وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَلَيْسَ هَٰذَا بِالْحَقِّ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَرَبِّنَا ۚ قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
Dan pada hari orang-orang yang kufur dihadapkan pada api, “Bukankah ini kebenaran?” Mereka menjawab, “Benar, demi Tuhan kami.” Dia berfirman, “Maka, rasakanlah azab karena kalian dahulu kufur.”
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِwa-yawma yu'radhu lladziina kafaruu 'alaa n-naaridan pada hari orang-orang yang kufur dihadapkan pada api
- أَلَيْسَ هَٰذَا بِالْحَقِّa-laysa haadzaa bi-l-haqqibukankah ini kebenaran
- قَالُوا بَلَىٰ وَرَبِّنَاqaaluu balaa wa-rabbinaamereka menjawab, benar, demi Tuhan kami
- قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَqaala fa-dzuuquu l-'adzaaba bi-maa kuntum takfuruunaDia berfirman, maka rasakanlah azab karena kalian dahulu kufur
Terjemahan per kata (18 kata)
- وَيَوْمَwa-yawmadan pada hari
- يُعْرَضُyu'radhudihadapkan
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- عَلَى'alaaatas
- النَّارِn-naariapi
- أَلَيْسَa-laysabukankah
- هَٰذَاhaadzaaini
- بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
- قَالُواqaaluumereka berkata
- بَلَىٰbalaaya
- وَرَبِّنَاwa-rabbinaadan Tuhan kami
- قَالَqaalaberkata
- فَذُوقُواfa-dzuuquumaka rasakanlah kalian
- الْعَذَابَl-'adzaabaazab
- بِمَاbi-maakarena apa yang
- كُنْتُمْkuntumkalian selalu
- تَكْفُرُونَtakfuruunakalian kufur
Inti bacaan
Rangkaian (فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ, fa-dzuuquu l-'adzaaba bi-maa kuntum takfuruuna) terdapat empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 3:106, 6:30, 8:35, dan 46:34.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ, wa-yawma yu'radhu lladziina kafaruu 'alaa n-naari) yang berarti "dan pada hari orang-orang yang kufur dihadapkan pada api". Rangkaian ini muncul dua kali, yaitu di 46:20 dan 46:34, keduanya dalam satu surah. Kata kerja (يُعْرَضُ, yu'radhu) berakar ع-ر-ض dan berarti "dihadapkan", dengan pelaku yang tidak disebut. Bentuk jamaknya (يُعْرَضُونَ, yu'radhuuna) muncul tiga kali, yaitu di 11:18, 40:46, dan 42:45. Di 11:18 bunyinya (يُعْرَضُونَ عَلَىٰ رَبِّهِمْ, yu'radhuuna 'alaa rabbihim) yang berarti "mereka dihadapkan kepada Tuhan mereka", sedangkan di 40:46 sasarannya api. Di 46:20 kalimat sesudah pembukaan itu berupa tuduhan tentang cara mereka hidup, (أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ, adzhabtum thayyibaatikum) yang berarti "kalian telah menghabiskan yang baik milik kalian", dan di 46:34 berupa pertanyaan tentang kebenaran.
Pertanyaannya, (أَلَيْسَ هَٰذَا بِالْحَقِّ, a-laysa haadzaa bi-l-haqqi), berarti "bukankah ini kebenaran". Susunannya terdiri dari a sebagai huruf tanya, laysa yang berarti "bukan", haadzaa yang berarti "ini", dan bi-l-haqqi yang berarti "dengan kebenaran"; kata haqq berakar ح-ق-ق. Rangkaian ini muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:30 dan 46:34. Kata haadzaa tidak diberi sasaran yang tertulis. Kata terdekat sebelumnya adalah api, tetapi ayat tidak menyatakan bahwa "ini" menunjuk api saja. Kata (الْحَقِّ, l-haqqi) dengan bi dipakai juga di 46:3, (إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى, illaa bi-l-haqqi wa-ajalin musamman) yang berarti "kecuali dengan kebenaran dan waktu yang ditentukan", tentang penciptaan langit dan bumi, dan di 46:20 dalam (بِغَيْرِ الْحَقِّ, bi-ghayri l-haqqi) yang berarti "tanpa hak", tentang takabur di bumi.
Jawabannya, (قَالُوا بَلَىٰ وَرَبِّنَا, qaaluu balaa wa-rabbinaa), berarti "mereka menjawab, benar, demi Tuhan kami". Huruf wa di depan (رَبِّنَا, rabbinaa) menandai sumpah, dan terjemahan memakai "demi". Bentuk (بَلَىٰ وَرَبِّنَا, balaa wa-rabbinaa) muncul dua kali, yaitu di 6:30 dan 46:34. Bentuk dengan "Tuhanku", (بَلَىٰ وَرَبِّي, balaa wa-rabbii), muncul dua kali pula, yaitu di 34:3 dan 64:7, dan di keduanya didahului (قُلْ, qul) yang berarti "katakanlah". Di 34:3 sumpah itu menjawab ucapan (لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ, laa ta'tiinaa s-saa'atu) yang berarti "Saat itu tidak akan datang kepada kami", dan di 64:7 menjawab anggapan (أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا, an lan yub'atsuu) yang berarti "bahwa mereka tidak akan dibangkitkan". Di 10:53 sumpah dengan rabb sekali lagi disusul pernyataan tentang kebenaran, (إِي وَرَبِّي, ii wa-rabbii) yang berarti "ya, demi Tuhanku".
Kalimat terakhir, (فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ, fa-dzuuquu l-'adzaaba bi-maa kuntum takfuruuna), berarti "maka rasakanlah azab karena kalian dahulu kufur". Kata kerja perintah (ذُوقُوا, dzuuquu) berakar ذ-و-ق dan berarti "rasakanlah", dengan awalan fa yang berarti "maka". Rangkaian lengkapnya muncul empat kali, yaitu di 3:106, 6:30, 8:35, dan 46:34. Bagian akhirnya, (بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ, bi-maa kuntum takfuruuna), muncul lima kali, yaitu di 3:106, 6:30, 8:35, 36:64, dan 46:34. Terjemahan 46:34 memakai "karena kalian dahulu kufur" seperti 3:106. Pembicara pertanyaan dan pembicara keputusan tidak diberi nama di ayat ini. Di 6:30 pembicaranya ditandai dengan (قَالَ, qaala) sesudah (عَلَىٰ رَبِّهِمْ, 'alaa rabbihim) yang berarti "di hadapan Tuhan mereka", sedangkan di 46:34 pertanyaan tidak didahului kata kerja berkata. Terjemahan memakai "Dia berfirman" untuk qaala sebelum fa-dzuuquu dengan dasar 6:30, yang menyebut Tuhan mereka sebelum kalimat yang sama.
Tafsiran
Ayat ini menyusun satu adegan dari tiga ucapan yang saling menjawab, yaitu pertanyaan, pengakuan, dan keputusan. Pertanyaan meminta pengakuan atas satu soal, apakah yang dihadapi adalah kebenaran, dan pengakuan itu diberikan dengan sumpah. Keputusan menyusul dengan huruf fa, "maka", dan memuat alasannya di ujung kalimat, karena kalian dahulu kufur. Apakah pengakuan itu mengubah sesuatu tidak tertulis, dan keputusan datang langsung sesudahnya.
Pembukanya sama dengan 46:20, tetapi isi kedua adegan berbeda. Di 46:20 mereka mendengar tuduhan tentang cara hidup, termasuk takabur di bumi tanpa hak, dan di 46:34 mereka diminta mengakui kebenaran lebih dulu, baru sesudah itu mendengar keputusan. Dua adegan dalam satu surah itu menaruh dua pertanyaan di hadapan kelompok yang disebut dengan kata yang sama.
Kata kebenaran menghubungkan adegan ini dengan bagian lain surah. Ayat 46:30 memuat laporan para jin bahwa kitab yang mereka dengar (يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ, yahdii ilaa l-haqqi) yang berarti "menunjukkan kepada kebenaran". Ayat 46:3 menyebut penciptaan langit dan bumi dengan kebenaran, 46:20 menyebut takabur tanpa hak, dan 46:34 menjadikan kebenaran bahan pertanyaan bagi orang-orang yang dihadapkan pada api. Rumus sumpah di jawaban juga ada di surah lain. Di 34:3 dan 64:7 rumus itu diucapkan atas perintah katakanlah untuk menjawab orang yang menyangkal kedatangan Saat itu dan kebangkitan, sedangkan di 46:34 rumus yang hampir sama diucapkan oleh orang-orang yang kufur sendiri. Siapa yang bertanya dan siapa yang menjatuhkan keputusan tidak ditulis, dan kesejajaran dengan 6:30 memberi arah pembacaan.
Renungan dan Hikmah
- Pertanyaan a-laysa haadzaa bi-l-haqqi di 46:34 tidak diberi pembicara, sehingga pembaca mendengar suaranya tanpa wajah dan dapat merasa pertanyaan itu ditujukan kepada siapa saja yang pernah ragu. Di 6:30 kalimat yang sama didahului penyebutan Tuhan mereka, sedangkan di 46:34 hanya api yang disebut sebelum pertanyaan. Kata haadzaa sendiri tidak diberi sasaran tertulis. Pembaca dapat membayangkan pertanyaan itu ditujukan kepadanya hari ini, pada sesuatu yang sedang ditunda atau disangkal. Apa yang akan ditunjuk sebagai ini bila ditanyakan bukankah ini kebenaran?
- Rumus balaa wa-rabbii di 34:3 dan 64:7 diucapkan atas perintah katakanlah untuk menjawab orang yang menyangkal bahwa Saat itu akan datang dan bahwa mereka akan dibangkitkan. Di 46:34 rumus yang hampir sama, balaa wa-rabbinaa, keluar dari mulut orang-orang yang dihadapkan pada api. Kalimat yang di surah lain terdengar sebagai jawaban atas penyangkal kini menjadi kalimat kelompok yang disebut dengan kata yang sama, orang-orang yang kufur. Pembaca dapat mencari kalimat apa di sekitarnya yang hari ini terdengar seperti klaim orang lain, lalu membayangkan kalimat itu diucapkan dengan sumpah oleh dirinya sendiri. Kalimat mana yang paling berat bila harus diucapkan dengan kata demi Tuhan kami?
- Keputusan di 46:34 memuat alasannya dalam kalimat yang sama, rasakanlah azab karena kalian dahulu kufur. Alasan itu menghubungkan keadaan sekarang dengan sesuatu yang lama, dan kata dahulu menaruh kufur di belakang sementara api berada di depan. Pembaca yang pernah menerima akibat tanpa penjelasan dapat membandingkannya dengan akibat yang disertai alasan yang dapat ditelusuri ke masa lalu sendiri. Ayat ini memilih bentuk kedua untuk keputusan yang diucapkan dengan kata maka. Bagian mana dari masa lalu pembaca yang kelak disebut dengan kata dahulu oleh pihak lain, dan sudah adakah alasan yang dapat diperiksa sebelum akibatnya datang?
- Di 46:20 kata hak muncul pada tuduhan takabur di bumi tanpa hak, dan di 46:34 kata kebenaran muncul dalam pertanyaan. Tuduhan pertama menyoal cara orang memperlakukan dunia, dan pertanyaan kedua menyoal kesediaan mengakui sesuatu. Ayat 46:30 sudah mencatat para jin melaporkan bahwa kitab yang mereka dengar menunjukkan kepada kebenaran, dan kata yang sama kini muncul dalam pertanyaan kepada orang-orang yang kufur. Pembaca dapat bertanya kapan terakhir mengakui sesuatu yang benar padahal pengakuan itu merugikan, dan apakah pengakuan itu keluar tanpa sumpah dan tanpa api?
- Orang-orang yang kufur di ayat ini mengucapkan Tuhan kami dalam sumpah mereka, sehingga kata rabb tidak hilang dari kosakata mereka. Sejak kapan kata itu kembali dipakai, dan apakah dipakai selama hidup mereka, tidak tertulis. Rumus yang sama di 6:30 diucapkan di hadapan Tuhan mereka, dan di 46:34 di hadapan api. Pembaca yang sering menyebut Tuhan dalam sumpah atau ucapan sehari-hari dapat memeriksa apakah isi yang diakui sejalan dengan kata yang disebut. Bila kata Tuhan kami dan isi pengakuan baru bertemu di hadapan api, apa yang dilakukan kata itu pada hari-hari sebelumnya?
- Ayat ini mencatat tiga ucapan berurutan, pertanyaan, jawaban, dan keputusan, tanpa jeda yang tertulis di antaranya. Jawaban datang dengan sumpah, dan keputusan datang dengan kata maka. Pembaca yang pernah menunggu jeda sebelum menjawab pertanyaan penting dapat membandingkannya dengan susunan ayat ini, tempat ruang tertulis untuk berpikir tidak ada. Percakapan penting yang ditunda menunggu waktu yang lebih longgar tidak mendapat tempat di dalam adegan ini. Berapa banyak percakapan yang dibiarkan berlalu menunggu ruang semacam itu, dan apa yang tersisa bila ruang itu tidak lagi tersedia?