أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ

Ataukah orang-orang yang di hatinya ada penyakit mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌam hasiba lladziina fii quluubihim maradhunataukah orang-orang yang di hatinya ada penyakit mengira
  2. أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْan lan yukhrija llaahu adhghaanahumbahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. حَسِبَhasibamengira
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. فِيfiidi
  5. قُلُوبِهِمْquluubihimhati mereka
  6. مَرَضٌmaradhunpenyakit
  7. أَنْanbahwa
  8. لَنْlantidak akan
  9. يُخْرِجَyukhrijamengeluarkan
  10. اللَّهُllaahuAllah
  11. أَضْغَانَهُمْadhghaanahumkedengkian mereka

Inti bacaan

Akar ض-غ-ن, seperti pada (أَضْغَانَهُمْ, adhghaanahum), hanya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 47:29 dan 47:37.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ, am hasiba lladziina fii quluubihim maradhun) yang berarti "ataukah orang-orang yang di hatinya ada penyakit mengira". Kata (أَمْ, am) yang berarti "ataukah" menyambung pertanyaan, dan dalam surah ini kata itu muncul dua kali sebagai penyambung, yaitu di 47:24, (أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا, am 'alaa quluubin aqfaaluhaa) yang berarti "ataukah pada hati ada kunci-kuncinya", dan di 47:29. Kata (حَسِبَ, hasiba) yang berarti "mengira" berakar ح-س-ب, dan bentuk persis ini muncul enam kali di lima surah, yaitu di 18:102, 27:44, 29:2, 29:4, 45:21, dan 47:29. Susunan (أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ, am hasiba lladziina) muncul tiga kali, yaitu di 29:4, 45:21, dan 47:29. Di 29:4, (أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ, am hasiba lladziina ya'maluuna s-sayyi'aati) yang berarti "ataukah orang-orang yang mengerjakan keburukan mengira", dan di 45:21, (أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ, am hasiba lladziina jtarahuu s-sayyi'aati) yang berarti "ataukah orang-orang yang melakukan keburukan mengira". Kedua ayat itu ditutup dengan (سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ, saa'a maa yahkumuuna) yang berarti "betapa buruk apa yang mereka putuskan", sedangkan 47:29 berhenti pada pertanyaan dan tidak memuat penutup semacam itu.

Bagian (الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ, lladziina fii quluubihim maradhun) yang berarti "orang-orang yang di hatinya ada penyakit" muncul delapan kali di enam surah, yaitu di 5:52, 8:49, 9:125, 33:12, 33:60, 47:20, 47:29, dan 74:31. Dua di antaranya ada di surah ini. Di 47:20 bunyinya (رَأَيْتَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ, ra'ayta lladziina fii quluubihim maradhun yanzhuruuna ilayka nazhara l-maghsyiyyi 'alayhi mina l-mawti) yang berarti "engkau melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena kematian". Di 47:20 penyakit itu tampak pada pandangan, dan di 47:29 penyakit itu tampak pada anggapan. Kata (مَرَضٌ, maradhun) yang berarti "penyakit" muncul dua belas kali di sembilan surah, yaitu di 2:10, 5:52, 8:49, 9:125, 22:53, 24:50, 33:12, 33:32, 33:60, 47:20, 47:29, dan 74:31. Di 8:49, 33:12, dan 33:60 kelompok ini disebut sesudah kata orang-orang munafik dengan huruf wa yang berarti "dan", sehingga keduanya ditulis sebagai dua sebutan. Karena itu terjemahan 47:29 tidak menamai kelompok itu dengan sebutan lain dan memakai bunyi Arabnya.

Kata (يُخْرِجَ, yukhrija) yang berarti "mengeluarkan" berakar خ-ر-ج, dan susunan (أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ, an lan yukhrija llaahu adhghaanahum) yang berarti "bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka" hanya muncul di 47:29. Akar yang sama dipakai dengan objek berupa sesuatu yang tersimpan atau ditakuti terungkap di 2:72, 9:64, 27:25, dan 47:37. Di 9:64 bunyinya (مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ, mukhrijun maa tahdzaruuna) yang berarti "mengeluarkan apa yang kalian khawatirkan", di 27:25 (يُخْرِجُ الْخَبْءَ, yukhriju l-khab'a) yang berarti "mengeluarkan yang tersembunyi", dan di 2:72 (مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ, mukhrijun maa kuntum taktumuuna) yang berarti "menyingkapkan apa yang kalian sembunyikan". Terjemahan 47:29 dan 47:37 memakai "menampakkan", sedangkan 9:64 dan 27:25 memakai "mengeluarkan" dan 2:72 memakai "menyingkapkan"; ketiga padanan itu dipakai berdampingan di korpus. Ayat 47:29 tidak menyebut kepada siapa kedengkian itu ditampakkan, dan terjemahan tidak menambahkannya.

Kata (أَضْغَانَهُمْ, adhghaanahum) yang berarti "kedengkian mereka" berakar ض-غ-ن, dan akar ini hanya ada di dua ayat, yaitu 47:29 dan 47:37. Di 47:37 bunyinya (وَيُخْرِجْ أَضْغَانَكُمْ, wa-yukhrij adhghaanakum) yang berarti "dan Dia akan menampakkan kedengkian kalian", dengan kata kerja dan objek yang sama seperti 47:29, yang berbeda hanya akhirannya, yaitu -hum untuk "mereka" dan -kum untuk "kalian". Karena akar ini di seluruh Al-Qur'an hanya ada di dua ayat dalam satu surah, padanan "kedengkian" hanya dapat diperiksa pada dua ayat itu, dan di keduanya terjemahannya sama. Ayat 47:29 tidak menyebut kepada siapa kedengkian itu diarahkan.

Susunan (أَنْ لَنْ, an lan) yang berarti "bahwa ... tidak akan" muncul sebelas kali di sembilan surah, yaitu di 21:87, 22:15, 47:29, 48:12, 64:7, 72:5, 72:7, 72:12, 73:20, 84:14, dan 90:5. Sepuluh dari sebelas itu mengikuti kata kerja yang menyatakan dugaan atau anggapan, yaitu hasiba, zhanna, atau za'ama, dan satu lagi, 73:20, mengikuti kata kerja mengetahui. Kata hasiba sebagai pembuka ada di dua ayat, yaitu 47:29 dan 90:5, dengan bunyi (أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ, a-yahsabu an lan yaqdira 'alayhi ahadun) yang berarti "apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya?" di 90:5. Pelaku kata kerja sesudah an lan adalah Allah di tiga ayat, yaitu 22:15, 47:29, dan 72:7, misalnya (أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا, an lan yab'atsa llaahu ahadan) yang berarti "bahwa Allah tidak akan membangkitkan seorang pun" di 72:7. Di 47:29 penampakan itu yang diduga tidak akan terjadi.

Tafsiran

Ayat ini mengalihkan pandangan dari perbuatan dan sikap di 47:28 ke apa yang tersimpan di hati, lewat pertanyaan tentang sebuah anggapan. Ayat 47:26 menutup dengan pernyataan bahwa Allah mengetahui rahasia mereka, dan 47:29 memakai kata kerja lain, yaitu menampakkan. Mengetahui dan menampakkan adalah dua hal yang berbeda: yang pertama ada pada Allah dan tidak terlihat dari luar, yang kedua mengubah apa yang dapat dilihat orang lain. Pertanyaan di 47:29 menyangkut yang kedua, yaitu anggapan bahwa kedengkian akan tetap berada di dalam.

Dalam surah ini hati dibicarakan lewat dua gambaran. Di 47:16, (طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ, thaba'a llaahu 'alaa quluubihim) yang berarti "Allah mengunci hati mereka", dan 47:24 bertanya apakah pada hati ada kunci-kuncinya. Di 47:20 dan 47:29 hati digambarkan berpenyakit. Dua gambaran itu tidak disamakan oleh ayat mana pun, dan 47:29 tidak menyatakan apakah hati yang berpenyakit adalah hati yang terkunci.

Jawaban atas pertanyaan di 47:29 tidak diberikan di ayat itu. Ayat berikutnya, 47:30, dibuka dengan huruf wa dan menyatakan bahwa seandainya Kami berkehendak, Kami menunjukkan mereka kepadamu, lalu menyebut jalan lain untuk mengenali mereka, yaitu nada bicara. Ayat 47:37 mengulang kata kerja dan objek yang sama, kini untuk "kalian", dengan syarat berupa permintaan harta yang mendesak. Ayat 47:29 sendiri hanya menanyakan anggapan bahwa hal itu tidak akan terjadi.

Renungan dan Hikmah

  • Surah ini memperlihatkan penyakit di hati lewat dua jalan. Di 47:20 penyakit itu tampak pada pandangan orang-orangnya, dan di 47:29 tampak pada sebuah anggapan, yaitu bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka. Dua jalan itu tidak sama mudahnya untuk diamati. Pandangan dapat dilihat orang lain, sedangkan anggapan dikenal hanya oleh pemiliknya. Pembaca dapat memperhatikan sikapnya sendiri terhadap hal-hal yang dianggap tidak akan pernah terlihat orang, dan apakah anggapan semacam itu pernah diperiksa sesering pandangan mata diperhatikan orang lain?
  • Ayat 47:29 menanyakan apa yang dikira orang-orang itu, sedangkan perbuatan mereka sudah dibicarakan di ayat sebelumnya. Pertanyaannya tertuju pada sesuatu yang berada di dalam kepala. Di 29:4 dan 45:21, yang memuat susunan serupa, anggapan seperti itu ditutup dengan penilaian yang tegas, sedangkan di sini ayat berhenti pada tanda tanya. Pembaca dapat bertanya anggapan mana dalam dirinya yang paling jarang dipertanyakan, dan apa yang akan berubah bila anggapan itu diperlakukan sebagai pertanyaan yang belum dijawab?
  • Dalam 47:29, pelaku kata menampakkan adalah Allah, bukan pemilik kedengkian. Ayat ini menaruh penampakan itu di tangan Allah, sehingga menyembunyikan dan menampakkan tidak berada di tangan yang sama. Pembaca dapat membayangkan perasaan tak enak yang sedang disimpannya tentang orang lain, lalu bertanya: bila bukan dirinya yang menentukan kapan perasaan itu muncul, apakah perasaan itu masih pantas disebut rahasia miliknya sendiri?
  • Ayat 47:37 memuat kata yang sama, kedengkian, sesudah ayat yang menyebut bahwa Dia tidak meminta harta-harta kalian: jika Dia memintanya lalu mendesak, kalian kikir, dan Dia akan menampakkan kedengkian kalian. Ayat itu berbicara tentang kemungkinan yang diandaikan dan tidak menyatakan bahwa permintaan itu terjadi. Pembaca dapat meminjam gambarannya untuk saat-saat ketika dirinya diminta waktu, uang, atau tenaga oleh orang lain, lalu memperhatikan perasaan apa yang muncul sebelum menjawab. Perasaan itu mungkin tidak pernah diucapkan, tetapi apakah pernah ditanyakan kepada diri sendiri dari mana asalnya?
  • Surah ini menyebut hati terkunci di 47:16, ketika Allah mengunci hati mereka, dan hati berpenyakit di 47:20 serta 47:29. Kunci menahan sesuatu agar tidak masuk atau keluar, sedangkan penyakit berjalan di dalam dan memengaruhi hal lain. Dua gambaran ini tidak disatukan oleh ayat mana pun. Pembaca yang membaca keduanya berdampingan dapat memilih gambaran mana yang lebih dekat dengan keadaan hatinya, tanpa menyimpulkan bahwa pilihan itu berlaku untuk orang lain. Hati yang terasa tertutup atau hati yang terasa mengganjal: mana yang lebih sering dirasakan?
  • Ayat 47:26 menyebut bahwa Allah mengetahui rahasia mereka, dan 47:29 menanyakan anggapan bahwa Dia tidak akan menampakkan kedengkian mereka. Mengetahui tidak mengubah apa yang terlihat orang lain, sedangkan menampakkan mengubahnya. Pembaca yang merasa tenang karena apa yang disimpannya diketahui Allah saja dapat bertanya apakah ketenangan itu tetap ada bila tahu diganti dengan tampak. Mana yang lebih sulit dihadapi, dikenal tanpa terlihat atau terlihat?