فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ
Maka, bagaimana apabila para malaikat mewafatkan mereka seraya memukul wajah dan punggung mereka?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُfa-kayfa idzaa tawaffat-humu l-malaa'ikatumaka, bagaimana apabila para malaikat mewafatkan mereka
- يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْyadhribuuna wujuuhahum wa-adbaarahumseraya memukul wajah dan punggung mereka
Terjemahan per kata (7 kata)
- فَكَيْفَfa-kayfamaka bagaimana
- إِذَاidzaaapabila
- تَوَفَّتْهُمُtawaffat-humumewafatkan mereka
- الْمَلَائِكَةُl-malaa'ikatupara malaikat
- يَضْرِبُونَyadhribuunamereka memukul
- وُجُوهَهُمْwujuuhahumwajah mereka
- وَأَدْبَارَهُمْwa-adbaarahumdan punggung mereka
Inti bacaan
Susunan (يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ, yadhribuuna wujuuhahum wa-adbaarahum) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 8:50 dan 47:27.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَكَيْفَ إِذَا, fa-kayfa idzaa) yang berarti "maka, bagaimana apabila". Susunan ini muncul empat kali di tiga surah, yaitu di 3:25, 4:41, 4:62, dan 47:27. Tiga ayat yang lain menyebut peristiwanya dengan kata kerja yang menyatakan perbuatan sudah terjadi, yaitu (جَمَعْنَاهُمْ, jama'naahum) yang berarti "Kami menghimpun mereka" di 3:25, (جِئْنَا, ji'naa) yang berarti "Kami mendatangkan" di 4:41, dan (أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ, ashaabat-hum mushiibatun) yang berarti "musibah menimpa mereka" di 4:62. Di 47:27 kata kerjanya (تَوَفَّتْهُمُ, tawaffat-humu) juga menyatakan perbuatan yang sudah terjadi, dan pelakunya para malaikat. Terjemahan memakai "apabila" untuk idzaa dan menutup ayat dengan tanda tanya karena awal ayatnya bertanya.
Kata (تَوَفَّتْهُمُ, tawaffat-humu) yang berarti "mewafatkan mereka" tersusun dari tawaffat, kata kerja berakar و-ف-ي, dan akhiran -humu yang berarti "mereka". Bentuk persis tawaffat di seluruh Al-Qur'an hanya muncul dua kali, yaitu di 6:61 dan 47:27. Di 6:61 bunyinya (تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا, tawaffat-hu rusulunaa) yang berarti "utusan-utusan Kami mewafatkannya", sedangkan di 47:27 pelakunya (الْمَلَائِكَةُ, l-malaa'ikatu) yang berarti "para malaikat". Akar و-ف-ي dengan malaikat sebagai pelaku muncul di lima ayat pada empat surah, yaitu 4:97, 8:50, 16:28, 16:32, dan 47:27. Di 4:97 bunyinya (تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ, tawaffaahumu l-malaa'ikatu) dan para malaikat berbicara, (قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ, qaaluu fiima kuntum) yang berarti "mereka berkata, 'Dalam keadaan bagaimana kalian?'". Di 16:32, (تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ, tatawaffaahumu l-malaa'ikatu thayyibiina) yang berarti "malaikat mewafatkan mereka dalam keadaan baik", ayat itu disusul ucapan (سَلَامٌ عَلَيْكُمُ, salaamun 'alaykumu) yang berarti "salam atas kalian". Di 47:27 tidak ada satu pun ucapan malaikat yang dicatat, dan ayat berhenti pada pukulan.
Terjemahan memakai "mewafatkan" karena kata Arabnya tidak memuat kata nyawa. Di 4:97, 8:50, 16:28, dan 16:32 akar yang sama diterjemahkan "mencabut nyawa", sedangkan di 32:11, (يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ, yatawaffaakum malaku l-mawti) yang berarti "malaikat maut akan mewafatkan kalian", terjemahannya sama dengan 47:27.
Kata (يَضْرِبُونَ, yadhribuuna) yang berarti "mereka memukul" berakar ض-ر-ب. Bentuk persis ini muncul tiga kali di tiga surah, yaitu di 8:50, 47:27, dan 73:20. Di 73:20, (يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ, yadhribuuna fii l-ardhi) yang berarti "berjalan di bumi", kata kerja itu berarti melakukan perjalanan karena bumi yang menyertainya. Di 8:50 dan 47:27 yang menyertainya adalah bagian tubuh, sehingga artinya memukul. Susunan utuh (يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ, yadhribuuna wujuuhahum wa-adbaarahum) yang berarti "memukul wajah dan punggung mereka" muncul dua kali, yaitu di 8:50 dan 47:27. Di antara tawaffat-humu l-malaa'ikatu dan yadhribuuna tidak ada kata penghubung, sehingga terjemahan memakai "seraya" dan tidak memakai "lalu", yang akan menaruh pukulan sesudah pewafatan.
Kata (وُجُوهَهُمْ, wujuuhahum) yang berarti "wajah mereka" berakar و-ج-ه dan bentuk persisnya muncul tiga kali, yaitu di 8:50, 10:26, dan 47:27. Di 10:26 bunyinya (وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ, wa-laa yarhaqu wujuuhahum qatarun) yang berarti "dan wajah-wajah mereka tidak diliputi debu kelam", dan wajah di sana juga bagian tubuh yang dikenai sesuatu. Terjemahan memakai "wajah" tanpa tambahan.
Kata (وَأَدْبَارَهُمْ, wa-adbaarahum) yang berarti "dan punggung mereka" tersusun dari huruf wa yang berarti "dan", adbaar yang berakar د-ب-ر, dan akhiran -hum yang berarti "mereka". Bentuk (أَدْبَارَهُمْ, adbaarahum) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu di 8:50, 15:65, dan 47:27. Di 15:65 bunyinya (وَاتَّبِعْ أَدْبَارَهُمْ, wa-ttabi' adbaarahum) yang berarti "dan ikutilah mereka dari belakang", sehingga kata yang sama di sana menunjuk letak di belakang dan tidak menunjuk bagian tubuh. Di surah ini akar د-ب-ر ada tiga kali, di 47:24, 47:25, dan 47:27. Di 47:25 bunyinya (عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ, 'alaa adbaarihim) yang berarti "ke belakang", dan terjemahannya berupa arah karena kata itu mengikuti 'alaa. Di 47:27 kata yang sama menjadi benda yang dipukul bersama wajah, sehingga terjemahan memakai "punggung".
Akhiran -hum muncul tiga kali dalam ayat ini, pada tawaffat-humu, wujuuhahum, dan adbaarahum, dan ketiganya menunjuk kelompok yang sama. Ayat ini tidak menyebut nama kelompok itu dan terjemahan tidak menambahkannya.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan pembicaraan dari ucapan rahasia di 47:26 ke akhir hidup kelompok yang dapat dibaca sama dengan di ayat-ayat itu, dan bentuknya satu pertanyaan yang tidak dijawab di ayat itu. Di 47:25 orang-orang itu berbalik ke belakang, di 47:26 mereka menjanjikan kepatuhan dalam beberapa urusan kepada orang-orang yang tidak senang pada apa yang diturunkan Allah, dan di 47:27 yang disebut adalah wajah dan punggung mereka. Punggung sudah muncul di 47:25 sebagai arah yang mereka tuju ketika berbalik, dan di 47:27 punggung itu menerima pukulan bersama wajah. Ayat tidak menyatakan bahwa pukulan itu setimpal dengan perbuatan mereka, tetapi kata yang sama di dua ayat yang berdekatan memungkinkan keduanya dibaca berdampingan.
Gambaran yang sama ada di 8:50, dan ayat sesudahnya menyebut sebabnya: (ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ, dzaalika bi-maa qaddamat aydiikum) yang berarti "yang demikian itu karena apa yang dikedepankan tangan-tangan kalian", disusul (وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ, wa-anna llaaha laysa bi-zhallaamin li-l-'abiidi) yang berarti "dan karena Allah bukanlah penzalim bagi hamba-hamba". Ayat sesudah 47:27 juga dibuka dengan dzaalika, tetapi sebab yang disebutnya berbeda, yaitu mengikuti apa yang membuat Allah murka dan membenci keridaan-Nya. Dua ayat itu dapat dibaca memberi dua sebab untuk gambaran yang sama, dan keduanya terletak sesudah pertanyaan atau pernyataan tentang pukulan, bukan sebelumnya.
Pelaku pukulan di ayat ini adalah para malaikat, dan ayat tidak menyebut siapa yang memberi tugas itu. Di 32:11 malaikat maut disebut (الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ, lladzii wukkila bikum) yang berarti "yang ditugaskan atas kalian", dalam bentuk yang juga tidak menyebut siapa yang menugaskan. Pertanyaan di 47:27 karena itu terbaca sebatas yang tertulis: ada malaikat yang mewafatkan, ada pukulan pada dua sisi tubuh, dan ada orang-orang yang sebelumnya digambarkan berbalik.
Surah ini menyinggung akhir hidup sekali lagi di 47:34, (ثُمَّ مَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ, tsumma maatuu wa-hum kuffaarun) yang berarti "kemudian mereka mati dalam keadaan kufar". Ayat 47:27 melukiskan saat itu lewat apa yang menimpa tubuh dan tidak memakai kata mati, sedangkan 47:34 menyebutnya lewat keadaan orang yang mati dan tidak memakai kata pukul.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 47:27 berakhir pada tanda tanya, dan jawabannya tidak tertulis di ayat itu. Tiga ayat lain yang dibuka dengan susunan yang sama, yaitu 3:25, 4:41, dan 4:62, juga berbentuk pertanyaan. Pendengar pertanyaan semacam itu harus menyusun sendiri gambaran peristiwanya, dan cara menyusunnya memperlihatkan sesuatu tentang diri pendengar. Pembaca dapat memperhatikan apakah gambaran itu dibayangkannya sampai selesai, ditinggalkan di tengah jalan, atau cepat-cepat dicarikan jawaban agar pertanyaannya berakhir. Bagian mana dari gambaran itu yang paling dulu dihindari pembaca, dan apakah pertanyaan ayat ini sebenarnya sudah terjawab dalam hati sebelum ayat berikutnya dibaca?
- Wajah adalah sisi yang dilihat orang lain ketika berhadapan, sedangkan punggung adalah sisi yang sulit dilihat pemiliknya sendiri. Dalam satu kalimat, 47:27 menyebut keduanya, dan 47:26 menutup dengan pernyataan bahwa Allah mengetahui rahasia mereka. Dua ayat itu dapat dibaca berdampingan: ada hal tentang diri yang diperlihatkan kepada orang, ada hal yang disimpan, dan ada pula hal yang tidak terlihat oleh pemiliknya. Pembaca dapat bertanya, bagian dirinya yang mana yang paling sering dirawat di depan orang lain, dan bagian mana yang disimpan dan diketahui Allah, seperti rahasia di 47:26?
- Para malaikat disebut sebagai pelaku pukulan di 47:27, sedangkan 8:51, yang mengikuti gambaran yang sama di 8:50, menyebut bahwa Allah bukanlah penzalim bagi hamba-hamba. Dua ayat itu menyebut dua pihak yang berbeda, yaitu malaikat yang memukul dan Allah yang tidak menzalimi, dan pembaca yang hanya memegang satu ayat dapat membawa pulang gambaran yang timpang. Pembaca dapat menaruh keduanya berdampingan lalu memperhatikan perasaan mana yang muncul lebih dulu, gentar terhadap pukulannya atau tenang karena Dia tidak menzalimi. Bagaimana kedua perasaan itu bertemu di dalam dirinya, dan perasaan mana yang paling lama bertahan?
- Gambaran pukulan hadir lebih dulu di 47:27, lalu ayat berikutnya dibuka dengan dzaalika dan menyebut bahwa Dia menggugurkan amal-amal mereka karena apa yang mereka ikuti. Pembaca yang berhenti di 47:27 membawa gambar tanpa alasan, dan pembaca yang langsung melompat ke 47:28 membawa alasan tanpa gambar. Susunan dua ayat itu menaruh keduanya berurutan. Pembaca dapat memperhatikan dirinya sendiri ketika menerima kabar buruk: akibatnya atau sebabnya yang dicari lebih dulu, dan mengapa urutan itu yang dipilih? Pertanyaan yang sama bisa diajukan pada kabar baik.
- Akar kata kerja yang dipakai untuk para malaikat di 47:27 dipakai juga dengan Allah sebagai pelaku, antara lain di 6:60 dan 39:42. Di 6:60 kata kerja itu bersama (بِاللَّيْلِ, bi-l-layli) yang berarti "pada malam hari", dan di 39:42 kata kerja itu bersama (حِينَ مَوْتِهَا, hiina mawtihaa) yang berarti "pada saat kematiannya", lalu ayat itu menyebut jiwa yang (لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا, lam tamut fii manaamihaa) yang berarti "belum mati ketika ia tidur". Pembaca dapat memperhatikan bahwa akar kata kerja yang di 47:27 menyertai pukulan juga menyertai malam hari dan tidur dalam ayat lain, dengan Allah sebagai pelakunya. Bagaimana malam terbaca bagi pembaca bila tidur dan wafat diketahui memakai akar kata kerja yang sama?
- Ayat 47:19 menyebut dua hal yang Allah ketahui tentang pembaca, yaitu tempat kalian bolak-balik dan tempat kalian tinggal. Gambaran di 47:27 dapat dibaca menempati satu titik dalam perjalanan itu, dan 47:19 tidak menyebut titik tersebut atau menghubungkannya dengan yang ini. Dua frasa di ayat itu menyebut tempat gerak dan tempat tinggal tanpa merinci mana yang dimaksud. Pembaca yang hari ini berpindah dari rumah ke tempat kerja dan kembali dapat bertanya, apakah perjalanan itu dipikirkan sebagai sesuatu yang diketahui Allah, ataukah sebagai urusan sendiri yang tidak disaksikan siapa pun?