أَفَمَنْ كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ
Maka, apakah orang yang berada di atas bukti nyata dari Tuhannya sama dengan orang yang keburukan amalnya dijadikan terasa indah baginya, dan mereka mengikuti hawa nafsu mereka?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَفَمَنْ كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِa-fa-man kaana alaa bayyinatin min rabbihimaka, apakah orang yang berada di atas bukti nyata dari Tuhannya
- كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْka-man zuyyina lahu suu'u amalihi wa-ttaba'uu ahwaa'ahumsama dengan orang yang keburukan amalnya dijadikan terasa indah baginya, dan mereka mengikuti hawa nafsu mereka
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar k-w-n, b-y-n, r-b-b, z-y-n, s-w-a, '-m-l, t-b-', h-w-y): a-fa-man kaana alaa bayyinah min rabbihi ka-man zuyyina lahu suu' amalihi wa ttaba'uu ahwaa'ahum diterjemahkan 'orang di atas bukti nyata dari Tuhannya vs yang keburukannya dihias & mengikuti hawa nafsu' (akar b-y-n + akar z-y-n + akar t-b-' + akar h-w-y, bayyinah (bukti nyata) LAWAN hawaa (hawa nafsu): epistemologi terjemahan ini, landasan sejati adalah bukti dari Tuhan, bukan bisikan-nafsu; cf. 11:17, 47:16, 28:50). Selaras.
Aplikasi
Perbandingan tajam 'orang yang berada di atas bukti nyata dari Tuhannya' versus 'orang yang keburukan amalnya dijadikan terasa indah baginya', dua jalur hidup berbeda: berbasis bukti objektif atau mengikuti persepsi subjektif yang terdistorsi.