وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ

Dan orang-orang yang kufur, maka kecelakaanlah bagi mereka, dan Dia menyesatkan amal-amal mereka.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْwa-lladziina kafaruu fa-ta'san lahumdan orang-orang yang kufur, maka kecelakaanlah bagi mereka
  2. وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْwa-adhalla a'maalahumdan Dia menyesatkan amal-amal mereka

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  2. كَفَرُواkafaruukufur
  3. فَتَعْسًاfa-ta'sanmaka kecelakaan
  4. لَهُمْlahumbagi mereka
  5. وَأَضَلَّwa-adhalladan lebih sesat
  6. أَعْمَالَهُمْa'maalahumamal-amal mereka

Inti bacaan

Rangkaian (أَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ, adhalla a'maalahum) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 47:1 dan 47:8.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَالَّذِينَ كَفَرُوا, wa-lladziina kafaruu) yang berarti "dan orang-orang yang kufur". Huruf (وَ, wa) yang berarti "dan" menyambungnya dengan 47:7, yang menyapa (الَّذِينَ آمَنُوا, lladziina aamanuu) yang berarti "orang-orang yang beriman", sehingga dua pihak itu berdiri berdampingan dalam dua ayat berurutan. Kata kerja (كَفَرُوا, kafaruu) berakar ك-ف-ر dan berbentuk lampau, dan terjemahan memakai "yang kufur" untuk bentuk ini. Pembukaan itu dipakai di banyak ayat, tetapi hanya di 47:8 pembukaan itu disusul langsung oleh (فَتَعْسًا, fa-ta'san), yaitu fa yang diterjemahkan "maka" dan kata benda yang menyatakan nasib.

Kata (تَعْسًا, ta'san) yang berarti "kecelakaan" berakar ت-ع-س dan berbentuk kata benda. Akar ini tidak dipakai di ayat lain, sehingga arti kata ini tidak dapat diuji dengan pemakaiannya di tempat lain. Padanan "kecelakaan" bersandar pada letaknya di ayat ini, yaitu kata benda tentang nasib yang dijatuhkan atas suatu pihak lewat (لَهُمْ, lahum) yang berarti "bagi mereka". Susunan serupa terdapat di tiga ayat lain, yaitu (فَبُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ, fa-bu'dan li-l-qawmi zh-zhaalimiina) di 23:41, (فَبُعْدًا لِقَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ, fa-bu'dan li-qawmin laa yu'minuuna) di 23:44, dan (فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ, fa-suhqan li-ashaabi s-sa'iiri) di 67:11. Ketiganya memakai fa, kata benda yang berakhiran -an, dan huruf li yang menyebut pihak yang dituju. Di ayat-ayat itu terjemahan memakai "kebinasaanlah" untuk bu'dan dan "jauhlah" untuk suhqan, sehingga ta'san mendapat kata Indonesia sendiri, yaitu "kecelakaan".

Kata (وَأَضَلَّ, wa-adhalla) yang berarti "dan Dia menyesatkan" berakar ض-ل-ل. Menurut morfologi, kata itu kata kerja lampau dengan pelaku tunggal dan memerlukan objek, yaitu (أَعْمَالَهُمْ, a'maalahum) yang berarti "amal-amal mereka", tersusun dari a'maal, jamak dari 'amal, dan akhiran (هُمْ, -hum) yang berarti "mereka". Pelakunya tidak disebut namanya di 47:8. Terjemahan memakai "Dia" karena tiga hal. Ayat 47:7 baru menyebut Allah sebagai pelaku lewat (يَنْصُرْكُمْ, yanshurkum) yang berarti "Dia menolong kalian". Di 47:4 kata kerja dan objek yang sama dinafikan, (فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ, fa-lan yudhilla a'maalahum) yang berarti "maka Dia tidak akan menyesatkan amal-amal mereka", sesudah (اللَّهِ, llaahi) disebut dalam kalimat yang sama. Ayat 47:9 menyebut Allah sebagai pelaku kata kerja berikutnya.

Bentuk lampau kata kerja ini juga dipakai dengan Allah sebagai pelaku yang disebut, yaitu (مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ, man adhalla llaahu) yang berarti "orang yang Allah sesatkan" di 4:88 dan 30:29, serta (وَأَضَلَّهُ اللَّهُ, wa-adhallahu llaahu) yang berarti "dan Allah menyesatkannya" di 45:23. Di 20:79 dan 20:85 pelaku kata kerja itu manusia, sehingga bentuk kata saja tidak menentukan siapa pelakunya. Rangkaian (أَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ, adhalla a'maalahum) muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 47:1 dan 47:8. Di 47:4 kata kerja dan objek yang sama dinafikan bagi orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, sehingga amal-amal itu menjadi objek yang sama dalam tiga kalimat dalam satu surah.

Terjemahan memakai "menyesatkan" dan tidak memakai "menyia-nyiakan", sebab di dua ayat kata ini berdampingan dengan jalan. Di 4:88 kalimat tentang orang yang Allah sesatkan ditutup (فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا, fa-lan tajida lahu sabiilan) yang berarti "maka engkau tidak akan menemukan jalan baginya", dan di 47:1 amal-amal yang disesatkan didahului (سَبِيلِ اللَّهِ, sabiili llaahi) yang berarti "jalan Allah".

Tafsiran

Ayat ini menjawab 47:7 dari arah sebaliknya dan mengulang kalimat pembuka surah. Ayat 47:7 menyebut pihak yang menolong dan menerima pertolongan serta keteguhan, sedangkan 47:8 menyebut pihak yang kufur dan menerima kecelakaan serta amal yang disesatkan. Dua ayat berurutan itu menaruh dua pihak berdampingan, dan masing-masing memuat dua balasan yang dirangkai dengan huruf wa.

Kalimat (أَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ, adhalla a'maalahum) yang membuka surah di 47:1 muncul lagi di sini. Di 47:1 kalimat itu mengikuti dua perbuatan, kufur dan menghalangi dari jalan Allah. Di 47:8 kalimat itu mengikuti satu perbuatan saja, kufur, dan ditambah (فَتَعْسًا لَهُمْ, fa-ta'san lahum) yang berarti "maka kecelakaanlah bagi mereka". Antara kedua kemunculan itu surah menyebut orang-orang yang beriman di 47:2, yang kesalahannya dihapus dan keadaannya diperbaiki, lalu orang-orang yang terbunuh di 47:4 sampai 47:6, lalu sapaan di 47:7. Kalimat yang sama kembali sesudah semua itu, sehingga bagian 47:1 sampai 47:8 terbaca sebagai satu lengkungan yang berawal dan berakhir pada nasib amal orang-orang yang kufur.

Ayat 47:8 menyebut akibat tanpa memuat alasannya. Alasan itu menyusul di 47:9, yang dibuka dengan (ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ, dzaalika bi-annahum) yang berarti "yang demikian itu karena mereka". Susunan akibat lebih dulu dan alasan sesudahnya sudah dipakai di 47:3, tempat alasan pembagian dua pihak ditulis sesudah pembagian itu disebut di 47:1 dan 47:2.

Ayat 47:8 menyebut amal yang kehilangan arah, sedangkan 47:9 memakai kata kerja lain untuk amal yang sama, sehingga akibatnya digambarkan dengan dua kata kerja berurutan. Pembicaraan tentang pihak ini memakai kata mereka dan tidak menyapa, berbeda dari 47:7 yang menyapa dengan kata kalian.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 47:8 menyebut amal yang disesatkan, dan kata sesat di dua ayat lain dekat dengan jalan. Ayat 4:88 menutup kalimat tentang orang yang disesatkan Allah dengan tidak ditemukannya jalan baginya, dan 47:1 menyebut jalan Allah tepat sebelum amal-amal yang disesatkan. Amal yang disesatkan dapat dibayangkan sebagai pekerjaan yang masih berjalan tetapi tidak lagi menuju tempat yang dimaksud. Ayat 47:8 sendiri tidak merinci wujud kehilangan arah itu. Seseorang yang bekerja keras bertahun-tahun dapat bertanya, ke mana pekerjaannya menghadap, dan siapa yang menetapkan arah itu?
  • Ayat 47:7 memuat Dia sebagai pelaku yang menolong dan meneguhkan, dan 47:8 memuat Dia, tanpa nama, sebagai pelaku yang menyesatkan amal. Pelaku yang sama dalam dua ayat berurutan bekerja ke dua arah, tergantung pihak yang dibicarakan, dan ayat-ayat itu tidak memberi rumus untuk menggabungkannya menjadi satu sifat. Gambaran tentang Dia yang tersimpan pada seorang pembaca dapat memuat 47:7 saja, 47:8 saja, atau keduanya. Gambaran mana yang dibawa pembaca ketika membaca ayat tentang pertolongan, dan gambaran mana ketika membaca ayat tentang kecelakaan?
  • Ayat 47:8 menyebut kecelakaan dan amal yang disesatkan, lalu 47:9 menyusul dengan kalimat alasan, "yang demikian itu karena mereka membenci apa yang Allah turunkan". Putusan dan alasannya dipisahkan oleh batas ayat, dan pembaca yang berhenti di batas itu memegang akibat tanpa sebabnya. Seseorang yang menerima kabar buruk tentang orang lain dapat memperhatikan di titik mana pendengarnya berhenti, di putusan atau di alasannya? Dan bila alasan itu baru terbaca belakangan, apakah putusan yang sempat terbentuk dalam pikiran masih sama?
  • Ayat 47:33 menyapa orang-orang yang beriman dengan perintah menaati Allah dan Rasul, lalu (وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ, wa-laa tubthiluu a'maalakum) yang berarti "dan janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian". Dalam surah yang sama amal disebut disesatkan oleh Dia di 47:8 dan dapat dibatalkan oleh pemiliknya sendiri di 47:33, dengan dua kata kerja yang berbeda dan dua pelaku yang berbeda. Kedua ayat tidak menjelaskan bagaimana pembatalan itu terjadi. Seseorang yang menimbang amalnya dapat bertanya, apa yang berada dalam kuasanya atas amal itu dan apa yang tidak, dan apakah keduanya sudah dipisahkan dengan jelas?
  • Ayat 47:3 menandai dua pihak itu lewat apa yang diikuti, yaitu orang-orang yang kufur mengikuti kebatilan dan orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka. Ayat 47:8 hanya menyebut nasib pihak pertama dan berbicara tentang mereka, tidak kepada mereka. Pembaca yang membaca 47:8 sebagai putusan atas orang lain dapat memakai penanda dari 47:3 pada dirinya sendiri. Kebenaran dari Tuhan atau kebatilan, yang manakah yang sedang diikuti dalam urusan yang paling sering dikerjakannya, dan siapa yang dapat memeriksanya selain dirinya?
  • Objek yang sama, amal-amal mereka, berada di dua kalimat yang berlawanan dalam satu surah. Di 47:4 Dia tidak akan menyesatkan amal orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, dan di 47:8 Dia menyesatkan amal orang-orang yang kufur. Kedua ayat tidak memuat daftar perbuatan yang dinilai, sehingga yang tertulis di antara keduanya adalah pihak yang dibicarakan. Apa yang membedakan kedua pihak itu menurut ayat-ayat di sekitarnya, dan dapatkah pembaca menunjuk perbedaan itu pada dirinya sendiri?