يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah, niscaya Dia menolong kalian dan meneguhkan telapak kaki kalian.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواyaa ayyuhaa lladziina aamanuuwahai orang-orang yang beriman
  2. إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْin tanshuruu llaaha yanshurkum wa-yutsabbit aqdaamakumjika kalian menolong Allah, niscaya Dia menolong kalian dan meneguhkan telapak kaki kalian

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. آمَنُواaamanuuberiman
  5. إِنْinjika
  6. تَنْصُرُواtanshuruukalian menolong
  7. اللَّهَllaahaAllah
  8. يَنْصُرْكُمْyanshurkummenolong kalian
  9. وَيُثَبِّتْwa-yutsabbitdan Dia meneguhkan
  10. أَقْدَامَكُمْaqdaamakumkaki kalian

Inti bacaan

Akar ث-ب-ت dan kata (قَدَمٌ, qadamun) muncul bersama di lima ayat Al-Qur'an, yaitu 2:250, 3:147, 8:11, 16:94, dan 47:7.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا, yaa ayyuhaa lladziina aamanuu) yang berarti "wahai orang-orang yang beriman", dan sapaan itu langsung disusul (إِنْ, in) yang berarti "jika". Susunan sapaan dan "jika" itu muncul lima kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:100, 3:149, 8:29, 47:7, dan 49:6. Tiga di antaranya memuat syarat yang berujung pada kerugian atau menuntut kewaspadaan, yaitu menaati segolongan orang yang diberi Kitab di 3:100, menaati orang-orang yang kufur di 3:149, dan datangnya seorang fasik membawa berita di 49:6. Dua lainnya memuat syarat yang berpusat pada Allah, yaitu (تَتَّقُوا اللَّهَ, tattaquu llaaha) yang berarti "kalian bertakwa kepada Allah" di 8:29 dan (تَنْصُرُوا اللَّهَ, tanshuruu llaaha) yang berarti "kalian menolong Allah" di 47:7. Di keduanya jawabannya berupa pemberian, yaitu furqan di 8:29 dan pertolongan serta keteguhan di 47:7.

Kata kerja (تَنْصُرُوا, tanshuruu) berarti "kalian menolong" dan berakar ن-ص-ر. Objeknya (اللَّهَ, llaaha), sehingga Allah menjadi pihak yang ditolong. Susunan serupa ada di 59:8, (وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ, wa-yanshuruuna llaaha) yang berarti "dan menolong Allah", serta di 22:40 dan 57:25, tempat (يَنْصُرُهُ, yanshuruhu) yang berarti "menolong-Nya" menunjuk Allah. Bentuk (إِنْ تَنْصُرُوا, in tanshuruu) yang berarti "jika kalian menolong" hanya ada di 47:7. Terjemahan memakai "menolong" dan tidak memakai "membela", karena kata kerja yang sama dipakai pada kalimat balasan, yaitu (يَنْصُرْكُمْ, yanshurkum) yang berarti "Dia menolong kalian", sehingga satu kata Indonesia dipakai untuk kedua arah.

Akar yang sama berada di syarat dan di balasan, dan ayat lain memperlihatkan pasangan itu dalam dua susunan. Di 22:40, (وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ, wa-la-yanshuranna llaahu man yanshuruhu) yang berarti "dan Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya", pasangannya diulang. Di 3:160, (إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ, in yanshurkumu llaahu) yang berarti "jika Allah menolong kalian", pertolongan Allah menjadi syarat dan balasannya adalah (فَلَا غَالِبَ لَكُمْ, fa-laa ghaaliba lakum) yang berarti "maka tidak ada yang mengalahkan kalian". Ayat 47:7 menaruh pertolongan manusia di bagian syarat, sedangkan 3:160 menaruh pertolongan Allah di bagian syarat.

Kata kerja (وَيُثَبِّتْ, wa-yutsabbit) yang berarti "dan Dia meneguhkan" berakar ث-ب-ت dan disambung dengan wa ke yanshurkum. Menurut morfologi, yutsabbit dan yanshurkum berbentuk sama, sehingga keduanya terbaca sebagai dua akibat dari satu syarat. Objeknya (أَقْدَامَكُمْ, aqdaamakum) yang berarti "telapak kaki kalian" tersusun dari aqdaam, jamak dari (قَدَمٌ, qadamun) yang berarti "telapak kaki", dan akhiran (كُمْ, -kum) yang berarti "kalian". Akar ث-ب-ت dan kata qadam muncul bersama di lima ayat, yaitu 2:250, 3:147, 8:11, 16:94, dan 47:7. Di 2:250 dan 3:147 keduanya berada dalam doa, (وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا, wa-tsabbit aqdaamanaa wa-nshurnaa) yang berarti "dan teguhkanlah telapak kaki kami dan tolonglah kami", sehingga dua hal yang diminta di sana dinyatakan sebagai balasan di 47:7. Urutannya terbalik, sebab doa meminta keteguhan lebih dulu dan 47:7 menyebut pertolongan lebih dulu. Di 8:11, (وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ, wa-yutsabbita bihi l-aqdaama) yang berarti "dan untuk meneguhkan telapak kaki dengannya", Dia yang disebut di 8:10 dengan (اللَّهُ, llaahu) menjadi pelaku yang meneguhkan. Di 16:94, (فَتَزِلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا, fa-tazilla qadamun ba'da tsubuutihaa) yang berarti "maka tergelincirlah telapak kaki sesudah kokoh", keteguhan itu muncul sebagai sesuatu yang bisa hilang.

Tafsiran

Ayat ini mengubah arah pembicaraan surah, dari pihak ketiga ke sapaan langsung, dan menaruh satu syarat di tangan pendengarnya. Ayat 47:4 sampai 47:6 membicarakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, sedangkan 47:7 menyapa orang-orang yang beriman dengan kata kalian. Sesudahnya 47:8 kembali ke pihak ketiga dengan (وَالَّذِينَ كَفَرُوا, wa-lladziina kafaruu) yang berarti "dan orang-orang yang kufur". Ayat 47:7 dengan demikian berdiri di antara dua pihak yang masing-masing menerima balasan, pihak pertama pertolongan dan keteguhan, pihak kedua kecelakaan dan amal yang disesatkan.

Ayat 47:4 sudah memuat ketegangan yang dijawab di sini. Di sana tertulis (وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ, wa-law yasyaa'u llaahu la-ntashara minhum) yang berarti "dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membalas mereka", tetapi tujuannya (لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ, li-yabluwa ba'dhakum bi-ba'dhin) yang berarti "agar Dia menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain". Akar ن-ص-ر yang sama dipakai di 47:4 pada la-ntashara dan di 47:7 pada tanshuruu. Dapat dibaca bahwa 47:7 menyebut pertolongan yang diminta dari pihak yang diuji, sementara 47:4 menyebut bahwa Allah mampu membalas sendiri, tetapi kedua ayat tidak menautkannya secara eksplisit.

Menolong Allah tidak berarti Allah memerlukan pertolongan. Ayat 47:38 dalam surah yang sama menyatakan (وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ, wa-llaahu l-ghaniyyu wa-antumu l-fuqaraa'u) yang berarti "Allahlah Sang Berkecukupan dan kalianlah yang fakir", sehingga bahasa menolong di 47:7 terbaca bersama pernyataan itu. Dalam 47:7 sendiri orang-orang yang beriman tertulis sebagai penerima, sebab mereka ditolong dan telapak kakinya diteguhkan.

Bentuk pertolongan kepada Allah tidak dirinci di ayat ini. Ayat 59:8 menyebut orang-orang fakir yang diusir dari kampung halaman dan harta mereka, lalu menolong Allah dan Rasul-Nya, tetapi ayat itu berbicara tentang kelompok tertentu dan tidak dipakai untuk mengisi 47:7. Ayat 47:7 memberikan sebuah susunan, yaitu syarat di pihak manusia dan dua akibat di pihak Allah.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 47:7 menaruh pertolongan manusia di bagian syarat dan pertolongan Allah di bagian balasan. Ayat 3:160 menyusunnya terbalik, karena di sana pertolongan Allah menjadi syarat dan tidak adanya yang mengalahkan menjadi balasannya. Kedua susunan itu terdapat dalam satu kitab dan tidak saling meniadakan, sebab 3:160 dan 47:7 membicarakan keadaan yang berbeda. Orang yang sedang menunggu pertolongan dapat memperhatikan kalimat mana yang diucapkannya dalam hati, "jika Dia menolong kami" atau "jika kami menolong-Nya". Seberapa sering kalimat yang kedua pernah terlintas sama sekali?
  • Balasan di 47:7 ada dua, yaitu pertolongan dan keteguhan telapak kaki, dan doa di 2:250 serta 3:147 meminta keduanya dengan kata kerja yang sama. Dalam doa itu keteguhan diminta lebih dulu, baru pertolongan. Ayat 47:7 sendiri tidak merumuskan keteguhan sebagai kemenangan yang terlihat, sehingga keduanya ditulis sebagai dua pemberian. Seseorang yang menghadapi tekanan dapat memisahkan dua kebutuhannya, yang satu agar keadaan berubah dan yang lain agar dirinya tetap berdiri selama keadaan itu belum berubah. Mana di antara keduanya yang lebih sering diminta kepada Tuhannya?
  • Ayat 47:7 memakai kata menolong untuk Allah, sedangkan 47:38 menyatakan bahwa Allah Sang Berkecukupan dan orang-orang yang diajak bicara berstatus fakir. Ayat 22:40 menutup kalimat tentang pertolongan kepada-Nya dengan pernyataan bahwa Allah kuat lagi digdaya. Ketiga ayat itu tidak dihubungkan oleh rumusan tersendiri, sehingga menyatukannya adalah pekerjaan pembaca. Seseorang yang membantu Dia, bila ayat-ayat itu dibaca berdampingan, sedang memberi kepada pihak yang tidak kekurangan. Apa yang berubah pada cara seseorang memandang kerjanya bila yang ditolong ternyata tidak memerlukan apa pun?
  • Ayat 57:25 memuat (وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ, wa-li-ya'lama llaahu man yanshuruhu wa-rusulahu bi-l-ghaybi) yang berarti "dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong-Nya dan rasul-rasul-Nya secara gaib". Kata (بِالْغَيْبِ, bi-l-ghaybi) di sana menyebut pertolongan yang tidak tampak. Ayat 47:7 tidak menyebut apakah pertolongan kepada Allah disaksikan orang atau tidak, dan 57:25 menambahkan bahwa sebagian pertolongan itu berada di luar penglihatan. Orang yang bekerja tanpa penonton dapat bertanya, kepada siapa kerjanya ditujukan bila tidak ada yang menyaksikan, dan apakah kerja itu berubah bentuk ketika penontonnya tiba?
  • Sapaan yang disusul "jika" di 47:7 juga membuka 3:149, yang berisi kemungkinan orang-orang beriman dikembalikan ke belakang bila menaati orang-orang yang kufur, dan membuka 8:29, yang berisi furqan bagi yang bertakwa kepada Allah. Sapaannya sama, dan arah syaratnya berlainan. Sapaan di 47:7 tidak menjamin bahwa syaratnya akan dipenuhi, sebab sapaan itu menempatkan pendengarnya pada titik tempat dua arah terbuka. Seseorang yang menyebut dirinya beriman dapat memeriksa syarat mana yang sedang dijalaninya hari ini, dan apakah ia menyadarinya?
  • Ayat 16:94 menyebut telapak kaki yang tergelincir sesudah kokoh, dalam kalimat tentang sumpah yang dijadikan alat penipuan di antara sesama dan tentang menghalangi dari jalan Allah. Keteguhan yang dinyatakan di 47:7 dengan demikian punya padanan yang bisa hilang, dan 16:94 menunjuk dua perbuatan yang menyertai hilangnya. Kedua ayat membicarakan keadaan yang berlainan, sehingga 16:94 tidak dipakai untuk menafsirkan syarat di 47:7. Orang yang merasa sudah kokoh dapat mengamati tempat kakinya berpijak, pada janji-janji yang diucapkannya kepada orang lain atau pada yang diucapkannya kepada dirinya sendiri? Apakah kokohnya berasal dari pijakan itu atau dari Dia yang meneguhkan?