وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Dia menambah petunjuk bagi mereka dan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًىwa-lladziina htadaw zaadahum hudandan orang-orang yang mendapat petunjuk, Dia menambah petunjuk bagi mereka
  2. وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْwa-aataahum taqwaahumdan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  2. اهْتَدَوْاhtadawmereka mendapat petunjuk
  3. زَادَهُمْzaadahummenambah mereka
  4. هُدًىhudanpetunjuk
  5. وَآتَاهُمْwa-aataahumdan memberi mereka
  6. تَقْوَاهُمْtaqwaahumketakwaan mereka

Inti bacaan

Kata taqwaa dengan akhiran milik hanya dua kali di Al-Qur'an, yaitu (تَقْوَاهُمْ, taqwaahum) di 47:17 dan (وَتَقْوَاهَا, wa-taqwaahaa) di 91:8.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا, wa-lladziina htadaw) yang berarti "dan orang-orang yang mendapat petunjuk". Kata kerja (اهْتَدَوْا, htadaw) berakar ه-د-ي dan muncul dalam bentuk persis ini di empat ayat, yaitu 2:137, 3:20, 19:76, dan 47:17. Terjemahan memakai "mendapat petunjuk" di keempatnya. Di 2:137 dan 3:20 kata kerja itu menyusul sebuah syarat, (فَقَدِ اهْتَدَوْا, fa-qadi htadaw) yang berarti "sungguh mereka telah mendapat petunjuk": jika mereka beriman di 2:137, jika mereka berserah diri di 3:20. Di 19:76 dan 47:17 kata kerja itu menjadi keadaan awal yang kepadanya sesuatu ditambahkan. Rangkaian (الَّذِينَ اهْتَدَوْا, lladziina htadaw) hanya ada di dua ayat terakhir itu.

Rangkaian (زَادَهُمْ هُدًى, zaadahum hudan) yang berarti "menambah petunjuk bagi mereka" hanya muncul di 47:17. Dua ayat lain memuat kata kerja tambah dan petunjuk dalam susunan serupa. Di 18:13 bunyinya (وَزِدْنَاهُمْ هُدًى, wa-zidnaahum hudan) yang berarti "dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka", dan di 19:76 bunyinya (وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى, wa-yaziidu llaahu lladziina htadaw hudan) yang berarti "dan Allah menambah petunjuk kepada orang-orang yang mendapat petunjuk". Pelaku di 18:13 adalah Kami dan di 19:76 adalah Allah, sedangkan di 47:17 pelaku zaadahum tidak disebut namanya. Terjemahan memakai "Dia" karena 19:76 menyebut Allah sebagai pelaku untuk pasangan kata yang sama, dan karena 47:16 menyebut Allah sebagai pelaku tepat sebelumnya. Kata (هُدًى, hudan) tidak memakai kata sandang al-, sehingga terjemahan memakai "petunjuk" tanpa "itu". Awal ayat sudah menyebut kelompoknya, dan akhiran (هُمْ, -hum) pada zaadahum menyebut kelompok yang sama sekali lagi, karena itu terjemahan memakai tanda koma lalu "bagi mereka".

Bentuk (آتَاهُمْ, aataahum) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 9:76, 47:17, 51:16, dan 52:18. Di 9:76 pelakunya Dia, sedangkan di 51:16 dan 52:18 pelakunya tertulis (رَبُّهُمْ, rabbuhum) yang berarti "Tuhan mereka". Di 47:17 pelaku itu tidak disebut, dan terjemahan memakai "menganugerahkan" seperti di 52:18, yaitu pemberian yang datang kepada mereka dari pihak yang lain.

Kata (تَقْوَاهُمْ, taqwaahum) yang berarti "ketakwaan mereka" adalah kata benda berakar و-ق-ي. Kata benda taqwaa hadir di tujuh belas ayat, yaitu 2:197, 2:237, 5:2, 5:8, 7:26, 9:108, 9:109, 20:132, 22:32, 22:37, 47:17, 48:26, 49:3, 58:9, 74:56, 91:8, dan 96:12. Dari tujuh belas ayat itu, dua ayat menempelkan akhiran milik pada kata ini, yaitu (تَقْوَاهُمْ, taqwaahum) di 47:17 dan (وَتَقْوَاهَا, wa-taqwaahaa) di 91:8 yang berarti "dan ketakwaannya". Di 91:8 kata itu didahului kata kerja yang diterjemahkan "mengilhamkan". Akar yang sama dipakai pada (الْمُتَّقُونَ, l-muttaquuna) di 47:15 yang berarti "orang-orang yang bertakwa". Akhiran -hum menjadikan ketakwaan itu tertulis sebagai milik mereka, padahal kata kerja di depannya, (آتَاهُمْ, aataahum), menyebutnya diberikan.

Tafsiran

Ayat ini menaruh satu kelompok di depan, yaitu orang-orang yang telah mendapat petunjuk, lalu mengenakan dua perbuatan kepadanya: penambahan petunjuk, lalu pemberian ketakwaan. Pelaku kedua perbuatan itu tidak disebut namanya di ayat ini, sedangkan keadaan mendapat petunjuk dikatakan tentang orang-orang itu sendiri.

Susunan ini terbalik dibandingkan 47:16. Di 47:16 perbuatan Allah datang lebih dulu, (طَبَعَ, thaba'a), dan perbuatan orang-orang itu datang di akhir, (وَاتَّبَعُوا, wa-ttaba'uu). Di 47:17 perbuatan orang-orang itu, (اهْتَدَوْا, htadaw), datang lebih dulu dan dua perbuatan berikutnya dikerjakan oleh pelaku yang tidak disebut. Kedua ayat menyebut kelompoknya dengan kata yang sejajar, (الَّذِينَ, lladziina) di kalimat penutup 47:16 dan (وَالَّذِينَ, wa-lladziina) di pembuka 47:17.

Ayat ini tidak menyebut syarat apa pun bagi penambahan itu selain bahwa kelompoknya sudah mendapat petunjuk, dan tidak menyebut seberapa banyak tambahannya.

Dalam alur surah, ayat ini terletak dua ayat sesudah 47:15, yang menyebut taman yang dijanjikan kepada (الْمُتَّقُونَ, l-muttaquuna) yang berarti "orang-orang yang bertakwa". Kata ketakwaan di 47:17 satu akar dengan kata itu. Ayat 47:17 tidak menghubungkan keduanya dengan kata sebab, tetapi menaruh ketakwaan sebagai sesuatu yang diberikan kepada kelompok yang sudah mendapat petunjuk. Ayat 47:18 lalu berpindah ke kelompok yang menunggu, dibuka dengan (فَهَلْ يَنْظُرُونَ, fa-hal yanzhuruuna) yang berarti "maka, tidaklah mereka menunggu", tanpa menyebut kelompok yang dimaksud.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 47:17 menyebut kelompok yang sudah mendapat petunjuk, lalu menaruh penambahan di atas petunjuk itu. Ayat tidak menyatakan bahwa petunjuk selesai ketika pertama diterima. Pembaca yang menganggap petunjuk sebagai sesuatu yang cukup diperoleh sekali dapat membaca ayat ini sebagai gambaran lain, yaitu petunjuk yang sudah diterima disusul petunjuk yang ditambahkan. Ayat 19:76 menyebut Allah sebagai pelaku untuk susunan yang sama, dengan konteks yang berbeda, sehingga kedua ayat saling menopang tanpa menjadi satu. Petunjuk apa yang sudah sampai kepada pembaca dan masih diperlakukannya sebagai titik akhir?
  • Dua kata kerja di 47:17 punya pelaku yang tidak disebut namanya, dan pembaca menemukan namanya di ayat lain: 19:76 menyebut Allah untuk pasangan kata tambah dan petunjuk, dan 47:16 menyebut Allah tepat sebelum ayat ini. Pembaca yang mengutip ayat ini sebagai kalimat tanpa pelaku perlu menengok dua tempat itu, supaya pemberian tidak terbaca seperti peristiwa yang terjadi dengan sendirinya. Dalam hal petunjuk yang pernah sampai kepadanya, pembaca dapat bertanya siapa yang dicatatnya sebagai pemberi: dirinya sendiri, keadaan, atau Dia yang disebut di 19:76?
  • Ketakwaan di 47:17 tertulis sebagai ketakwaan mereka, sementara kata kerjanya berarti memberi. Ketakwaan itu dengan demikian tampil sebagai milik yang diberikan. Ayat 22:37 menyebut ketakwaan kalian sebagai sesuatu yang sampai kepada Allah, dan 91:8 memasangkan ketakwaan dengan kata kerja yang berarti mengilhamkan. Tiga ayat itu tidak saling menafsirkan, tetapi dua di antaranya, 47:17 dan 91:8, menaruh ketakwaan sebagai pemberian. Bagian mana dari ketakwaannya yang dianggap pembaca sebagai hasil jerih sendiri, dan bagian mana yang diterimanya begitu saja?
  • Kata kerja tambah tidak berarah tunggal di Al-Qur'an. Di 9:124 surah yang diturunkan menambah iman orang-orang yang beriman, dan di 9:125 surah yang sama menambah kekotoran bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit. Di 47:17 penambahan jatuh pada petunjuk. Ketiga ayat memakai kata kerja yang sama akarnya dengan pelaku dan objek yang berbeda, sehingga pembaca tidak dapat berkata bahwa sesuatu bertambah tanpa menanyakan apa yang bertambah. Ketika kabar baru datang, arah apa yang sedang bertambah pada dirinya: petunjuk, atau sesuatu yang lain?
  • Dua ayat sebelum 47:17, ayat 47:15 menyebut orang-orang bertakwa sebagai penerima janji taman, dan 47:17 menyebut ketakwaan sebagai sesuatu yang Dia anugerahkan kepada orang-orang yang sudah mendapat petunjuk. Kedua kata itu satu akar, tetapi ayat tidak menghubungkannya dengan kata sebab atau syarat. Ayat 2:197 menyebut takwa sebagai bekal terbaik, sehingga pembaca memegang tiga hal berdampingan: janji, bekal, dan pemberian. Apakah pembaca lebih sering memikirkan isi janji, atau memikirkan dari mana bekal untuk menuju janji itu datang?
  • Di antara tiga kata kerja di 47:17, perbuatan pertama, mendapat petunjuk, dikerjakan oleh orang-orang itu sendiri. Dua perbuatan lainnya dikerjakan oleh pelaku yang tidak disebut namanya. Di 47:16 urutannya terbalik: perbuatan Allah lebih dulu, perbuatan mereka di akhir. Pembaca yang membaca kedua ayat itu berurutan melihat dua susunan yang berbeda untuk dua kelompok, dan tidak diberi daftar kegiatan apa pun bagi kelompok kedua selain keadaan sudah mendapat petunjuk. Dalam urusan petunjuk, apa yang sebenarnya dipegang pembaca sebagai miliknya: awal yang sudah diterimanya, atau kelanjutan yang belum dilihatnya?