أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Maka, tidakkah mereka merenungkan Al-Qur'an, ataukah pada hati ada kunci-kuncinya?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَa-fa-laa yatadabbaruuna l-qur'aanamaka, tidakkah mereka merenungkan Al-Qur'an
- أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَاam 'alaa quluubin aqfaaluhaaataukah pada hati ada kunci-kuncinya
Terjemahan per kata (7 kata)
- أَفَلَاa-fa-laamaka tidakkah
- يَتَدَبَّرُونَyatadabbaruunamenadaburi
- الْقُرْآنَl-qur'aanaAl-Qur'an
- أَمْamatau
- عَلَىٰ'alaaatas
- قُلُوبٍquluubinhati
- أَقْفَالُهَاaqfaaluhaakunci-kuncinya
Inti bacaan
Tantangan refleksi penting: 'tidakkah mereka merenungkan Al-Qur'an, ataukah pada hati ada kunci-kuncinya?', perenungan mendalam, bukan sekadar membaca sekilas, menjadi kunci memahami; hati yang tertutup adalah penghalang sesungguhnya, bukan teksnya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini bertanya dua hal sekaligus dalam satu tarikan: mengapa perenungan itu tidak terjadi, dan di mana letak penghalangnya.
Yang ditanyakan bukan bacaannya. Kata kerjanya “menadaburi” (يَتَدَبَّرُونَ, yatadabbaruuna), yaitu menelusuri sampai ke belakang sesuatu. Kitabnya boleh jadi sudah dibaca, bahkan dihafal, dan pertanyaan ini tetap berlaku.
Pertanyaan yang persis sama, kata demi kata, muncul di satu tempat lain (4:82). Di sana yang menyusul adalah alat ujinya, yaitu carilah pertentangan di dalamnya kalau ia bukan dari Allah. Di sini yang menyusul justru penghalangnya. Satu pertanyaan diajukan dua kali: sekali menunjuk apa yang harus diperiksa, sekali menunjuk apa yang membuat orang tak memeriksanya.
Letak penghalang itu disebut dengan tegas. Bukan kitabnya yang terkunci, melainkan hati. Kata “kunci-kuncinya” (أَقْفَالُهَا, aqfaaluhaa) hanya muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Bentuknya jamak, bukan tunggal. Yang menghalangi digambarkan bukan sebagai satu gembok yang bisa dibuka sekali, melainkan beberapa, dan semuanya terpasang di sisi dalam.
Bentuk pertanyaannya rangkap, dan susunan rangkap itu tak terulang. Rangkaian “ataukah pada hati” (أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ, am 'alaa quluubin) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata penghubungnya menyodorkan dua kemungkinan sekaligus: perenungan itu tidak dilakukan, atau ia tidak bisa dilakukan. Yang pertama soal kemauan, yang kedua soal keadaan. Ayat ini tidak memilih salah satunya, dan justru dengan tidak memilih ia menyerahkan pemeriksaan kepada masing-masing pembacanya.
Kata “hati” dipakai dalam bentuk yang tidak menunjuk pemilik tertentu. Bukan hati mereka, bukan hati kalian. Dibiarkan tanpa penunjuk, sehingga pertanyaannya tidak berhenti pada satu kaum yang sedang dibicarakan. Siapa pun yang membacanya berdiri di dalam jangkauan pertanyaan itu.
Letaknya di dalam surah menerangkan beratnya. Ayat sebelumnya (47:23) menyebut orang yang ditulikan pendengarannya dan dibutakan penglihatannya, dan ayat sesudahnya (47:25) menyebut orang yang berbalik ke belakang sesudah petunjuk jelas baginya. Pertanyaan tentang kunci-kunci hati diletakkan tepat di antara keduanya. Yang digambarkan bukan orang yang belum pernah mendengar, melainkan orang yang sudah mendengar dan sesuatu di dalam dirinya menutup jalan masuk berikutnya. Ketiga ayat itu berbicara tentang tahap yang berbeda dari satu keadaan yang sama: indra yang berhenti bekerja, hati yang terkunci, dan langkah yang berbalik arah. Yang disebut lebih dahulu bukan penyebabnya, melainkan akibatnya, dan pertanyaan tentang kunci diletakkan di tengah sebagai satu-satunya bagian yang masih berbentuk pertanyaan, bukan pernyataan.
Tafsiran
Ayat ini bertanya dua kali dalam satu tarikan, dan yang kedua lebih berat daripada yang pertama. Pertanyaan pertama menyoal sebuah perbuatan yang tidak dilakukan. Pertanyaan kedua menyoal kemungkinan bahwa perbuatan itu memang tidak bisa dilakukan lagi. Jarak antara tidak melakukan dan tidak sanggup melakukan itulah isi ayat ini.
Letak penghalangnya disebut dengan cara yang menutup semua pengalihan. Bukan kitabnya yang sulit, bukan bahasanya yang jauh, bukan zamannya yang berbeda. Yang disebut hati. Dan gemboknya disebut dalam bentuk jamak, bukan tunggal, sehingga yang digambarkan bukan satu penghalang yang bisa dibuka sekali lalu selesai, melainkan beberapa lapis yang terpasang bertahap. Sesuatu yang terpasang bertahap biasanya juga terpasang tanpa disadari.
Ada ironi pahit pada pilihan gambaran itu. Gembok dipasang dari sisi dalam oleh pemilik rumahnya sendiri, dan dipasang untuk melindungi. Orang yang menutup hatinya jarang merasa sedang menutup; ia biasanya merasa sedang menjaga. Karena itu keadaan yang digambarkan ayat ini tidak terasa sebagai kehilangan bagi orang yang mengalaminya, dan itulah yang membuatnya sulit disadari dari dalam.
Letak ayat ini di antara dua ayat tetangganya mempertegas maksudnya. Sebelumnya (47:23) disebut orang yang pendengaran dan penglihatannya ditutup; sesudahnya (47:25) disebut orang yang berbalik ke belakang sesudah petunjuk menjadi jelas baginya. Ketiganya berbicara tentang orang yang sudah sampai kepada sesuatu, bukan tentang orang yang belum pernah mendengar. Pertanyaan yang sama pernah diajukan sekali lagi di 4:82, dan di sana yang menyusul adalah alat ujinya. Di sini yang menyusul penghalangnya. Dua pertanyaan yang sama, dan yang membedakan bukan kitabnya melainkan pembacanya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menanyakan perenungannya, bukan bacaannya. Bukan tidak dibaca. Tidak direnungkan. Bentuk pertanyaannya juga bukan pertanyaan yang menunggu keterangan. Ia teguran yang dibungkus pertanyaan, dan bungkus itu membuat pembacanya tidak bisa sekadar menyaksikan orang lain ditegur. Siapa pun yang membaca kalimat ini sedang ditanya.
- Kuncinya disebut ada di hati, bukan di teksnya. Bukan kitabnya terkunci. Hatinya. Memindahkan letak penghalangnya juga memindahkan letak pekerjaannya. Kalau yang terkunci teksnya, yang diperlukan penjelasan dari luar. Kalau yang terkunci hatinya, penjelasan sebanyak apa pun tidak menolong sampai kuncinya dibuka dari dalam.
- Kata kunci disebut jamak. Allah memakai bentuk banyak. Bukan satu gembok. Bentuk banyak itu menerangkan mengapa perubahan jarang terjadi sekaligus. Yang menghalangi bukan satu perkara yang bisa diselesaikan sekali duduk, melainkan beberapa hal yang terpasang di waktu yang berbeda dan masing-masing punya sebabnya sendiri.
- Allah menaruh penghalangnya bukan pada kitab, melainkan pada hati, dan menyebutnya dengan bentuk jamak. Kalau yang menghalangi memang terpasang di sisi dalam, mengapa kita begitu sering mencari sebabnya di luar diri, pada kesibukan, pada bahasa, atau pada zaman? Sebab di luar diri selalu lebih nyaman disebut, karena menyebutnya tidak menuntut kita berbuat apa pun hari ini. Zaman, kesibukan, dan bahasa memang benar-benar menyulitkan, dan tak seorang pun perlu berpura-pura sebaliknya. Yang keliru bukan menyebut ketiganya, melainkan berhenti di situ. Ketiganya menerangkan mengapa pekerjaan ini berat, tetapi tidak satu pun dari ketiganya menerangkan mengapa pekerjaan itu tidak dimulai. Jarak antara berat dan tidak dimulai selalu diisi oleh sesuatu yang lain, dan ayat ini menyebut letaknya di dalam, bukan di sekelilingnya, dan cuma yang di dalam yang bisa kita urus sendiri.
- Kata أَقْفَالُهَا hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran, yaitu di ayat ini. Tidak ada tempat lain yang memakainya, dan karena itu tidak ada ayat pembanding yang bisa dipakai untuk memperlembut gambarannya. Gembok adalah benda yang dipasang dengan sengaja, dibuat untuk menahan, dan biasanya dipasang oleh pemilik ruangannya sendiri. Allah memilih benda itu, bukan debu atau kabut, dan pilihan tersebut menutup pembacaan bahwa keadaan itu terjadi begitu saja tanpa ada yang memasangnya.
- Ayat sebelumnya menyebut mereka dilaknat Allah lalu ditulikan dan dibutakan penglihatannya, dan ayat sesudahnya menyebut orang yang berbalik ke belakang sesudah petunjuk jelas bagi mereka. Jadi pertanyaan di ayat ini berdiri di antara dua keadaan yang sama-sama tertutup. Letaknya menerangkan maksudnya: pertanyaan tentang merenungkan kitab ini bukan pertanyaan tentang cara belajar, melainkan pertanyaan tentang arah hidup seseorang. Yang berhenti merenung tidak berhenti di tempat; ia sedang berbalik.