طَاعَةٌ وَقَوْلٌ مَعْرُوفٌ ۚ فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ
Ketaatan dan tutur kata yang baik; maka, apabila perintah telah ditetapkan, sekiranya mereka benar kepada Allah, niscaya itu lebih baik bagi mereka.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- طَاعَةٌ وَقَوْلٌ مَعْرُوفٌthaa'atun wa-qawlun ma'ruufunketaatan dan tutur kata yang baik
- فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْfa-idzaa 'azama l-amru fa-law shadaquu llaaha la-kaana khayran lahummaka, apabila perintah telah ditetapkan, sekiranya mereka benar kepada Allah, niscaya itu lebih baik bagi mereka
Terjemahan per kata (12 kata)
- طَاعَةٌthaa'atunketaatan
- وَقَوْلٌwa-qawlundan perkataan
- مَعْرُوفٌma'ruufunyang baik
- فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
- عَزَمَ'azamaberketetapan
- الْأَمْرُl-amruurusan
- فَلَوْfa-lawmaka sekiranya
- صَدَقُواshadaquubenar
- اللَّهَllaahaAllah
- لَكَانَla-kaanatentulah
- خَيْرًاkhayrankebaikan
- لَهُمْlahumbagi mereka
Inti bacaan
Kata (طَاعَةٌ, thaa'atun) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 4:81, 24:53, dan 47:21.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (طَاعَةٌ, thaa'atun) yang berarti "ketaatan", kata benda dari akar ط-و-ع. Bentuk ini muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 4:81, 24:53, dan 47:21. Di 4:81 kata itu berada di dalam ucapan, (وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ, wa-yaquuluuna thaa'atun) yang berarti "dan mereka berkata, 'Taat'", lalu ayat itu menuturkan bahwa segolongan dari mereka mengatur pada malam hari hal yang berlainan dengan yang dikatakan. Di 24:53 kata itu berpasangan dengan sifat, (طَاعَةٌ مَعْرُوفَةٌ, thaa'atun ma'ruufatun) yang berarti "ketaatan yang baik", sesudah larangan bersumpah. Di 47:21 kata itu berdiri di awal tanpa kata kerja di depannya, sehingga siapa yang mengucapkannya dan siapa yang menuntutnya tidak tertulis. Ayat sebelumnya ditutup dengan (فَأَوْلَىٰ لَهُمْ, fa-awlaa lahum) yang berarti "maka, lebih pantas bagi mereka". Karena itu 47:21 dapat dibaca sebagai isi dari yang lebih pantas tersebut, dan dapat pula dibaca sebagai ucapan seperti di 4:81. Titik koma sesudah "tutur kata yang baik" menjaga kedua bacaan itu tetap terbuka.
Pasangan (قَوْلٌ مَعْرُوفٌ, qawlun ma'ruufun) yang berarti "tutur kata yang baik" tersusun dari (قَوْلٌ, qawlun) dari akar ق-و-ل dan (مَعْرُوفٌ, ma'ruufun) dari akar ع-ر-ف, akar kata kerja "mengenali". Kata kedua menunjuk sesuatu yang dikenali, dan terjemahan menulis "yang baik" bagi ucapan yang dikenali sebagai patut. Susunan tepat (قَوْلٌ مَعْرُوفٌ, qawlun ma'ruufun) muncul dua kali, yaitu di 2:263 dan 47:21. Bentuk (قَوْلًا مَعْرُوفًا, qawlan ma'ruufan) muncul empat kali, yaitu di 2:235, 4:5, 4:8, dan 33:32, dan di keempatnya ada kata kerja berkata di dekatnya. Di 2:263 pasangan itu berdiri tanpa kata kerja seperti di sini, dan pasangan itu berdekatan dengan (خَيْرٌ, khayrun) yang berarti "lebih baik", sama seperti di 47:21: (قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ, qawlun ma'ruufun wa-maghfiratun khayrun) berarti "perkataan yang baik dan pemberian maaf itu lebih baik".
Kata kerja (عَزَمَ, 'azama) berarti "berketetapan" dan berakar ع-ز-م. Bentuk kata kerjanya muncul empat kali, yaitu di 2:227, 2:235, 3:159, dan 47:21. Di tiga ayat pertama pelakunya orang. Di 2:227 bunyinya (عَزَمُوا الطَّلَاقَ, 'azamuu th-thalaaqa) yang berarti "mereka berketetapan hati untuk menceraikan", di 2:235 (تَعْزِمُوا, ta'zimuu) yang berarti "kalian menetapkan" akad nikah, dan di 3:159 (فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ, fa-idzaa 'azamta fa-tawakkal 'alaa llaahi) yang berarti "apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah". Di 47:21 pelakunya (الْأَمْرُ, l-amru), kata benda yang tidak dapat bertekad. Karena itu terjemahan memakai "perintah telah ditetapkan" dan tidak memakai "bertekad". Susunan (فَإِذَا عَزَمَ, fa-idzaa 'azama) hanya ada di 47:21, dan padanannya dengan orang sebagai pelaku, fa-idzaa 'azamta, hanya ada di 3:159.
Kata (الْأَمْرُ, l-amru) berakar أ-م-ر dan di sini diterjemahkan "perintah", sedangkan bentuk (الْأَمْرِ, l-amri) di 47:26 diterjemahkan "urusan". Kedua padanan dipilih menurut sekitar kalimatnya. Di 47:20 sebuah surah yang jelas maksudnya diturunkan dan (وَذُكِرَ فِيهَا الْقِتَالُ, wa-dzukira fiihaa l-qitaalu) yang berarti "dan di dalamnya disebutkan perang", sehingga yang ditetapkan di 47:21 dibaca sebagai perintah dalam surah itu. Isi perintah itu tidak tercantum di 47:21 sendiri.
Kata kerja (صَدَقُوا, shadaquu) berakar ص-د-ق dan berarti "mereka benar". Bentuk ini muncul lima kali, yaitu di 2:177, 9:43, 29:3, 33:23, dan 47:21. Di 2:177, 9:43, dan 29:3 bentuk itu berdiri sendiri sebagai sebutan orang, (الَّذِينَ صَدَقُوا, lladziina shadaquu) yang berarti "orang-orang yang benar". Di 33:23 kata itu diikuti anak kalimat tentang janji, (صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ, shadaquu maa 'aahadu llaaha 'alayhi) yang berarti "mereka menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah". Susunan (صَدَقُوا اللَّهَ, shadaquu llaaha), dengan Allah langsung sesudah kata kerja, hanya ada di 47:21. Terjemahan "benar kepada Allah" menjaga hubungan langsung itu dan tidak memakai "menepati", sebab ayat ini tidak memuat kata janji.
Bagian terakhir (لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ, la-kaana khayran lahum) yang berarti "niscaya itu lebih baik bagi mereka" muncul lima kali di empat surah, yaitu di 3:110, 4:46, 4:66, 47:21, dan 49:5. Surah 4 memuatnya dua kali. Di empat ayat lain syaratnya diawali (وَلَوْ, wa-law) dan menyebut sebuah perbuatan, antara lain di 4:66 (وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا, wa-law annahum fa'aluu) yang berarti "dan sekiranya mereka melakukan". Di 47:21 syaratnya diawali (فَلَوْ, fa-law) dan perbuatannya ialah benar kepada Allah. Kelima ayat itu diterjemahkan dengan "lebih baik", dan kata "itu" menampung pelaku yang tidak disebut, karena kata kerja (لَكَانَ, la-kaana) hanya berbentuk tunggal tanpa kata benda di sampingnya.
Tafsiran
Ayat ini menaruh ketaatan bersama ucapan yang baik di depan, lalu menunda ujiannya ke kalimat sesudah titik koma, yaitu ketika perintah sudah ditetapkan. Sebelum titik koma tidak ada kata kerja dan tidak ada pelaku. Sesudahnya muncul tiga kata kerja berturut-turut: perintah ditetapkan, mereka benar, dan sesuatu menjadi lebih baik bagi mereka.
Kalimat berandai-andai seperti ini di empat ayat lain berdekatan dengan keterangan tentang apa yang terjadi sebaliknya. Di 3:110 kebanyakan Ahlulkitab disebut fasik. Di 4:46 mereka berkata (سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا, sami'naa wa-'ashaynaa) yang berarti "kami mendengar, tetapi kami membangkang", padahal andaiannya lebih baik bila mereka mengucapkan (سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا, sami'naa wa-atha'naa) yang berarti "kami mendengar dan patuh". Di 4:66 hanya sedikit yang melakukannya. Di 47:21 keterangan semacam itu tidak ada dalam kalimatnya sendiri. Ayat 47:20 di depannya melukiskan orang yang di hatinya ada penyakit memandang dengan pandangan orang yang pingsan, dan ayat 47:22 sesudahnya bertanya tentang kemungkinan berpaling.
Akar ط-و-ع di surah ini muncul pada tiga tempat yang dekat dengan blok ini, dan alamatnya berbeda di tiap tempat. Di 47:21 ketaatan tidak punya alamat. Di 47:26 kata kerjanya (سَنُطِيعُكُمْ, sa-nuthii'ukum) yang berarti "kami akan mematuhi kalian" ditujukan kepada orang-orang yang tidak senang pada apa yang diturunkan Allah, dan di 47:33 perintahnya (أَطِيعُوا اللَّهَ, athii'uu llaaha) yang berarti "taatilah Allah" ditujukan kepada orang-orang beriman dengan Allah dan Rasul sebagai sasaran. Urutan itu memperlihatkan bahwa kata yang sama di surah ini pertama dibiarkan tanpa alamat, lalu diberikan kepada orang-orang yang tidak senang pada apa yang diturunkan Allah, lalu diarahkan kepada Allah dan Rasul.
Kata (لَهُمْ, lahum) di ujung ayat meletakkan kebaikan itu pada mereka sendiri. Ayat ini tidak mengatakan bahwa Allah memperoleh sesuatu dari kebenaran mereka.
Renungan dan Hikmah
- Di 47:21 ketaatan dan tutur kata yang baik disebut lebih dulu, sedangkan ujiannya datang sesudah perintah ditetapkan. Di 4:81 urutan yang sama tampak dari sisi lain: segolongan orang berkata, "Taat", dan ketika keluar dari sisi orang yang disapa ayat itu, sebagian dari mereka mengatur pada malam hari hal yang berlainan dengan yang dikatakan, sementara Allah mencatat apa yang mereka atur itu. Di kedua ayat, ucapan setia mendahului hal yang menguji ucapan itu. Seseorang yang pernah berkata "siap" dalam rapat yang belum menetapkan apa pun dapat mengingat apa yang terjadi pada hari tugasnya benar-benar tiba. Seberapa panjang daftar janjinya yang sudah sampai ke hari seperti itu?
- Ayat 3:159 dan 47:21 sama-sama berbicara tentang saat sesuatu sudah bulat, lalu menyebut Allah. Di 3:159 sesudah tekad bulat, orang yang disapa diminta bertawakal kepada Allah, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. Di 47:21 sesudah perintah ditetapkan, kata yang menyusul ialah benar kepada Allah. Kedua ayat itu ditujukan kepada pihak yang berlainan, sehingga keduanya tidak disamakan. Pembaca dapat membaca keduanya berdampingan dan memperhatikan bahwa kedua ayat menyebut Allah tepat di saat pilihan sudah tidak bisa ditawar. Di titik mana dalam hidupnya sebuah keputusan sudah bulat sementara sikapnya kepada Dia masih menunggu?
- Kata kerja benar memakai Allah sebagai sasaran langsung hanya di 47:21. Di 33:23 sasarannya janji yang diikrarkan kepada Allah, dan di tiga ayat lain orangnya disebut benar tanpa sasaran. Karena itu kebenaran yang diandaikan 47:21 terarah langsung kepada Allah, dan tidak disebut lewat janji atau kesaksian orang lain. Rekan kerja dan atasan dapat puas, dan kepuasan itu tidak ditulis ayat ini sebagai jawaban atas hubungan dengan Tuhan. Pembaca dapat menghitung kepada siapa saja dirinya sudah benar, lalu memperhatikan apakah Allah pernah masuk dalam hitungan itu atau selalu diwakili oleh orang-orang di sekitarnya.
- Ayat 47:21 menaruh kebaikan pada pihak mereka, dan 47:32 menyatakan bahwa orang-orang yang kufur dan menghalangi dari jalan Allah tidak akan memberi mudarat kepada Allah sedikit pun. Dua ayat itu berbeda konteksnya, tetapi pembaca dapat membacanya berdampingan: lebih baik bagi mereka, dan mudarat tidak sampai kepada Allah. Dibaca begitu, ketaatan terdengar sebagai kabar tentang keuntungan pelakunya sendiri dan tidak menyebut jasa yang diserahkan kepada pihak yang memerintah. Seseorang yang selama ini merasa taatnya adalah pemberian dapat bertanya bagaimana rasanya bila taat itu dibaca sebagai hal yang pertama-tama baik untuk dirinya.
- Di 2:263 perkataan yang baik bersama pemberian maaf disebut lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah berkecukupan lagi penahan murka. Di 47:21 pasangan kata yang sama ditaruh di samping ketaatan, lalu diuji oleh perintah yang sudah ditetapkan. Kedua ayat itu membicarakan hal berlainan, sedekah di satu tempat dan perintah di tempat lain, sehingga tidak dicampur. Pembaca dapat mengamati bahwa kata baik di 2:263 berdiri sebagai pemberian, sedangkan di 47:21 kata itu berdiri sebagai pembuka yang belum membuktikan apa-apa. Di antara kata-kata baik yang pernah diucapkannya, manakah yang sudah menjadi pemberian dan manakah yang masih pembuka?
- Bagian awal 47:21 tidak punya kata kerja, jadi siapa yang berkata dan siapa yang berjanji tidak tertulis. Seseorang yang membaca "ketaatan dan tutur kata yang baik" mudah menaruh dirinya di sana, sebab tidak ada nama yang menghalanginya. Ayat 24:53 memuat bentuk yang hampir sama bagi orang yang bersumpah akan berangkat bila diperintah, lalu menutup dengan pernyataan bahwa Allah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan. Ayat 24:53 menyebut orang yang bersumpah, sedangkan 47:21 tidak menyebut siapa pun, sehingga kekosongan itu bisa diisi pembaca dengan dirinya atau dengan orang lain. Siapa yang diisikan ke sana, dan mengapa dipilih yang itu?