masa lalu, misalnya desakan agar suatu keputusan segera datang. Apakah jawaban atas desakan itu pernah tiba pada saat pembaca sudah lupa memintanya?
  • Bagian akhir ayat menyebut angin dengan keterangan "di dalamnya", yaitu azab yang pedih. Dari luar, benda itu hanya tampak menuju lembah, dan isinya baru dinyatakan oleh ayat. Kaum itu menilai dari bentuk luar, sedangkan keputusan tentang isinya tidak berada pada mereka: ayat berikutnya menyebut angin itu menghancurkan dengan perintah Tuhannya. Pembaca dapat menandai hal-hal yang dinilainya dari bentuk luarnya saja, entah tawaran, kabar, atau orang, dan bertanya berapa banyak di antaranya yang isinya belum pernah diperiksanya.
  • Pembacaan kaum itu dikoreksi di ayat yang sama, tanpa jeda. Ayat tidak mencatat apakah ada yang sempat mendengar koreksi itu, dan tidak mencatat tanggapan mereka. Susunan ini mengingatkan bahwa koreksi tidak selalu datang lewat orang yang punya waktu untuk menjelaskan; kadang koreksi hanya hadir sebagai kalimat yang ditulis tepat sesudah kekeliruan. Pembaca dapat bertanya, kapan terakhir kali koreksi sampai kepadanya pada saat perubahan masih mungkin, dan apakah koreksi itu didengarnya sebagai koreksi atau sebagai gangguan?
  • Benda itu digambarkan menuju lembah-lembah mereka, wilayah milik mereka sendiri. Di 13:17 lembah-lembah disebut mengalir sesudah Dia menurunkan air dari langit, dan di 46:24 sesuatu yang menuju lembah-lembah membawa azab. Tempat yang dianggap aman karena biasa menerima kebaikan dari arah tertentu dapat berubah menjadi tidak aman bila yang datang dari arah itu berlainan. Pembaca dapat memikirkan tempat dalam hidupnya yang selama ini hanya menerima kebaikan dari satu arah. Apa yang akan dilakukan pembaca bila suatu hari yang tiba dari arah itu berbeda dari kebiasaan?