ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
Yang demikian itu karena mereka membenci apa yang Allah turunkan, maka Dia menggugurkan amal-amal mereka.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُdzaalika bi-annahum karihuu maa anzala llaahuyang demikian itu karena mereka membenci apa yang Allah turunkan
- فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْfa-ahbatha a'maalahummaka, Dia menggugurkan amal-amal mereka
Terjemahan per kata (8 kata)
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- بِأَنَّهُمْbi-annahumkarena sesungguhnya mereka
- كَرِهُواkarihuumereka membenci
- مَاmaaapa yang
- أَنْزَلَanzalamenurunkan
- اللَّهُllaahuAllah
- فَأَحْبَطَfa-ahbathamaka Dia menggugurkan
- أَعْمَالَهُمْa'maalahumamal-amal mereka
Inti bacaan
Rangkaian (فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ, fa-ahbatha a'maalahum) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 47:9 dan 47:28.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ, dzaalika bi-annahum) yang berarti "yang demikian itu karena mereka". Kata (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "yang demikian itu" menunjuk nasib yang disebut di 47:8, (بِ, bi) yang berarti "karena" membuka sebabnya, dan (أَنَّهُمْ, annahum) yang berarti "sesungguhnya mereka" membuka kalimat sebab itu. Susunan yang sama muncul tiga kali di surah ini, yaitu (ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ, dzaalika bi-annahum) di 47:9 dan 47:26, serta (ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ, dzaalika bi-annahumu) di 47:28. Di 47:28 sebab itu memuat dua kata kerja, yaitu (اتَّبَعُوا, ttaba'uu) yang berarti "mereka mengikuti" dan (كَرِهُوا, karihuu) yang berarti "mereka membenci", lalu ditutup dengan kata kerja yang sama dengan ayat ini.
Kata kerja (كَرِهُوا, karihuu) berakar ك-ر-ه. Bentuk ini, kata kerja lampau untuk banyak orang, muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 9:81, 47:9, 47:26, dan 47:28. Tiga kemunculan di surah ini memakai tiga objek, yaitu (كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ, karihuu maa anzala llaahu) di 47:9, (كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ, karihuu maa nazzala llaahu) di 47:26, dan (وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ, wa-karihuu ridhwaanahu) yang berarti "dan mereka membenci keridaan-Nya" di 47:28. Terjemahan memakai "membenci" karena akar ini berpasangan dengan mencintai di ayat lain. Di 2:216, (وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا, wa-'asaa an takrahuu syay'an) yang berarti "dan boleh jadi kalian membenci sesuatu" dipasangkan dengan (وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا, wa-'asaa an tuhibbuu syay'an) yang berarti "dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu". Di 49:7, (حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ, habbaba ilaykumu l-iimaana) yang berarti "menjadikan kalian cinta pada keimanan" berpasangan dengan (وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ, wa-karraha ilaykumu l-kufra) yang berarti "dan menjadikan kalian benci pada kekufuran". Karena kedua ayat itu menaruh cinta sebagai lawannya, terjemahan tidak memakai "tidak setuju" atau "tidak menerima".
Frasa (مَا أَنْزَلَ اللَّهُ, maa anzala llaahu) yang berarti "apa yang Allah turunkan" juga dipakai sebagai objek kata kerja mengikuti, misalnya (اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ, ttabi'uu maa anzala llaahu) yang berarti "ikutilah apa yang Allah turunkan" di 2:170. Di 47:9 frasa itu menjadi objek kata kerja membenci, sehingga isi yang sama dapat diikuti atau dibenci. Objek kebencian di 47:9 adalah apa yang diturunkan, tidak Allah sendiri, dan di 47:28 objeknya keridaan-Nya. Di 47:26 frasa serupa memakai (نَزَّلَ, nazzala) dan tidak (أَنْزَلَ, anzala), dan kedua kata kerja itu diterjemahkan sama, yaitu "menurunkan".
Kata (فَأَحْبَطَ, fa-ahbatha) yang berarti "maka Dia menggugurkan" tersusun dari (فَ, fa) yang berarti "maka" dan kata kerja (أَحْبَطَ, ahbatha) yang berakar ح-ب-ط. Dengan fa, penggugurannya menjadi akibat dari kebencian. Bentuk persis (فَأَحْبَطَ, fa-ahbatha) muncul tiga kali di dua surah, yaitu di 33:19, 47:9, dan 47:28. Rangkaian (فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ, fa-ahbatha a'maalahum) muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 47:9 dan 47:28. Di 33:19 pelakunya disebut, (فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ, fa-ahbatha llaahu a'maalahum), sehingga Allah menjadi pelaku yang tertulis di sana. Kata kerja yang tidak berobjek, (حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ, habithat a'maaluhum), memuat amal sebagai pelaku dan muncul di 2:217, 3:22, 5:53, 7:147, 9:17, 9:69, dan 18:105. Di 47:9 amal menjadi objek, dan ada pihak yang membuatnya gugur.
Tiga kata kerja berbeda dipakai untuk amal di surah ini, dan terjemahan memberi masing-masing padanan sendiri. Kata (أَضَلَّ, adhalla) berarti "menyesatkan" di 47:1 dan 47:8, kata (أَحْبَطَ, ahbatha) berarti "menggugurkan" di 47:9 dan 47:28 beserta (وَسَيُحْبِطُ, wa-sa-yuhbithu) yang berarti "dan Dia akan menggugurkan" di 47:32, dan kata (تُبْطِلُوا, tubthiluu) berarti "kalian membatalkan" di 47:33. Kata kerja untuk keburukan di 47:2 berbeda lagi, yaitu (كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ, kaffara 'anhum sayyi'aatihim) yang berarti "Dia menghapus keburukan-keburukan mereka". Di 47:2 terjemahan memakai "menghapus" untuk keburukan, dan 47:9 memakai "menggugurkan" untuk amal, sehingga dua kata kerja yang berbeda mendapat dua padanan yang berbeda.
Tafsiran
Ayat ini menyebut sebab bagi akibat yang ditulis satu ayat sebelumnya, dan sebab itu berupa sikap. Kebencian terhadap apa yang diturunkan Allah menjadi alasan amal digugurkan, dan ayat ini tidak mendaftar perbuatan buruk sebagai alasan. Surah ini membuka di 47:1 dengan akibat bagi orang-orang yang kufur dan menghalangi dari jalan Allah, lalu 47:3 menyatakan alasannya sebagai mengikuti kebatilan. Ayat 47:9 menambahkan alasan kedua untuk pihak yang sama, yaitu membenci apa yang diturunkan, dan 47:28 menggabungkan keduanya dalam satu kalimat, yakni mereka mengikuti apa yang membuat Allah murka dan membenci keridaan-Nya, lalu Dia menggugurkan amal mereka.
Urutan 47:8, 47:9, dan 47:10 menaruh akibat lebih dulu, alasan sesudahnya, lalu ajakan melihat. Ayat 47:8 menyebut kecelakaan dan amal yang disesatkan, 47:9 menyebut kebencian sebagai alasan, dan 47:10 mengajak orang berjalan di bumi untuk memperhatikan kesudahan orang-orang sebelum mereka. Dapat dibaca bahwa alasan yang berada di dalam diri, yaitu membenci, diikuti ajakan menengok sesuatu yang dapat dilihat di luar diri. Pembacaan itu bersandar pada urutan ayat, dan 47:9 sendiri tidak mengaitkan kebencian dengan reruntuhan yang disebut di 47:10.
Ayat 47:9 menyebut isi yang dibenci dengan frasa umum, apa yang Allah turunkan, tanpa merinci bagian mana. Di 2:170 frasa yang sama berada dalam seruan agar diikuti, sehingga pembaca menjumpainya sebagai objek ajakan mengikuti dan sebagai objek kebencian dalam dua ayat berbeda. Kedua ayat tidak dihubungkan oleh rumusan tersendiri. Ayat 47:9 menyusun tiga hal berurutan, yaitu sikap terhadap yang diturunkan, kata maka, dan amal yang digugurkan oleh Dia.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 49:7 menyebut cinta pada keimanan dan benci pada kekufuran sebagai sesuatu yang Dia jadikan dalam diri orang-orang yang disapa, dengan kata kerja (حَبَّبَ, habbaba) dan (كَرَّهَ, karraha). Ayat 47:9 menyebut orang-orang yang membenci apa yang diturunkan Allah, dan ayat itu tidak menyebut dari mana kebencian mereka datang. Dua ayat itu membicarakan rasa yang berlawanan arah dan kelompok yang berbeda, sehingga 49:7 tidak dipakai untuk menjelaskan sebab kebencian di 47:9. Seseorang yang mendapati dirinya menyukai atau tidak menyukai isi sebuah bacaan dapat bertanya, dari mana rasa itu datang, dan apakah rasa itu masih sama setelah bacaan itu dibaca sekali lagi dengan tenang?
- Kebencian di 47:9 beralamat pada apa yang diturunkan, dan di 47:28 pada keridaan-Nya. Pada ketiga ayat surah ini yang memuat kata kerja membenci, yaitu 47:9, 47:26, dan 47:28, alamatnya sesuatu yang datang dari Allah dan tidak Allah sendiri. Ayat-ayat itu tidak mengaitkan kebencian itu dengan perbuatan orang lain atau dengan keadaan hidup mereka. Pembaca dapat memeriksa bagian mana dari yang diturunkan Allah yang terasa paling berat, dan apa yang terjadi pada rasa berat itu ketika bagian itu dibaca perlahan sampai selesai? Apakah beratnya berasal dari isi bagian itu atau dari hal lain yang menyertai pembacaannya?
- Rangkaian di 47:9 menaruh kebencian lebih dulu dan penggugurannya sesudahnya, dihubungkan oleh kata maka. Ayat itu tidak menyebut ukuran mutu amal. Ayat 47:9 menulis sikap terhadap apa yang diturunkan Allah dan akibatnya pada amal. Seseorang yang bangga pada pekerjaannya dapat membedakan dua pertanyaan, yaitu seberapa baik pekerjaan itu dikerjakan dan di atas sikap apa pekerjaan itu berdiri. Apakah jawaban atas pertanyaan kedua pernah diperiksa dengan sungguh-sungguh, sementara pertanyaan pertama sudah dijawab berkali-kali?
- Ayat 47:28 menyebut dua hal dalam satu sebab, yaitu mereka mengikuti apa yang membuat Allah murka dan membenci keridaan-Nya, lalu Dia menggugurkan amal mereka. Ayat 47:9 menyebut yang kedua, dan 47:3 menyebut yang pertama dengan rumusan mengikuti kebatilan. Tiga ayat itu menaruh arah ikut dan arah benci sebagai dua sisi yang dapat disebut terpisah maupun bersama. Seseorang dapat membuat dua daftar, apa yang paling dekat diikutinya dan apa yang paling dijauhinya, lalu membacanya berdampingan sebagaimana 47:28 menaruhnya berdampingan. Apakah kedua daftar itu menunjuk ke arah yang sama?
- Ayat 47:26 menyebut sekelompok orang yang berkata kepada mereka yang membenci apa yang diturunkan Allah, "Kami akan mematuhi kalian dalam beberapa urusan", dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah mengetahui rahasia mereka. Ucapan itu membatasi kepatuhan pada sebagian urusan, dan 47:26 sendiri tidak merinci urusan yang mana. Ayat 47:9 dan 47:26 membahas kelompok yang berbeda, yaitu yang membenci dan yang berbicara kepada yang membenci. Seseorang yang pernah menyetujui pihak lain dalam sebagian hal dapat bertanya, siapa yang menentukan batas sebagian itu, dan apakah Dia yang mengetahui rahasia mereka juga mengetahui batas yang ditetapkan sendiri?
- Di 2:217, 3:22, 5:53, 7:147, 9:17, 9:69, dan 18:105 amal mereka gugur sebagai pelaku kata kerja, sedangkan di 47:9 amal itu digugurkan oleh Dia sebagai objek. Dua cara bercerita itu ditulis dalam kitab yang sama untuk amal yang berujung tanpa hasil. Ayat-ayat itu membicarakan kelompok dan keadaan yang berbeda, sehingga tidak ada yang menggantikan yang lain. Orang yang pekerjaannya berujung tanpa hasil dapat memperhatikan kalimat yang terucap dalam benaknya, "pekerjaan itu gugur" atau "pekerjaan itu digugurkan". Apa yang berbeda pada seseorang yang memilih kalimat pertama dibanding kalimat kedua?