أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ
Mereka itu orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Lalu, Dia menulikan dan membutakan penglihatan mereka.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُulaa'ika lladziina la'anahumu llaahumereka itu orang-orang yang dilaknat oleh Allah
- فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْfa-ashammahum wa-a'maa abshaarahumlalu, Dia menulikan dan membutakan penglihatan mereka
Terjemahan per kata (7 kata)
- أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- لَعَنَهُمُla'anahumumelaknat mereka
- اللَّهُllaahuAllah
- فَأَصَمَّهُمْfa-ashammahummaka Dia menulikan mereka
- وَأَعْمَىٰwa-a'maadan lebih buta
- أَبْصَارَهُمْabshaarahumpenglihatan mereka
Inti bacaan
Bentuk (فَأَصَمَّهُمْ, fa-ashammahum) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 47:23.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ, ulaa'ika lladziina la'anahumu llaahu) yang berarti "mereka itu orang-orang yang dilaknat oleh Allah". Kata (أُولَٰئِكَ, ulaa'ika) berarti "mereka itu" dan kembali ke orang ketiga sesudah "kalian" di 47:22. Kata kerja (لَعَنَ, la'ana) berakar ل-ع-ن, dengan Allah sebagai pelaku dan -hum sebagai sasaran. Bentuk (لَعَنَهُمُ, la'anahumu) muncul enam kali di lima surah, yaitu di 2:88, 4:46, 4:52, 9:68, 33:57, dan 47:23. Susunan lengkap (أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ, ulaa'ika lladziina la'anahumu llaahu) muncul dua kali, yaitu di 4:52 dan 47:23. Sesudah kata laknat, ayat-ayat itu menyambung dengan hal yang berlainan. Di 2:88 dan 4:46 sebabnya disebut langsung sesudahnya, (بِكُفْرِهِمْ, bi-kufrihim) yang berarti "karena kekufuran mereka". Di 33:57 waktunya yang disebut, (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ, fii d-dunyaa wa-l-aakhirati) yang berarti "di dunia dan akhirat". Di 4:52 kalimat berikutnya (وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا, wa-man yal'ani llaahu fa-lan tajida lahu nashiiran) yang berarti "dan siapa yang dilaknat Allah, engkau tidak akan mendapati penolong baginya". Di 47:23 kalimat berikutnya menyebut tuli dan buta. Terjemahan "dilaknat oleh Allah" menjaga Allah sebagai pelaku.
Kata kerja (فَأَصَمَّهُمْ, fa-ashammahum) yang berarti "lalu Dia menulikan mereka" tersusun dari awalan (فَ, fa) yang berarti "lalu", kata kerja, dan akhiran -hum yang berarti "mereka". Akarnya ص-م-م. Bentuk (فَأَصَمَّهُمْ, fa-ashammahum) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 47:23. Dari akar yang sama, kata sifat "tuli" muncul dua belas kali di dua belas ayat, antara lain (صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ, shummun bukmun 'umyun) di 2:18 yang berarti "tuli, bisu, buta". Kata kerja bentuk dasar muncul di 5:71, (فَعَمُوا وَصَمُّوا, fa-'amuu wa-shammuu) yang berarti "lalu mereka menjadi buta dan tuli". Di 5:71 mereka sendiri yang menjadi buta dan tuli, dan ayat itu melanjutkan dengan (ثُمَّ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ, tsumma taaba llaahu 'alayhim) yang berarti "kemudian Allah menyambut tobat mereka", lalu (ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا, tsumma 'amuu wa-shammuu) yang berarti "kemudian mereka menjadi buta dan tuli lagi". Di 47:23 ada pelaku yang menulikan, yaitu Allah, dan terjemahan "menulikan" menjaga pelaku itu.
Kata kerja kedua (وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ, wa-a'maa abshaarahum) yang berarti "dan membutakan penglihatan mereka" berakar ع-م-ي. Huruf-huruf (أَعْمَىٰ, a'maa) yang sama menjadi kata sifat "buta" di 17:72, (فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ, fa-huwa fii l-aakhirati a'maa) yang berarti "maka dia di akhirat pun buta". Di 47:23 kata itu diikuti objek (أَبْصَارَهُمْ, abshaarahum), sehingga terbaca sebagai kata kerja "membutakan". Kata kerja pertama mengenai orangnya, yaitu -hum, dan kata kerja kedua mengenai penglihatan mereka. Bentuk (أَبْصَارَهُمْ, abshaarahum) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:20, 6:110, dan 47:23. Di 2:20 bunyinya (يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ, yakhthafu abshaarahum) yang berarti "menyambar penglihatan mereka" dengan kilat sebagai pelaku, dan di 6:110 (وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ, wa-nuqallibu af'idatahum wa-abshaarahum) yang berarti "dan Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka". Di ketiga ayat itu penglihatan mereka menjadi sasaran tindakan pihak lain.
Sambungan antar kata kerja memakai dua huruf berbeda. Kata kerja pertama memakai (فَ, fa) yang berarti "lalu", yaitu urutan sesudah laknat, dan kata kerja kedua memakai (وَ, wa) yang berarti "dan", yaitu tambahan. Terjemahan menaruh "lalu" di depan keduanya agar "menulikan dan membutakan" terbaca sebagai satu rangkaian sesudah laknat. Kata ganti "Dia" di terjemahan menunjuk Allah, pelaku yang disebut di kalimat sebelumnya, karena kedua kata kerja itu berbentuk orang ketiga tunggal laki-laki yang sama.
Ayat 47:23 tidak menjelaskan bagaimana tuli dan buta itu sejalan dengan 47:20, yang menggambarkan mereka (يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ, yanzhuruuna ilayka) yang berarti "memandang kepadamu". Terjemahan tidak menambahkan kata "rohani" atau "batin" pada tuli dan buta, sebab tidak ada kata Arab yang melahirkannya.
Tafsiran
Ayat ini dibuka dengan penunjuk "mereka itu" yang dapat dibaca menunjuk kembali pada orang-orang yang disapa di 47:22, lalu menyebut tiga hal berturut-turut: laknat, tuli, dan buta. Ayat 47:23 tidak menamai orang yang dimaksud, sehingga penyambungnya dengan pertanyaan tentang kerusakan di bumi dan hubungan kekeluargaan hanya berupa penunjuk itu.
Dua perbuatan yang ditanyakan di 47:22 muncul bersama di ayat lain, dan di sana laknat menyusul: (وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ, wa-yaqtha'uuna maa amara llaahu bihi an yuushala wa-yufsiduuna fii l-ardhi) di 13:25 berarti "dan memutuskan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi", lalu disusul (أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ, ulaa'ika lahumu al-la'natu) yang berarti "mereka itu mendapat laknat". Di 13:25 dua perbuatan itu berbentuk pernyataan, dan di 47:22 berbentuk pertanyaan. Kedua ayat menyebut dua perbuatan itu lebih dulu, dengan urutan yang bertukar, lalu penunjuk "mereka itu", lalu laknat. Ayat 47:23 tidak menyatakan bahwa orang yang dilaknat adalah mereka yang sudah melakukan hal di 47:22, sehingga hubungan itu tetap berupa kemungkinan.
Tuli dan buta di 47:23 berada di tengah rangkaian anggota yang disebut surah ini. Ayat 47:16 menuturkan orang yang mendengarkan lalu bertanya apa yang dikatakan tadi, dan menyebut (أُولَٰئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ, ulaa'ika lladziina thaba'a llaahu 'alaa quluubihim) yang berarti "mereka itu orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah". Ayat 47:20 menuturkan orang yang memandang, lalu 47:23 menutup pendengaran dan penglihatan, dan 47:24 beralih ke hati dengan pertanyaan tentang kunci-kuncinya. Urutan pendengaran lalu penglihatan di 47:23 sama dengan urutan mendengarkan di 47:16 dan memandang di 47:20.
Renungan dan Hikmah
- Di surah ini ada orang yang digambarkan mendengarkan, di 47:16, dan orang yang digambarkan memandang, di 47:20, sedangkan 47:23 menutup pendengaran dan penglihatan. Ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa kelompoknya sama. Ayat 47:16 menyebut bahwa mereka mendengarkan, tetapi sesudah keluar dari sisi orang yang disapa mereka bertanya apa yang dikatakan tadi, dan ayat itu menyebut Allah mengunci hati mereka. Ayat 47:20 menyebut bahwa mereka memandang. Ayat-ayat itu karena itu tidak berbicara tentang orang yang tidak pernah datang. Seseorang yang rajin menghadiri majelis dapat bertanya apa yang dibawa pulang dari sana. Apakah yang tertinggal di telinga dan matanya lebih dari pertanyaan seperti yang diucapkan di 47:16?
- Di 5:71 orang menjadi buta dan tuli dengan tindakan mereka sendiri, lalu Allah menyambut tobat mereka, lalu mereka menjadi buta dan tuli lagi. Di 47:23 pelakunya Allah, setelah laknat. Dua ayat itu membicarakan keadaan yang berbeda, dan tidak ada tulisan yang menyamakan orang-orangnya. Namun 5:71 memperlihatkan bahwa di antara satu keadaan buta dan tuli dan keadaan berikutnya, ada tulisan tentang Allah yang menyambut tobat. Pembaca 47:23 dapat menyimpan kedua ayat itu berdampingan tanpa memutuskan salah satunya, dan bertanya bagaimana dirinya membaca kata kemudian di antara dua keadaan itu.
- Ayat 47:23 menaruh laknat lebih dulu, lalu tuli dan buta menyusul sebagai akibat. Urutan itu tidak ditulis terbalik di ayat ini: tuli dan buta tidak disebut sebagai tanda untuk menyimpulkan laknat. Pembaca yang melihat orang lain tidak mendengar nasihat bisa tergoda membalik urutan itu dan menyimpulkan bahwa orang tersebut terlaknat. Di 2:88 orang-orang berkata, "Hati kami tertutup", dan ayat itu menjawab bahwa Allah melaknat mereka karena kekufuran mereka, sehingga penjelasan yang diucapkan orangnya sendiri pun tidak ditulis sebagai sebab. Tuduhan apa yang selama ini disusun dari tanda yang ternyata hanya akibat dari hal lain, dan siapa yang berhak menyusunnya?
- Laknat Allah di 2:88 dan 4:46 disusul sebab yang sama, di 33:57 disusul waktu, di 4:52 disusul tiadanya penolong, dan di 47:23 disusul tuli dan buta. Lima ayat itu menyebut laknat dengan empat jenis kelanjutan, sehingga satu kata tidak membawa satu gambaran saja. Seseorang yang mendengar kata laknat dalam khotbah atau percakapan mungkin sudah memiliki bayangan sendiri tentangnya. Bayangan itu dapat dibandingkan dengan yang tertulis di tiap ayat dan dengan kelanjutan yang tertulis di sana. Dari semua kelanjutan itu, mana yang tertulis di dalam ayat dan mana yang ditambahkan oleh ingatannya sendiri?
- Ayat 47:20 menuturkan orang yang memandang kepada orang yang disapa ayat itu dengan pandangan seperti orang yang pingsan, dan 47:23 menuturkan bahwa Allah membutakan penglihatan mereka. Mata mereka bekerja di 47:20, tetapi penglihatan mereka dibutakan di 47:23, dan ayat-ayat itu tidak menjelaskan bagaimana keduanya bisa sejalan. Pembaca dapat memperhatikan bahwa memandang dan melihat tidak selalu berjalan bersama: mata dapat bergerak di atas sebuah kalimat dan pemiliknya tidak tahu apa yang barusan lewat di sana. Kapan terakhir kali itu terjadi pada pembaca, dan siapa yang menyadarinya lebih dulu?
- Penglihatan mereka disebut dengan tiga pelaku berbeda. Di 2:20 kilat hampir menyambarnya, di 6:110 Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman pada kali pertama, dan di 47:23 Allah membutakannya. Tiap ayat menamai pelakunya sendiri, dan ketiganya tidak dapat dilebur menjadi satu penjelasan. Pembaca yang mencari sebab mengapa seseorang tidak menangkap sesuatu dapat memperhatikan bahwa tiap ayat menamai pelakunya sendiri. Penjelasan mana yang paling sering dipakai pembaca untuk orang lain, dan apakah penjelasan itu tertulis di salah satu dari tiga ayat tersebut?