هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin agar mereka bertambah keimanan bersama keimanan mereka. Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi, dan Allah berilmu lagi penuh hikmah.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْhuwa lladzii anzala s-sakiinata fii quluubi l-mu'miniina li-yazdaaduu iimaanan ma'a iimaanihimDialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin agar mereka bertambah keimanan bersama keimanan mereka
  2. وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِwa-li-llaahi junuudu s-samaawaati wa-l-ardhimilik Allahlah bala tentara langit dan bumi
  3. وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًاwa-kaana llaahu 'aliiman hakiimandan Allah berilmu lagi penuh hikmah

Terjemahan per kata (19 kata)

  1. هُوَhuwaDialah
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. أَنْزَلَanzalamenurunkan
  4. السَّكِينَةَs-sakiinataketenangan
  5. فِيfiike dalam
  6. قُلُوبِquluubihati
  7. الْمُؤْمِنِينَl-mu'miniinaorang-orang beriman
  8. لِيَزْدَادُواli-yazdaaduuagar mereka bertambah
  9. إِيمَانًاiimaanankeimanan
  10. مَعَma'abersama
  11. إِيمَانِهِمْiimaanihimiman mereka
  12. وَلِلَّهِwa-li-llaahidan milik Allah
  13. جُنُودُjunuudubala tentara
  14. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  15. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  16. وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
  17. اللَّهُllaahuAllah
  18. عَلِيمًا'aliimanberilmu
  19. حَكِيمًاhakiimanpenuh hikmah

Inti bacaan

Frasa (وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-li-llaahi junuudu s-samaawaati wa-l-ardhi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 48:4 dan 48:7.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ, huwa lladzii anzala) yang berarti "Dialah yang telah menurunkan". Pola (هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ, huwa lladzii anzala) muncul lima kali, yaitu di 3:7, 6:99, 6:114, 16:10, dan 48:4. Di dua ayat objeknya kitab, seperti (أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ, anzala 'alayka l-kitaaba) yang berarti "menurunkan Kitab kepadamu", dan di dua ayat lain air dari langit, seperti (أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً, anzala mina s-samaa'i maa'an) yang berarti "menurunkan air dari langit". Di 48:4 objeknya ketenangan.

Kata (السَّكِينَةَ, s-sakiinata) yang berarti "ketenangan" berakar س-ك-ن. Kata bendanya muncul enam kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:248, 9:26, 9:40, 48:4, 48:18, dan 48:26, jadi tiga kali di surah 48. Kata kerja menurunkan memakainya sebagai objek di lima ayat, yaitu 9:26, 9:40, 48:4, 48:18, dan 48:26, sedangkan di 2:248 kata ini disebut berasal dari Tuhan tanpa kata kerja menurunkan, dalam (سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ, sakiinatun min rabbikum) yang berarti "ketenangan dari Tuhan kalian". Di empat dari lima ayat itu penerima ketenangan ditandai dengan huruf yang berarti "atas" atau "kepada", seperti (سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ, sakiinatahu 'alaa rasuulihi wa-'alaa l-mu'miniina) yang berarti "ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin" dan (فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ, fa-anzala s-sakiinata 'alayhim) yang berarti "lalu Dia menurunkan ketenangan kepada mereka". Ayat 48:4 menandai tujuannya dengan kata yang berarti "di dalam", dalam (السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ, s-sakiinata fii quluubi l-mu'miniina) yang berarti "ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin", berbeda dari keempat ayat tadi. Iman disebut ditaruh di hati dengan cara lain di 49:7, (وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ, wa-zayyanahu fii quluubikum) yang berarti "dan menjadikannya indah dalam hati kalian".

Kata (لِيَزْدَادُوا, li-yazdaaduu) yang berarti "agar mereka bertambah" tersusun dari huruf lam yang berarti "agar" dan kata kerja yang berarti menjadi bertambah, berakar ز-ي-د. Bentuk persis ini muncul dua kali, yaitu di 3:178 dan 48:4. Di 3:178 bunyinya (لِيَزْدَادُوا إِثْمًا, li-yazdaaduu itsman) yang berarti "agar mereka bertambah dosa", dan di 48:4 (لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا, li-yazdaaduu iimaanan) yang berarti "agar mereka bertambah keimanan". Kata kerja yang sama dipakai dengan dua kata benda yang bertentangan. Kata kerja akar ini dengan penjelas kata benda ada juga di 3:90 dan 4:137, dengan kekufuran, (ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا, tsumma zdaaduu kufran) yang berarti "kemudian bertambah kekufurannya", dan di 74:31, (وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا, wa-yazdaada lladziina aamanuu iimaanan) yang berarti "dan orang-orang yang beriman bertambah imannya". Frasa (إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ, iimaanan ma'a iimaanihim) berarti "keimanan bersama keimanan mereka", dengan kata (مَعَ, ma'a) diterjemahkan "bersama". Keimanan yang bertambah itu disebut menyertai keimanan yang sudah ada, tanpa menyatakan seberapa besar keimanan yang sudah ada itu.

Kata (جُنُودُ, junuudu) yang berarti "bala tentara" berbentuk jamak. Frasa (وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-li-llaahi junuudu s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "milik Allahlah bala tentara langit dan bumi" muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 48:4 dan 48:7. Ketenangan dan bala tentara disebut dalam satu ayat di tiga tempat, yaitu 9:26, 9:40, dan 48:4. Di 9:26 bunyinya (وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا, wa-anzala junuudan lam tarawhaa) yang berarti "dan menurunkan bala tentara yang tidak kalian lihat", dan di 9:40 (وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا, wa-ayyadahu bi-junuudin lam tarawhaa) yang berarti "dan menguatkannya dengan bala tentara yang tidak kalian lihat". Dua ayat lain yang menurunkan ketenangan, 48:18 dan 48:26, tidak menyebut bala tentara.

Ayat ini ditutup (وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا, wa-kaana llaahu 'aliiman hakiiman) yang berarti "dan Allah berilmu lagi penuh hikmah". Pola (وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا, wa-kaana llaahu 'aliiman hakiiman) muncul enam kali, yaitu di 4:17, 4:92, 4:104, 4:111, 4:170, dan 48:4, dan terjemahan menuliskannya sama di keenam tempat itu. Ayat 48:7, yang mengulang kalimat tentang bala tentara, ditutup (وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا, wa-kaana llaahu 'aziizan hakiiman) yang berarti "dan Allah digdaya lagi penuh hikmah". Dua ayat yang memuat kalimat bala tentara yang sama berakhir dengan dua pasang sifat yang berbeda.

Tafsiran

Ayat 48:4 membuka kalimat baru di antara dua rangkaian. Di 48:1 sampai 48:3 penerimanya satu orang yang disapa dengan -ka, sedangkan di 48:4 dan 48:5 penerimanya orang-orang mukmin, dengan kata ganti jamak. Pergeseran itu terjadi tanpa kata penghubung: kalimat 48:1 sampai 48:3 selesai, dan 48:4 dibuka dengan pelaku yang disebut "Dialah".

Ketenangan disebut tiga kali di surah ini, dan di ketiganya hati ada dalam gambarnya. Di 48:4 ketenangan diturunkan ke dalam hati orang-orang mukmin. Di 48:18 Allah disebut mengetahui isi hati orang-orang mukmin, (فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ, fa-'alima maa fii quluubihim) yang berarti "maka Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka", lalu menurunkan ketenangan kepada mereka. Di 48:26 gambarnya memuat hati orang-orang yang kufur, (جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ, ja'ala lladziina kafaruu fii quluubihimu l-hamiyyata hamiyyata l-jaahiliyyati) yang berarti "orang-orang yang kufur menanamkan kesombongan dalam hati mereka, kesombongan jahiliah", sedangkan ketenangan turun kepada pihak lain. Dalam surah ini hati menjadi tempat dua isi yang berbeda, ketenangan di hati orang beriman dan kesombongan di hati orang yang kufur.

Tujuan ketenangan yang disebut ayat ini hanya satu, bertambahnya keimanan. Rasa takut yang hilang atau urusan di luar yang selesai tidak disebut di sini. Dua kalimat sesudahnya, tentang bala tentara dan tentang ilmu serta hikmah, tidak menyebut ketenangan lagi. Dapat dibaca bahwa keduanya menjadi latar bagi ketenangan itu, yaitu milik siapa yang menurunkannya dan sifat yang menyertai penurunan itu, tetapi ayat tidak menghubungkan keduanya dengan kata sebab.

Renungan dan Hikmah

  • Ketenangan di 48:4 disebut sebagai sesuatu yang diturunkan Allah ke dalam hati, dan ayat tidak menyebut cara orang-orang mukmin memperolehnya. Orang yang mencari ketenangan lewat usaha, misalnya jadwal, latihan, atau pengaturan hidup, dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh ketenangan pada kata kerja yang pelakunya bukan dirinya. Hal ini tidak menjadikan usaha sia-sia, sebab ayat tidak berbicara tentang usaha, tetapi menambah satu kemungkinan penilaian: ada ketenangan yang tidak datang dari kerja siapa pun yang mengalaminya. Seseorang dapat bertanya ketenangan mana dalam hidupnya yang diketahuinya berasal dari upayanya, dan mana yang tidak diketahuinya asalnya.
  • Ayat ini menyebut bertambahnya keimanan sebagai tujuan ketenangan, dan tidak menyebut rasa takut maupun urusan di luar. Ketenangan dari Allah di sini dipakai sebagai tanah tempat sesuatu tumbuh. Pembaca yang pernah mengalami masa tenang dapat bertanya untuk apa masa itu dipakainya: untuk beristirahat, untuk menimbang ulang urusannya, atau untuk menambah sesuatu yang dianggapnya lebih berharga. Masa tenang yang lewat tanpa tambahan apa pun juga memberi keterangan tentang cara masa itu dipakai. Apa yang bertambah pada diri pembaca sesudah masa tenang yang terakhir?
  • Keimanan yang bertambah disebut menyertai keimanan yang sudah ada, dan ayat tidak menyatakan seberapa besar yang sudah ada itu. Tambahan tidak menggantikan yang lama. Pembaca yang menimbang imannya sendiri dapat memeriksa apakah menunggu mulai dari nol bila ingin lebih, atau menerima bahwa yang dimilikinya hari ini tetap menjadi bagian dari jumlah yang bertambah. Ayat ini tidak mengukur besar kecilnya dan mencatat bahwa ada tambahan yang datang bersamanya. Siapa yang dianggap pembaca menemani imannya hari ini?
  • Di tiga ayat ketenangan disebut berdampingan dengan bala tentara, dan di dua di antaranya bala tentara itu disebut tidak terlihat. Seseorang yang tenang dalam keadaan sulit dapat menjelaskan ketenangannya dengan apa yang terlihat: sumber daya, rencana, orang di sekelilingnya. Ayat-ayat ini menaruh satu bagian penjelasan di tempat yang tidak terlihat, pada pihak yang memiliki bala tentara itu, yaitu Allah. Pembaca dapat bertanya apakah daftar alasan ketenangannya semuanya terlihat, dan apakah ada alasan yang diterimanya tanpa pernah melihatnya. Bagian yang tidak terlihat itu, bila ada, apa kira-kira isinya bagi pembaca?
  • Kata kerja bertambah dipakai di 3:178 untuk dosa dan di 48:4 untuk keimanan. Kata yang sama menggambarkan dua arah. Pembaca yang melihat hidupnya setahun terakhir dapat bertanya apa yang bertambah di dalamnya, tanpa menebak lebih dulu apakah jawabannya menyenangkan. Pertambahan tidak memilih isinya sendiri, dan ayat menyebut kedua isi itu dengan kata kerja yang sama. Karena itu pertanyaan tentang apa yang bertambah dapat dijawab dengan jujur bila pembaca bersedia melihat daftar yang tidak disukainya, di samping yang disukainya. Apa yang paling cepat bertambah pada dirinya akhir-akhir ini?
  • Ayat ini menaruh dua kalimat sesudah ketenangan: milik Allah bala tentara langit dan bumi, dan Dia berilmu lagi penuh hikmah. Ketenangan yang ditopang kalimat seperti itu tidak bergantung pada kepastian hasil, sebab ayat tidak menjanjikan hasil apa pun di sini, hanya menyebut siapa yang menurunkannya dan sifat-Nya. Pembaca dapat memeriksa apa yang menopang ketenangannya sendiri: kepastian tentang apa yang akan terjadi, atau keyakinan tentang pihak yang memegang kejadian itu. Mana yang lebih sering dipakainya ketika harus tenang?