بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
Sesungguhnya Kami telah membukakan bagimu kemenangan yang nyata,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًاinnaa fatahnaa laka fathan mubiinansesungguhnya Kami telah membukakan bagimu kemenangan yang nyata
Terjemahan per kata (5 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- فَتَحْنَاfatahnaaKami membukakan
- لَكَlakabagimu
- فَتْحًاfathankemenangan
- مُبِينًاmubiinanyang nyata
Inti bacaan
Bentuk (فَتْحًا, fathan) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 26:118, 48:1, 48:18, dan 48:27, dan hanya 48:1 yang menyandingkannya dengan (مُبِينًا, mubiinan), "yang nyata".
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا فَتَحْنَا, innaa fatahnaa) yang berarti "sesungguhnya Kami telah membukakan". Kata (إِنَّا, innaa) yang berarti "sesungguhnya Kami" memuat penegas dan pelaku dalam satu kata. Surah yang dimulai dengan kata ini ada empat, yaitu 48:1, 71:1, 97:1, dan 108:1, dan di keempatnya kata kerja yang menyusul berbentuk lampau: (فَتَحْنَا, fatahnaa) yang berarti "Kami membukakan", (أَرْسَلْنَا, arsalnaa) yang berarti "Kami mengutus", (أَنْزَلْنَاهُ, anzalnaahu) yang berarti "Kami menurunkannya", dan (أَعْطَيْنَاكَ, a'thaynaaka) yang berarti "Kami memberimu".
Kata kerja (فَتَحْنَا, fatahnaa) berakar ف-ت-ح. Bentuk ini, sebagian dengan awalan huruf di depannya, muncul enam kali di enam surah, yaitu 6:44, 7:96, 15:14, 23:77, 48:1, dan 54:11. Di empat tempat objeknya pintu, misalnya (فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ, fa-fatahnaa abwaaba s-samaa'i) yang berarti "maka Kami membuka pintu-pintu langit", dan di 7:96 objeknya keberkahan. Akar yang sama dipakai di 35:2 untuk sesuatu yang tidak berwujud pintu, (مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ, maa yaftahi llaahu li-n-naasi min rahmatin) yang berarti "apa saja yang Allah bukakan bagi manusia berupa rahmat", dan penerimanya ditandai dengan huruf lam, seperti pada laka di ayat ini. Terjemahan karena itu memakai "membukakan" dan menandai penerimanya dengan "bagimu". Kata kerja ini tidak diterjemahkan "memberi" atau "menganugerahkan", sebab tidak ada kata Arab di ayat ini yang berarti memberi.
Kata (لَكَ, laka) yang berarti "bagimu" tersusun dari huruf lam yang berarti "bagi" dan akhiran -ka yang berarti "-mu", dan akhiran itu ditujukan kepada satu orang laki-laki. Terjemahan tidak menambahkan nama atau gelar, karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya dan ayat ini sendiri tidak menyebut siapa yang disapa. Akhiran -ka yang sama muncul enam kali dalam tiga ayat pertama surah ini, satu kali di 48:1, empat kali di 48:2, dan satu kali di 48:3, sehingga ketiga ayat itu dapat dibaca sebagai rangkaian yang menyapa orang yang sama. Teksnya sendiri tidak menyatakan hal itu secara tegas.
Kata benda (فَتْحًا, fathan) yang berarti "kemenangan" berakar sama dengan kata kerja di depannya, ف-ت-ح, jadi ayat ini menyebut apa yang dibukakan dengan kata yang seasal dengan pembukaannya. Bentuk persis ini muncul empat kali di dua surah, yaitu 26:118, 48:1, 48:18, dan 48:27. Di 26:118, (فَافْتَحْ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا, fa-ftah baynii wa-baynahum fathan) yang berarti "maka berilah keputusan antara aku dan mereka dengan suatu keputusan", kata ini disertai (بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ, baynii wa-baynahum) yang berarti "antara aku dan mereka". Kata antara juga menyertai akar yang sama di 7:89, (افْتَحْ بَيْنَنَا, ftah baynanaa) yang berarti "berilah keputusan antara kami", dan di 34:26, (يَفْتَحُ بَيْنَنَا, yaftahu baynanaa) yang berarti "memutuskan di antara kita", sehingga di ketiga ayat itu terjemahannya "keputusan" atau "memutuskan". Di 61:13 dan 110:1 akar ini bersanding dengan kata pertolongan, (نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ, nashrun mina llaahi wa-fathun qariibun) yang berarti "pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat" dan (جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ, jaa'a nashru llaahi wa-l-fathu) yang berarti "datang pertolongan Allah dan kemenangan", dan terjemahannya "kemenangan". Ayat 48:1 tidak memuat kata antara, sedangkan kata pertolongan muncul dua ayat sesudahnya di 48:3, sehingga terjemahan memakai "kemenangan". Peristiwa yang dimaksud tidak disebut di ayat ini, dan terjemahan tidak menambahkannya.
Sifat (مُبِينًا, mubiinan) yang berarti "yang nyata" muncul tiga belas kali di empat surah dalam bentuk persis ini, yaitu 4:20, 4:50, 4:91, 4:101, 4:112, 4:119, 4:144, 4:153, 4:174, 17:53, 33:36, 33:58, dan 48:1. Di dua belas ayat yang lain sifat itu menyertai dosa (4:20, 4:50, 4:112, 33:58), musuh (4:101, 17:53), kerugian (4:119), kesesatan (33:36), cahaya, (نُورًا مُبِينًا, nuuran mubiinan) yang berarti "cahaya yang nyata", dan kata (سُلْطَانًا, sulthaanan) di 4:91, 4:144, dan 4:153. Pasangan (فَتْحًا مُبِينًا, fathan mubiinan) yang berarti "kemenangan yang nyata" hanya ada di ayat ini. Terjemahan memakai "nyata" di ketiga belas tempat itu.
Tanda koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 48:2, yang dibuka (لِيَغْفِرَ, li-yaghfira) yang berarti "agar Dia mengampuni".
Tafsiran
Ayat 48:1 memuat satu pernyataan dengan tiga unsur, yaitu pelaku "Kami", penerima "-mu", dan hasil "kemenangan yang nyata", tanpa peristiwa, tempat, atau waktu. Surah 48 tidak dibuka dengan huruf-huruf terpisah, sehingga kata pertamanya sudah berupa kabar tentang sesuatu yang telah terjadi. Kalimat itu belum selesai di sini. Ayat 48:2 dibuka dengan huruf lam yang berarti "agar", dan kata kerja di 48:2 serta 48:3, yaitu mengampuni, menyempurnakan, menunjuki, dan menolong, bergantung pada lam itu. Karena itu 48:1 dapat dibaca sebagai peristiwa, dan dua ayat berikutnya sebagai tujuannya.
Pelaku berganti nama di dalam kalimat yang sama. Di 48:1 pelakunya berbentuk "Kami", sedangkan di 48:2 dan 48:3 pelakunya disebut dengan nama, (وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ, wa-yanshuraka llaahu) yang berarti "dan agar Allah menolongmu", dengan nama itu diletakkan sesudah penerimanya. Dengan susunan itu "Kami" di 48:1 dapat dibaca sebagai Allah, sebab kalimat yang sama menyebut nama-Nya sebagai pelaku di dua ayat berikutnya.
Kemenangan disebut lagi di surah ini dengan sifat lain. Ayat 48:18 menyebutnya (فَتْحًا قَرِيبًا, fathan qariiban) yang berarti "kemenangan yang dekat", sebagai balasan bagi orang-orang mukmin yang berjanji setia di bawah pohon, dan 48:27 memakai (فَتْحًا قَرِيبًا, fathan qariiban) yang sama. Sifat di 48:1 ialah "nyata" dan penerimanya orang yang disapa dengan -ka, sedangkan sifat di 48:18 dan 48:27 ialah "dekat" dan penerimanya di 48:18 ialah "mereka". Teks tidak menyatakan apakah ketiga penyebutan itu satu peristiwa atau lebih.
Tanpa ayat ini, daftar di 48:2 dan 48:3 tidak punya sebab yang ditunjuk. Ampunan, nikmat, petunjuk, dan pertolongan datang di sana sebagai tujuan dari sesuatu yang telah dibukakan, dan ayat 48:1 adalah tempat sesuatu itu disebut.
Renungan dan Hikmah
- Kabar di 48:1 selesai lebih dulu, dan alasan serta tujuannya baru disebut sesudahnya, ketika 48:2 menyebut nama Allah sebagai pelaku. Susunan ini berbeda dari kabar yang disampaikan lengkap dengan sebab dan caranya. Ada selang beberapa ayat antara sesuatu yang telah terjadi dan keterangan tentang untuk apa. Selang itu menyerupai keadaan seseorang yang menerima sesuatu dari tangan lain dan belum tahu maksudnya. Orang itu dapat memilih menunda menerima sampai maksudnya lengkap, atau menerima lebih dulu dan membiarkan maksud itu menyusul. Ayat ini menyusun kabarnya menurut pilihan kedua, karena kata kerjanya sudah lampau sebelum satu pun tujuan disebut. Apa yang biasa dilakukan seseorang pada selang itu, menahan tangannya atau membukanya?
- Sifat "nyata" di 48:1 dipakai juga untuk dosa, musuh, kerugian, dan kesesatan di ayat-ayat lain, jadi kata itu menyatakan seberapa jelas sesuatu terlihat dan tidak menilai baik buruknya. Kemenangan yang nyata berarti kemenangan yang jelas bagi siapa pun yang memandangnya. Sesuatu yang jelas masih dapat terlewat oleh orang yang berjalan di dekatnya, bila yang dicarinya bentuk lain. Pembaca dapat mengingat satu urusan dalam hidupnya yang terbuka tanpa perayaan, misalnya pekerjaan yang lancar atau jalan yang tiba-tiba lapang, lalu bertanya apakah pernah menamainya kemenangan. Seberapa sering sesuatu yang nyata baru dikenali sesudah berlalu?
- Kata kerja di 48:1 berarti membuka, dan di ayat-ayat lain yang dibuka dengan kata kerja ini adalah pintu langit, pintu azab, dan rahmat bagi manusia. Pintu yang dibukakan berbeda dari pintu yang dibuka sendiri, sebab pelakunya pihak lain dan penerimanya mendapati jalan sudah terbuka. Seseorang dapat mengingat satu jalan dalam hidupnya yang terbuka tanpa dirinya mengetuk, misalnya pekerjaan yang datang lewat orang lain atau pertemuan yang tidak direncanakan. Ayat ini memakai bentuk itu bagi orang yang disapa, dengan Allah sebagai yang membuka menurut nama yang disebut di 48:2. Dapatkah seseorang menyebut pintu yang tidak dibukanya sendiri tanpa merasa mengurangi usahanya?
- Ayat 48:1 tidak menyebut peristiwa, tempat, atau waktu kemenangan itu. Pembaca yang menemukan kekosongan seperti ini dapat memperhatikan apa yang dimasukkannya ke dalam kekosongan itu, dan dari mana isian itu datang: dari ayat, dari cerita yang sudah dikenalnya, atau dari keinginannya sendiri. Dua ayat lain di surah yang sama menyifati kemenangan dengan kata "dekat" dan tidak menyatakan apakah semuanya satu peristiwa. Hal yang dibiarkan terbuka oleh teks tetap terbuka ketika dibaca, dan orang yang mengisinya dengan keyakinan penuh sedang berbicara lebih banyak daripada ayat. Dari ketiga sumber isian itu, mana yang paling sering dipakainya?
- Sapaan di 48:1 ditujukan kepada satu orang, dan akhiran itu berulang enam kali sampai 48:3. Pembaca mendengar ucapan yang alamatnya bukan dirinya. Ucapan semacam itu dapat dibaca sebagai milik orang lain yang kebetulan terdengar, atau sebagai kabar tentang cara Allah berurusan dengan orang yang disapa, yang boleh dipelajari tanpa diambil alih. Ayat sendiri tidak menyatakan pembaca sebagai penerima kemenangan ini, dan tidak menutup kemungkinan pembaca mengambil pelajaran darinya. Bagaimana seseorang mendengar kabar baik yang tidak ditujukan kepadanya, dengan ingin tahu atau dengan iri?
- Ayat pertama surah ini berisi pemberitaan tentang perbuatan Allah dan belum memuat satu perintah pun. Orang yang menyampaikan sesuatu kepada orang lain dapat membandingkan urutannya sendiri dengan urutan ini: apakah dibuka dengan apa yang sudah diberikan, atau dengan apa yang diminta. Penerima kabar yang diawali pemberian mendengar sisanya dengan telinga yang sudah menerima sesuatu. Ayat 48:1 tidak menyatakan akibat itu, tetapi susunannya membuat akibat itu mungkin terjadi. Apa yang berubah pada cara seseorang memberi tahu bila pemberitaannya dimulai dari apa yang sudah ada pada penerimanya?