ذَٰلِكَ بِأَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا اتَّبَعُوا الْبَاطِلَ وَأَنَّ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَبِّهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ لِلنَّاسِ أَمْثَالَهُمْ
Yang demikian itu karena orang-orang yang kufur mengikuti kebatilan, dan orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat bagi manusia perumpamaan-perumpamaan mereka.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- ذَٰلِكَ بِأَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا اتَّبَعُوا الْبَاطِلَdzaalika bi-anna lladziina kafaruu ttaba'uu l-baathilayang demikian itu karena orang-orang yang kufur mengikuti kebatilan
- وَأَنَّ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَبِّهِمْwa-anna lladziina aamanuu ttaba'uu l-haqqa min rabbihimdan orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka
- كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ لِلنَّاسِ أَمْثَالَهُمْka-dzaalika yadhribu llaahu li-n-naasi amtsaalahumdemikianlah Allah membuat bagi manusia perumpamaan-perumpamaan mereka
Terjemahan per kata (18 kata)
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- بِأَنَّbi-annakarena
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- اتَّبَعُواttaba'uumengikuti
- الْبَاطِلَl-baathilakebatilan
- وَأَنَّwa-annadan bahwa
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- اتَّبَعُواttaba'uumengikuti
- الْحَقَّl-haqqakebenaran
- مِنْmindari
- رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
- كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
- يَضْرِبُyadhribumembuat
- اللَّهُllaahuAllah
- لِلنَّاسِli-n-naasibagi manusia
- أَمْثَالَهُمْamtsaalahumperumpamaan-perumpamaan mereka
Inti bacaan
Susunan (كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ, ka-dzaalika yadhribu) muncul di dua ayat Al-Qur'an, yaitu 13:17 dan 47:3.
Penjelasan pilihan kata
Alasan diberikan lewat (ذَٰلِكَ بِأَنَّ, dzaalika bi-anna) yang berarti "yang demikian itu karena". Kata dzaalika menunjuk ke apa yang dikatakan di 47:1 dan 47:2, dan bi-anna memberi alasannya. Susunan dzaalika bi-anna, juga yang bersambung dengan kata ganti seperti (ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ, dzaalika bi-annahum) di 47:9, membuka lima ayat di surah 47, yaitu 47:3, 47:9, 47:11, 47:26, dan 47:28. Di antara kelimanya, 47:3 menyambungnya langsung dengan (الَّذِينَ, lladziina) yang berarti "orang-orang yang", sehingga alasan itu diberikan kepada dua golongan sekaligus. Terjemahan memakai "karena" untuk bi-anna di kelima ayat itu.
Kata kerja (اتَّبَعُوا, ttaba'uu) yang berarti "mengikuti" muncul di lima belas ayat dalam sembilan surah, yaitu 2:102, 2:166, 2:167, 3:174, 7:157, 11:59, 11:97, 19:59, 40:7, 47:3, 47:14, 47:16, 47:28, 54:3, dan 71:21. Empat dari lima belas ayat itu ada di surah 47, dan objeknya berganti-ganti: (اتَّبَعُوا الْبَاطِلَ, ttaba'uu l-baathila) yang berarti "mengikuti kebatilan" serta (اتَّبَعُوا الْحَقَّ, ttaba'uu l-haqqa) yang berarti "mengikuti kebenaran" di 47:3, (وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ, wa-ttaba'uu ahwaa'ahum) yang berarti "dan mengikuti hawa nafsu mereka" di 47:14 dan 47:16, serta (اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ, ttaba'uu maa askhatha llaaha) yang berarti "mengikuti apa yang membuat Allah murka" di 47:28. Susunan ttaba'uu l-baathila dan ttaba'uu l-haqqa hanya muncul di 47:3. Di 47:3 kata kerjanya sama untuk kedua golongan, dan objeknya berganti dari kebatilan ke kebenaran.
Kata (الْبَاطِلَ, l-baathila) yang berarti "kebatilan" berakar ب-ط-ل. Dengan akhiran -a seperti ini kata itu muncul di lima ayat, yaitu 8:8, 13:17, 17:81, 42:24, dan 47:3. Di tiga ayat di antaranya kebatilan menjadi sesuatu yang dihapus atau lenyap: (وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ, wa-yubthila l-baathila) yang berarti "dan membatalkan kebatilan" di 8:8, (وَيَمْحُ اللَّهُ الْبَاطِلَ, wa-yamhu llaahu l-baathila) yang berarti "dan Allah menghapus yang batil" di 42:24, dan di 17:81 kebatilan telah lenyap. Di 47:3 kebatilan tampil dari sisi yang lain, yaitu sebagai sesuatu yang diikuti orang.
Frasa (الْحَقَّ مِنْ رَبِّهِمْ, l-haqqa min rabbihim) yang berarti "kebenaran dari Tuhan mereka" sudah muncul di 47:2 sebagai pernyataan, dan di sini menjadi objek kata kerja mengikuti. Kata min dan rabbihim hanya menyertai kebenaran. Kebatilan di 47:3 disebut tanpa keterangan asal. Di 22:62 dan 31:30 kebatilan diberi isi, (وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ, wa-anna maa yad'uuna min duunihi l-baathilu) yang berarti "dan bahwa apa yang mereka seru selain Dia adalah kebatilan" di 31:30, tetapi ayat 47:3 tidak memakai isi itu.
Penutup ayat ini memakai (كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ, ka-dzaalika yadhribu) yang berarti "demikianlah dibuat". Susunan itu hanya muncul di dua ayat, yaitu 13:17 dan 47:3. Di 13:17 susunan itu dipakai dua kali, pertama dengan (الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ, al-haqqa wa-l-baathila) yang berarti "kebenaran dan kebatilan", lalu dengan (الْأَمْثَالَ, l-amtsaala) yang berarti "perumpamaan-perumpamaan". Frasa (يَضْرِبُ اللَّهُ, yadhribu llaahu) yang berarti "Allah membuat" muncul di empat ayat, yaitu 13:17, 14:25, 24:35, dan 47:3, dan di 14:25 bentuknya (وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ, wa-yadhribu llaahu l-amtsaala li-n-naasi) yang berarti "dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia". Akar ض-ر-ب yang sama muncul di 47:4 dan di 47:27 dengan arti memukul, (يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ, yadhribuuna wujuuhahum) yang berarti "memukul wajah mereka" di 47:27, jadi arti "membuat" di 47:3 ditentukan oleh objeknya, yaitu perumpamaan.
Kata (أَمْثَالَهُمْ, amtsaalahum) tersusun dari amtsaal, bentuk jamak dari matsal yang berarti "perumpamaan", dan akhiran -hum yang berarti "mereka". Bentuk persis ini muncul dua kali di dua surah, yaitu 47:3 dan 76:28. Di 76:28, (بَدَّلْنَا أَمْثَالَهُمْ, baddalnaa amtsaalahum) berarti "Kami mengganti mereka dengan yang serupa mereka", sehingga amtsaal di sana bermakna "yang serupa". Di 47:3 kata itu berobjek kata kerja yadhribu, seperti di 13:17 dan 14:25, sehingga maknanya "perumpamaan-perumpamaan", dan akhiran -hum tetap diterjemahkan: "perumpamaan-perumpamaan mereka". Kata (لِلنَّاسِ, li-n-naasi) yang berarti "bagi manusia" mendahuluinya dan terjemahan mengikuti urutan Arabnya. Kata ganti -hum menunjuk pihak yang disebut paling dekat, yaitu manusia, atau dua golongan di ayat ini, dan ayat tidak memutuskan di antara keduanya.
Tafsiran
Ayat ini menerangkan sebab dari dua nasib di 47:1 dan 47:2, dan penjelasannya memakai kata yang lain dari kedua ayat itu. Ayat 47:1 menyebut golongan pertama lewat apa yang dikerjakannya, yaitu kufur dan menghalangi dari jalan Allah. Ayat 47:3 menyebutnya lewat apa yang diikutinya, yaitu kebatilan. Dua bahasa ini dapat dibaca sebagai dua sisi satu keadaan, tetapi ayat tidak mengatakan bahwa kufur sama dengan mengikuti kebatilan.
Dua kalimat sebab itu disusun serupa. Keduanya terdiri atas (الَّذِينَ, lladziina), sebuah kata kerja golongan, (اتَّبَعُوا, ttaba'uu), dan sebuah objek. Keduanya berbeda pada golongan, objek, dan keterangan asal. Kebenaran disebut berasal dari Tuhan mereka, sedangkan kebatilan tidak diberi asal.
Ayat 47:11 memakai kerangka sebab yang sama, (ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا, dzaalika bi-anna llaaha mawlaa lladziina aamanuu) yang berarti "yang demikian itu karena Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman", lalu (وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَىٰ لَهُمْ, wa-anna l-kaafiriina laa mawlaa lahum) yang berarti "dan orang-orang kafir tidak mempunyai pelindung". Dua penjelasan ini mengisi bagian surah yang berbeda dan memberi sebab dari sisi yang berlainan. Ayat 47:3 menaruh sebab pada apa yang diikuti manusia, dan 47:11 menaruhnya pada siapa yang menjadi pelindung.
Ayat ini juga menamai pasangan nasib tadi sebagai perumpamaan, (كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ لِلنَّاسِ أَمْثَالَهُمْ, ka-dzaalika yadhribu llaahu li-n-naasi amtsaalahum) yang berarti "demikianlah Allah membuat bagi manusia perumpamaan-perumpamaan mereka". Sebutan itu mengubah cara membaca 47:1 dan 47:2, sebab dua golongan yang semula tampak sebagai laporan tentang pihak tertentu dibaca sebagai contoh yang dibuat bagi manusia. Sesudah ayat ini, 47:4 memulai pokok lain dengan (فَإِذَا لَقِيتُمُ, fa-idzaa laqiitumu) yang berarti "maka apabila kalian bertemu", sehingga tiga ayat pertama surah berdiri sebagai satu bagian: dua nasib, lalu sebab bagi keduanya, lalu penamaan keduanya sebagai perumpamaan.
Renungan dan Hikmah
- Kedua golongan di ayat ini dikatakan mengikuti sesuatu, dan kata kerjanya tidak berganti. Ayat ini tidak memuat golongan ketiga yang tidak mengikuti apa pun. Pembaca yang menganggap dirinya bebas dari semua ikutan menemukan bahwa ayat ini hanya mengenal dua jenis pengikut, dengan perbedaan yang terletak pada objeknya, bukan pada ada atau tiadanya sebuah ikutan. Bila seseorang bertanya kepada pembaca apa yang sedang diikutinya dalam keputusan terbesar tahun ini, adakah jawaban yang dapat disebut dengan nama, atau jawabannya masih berupa suasana hati?
- Kebenaran di ayat ini disebut berasal dari Tuhan mereka, sedangkan kebatilan disebut tanpa asal. Dua kalimat sebab itu disusun serupa, dan keterangan tambahan hanya ada pada sisi kebenaran, yaitu dari mana kebenaran itu datang. Pembaca yang menimbang sebuah ajakan, bacaan, atau kebiasaan dapat memperhatikan apakah ajakan itu menyebut asalnya atau berhenti pada namanya saja. Ayat ini tidak memberi rumus untuk membedakan keduanya. Ayat ini hanya memperlihatkan bahwa kebenaran di sini membawa alamat, yaitu Tuhan mereka.
- Dua nasib di 47:1 dan 47:2 ditutup di ayat ini dengan sebutan perumpamaan yang dibuat Allah bagi manusia. Pembaca ikut berada dalam kata manusia itu. Bila perumpamaan itu dibaca sebagai contoh bagi manusia, pertanyaan yang tertinggal menyangkut di mana pembaca menaruh dirinya di dalam perumpamaan itu, atau apakah pembaca menaruh dirinya di luarnya.
- Kebatilan di 47:3 tidak diberi isi. Di surah yang sama kata kerja yang sama dipakai untuk hawa nafsu di 47:14 dan 47:16 dan untuk apa yang membuat Allah murka di 47:28, dan ketiganya dapat dibaca sebagai isi yang mungkin bagi kebatilan, tetapi ayat 47:3 sendiri tidak menyamakannya dengan salah satunya. Pembaca yang ingin segera memastikan isi kebatilan bagi dirinya mendapati ayat ini membiarkannya terbuka. Daftar yang paling dekat berada di ayat-ayat sesudahnya, dan pilihan untuk menarik garis dari satu ayat ke ayat lain tetap milik pembaca.
- Kata karena di awal ayat ini menunjukkan bahwa nasib di 47:1 dan 47:2 mempunyai alasan, dan alasan itu diucapkan terang dalam ayat sesudahnya, tanpa menyerahkannya pada dugaan pembaca. Surah ini mulai dengan akibat, lalu menyebut sebabnya dua ayat kemudian, dan sebab itu ditulis sebagai apa yang diikuti masing-masing golongan. Pembaca yang pernah menerima akibat dari sebuah urusan tanpa penjelasan dapat menengok ayat ini sebagai contoh urutan yang lain, yaitu akibat lebih dulu dan sebab menyusul dengan kata yang jelas. Bila sebab itu datang, apakah pembaca bersedia mendengarnya sampai habis?
- Ayat 47:1 mengenali golongan pertama lewat apa yang dikerjakan, sedangkan 47:3 mengenalinya lewat apa yang diikuti. Mengikuti adalah kata kerja yang dapat diperiksa pada hari-hari biasa, karena apa yang diikuti tampak pada kebiasaan, bacaan, dan keputusan kecil. Pembaca yang hendak mengetahui di pihak mana ayat ini menaruhnya dapat memulai dari kebiasaan yang paling sering diulangnya, lalu bertanya apakah kebiasaan itu menunjuk kepada kebenaran dari Tuhan mereka atau kepada sesuatu yang tidak menyebut asalnya.