وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi. Allah digdaya lagi penuh hikmah.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِwa-li-llaahi junuudu s-samaawaati wa-l-ardhimilik Allahlah bala tentara langit dan bumi
- وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًاwa-kaana llaahu 'aziizan hakiimandan Allah digdaya lagi penuh hikmah
Terjemahan per kata (8 kata)
- وَلِلَّهِwa-li-llaahidan milik Allah
- جُنُودُjunuudubala tentara
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
- اللَّهُllaahuAllah
- عَزِيزًا'aziizanMahaperkasa
- حَكِيمًاhakiimanbijaksana
Inti bacaan
Susunan (وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-li-llaahi junuudu s-samaawaati wa-l-ardhi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 48:4 dan 48:7.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-li-llaahi junuudu s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "milik Allahlah bala tentara langit dan bumi". Huruf (لِ, li) di depan nama Allah menyatakan kepemilikan, dan nama Allah berdiri sebelum benda yang dimiliki, yaitu (جُنُودُ, junuudu) yang berarti "bala tentara". Terjemahan menandai urutan itu dengan "-lah" pada "Allahlah". Susunan lengkap ini muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 48:4 dan 48:7, dua-duanya di surah yang sama.
Kata junuud dengan semua akhirannya muncul di dua puluh ayat dalam dua belas surah, yaitu 2:249, 2:250, 9:26, 9:40, 10:90, 20:78, 26:95, 27:17, 27:18, 27:37, 28:6, 28:8, 28:39, 28:40, 33:9, 48:4, 48:7, 51:40, 74:31, dan 85:17. Pemiliknya berbeda-beda. Bala tentara Firaun disebut di 10:90, 20:78, 28:6, 28:8, 28:39, 28:40, dan 51:40. Bala tentara Jalut disebut di 2:249 dan 2:250, bala tentara Iblis di 26:95, dan bala tentara Sulaiman di 27:17, 27:18, dan 27:37. Bala tentara yang disandarkan kepada Allah atau kepada Tuhan disebut di 9:26, 9:40, 33:9, 48:4, 48:7, dan 74:31. Ayat 85:17 menyebut bala tentara tanpa pemilik. Terjemahan memakai "bala tentara" di semua tempat itu.
Bala tentara milik Allah diberi sifat (لَمْ تَرَوْهَا, lam tarawhaa) yang berarti "yang tidak kalian lihat", yaitu di 9:26, 9:40, dan 33:9. Ayat 74:31 menyatakan (وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ, wa-maa ya'lamu junuuda rabbika illaa huwa) yang berarti "tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia". Ayat 48:7 tidak memerinci siapa atau berapa jumlah bala tentara itu. Di 9:26, 9:40, dan 48:4 bala tentara berada dalam ayat yang sama dengan ketenangan yang diturunkan, dan di 48:7 ketenangan itu tidak disebut.
Ayat ini ditutup dengan (وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا, wa-kaana llaahu 'aziizan hakiiman) yang berarti "Allah digdaya lagi penuh hikmah". Susunan lengkap ini muncul empat kali di dua surah, yaitu di 4:158, 4:165, 48:7, dan 48:19. Dengan (إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا, inna llaaha kaana 'aziizan hakiiman) di 4:56, pasangan dua sifat itu dengan kaana muncul di lima ayat. Kedua sifat berbentuk tanpa kata sandang al-, sehingga terjemahan menuliskan "digdaya" tanpa "Sang". Kata (كَانَ, kaana) di kelima ayat itu tidak disusul penanda waktu seperti "dahulu" atau "kelak", dan terjemahan tidak menambahkannya. Ayat 48:4 menutup bagian kalimat kepemilikan yang sama dengan (وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا, wa-kaana llaahu 'aliiman hakiiman) yang berarti "dan Allah berilmu lagi penuh hikmah". Sifat pertama berganti dan sifat kedua tetap penuh hikmah.
Tafsiran
Ayat ini mengulang bagian kalimat dari 48:4 dan dengan itu membingkai 48:5 dan 48:6. Ayat 48:4 menaruh bagian kalimat kepemilikan itu sebelum dua nasib, yaitu taman dan penghapusan kesalahan bagi orang-orang mukmin serta azab bagi munafik dan musyrik, dan ayat 48:7 menaruhnya sesudah keduanya. Bagian kalimat dan penutupnya sama di kedua tempat, kecuali sifat pertama: "berilmu" di 48:4 dan "digdaya" di 48:7. Teks tidak menghubungkan pilihan sifat itu dengan isi ayat di sebelahnya. Pembacaan bahwa "berilmu" mengikuti ketenangan di hati orang beriman dan "digdaya" mengikuti azab adalah satu kemungkinan, sebab pasangan digdaya dan penuh hikmah dipakai juga untuk hal lain.
Hal lain itu tercatat di ayat-ayat yang sudah disebut. Di 4:56 pasangan itu menutup ayat tentang api bagi orang-orang yang kufur, di 4:158 menutup ayat tentang Allah yang mengangkat seseorang kepada-Nya, di 4:165 menutup ayat tentang rasul-rasul yang diutus, dan di 48:19 menutup ayat tentang rampasan yang banyak. Pasangan itu tidak terikat pada satu macam peristiwa, dan di 48:7 pasangan itu mengikuti ayat tentang akibat bagi dua golongan. Dua peristiwa yang berlawanan arah di 48:5 dan 48:6 karena itu berada di bawah bagian kalimat yang sama sebelum dan sesudahnya.
Bagian kalimat kepemilikan ini menyatakan siapa pemilik bala tentara dan tidak menyatakan apa yang dikerjakan bala tentara itu. Pengerahan disebut di ayat lain, misalnya 9:26 dan 33:9, dan 48:7 tidak mengaitkan bala tentara dengan peristiwa tertentu. Ayat 48:5 dan 48:6 berisi kata kerja yang berada di bawah "agar", sedangkan 48:7 berisi keterangan tentang pemilik bala tentara dan sifat Allah. Sesudah ayat ini pembicaraan berpindah lagi. Ayat 48:8 dibuka dengan (إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ, innaa arsalnaaka) yang berarti "sesungguhnya Kami mengutusmu", dan sapaan kembali kepada yang diutus tanpa penghubung yang menjelaskan kaitannya dengan bala tentara.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut bala tentara langit dan bumi sebagai milik Allah tanpa memerinci siapa atau berapa jumlahnya, dan 74:31 menyatakan bahwa tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhan kecuali Dia. Daftar kekuatan yang dapat disusun seseorang untuk perkaranya, misalnya orang yang membantu, uang yang tersedia, dan waktu yang tersisa, tidak memuat bagian yang disebut ayat ini, sebab isinya tidak dapat dihitung dari luar. Kalau bagian itu memang ada, ukuran yang dipakai pembaca untuk menimbang kemampuan dirinya sedang menimbang sesuatu yang belum lengkap. Seberapa sering pertimbangan itu diucapkan seolah-olah daftarnya sudah selesai?
- Ayat ini menyatakan bahwa bala tentara itu milik Allah, dan tidak menyatakan bahwa bala tentara itu sedang dikirim ke satu perkara tertentu. Pengiriman disebut di ayat lain: di 9:26 Allah menurunkan bala tentara yang tidak terlihat, dan di 33:9 Allah mengirim angin dan bala tentara. Orang yang menunggu pertolongan dapat memperhatikan perbedaan antara memiliki dan mengirim, dan bahwa ayat ini memberi yang pertama. Apa yang dilakukan pembaca dengan sebuah kalimat tentang kepemilikan, ketika yang sedang ditunggunya adalah pengiriman?
- Kata bala tentara dipakai di 28:40 dan 51:40 untuk Firaun dan bala tentaranya, dan di kedua ayat itu Allah menghukum dia beserta bala tentaranya lalu melemparkan mereka ke laut. Pemilik bala tentara di dua ayat itu adalah manusia, dan akhir mereka dicatat oleh kata kerja Allah. Orang yang berkata "pasukanku" tentang jabatan, jaringan, atau harta dapat membandingkan kata itu dengan dua ayat tersebut, dan dengan 48:7 yang meletakkan kata yang sama di tangan Allah. Siapa yang sebenarnya dihitung sebagai bala tentara ketika seseorang menyebut apa yang diandalkannya?
- Dua sifat di penutup ayat ini dipasangkan: digdaya dan penuh hikmah. Pasangan itu dengan kaana muncul di lima ayat, yaitu 4:56, 4:158, 4:165, 48:7, dan 48:19, dan di kelimanya sifat kekuatan tidak berdiri sendiri. Dalam lima ayat itu Allah menyebutnya bersama hikmah, entah sesudah azab, sesudah pengangkatan, sesudah pengutusan rasul, atau sesudah rampasan. Pembaca yang bertemu dengan kekuatan di sekitarnya, pada orang yang berkuasa atau pada keadaan yang tak bisa ditawar, dapat memperhatikan apakah hikmahnya ikut dicari. Kekuatan yang paling sering dijumpainya hari ini, adakah pernah ditanyakan mengapa kekuatan itu bekerja demikian?
- Ayat 48:4 menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin dan menyebut bala tentara langit dan bumi dalam ayat yang sama, dan 9:26 menyebut ketenangan serta bala tentara yang tidak terlihat dalam satu ayat. Kejadian pertama berlangsung di dalam dada dan kejadian kedua di luar diri orang itu, dan Allah menaruh keduanya berdampingan. Orang yang gelisah dapat memperhatikan bahwa kegelisahan terasa sebagai urusan dalam dada. Kalau ketenangan dan bala tentara sama-sama dinyatakan milik Allah, apa yang berubah pada anggapan bahwa seluruh urusan hari ini berlangsung hanya di dalam kepalanya?
- Bagian kalimat kepemilikan ini diucapkan di 48:4 dan 48:7, dengan 48:5 dan 48:6 di antaranya. Sesudah mendengar dua nasib yang berlawanan, pembaca mendapati kalimat yang sama tanpa perubahan kecuali satu sifat. Kalimat yang sama dapat terdengar menenangkan bagi orang yang menaruh dirinya di 48:5, dan menggetarkan bagi orang yang menaruh dirinya di 48:6, padahal kata-katanya tidak berubah. Allah tidak menyesuaikan kalimat itu dengan pendengarnya, dan pembacalah yang membawa keadaannya sendiri ke dalam kalimat. Di sisi mana pembaca berdiri ketika kalimat itu terdengar untuk kedua kalinya?