وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang digdaya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًاwa-yanshuraka llaahu nashran 'aziizandan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang digdaya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَيَنْصُرَكَwa-yanshurakadan agar Dia menolongmu
  2. اللَّهُllaahuAllah
  3. نَصْرًاnashranpertolongan
  4. عَزِيزًا'aziizanyang digdaya

Inti bacaan

Bentuk (عَزِيزًا, 'aziizan) muncul tujuh kali di Al-Qur'an, enam kali menyifati Allah (4:56, 4:158, 4:165, 33:25, 48:7, 48:19) dan satu kali, di 48:3, menyifati pertolongan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَيَنْصُرَكَ, wa-yanshuraka) yang berarti "dan menolongmu", tersusun dari huruf wa yang berarti "dan", kata kerja yang berarti "menolong" dan berakar ن-ص-ر, serta akhiran -ka yang berarti "-mu". Bentuk persis ini hanya ada di ayat ini. Huruf wa menyambungnya dengan kata kerja di 48:2, (وَيُتِمَّ, wa-yutimma) yang berarti "dan menyempurnakan" dan (وَيَهْدِيَكَ, wa-yahdiyaka) yang berarti "dan menunjukimu", yang semuanya bergantung pada huruf lam yang berarti "agar" di awal 48:2. Karena itu terjemahan menulis "dan agar Allah menolongmu", dan kata "agar" di sana datang dari lam di 48:2. Pelaku, (اللَّهُ, llaahu) yang berarti "Allah", disebut sesudah penerima -ka, dengan urutan yang sama seperti di 48:2, (لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ, li-yaghfira laka llaahu) yang berarti "agar Allah memberikan ampunan kepadamu".

Kata benda (نَصْرًا, nashran) yang berarti "pertolongan" berakar sama dengan kata kerja di depannya, ن-ص-ر, seperti (فَتْحًا, fathan) yang seakar dengan (فَتَحْنَا, fatahnaa) di 48:1. Bentuk persis ini muncul tiga kali, yaitu di 7:192, 25:19, dan 48:3. Di 7:192 dan 25:19 kata ini berada dalam kalimat yang menyatakan ketidakmampuan, (وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا, wa-laa yastathii'uuna lahum nashran) yang berarti "dan mereka tidak mampu memberi pertolongan kepada mereka" serta (فَمَا تَسْتَطِيعُونَ صَرْفًا وَلَا نَصْرًا, fa-maa tastathii'uuna sharfan wa-laa nashran) yang berarti "maka kalian tidak mampu menolak dan tidak pula menolong". Di 48:3 kata yang sama berada dalam kalimat tentang apa yang Allah lakukan. Di 61:13 dan 110:1 kata benda seakar berdiri bersama sumbernya, (نَصْرُ اللَّهِ, nashru llaahi) yang berarti "pertolongan Allah", sedangkan di 48:3 kata itu menjadi hasil dari sebuah kata kerja dan diberi sifat.

Sifat (عَزِيزًا, 'aziizan) yang berarti "yang digdaya" berakar ع-ز-ز. Bentuk persis ini muncul tujuh kali di tiga surah, yaitu 4:56, 4:158, 4:165, 33:25, 48:3, 48:7, dan 48:19. Di enam tempat yang lain sifat itu menyertai Allah, misalnya (وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا, wa-kaana llaahu 'aziizan hakiiman) yang berarti "dan Allah digdaya lagi penuh hikmah" dan (وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا, wa-kaana llaahu qawiyyan 'aziizan) yang berarti "dan Allah kuat lagi digdaya". Hanya di 48:3 sifat itu menyertai sesuatu selain Allah, yaitu pertolongan. Bentuk dengan kata sandang al-, seperti (وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, wa-huwa l-'aziizu l-hakiimu) yang berarti "dan Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah", diterjemahkan "Sang Digdaya", sedangkan bentuk tanpa kata sandang di ayat ini diterjemahkan "yang digdaya". Terjemahan memakai kata "digdaya" di ketujuh tempat bentuk persis itu.

Tafsiran

Ayat 48:3 menutup deret empat hal yang disebut sebagai tujuan di 48:2 dan 48:3, dan pertolongan menempati urutan terakhir, sesudah ampunan, nikmat, dan petunjuk. Dua ayat lain menyebut pertolongan dan kemenangan bersama, dan keduanya menaruh pertolongan lebih dulu: (نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ, nashrun mina llaahi wa-fathun qariibun) yang berarti "pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat" dan (جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ, jaa'a nashru llaahi wa-l-fathu) yang berarti "datang pertolongan Allah dan kemenangan". Di 48:1 sampai 48:3 urutannya terbalik, dengan kemenangan di ayat pertama dan pertolongan di ayat ketiga. Ayat-ayat itu tidak menyatakan sebab perbedaan urutan, dan setiap penyebutan berdiri dalam kalimatnya sendiri.

Sifat yang diberikan kepada pertolongan di sini diberikan kepada Allah di dua ayat sesudahnya dalam surah yang sama, (وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا, wa-kaana llaahu 'aziizan hakiiman) yang berarti "dan Allah digdaya lagi penuh hikmah" dan (وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا, wa-kaana llaahu 'aziizan hakiiman) yang berarti "dan Allah digdaya lagi penuh hikmah". Kata "digdaya" karena itu muncul tiga kali di surah 48, sekali untuk pertolongan dan dua kali untuk Allah. Pembaca yang membaca ketiganya berurutan mendapati sifat yang sama berpindah dari hasil kepada pelaku, tanpa ayat mana pun menyatakan hubungan itu.

Kalimat yang dibuka di 48:1 berakhir di 48:3. Ayat 48:4 membuka kalimat baru dengan pelaku (هُوَ, huwa) yang berarti "Dialah", dan penerimanya berganti dari satu orang yang disapa dengan -ka menjadi orang-orang mukmin.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 48:3 memberi pertolongan Allah sifat digdaya dan tidak berhenti pada kata pertolongan saja. Seseorang yang berdoa meminta bantuan dapat memperhatikan apakah doanya menyebut besar kebutuhan saja atau juga mutu pertolongan yang diharapkannya. Sifat digdaya menyatakan kekuatan, dan ayat ini tidak menyatakan bahwa pertolongan itu mudah, cepat, atau ringan. Pembaca dapat bertanya apakah sanggup menerima pertolongan yang kuat tetapi tidak datang dalam bentuk yang dibayangkannya, misalnya bantuan yang menuntut perubahan lebih dulu atau yang datang lewat jalan yang tidak dipilih.
  • Dua ayat lain memakai kata pertolongan dalam kalimat yang menyatakan siapa yang tidak mampu memberikannya: satu menyebut mereka tidak mampu memberi pertolongan kepada yang memintanya dan tidak mampu menolong diri sendiri, dan yang lain menyebut ketidakmampuan menolak dan menolong. Ayat 48:3 menaruh kata itu di tangan Allah. Pembaca dapat memeriksa kepada siapa permintaan tolongnya biasa dialamatkan, dan apakah pernah menghitung kemampuan pihak yang dimintai. Hitungan itu tidak diminta oleh ayat ini, tetapi muncul bila ketiga ayat dibaca berdampingan. Kepada siapa terakhir kali pembaca meminta tolong, dan apakah pihak itu mampu memberinya?
  • Pertolongan disebut terakhir, sesudah ampunan, nikmat, dan petunjuk. Seseorang yang sedang menunggu pertolongan dapat menaruhnya di urutan pertama daftar permintaannya, sedangkan ayat ini menyebutnya sebagai hal keempat tanpa menjadikan urutan itu aturan. Pembaca dapat melihat urutan permintaannya sendiri dan bertanya apa yang ditaruhnya di belakang pertolongan, dan apakah tiga hal yang disebut ayat lebih dulu pernah masuk ke dalam daftar itu. Ayat tidak menyatakan bahwa yang disebut pertama lebih penting, tetapi urutan itu menjadi bahan untuk membandingkan cara pembaca menyusun harapan kepada Allah.
  • Ayat ini menyebut pelaku sesudah penerima: kata kerjanya menolong, lalu "-mu", lalu nama Allah. Orang yang mendengar ayat ini tahu lebih dulu bahwa seseorang ditolong, dan baru kemudian tahu siapa yang menolong. Orang yang pernah ditolong dapat mengingat apa yang pertama kali dilihatnya waktu itu, pertolongannya sendiri atau pihak yang datang membantu. Perhatian yang berhenti pada pertolongan membuat pemberinya tidak dikenal, sedangkan perhatian yang langsung menuju pemberi dapat melewatkan apa yang sebenarnya diterima. Ayat ini memuat keduanya dalam satu kalimat pendek dan menaruh nama Allah di bagian akhir. Siapa yang pertama dikenang dalam pertolongan terakhir yang pembaca terima?
  • Kata digdaya dipakai untuk pertolongan di 48:3, lalu untuk Allah di 48:7 dan 48:19. Pembaca yang sedang menilai pertolongan yang diterimanya dapat bertanya apa yang ditunjukkan mutu pertolongan itu tentang pihak yang menolong. Ayat-ayat itu tidak mengaitkan keduanya secara tegas, tetapi kata yang sama di tiga tempat dalam satu surah mengundang pertanyaan itu. Pertolongan yang kecil dan tidak terlihat pun dapat diperiksa dengan cara ini: dari mana datangnya, dan siapa yang ditunjuknya?
  • Urutan kemenangan dan pertolongan di 48:1 sampai 48:3 berbeda dari urutan di dua ayat lain yang menyebut keduanya, dan teks tidak menyatakan sebabnya. Pembaca yang membayangkan satu urutan baku antara pertolongan dan hasil mendapati teks tidak memakai urutan yang seragam, sehingga keduanya tidak dapat dijadikan jadwal. Orang yang menunggu pertolongan sebelum bergerak, atau yang bergerak lebih dulu dan menunggu pertolongan datang kemudian, dapat bertanya urutan mana yang sedang dipegangnya dan dari mana urutan itu diperolehnya. Apakah berasal dari ayat, atau dari pengalaman yang kebetulan berulang?