أَفَمَنْ كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ
Maka, apakah orang yang berada di atas bukti nyata dari Tuhannya sama dengan orang yang keburukan amalnya dijadikan terasa indah baginya, dan mereka mengikuti hawa nafsu mereka?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَفَمَنْ كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِa-fa-man kaana 'alaa bayyinatin min rabbihimaka, apakah orang yang berada di atas bukti nyata dari Tuhannya
- كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْka-man zuyyina lahu suu'u 'amalihi wa-ttaba'uu ahwaa'ahumsama dengan orang yang keburukan amalnya dijadikan terasa indah baginya, dan mereka mengikuti hawa nafsu mereka
Terjemahan per kata (13 kata)
- أَفَمَنْa-fa-manmaka apakah orang yang
- كَانَkaanaadalah
- عَلَىٰ'alaaatas
- بَيِّنَةٍbayyinatinbukti nyata
- مِنْmindari
- رَبِّهِrabbihiTuhannya
- كَمَنْka-manseperti orang yang
- زُيِّنَzuyyinadihiasi
- لَهُlahubaginya
- سُوءُsuu'ukeburukan
- عَمَلِهِ'amalihiamalnya
- وَاتَّبَعُواwa-ttaba'uudan mereka mengikuti
- أَهْوَاءَهُمْahwaa'ahumkeinginan mereka
Inti bacaan
Susunan a-fa-man kaana 'alaa bayyinatin min rabbihi muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 11:17 dan 47:14.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَفَمَنْ, a-fa-man) yang berarti "maka, apakah orang yang", dan pembandingnya dibuka oleh (كَمَنْ, ka-man) yang berarti "sama dengan orang yang". Pasangan a-fa-man dan ka-man dalam satu ayat ada di 6 ayat, yaitu 3:162, 13:19, 16:17, 28:61, 32:18, dan 47:14, dengan a-fa-mani sebagai kata pertama di 3:162. Contohnya (أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا, a-fa-man kaana mu'minan ka-man kaana faasiqan) di 32:18, yang berarti "maka, apakah orang yang beriman sama dengan orang yang fasik?", dan ayat itu langsung menjawab (لَا يَسْتَوُونَ, laa yastawuuna) yang berarti "mereka tidak sama". Karena jawaban itu, terjemahan memakai "sama dengan" untuk ka-man. Di 47:14 jawaban semacam itu tidak ada dalam ayat, dan kalimat ditutup sebagai pertanyaan.
Orang pertama digambarkan dengan (كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ, kaana 'alaa bayyinatin min rabbihi) yang berarti "berada di atas bukti nyata dari Tuhannya". Kata (بَيِّنَةٍ, bayyinatin) berakar ب-ي-ن, akar yang berhubungan dengan kejelasan. Susunan lengkap (أَفَمَنْ كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ, a-fa-man kaana 'alaa bayyinatin min rabbihi) muncul 2 kali, yaitu di 11:17 dan 47:14. Di 11:17 pertanyaan itu disambung (وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِنْهُ, wa-yatluuhu syaahidun minhu) yang berarti "diikuti oleh saksi dari-Nya", dan ditutup (أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ, ulaa'ika yu'minuuna bihi) yang berarti "mereka itu beriman kepadanya". Di 47:14 bukti itu tidak diperinci. Susunan (عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّ, 'alaa bayyinatin min rabbi) ada di 6 ayat, yaitu 6:57, 11:17, 11:28, 11:63, 11:88, dan 47:14, dan di 6:57 bunyinya (إِنِّي عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي, innii 'alaa bayyinatin min rabbii) yang berarti "sesungguhnya aku berada di atas keterangan yang nyata dari Tuhanku". Sumber bukti itu di semua ayat itu adalah Tuhan.
Orang kedua digambarkan dengan (زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ, zuyyina lahu suu'u 'amalihi) yang berarti "keburukan amalnya dijadikan terasa indah baginya". Kata (زُيِّنَ, zuyyina) berakar ز-ي-ن, dan bentuk zuyyina ini, yang menandai sesuatu dikenakan kepada orang, muncul di 10 ayat, yaitu 2:212, 3:14, 6:122, 9:37, 10:12, 13:33, 35:8, 40:37, 47:14, dan 48:12. Di kesepuluh ayat itu pelaku yang menjadikan indah tidak disebut dalam kalimatnya. Isi yang dijadikan indah beragam, yaitu kehidupan dunia di 2:212, kecintaan pada aneka kesenangan di 3:14, dan apa yang mereka kerjakan di 6:122. Susunan (زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ, zuyyina lahu suu'u 'amalihi) hanya ada di 35:8 dan 47:14. Di 35:8 kalimat itu disambung (فَرَآهُ حَسَنًا, fa-ra'aahu hasanan) yang berarti "sehingga ia memandangnya baik", dan di 40:37 bunyinya (زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ, zuyyina li-fir'awna suu'u 'amalihi) yang berarti "dijadikan terasa indah bagi Firaun keburukan amalnya". Terjemahan memakai "dijadikan terasa indah" di ketiga ayat itu. Kata (سُوءُ, suu'u) yang berarti "keburukan" berakar س-و-ء, dan (عَمَلِهِ, 'amalihi) yang berarti "amalnya" berbentuk tunggal di 35:8, 40:37, dan 47:14, sedangkan 9:37 memakai bentuk jamak (أَعْمَالِهِمْ, a'maalihim).
Kalimat berpindah dari tunggal ke jamak di tengah jalan. Kata (مَنْ, man) dipakai dengan kata ganti tunggal pada lahu dan 'amalihi, lalu (وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ, wa-ttaba'uu ahwaa'ahum) memakai bentuk jamak. Terjemahan mempertahankan pergantian itu, "baginya" lalu "mereka mengikuti". Kata kerja (اتَّبَعُوا, ittaba'uu) yang berarti "mereka mengikuti" ada di pihak yang berbuat, berbeda dengan zuyyina yang dikenakan. Susunan wa-ttaba'uu ahwaa'ahum muncul 3 kali, yaitu di 47:14, 47:16, dan 54:3. Kata (أَهْوَاءَهُمْ, ahwaa'ahum) yang berarti "hawa nafsu mereka" ada di 12 ayat, yaitu 2:120, 2:145, 5:48, 5:49, 13:37, 23:71, 28:50, 30:29, 42:15, 47:14, 47:16, dan 54:3. Dua di antaranya menyebut apa yang tidak dimiliki pengikutnya, yaitu (بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ, bi-ghayri hudan mina llaahi) yang berarti "tanpa petunjuk dari Allah" di 28:50, dan (بِغَيْرِ عِلْمٍ, bi-ghayri 'ilmin) yang berarti "tanpa ilmu" di 30:29. Di 47:14 lawannya adalah bayyinah dari Tuhan, dan kata "bukti nyata" serta "hawa nafsu" ditaruh di dua sisi kalimat yang sama.
Tafsiran
Ayat ini membandingkan dua orang lewat apa yang menjadi dasar masing-masing. Ayat-ayat sebelumnya menyebut pelindung di 47:11, tempat berakhir di 47:12, dan negeri-negeri yang binasa di 47:13. Ayat 47:14 beralih ke dasar yang dipegang tiap orang. Orang pertama berada di atas bukti yang datang dari Tuhannya, sehingga dasarnya diterima dari luar dirinya. Orang kedua digambarkan lewat sesuatu yang dikenakan kepadanya dan sesuatu yang dikerjakannya: keburukan amalnya dijadikan terasa indah, dan mereka mengikuti hawa nafsu. Pelaku yang menjadikannya terasa indah tidak disebut.
Ayat ini berupa pertanyaan yang tidak dijawab di tempatnya, berbeda dengan 32:18 yang menjawab langsung. Pertanyaan itu bersambung ke 47:15, yang dibuka dengan perumpamaan taman dan ditutup dengan (كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ, ka-man huwa khaalidun fii n-naari) yang berarti "sama dengan orang yang kekal dalam api", dengan kata ka-man kedua. Dapat dibaca bahwa 47:14 menyiapkan dua pihak yang dibandingkan, dan 47:15 mengisi gambarannya dengan taman di satu sisi dan api di sisi lain. Pembacaan ini bertumpu pada pengulangan ka-man dan tidak dinyatakan oleh ayat mana pun.
Kalimat wa-ttaba'uu ahwaa'ahum kembali menutup 47:16, dua ayat kemudian. Di 47:16 orang-orang yang mengikuti hawa nafsu digambarkan mendengarkan lalu bertanya apa yang tadi dikatakan. Gambaran semacam itu belum ada di 47:14, yang menyebut dasar yang mereka pakai.
Di 11:17 pertanyaan yang dibuka dengan susunan yang sama berlanjut ke saksi dan kitab sebelumnya, lalu ke pernyataan bahwa mereka beriman kepadanya, dan baru sesudah itu muncul pihak yang kufur dengan api sebagai tempat yang dijanjikan. Di 47:14 pihak kedua langsung hadir sebagai pembanding dalam pertanyaan yang sama, dan ayat itu tidak menuliskan jawabannya.
Renungan dan Hikmah
- Orang pertama berdiri di atas bukti yang disebut datang dari Tuhannya, jadi dasarnya diterima dan tidak dibuat sendiri. Di 6:57 pembicaranya memakai susunan yang sama untuk dirinya, "di atas keterangan yang nyata dari Tuhanku", dan di 47:14 susunan itu dipakai untuk orang ketiga. Pembaca yang menimbang dasar sikapnya dapat bertanya dari mana dasar itu datang: diterima dari luar, atau dirakit dari kecenderungan sendiri. Ayat tidak merinci wujud bukti itu, sehingga pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan menyebut satu benda. Bila sikap yang paling kuat dipertahankan pembaca ditelusuri ke asalnya, apa yang ditemukan di ujung penelusuran itu, bukti dari Tuhan atau kecenderungan sendiri?
- Bentuk zuyyina menaruh rasa indah sebagai sesuatu yang dikenakan pada orang itu, dan 35:8 menambahkan bahwa orang itu lalu memandang keburukan tersebut baik. Dalam sepuluh ayat yang memakai kata kerja ini isi yang dijadikan indah beragam, dan bagi orang kedua isinya keburukan amalnya. Dalam kalimat ini rasa indah berada di sisi orang kedua, dan bukti berada di sisi orang pertama. Pembaca dapat bertanya adakah amal yang selama ini terasa indah baginya tanpa pernah ditimbang dengan bukti dari luar. Ayat tidak menyebut siapa yang menjadikannya indah, dan pembaca tidak perlu mengisinya. Amal mana yang paling terasa indah bagi pembaca dan paling jarang ditimbang?
- Orang kedua digambarkan dengan dua kata kerja yang berlainan: zuyyina, sesuatu yang dikenakan kepadanya, dan ittaba'uu, sesuatu yang dikerjakannya sendiri. Ayat menaruh keduanya berdampingan tanpa memisahkan bagian mana yang menjadi tanggungannya. Pembaca yang menimbang sebuah kekeliruan dapat memperhatikan bahwa teks menyebut dua jenis kata kerja, dan keduanya muncul dalam satu kalimat. Memilih salah satu saja, seluruhnya dikenakan atau seluruhnya dikerjakan, melewatkan separuh kalimat. Dalam kekeliruan terakhir yang pembaca pikirkan, bagian mana yang dikenakan kepadanya dan bagian mana yang dikerjakannya?
- Kalimat menyebut satu orang untuk masing-masing pihak, lalu pihak kedua beralih ke bentuk banyak pada mereka mengikuti hawa nafsu mereka. Perubahan itu dapat ditunjuk di kata ganti, dari lahu dan 'amalihi ke ittaba'uu dan ahwaa'ahum. Cara satu orang menjadi banyak orang tidak diuraikan. Pembaca yang membaca dirinya sebagai satu orang dapat bertanya apakah gambaran di awal kalimat juga berlaku bagi kelompok di akhir kalimat. Pada bagian mana dari kalimat ini pembaca menaruh dirinya, bagian satu orang atau bagian banyak orang?
- Ayat 32:18 mengajukan pertanyaan sejenis dan menjawabnya langsung dengan mereka tidak sama, sedangkan 47:14 berhenti sebagai pertanyaan. Pertanyaan itu bersambung ke 47:15, dan 47:14 sendiri tidak menuliskan jawabannya. Ayat tidak menyebut sisi mana yang ditempati pembaca, dan sumber bukti disebut hanya pada satu sisi, yaitu Tuhan orang pertama. Bila pertanyaan ini ditujukan kepada pembaca pagi ini, gambaran mana dari dua gambaran itu yang terbayang lebih dulu untuk dirinya sendiri?
- Di 28:50 mengikuti hawa nafsu digambarkan sebagai berjalan tanpa petunjuk dari Allah, dan di 30:29 sebagai berjalan tanpa ilmu. Di 47:14 hawa nafsu berhadapan dengan bukti nyata dari Tuhan. Tiga ayat itu menaruh hawa nafsu di samping tiga hal yang berbeda, yaitu petunjuk, ilmu, dan bukti, dan tiap pasangan punya konteks sendiri. Pembaca yang memegang sebuah sikap dapat mencoba menyebut yang mana dari ketiganya yang menopang sikap itu: petunjuk, ilmu, atau bukti. Bila ketiganya tidak bisa disebut, pertanyaan tentang apa yang menopang sikap itu tetap terbuka. Apa yang menopang sikap yang paling dipegang pembaca saat ini?