أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ ۚ بَلَىٰ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi serta tidak merasa letih karena menciptakannya, Dia kuasa untuk menghidupkan yang mati? Tentu demikian. Sesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّa-wa-lam yaraw anna llaaha lladzii khalaqa s-samaawaati wa-l-ardha wa-lam ya'ya bi-khalqihinnatidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi serta tidak merasa letih karena menciptakannya
  2. بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰbi-qaadirin 'alaa an yuhyiya l-mawtaaDia kuasa untuk menghidupkan yang mati
  3. بَلَىٰ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌbalaa innahu 'alaa kulli syay'in qadiiruntentu demikian; sesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu

Terjemahan per kata (22 kata)

  1. أَوَلَمْa-wa-lamdan tidakkah
  2. يَرَوْاyarawmereka melihat
  3. أَنَّannabahwa
  4. اللَّهَllaahaAllah
  5. الَّذِيlladziiyang
  6. خَلَقَkhalaqamenciptakan
  7. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  8. وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
  9. وَلَمْwa-lamdan tidak
  10. يَعْيَya'yaletih
  11. بِخَلْقِهِنَّbi-khalqihinnadengan menciptakan mereka
  12. بِقَادِرٍbi-qaadirinyang berkuasa
  13. عَلَىٰ'alaaatas
  14. أَنْanuntuk
  15. يُحْيِيَyuhyiyamenghidupkan
  16. الْمَوْتَىٰl-mawtaaorang-orang mati
  17. بَلَىٰbalaaya
  18. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  19. عَلَىٰ'alaaatas
  20. كُلِّkullisegala
  21. شَيْءٍsyay'insesuatu
  22. قَدِيرٌqadiirunberkuasa

Inti bacaan

Rangkaian (بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ, bi-qaadirin 'alaa an yuhyiya l-mawtaa) terdapat dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 46:33 dan 75:40.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَوَلَمْ يَرَوْا, a-wa-lam yaraw) yang berarti "tidakkah mereka memperhatikan". Susunannya terdiri dari a sebagai huruf tanya, wa yang menyambung, lam yang berarti "tidak", dan yaraw, kata kerja "mereka melihat" dari akar ر-أ-ي. Rangkaian ini muncul tiga belas kali di dua belas surah, yaitu di 13:41, 16:48, 17:99, 26:7, 27:86, 29:19, 29:67, 30:37, 32:27, 36:71, 41:15, 46:33, dan 67:19, dan surah 29 memuatnya dua kali. Bila disambung dengan (أَنَّ اللَّهَ, anna llaaha) yang berarti "bahwa Allah", rangkaian itu muncul empat kali, yaitu di 17:99, 30:37, 41:15, dan 46:33. Di antara keempatnya, 17:99 menyambung dengan (الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, lladzii khalaqa s-samaawaati wa-l-ardha) yang berarti "yang menciptakan langit dan bumi", sama dengan 46:33. Rangkaian lladzii khalaqa s-samaawaati wa-l-ardha itu sendiri muncul dua belas kali di sebelas surah, yaitu di 6:1, 6:73, 7:54, 10:3, 11:7, 14:32, 17:99, 25:59, 32:4, 36:81, 46:33, dan 57:4, dan surah 6 memuatnya dua kali.

Kata kerja (يَعْيَ, ya'ya) dalam (وَلَمْ يَعْيَ, wa-lam ya'ya) berarti "dan tidak merasa letih". Akarnya ع-ي-ي hanya dipakai dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 46:33 dan 50:15. Di 50:15, (أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِ, a-fa-'ayiinaa bi-l-khalqi l-awwali) berarti "maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama", dan kata kerjanya bersambung dengan (بِالْخَلْقِ, bi-l-khalqi) yang berarti "dengan penciptaan", seperti ya'ya bersambung dengan (بِخَلْقِهِنَّ, bi-khalqihinna) di 46:33. Kedua tempat memakai akar itu pada hal yang sama, yaitu letih dalam menciptakan. Perbedaannya, 50:15 berbentuk pertanyaan dengan Kami sebagai pembicara, sedangkan 46:33 berbentuk penafian dalam kalimat penutur. Keletihan karena penciptaan dinafikan dengan akar lain di 50:38, (مِنْ لُغُوبٍ, min lughuubin) yang berarti "dari kelelahan", sehingga terjemahan memakai "letih" untuk ع-ي-ي dan "kelelahan" untuk ل-غ-ب.

Kata (بِخَلْقِهِنَّ, bi-khalqihinna) berarti "karena menciptakannya" dan tersusun dari bi, "dengan", khalq, "penciptaan", dan akhiran -hinna, kata ganti jamak perempuan menurut analisis korpus. Di ayat ini -hinna kembali ke (السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, s-samaawaati wa-l-ardha) yang berarti "langit dan bumi" pada anak kalimat yang sama. Terjemahan memakai -nya yang mencakup langit dan bumi sekaligus, tanpa menambahkan "keduanya" atau kata bilangan lain. Bentuk persis bi-khalqihinna muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 46:33.

Argumen intinya memakai (بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ, bi-qaadirin 'alaa an yuhyiya l-mawtaa) yang berarti "kuasa untuk menghidupkan yang mati". Kata (قَادِرٍ, qaadirin) berakar ق-د-ر dan berarti "kuasa". Dengan huruf bi di depannya, kata itu muncul tiga kali, yaitu di 36:81, 46:33, dan 75:40. Rangkaian lengkap bi-qaadirin 'alaa an yuhyiya l-mawtaa muncul dua kali, yaitu di 46:33 dan 75:40, dan di 75:40 bentuknya pertanyaan, (أَلَيْسَ ذَٰلِكَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ, a-laysa dzaalika bi-qaadirin 'alaa an yuhyiya l-mawtaa) yang berarti "bukankah itu kuasa menghidupkan yang mati". Di 36:81, kalimat tanya dengan bi-qaadirin memuat objek lain, (بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ, bi-qaadirin 'alaa an yakhluqa mitslahum) yang berarti "kuasa menciptakan yang serupa dengan mereka". Kata kerja (يُحْيِيَ, yuhyiya) berakar ح-ي-ي dan berarti "menghidupkan". Bentuk (يُحْيِي الْمَوْتَىٰ, yuhyii l-mawtaa) yang berarti "menghidupkan yang mati" ada di 22:6 dan 42:9, dan kata benda pelaku dari akar yang sama, muhyii, ada di 30:50 dan 41:39.

Jawaban (بَلَىٰ, balaa) yang berarti "tentu demikian" berdiri tepat sesudah pertanyaan yang mengandung penyangkalan, tanpa kata qaala atau penanda pembicara lain. Kata balaa muncul dua puluh dua kali di enam belas surah, yaitu di 2:81, 2:112, 2:260, 3:76, 3:125, 6:30, 7:172, 16:28, 16:38, 34:3, 36:81, 39:59, 39:71, 40:50, 43:80, 46:33, 46:34, 57:14, 64:7, 67:9, 75:4, dan 84:15. Selisih dua puluh dua dan enam belas muncul karena surah 2, 3, 16, 39, dan 46 memuatnya lebih dari sekali. Di 36:81, (بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ, balaa wa-huwa l-khallaaqu l-'aliimu) yang berarti "tentu saja, dan Dia Sang Pencipta lagi Sang Berilmu", jawaban juga ada di dalam ayat yang sama dengan pertanyaannya. Di 46:34, (قَالُوا بَلَىٰ, qaaluu balaa) menyebut siapa yang menjawab, sedangkan pembicara balaa di 46:33 tidak ditulis.

Kalimat penutup (إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ, innahu 'alaa kulli syay'in qadiirun) berarti "sesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu" dan memakai akar ق-د-ر sekali lagi, kini dalam bentuk (قَدِيرٌ, qadiirun) yang berarti "berkuasa". Bentuk qaadir di kalimat sebelumnya bertaut dengan satu perbuatan, menghidupkan yang mati, sedangkan bentuk qadiir bertaut dengan (كُلِّ شَيْءٍ, kulli syay'in) yang berarti "segala sesuatu". Dengan innahu di depannya, rangkaian ini muncul dua kali, yaitu di 41:39 dan 46:33. Kedua ayat itu memuat (الْمَوْتَىٰ, l-mawtaa) yang berarti "yang mati" tepat sebelum rangkaian itu, di 41:39 dalam bentuk muhyii l-mawtaa.

Tafsiran

Ayat ini menyusun argumen dari tiga langkah. Pencipta langit dan bumi tidak letih karena menciptakannya, pencipta itu kuasa menghidupkan yang mati, dan kuasa itu mencakup segala sesuatu. Penafian letih ditaruh di antara penciptaan dan penghidupan, dan hubungan antara tidak letih dan kuasa menghidupkan tidak dijelaskan dengan kata penghubung, karena keduanya berurutan dalam satu kalimat panjang. Pertanyaan dibuka dengan mereka yang diminta memperhatikan, dan jawabannya, balaa, datang di ayat yang sama tanpa nama penjawab.

Kerangka pertanyaannya sama dengan 17:99, tetapi isinya bergeser. Di 17:99 pembaca diminta memperhatikan bahwa pencipta langit dan bumi kuasa menciptakan yang serupa dengan mereka, dan di 46:33 pembaca diminta memperhatikan kuasa menghidupkan yang mati, dengan tambahan penafian letih. Pergeseran itu dapat dibaca sebagai penempatan penghidupan kembali di bawah ukuran yang sama dengan penciptaan, yaitu kuasa sang pencipta.

Surah ini menyebut penciptaan sejak ayat ketiga. Ayat 46:3 menulis (إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى, illaa bi-l-haqqi wa-ajalin musamman) yang berarti "kecuali dengan kebenaran dan waktu yang ditentukan" bagi penciptaan langit dan bumi. Kata kebenaran, (الْحَقِّ, l-haqqi), muncul lagi dalam pertanyaan 46:34 kepada orang-orang yang dihadapkan pada api, dan 46:33 berada di antara keduanya dengan pertanyaan tentang penciptaan dan penghidupan. Ayat 42:9 memuat pelindung selain Dia, penghidupan yang mati, dan kuasa atas segala sesuatu dalam satu ayat, sedangkan di surah ini ketiga hal itu terbagi ke 46:32 dan 46:33. Siapa yang dimaksud dengan mereka di ayat ini tidak dinyatakan. Ayat 46:32 menutup dengan mereka itu, dan 46:33 tidak mengatakan bahwa kata ganti itu menunjuk kelompok yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 46:33 memakai letih sebagai ukuran, dan menyatakan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi tidak merasa letih dalam penciptaan itu. Pembaca mengenal letih dari tubuhnya sendiri, dan ayat ini memakai pengalaman itu untuk menyebut apa yang tidak terjadi. Di 50:15 pembicara dengan kata Kami bertanya apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama, dan 50:38 menyebut bahwa kelelahan tidak menyentuh. Ayat-ayat itu menafikan sebuah keadaan dan tidak menggambarkan perasaan. Pembaca yang menunda pekerjaan besar karena membayangkan tenaganya akan habis dapat menimbang dari mana ukuran cukup tenaga itu berasal. Ukuran apa yang selama ini dipakai untuk menilai bisa tidaknya sesuatu, dan apakah ukuran itu berasal dari tubuh sendiri?
  • Pertanyaan a-wa-lam yaraw membuka ayat sebelum ada kesimpulan, dengan kata kerja melihat. Pertanyaan itu mengundang kegiatan memperhatikan lebih dulu, baru menerima isi kalimat sesudahnya. Rangkaian yang sama dengan nama Allah muncul di 41:15 sebagai tanggapan atas ucapan siapa yang lebih hebat kekuatannya daripada kami, sehingga di sana pertanyaan itu bertemu dengan ucapan tentang kekuatan. Di 46:33 pertanyaan itu menyangkut kuasa menghidupkan yang mati. Pembaca yang pernah menolak sebuah kesimpulan dapat bertanya apakah bagian memperhatikan sudah dikerjakan sebelum kesimpulan ditolak. Apa yang sudah diperhatikan, dan selama berapa lama, sebelum jawaban tidak mungkin diucapkan?
  • Kata balaa datang tepat sesudah pertanyaan dan tidak diberi pembicara, sehingga jawabannya terbaca sebagai bagian dari kalimat yang sama dan tidak menunggu siapa pun menjawab. Di 46:34 jawaban yang sama diucapkan oleh orang-orang yang dihadapkan pada api, dan teksnya menyebut siapa yang menjawab. Dua ayat berurutan itu menaruh jawaban yang sama di dua keadaan, yang pertama ketika pertanyaan masih berupa bahan perenungan dan yang kedua ketika pertanyaan sudah dihadapkan. Pembaca dapat menimbang kapan jawaban semacam itu lebih mudah diucapkan. Jawaban apa yang sudah diketahui kebenarannya, tetapi baru terucap bila pertanyaannya sudah berdiri di depan mata?
  • Ayat ini bergerak dari satu perbuatan, menghidupkan yang mati, ke kalimat umum tentang segala sesuatu. Kuasa atas sebuah perbuatan disebut dengan bentuk qaadir, dan kuasa atas segala sesuatu dengan bentuk qadiir, dua bentuk dari akar yang sama dalam satu ayat. Pembaca yang menimbang sebuah keberatan khusus dapat memperhatikan urutan itu, yaitu kuasa Allah ditulis atas hal yang sedang dipersoalkan lalu disambung dengan kalimat yang melampauinya. Keberatan yang diajukan pembaca kepada diri sendiri, seberapa sempit rumusannya, dan apakah rumusan yang sempit itu masih tertampung oleh kalimat segala sesuatu?
  • Di 41:39 Dia yang menghidupkan bumi yang kering disebut benar-benar menghidupkan yang mati, dan di 30:50 jejak rahmat Allah dilihat pada bumi yang dihidupkan setelah matinya. Ayat 46:33 tidak menyebut bumi sebagai bukti hidup kembali, dan menyebut langit serta bumi sebagai hasil penciptaan. Dua cara bernalar itu berdampingan di Al-Qur'an dan memakai bahan yang dapat dilihat pembaca, yaitu langit, bumi, dan tanah sesudah hujan. Pembaca yang pernah melihat tanah kering berubah hijau dapat menaruh pengalaman itu di samping 41:39, sambil mengingat bahwa 46:33 sendiri tidak menyebut hujan. Apa yang sudah dilihat pembaca pada langit dan tanah, dan sudah dihitung sebagai bahan jawaban atas pertanyaan tidakkah mereka memperhatikan?
  • Ayat ini memakai kata mereka tanpa menyebut siapa. Ayat sebelumnya menutup dengan mereka itu, tetapi kesamaan kelompok tidak ditulis di sini. Pertanyaan yang ditujukan kepada pihak ketiga baru mengenai pembaca bila pembaca mengenali sikap itu pada diri sendiri, misalnya sikap menunda memperhatikan langit dan bumi yang diciptakan Allah. Pertanyaan itu tidak disertai daftar ciri yang memudahkan pembaca mengecualikan diri. Apa yang membuat pembaca yakin bahwa kata mereka di ayat ini berada di luar dirinya, dan kapan terakhir pertanyaan tidakkah memperhatikan diajukan kepada diri sendiri?