إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu, mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Oleh sebab itu, siapa yang melanggar janji, maka sesungguhnya pelanggaran itu hanya akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan menganugerahinya pahala yang agung.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَinna lladziina yubaayi'uunaka innamaa yubaayi'uuna llaahasesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu, mereka berjanji setia kepada Allah
  2. يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْyadu llaahi fawqa aydiihimtangan Allah di atas tangan mereka
  3. فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِfa-man nakatsa fa-innamaa yankutsu 'alaa nafsihioleh sebab itu, siapa yang melanggar janji, maka sesungguhnya pelanggaran itu hanya akan menimpa dirinya sendiri
  4. وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًاwa-man awfaa bi-maa 'aahada 'alayhu llaaha fa-sa-yu'tiihi ajran 'azhiimansiapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan menganugerahinya pahala yang agung

Terjemahan per kata (25 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. يُبَايِعُونَكَyubaayi'uunakamereka berjanji setia kepadamu
  4. إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
  5. يُبَايِعُونَyubaayi'uunamereka berjanji setia
  6. اللَّهَllaahaAllah
  7. يَدُyadutangan
  8. اللَّهِllaahiAllah
  9. فَوْقَfawqadi atas
  10. أَيْدِيهِمْaydiihimtangan mereka
  11. فَمَنْfa-manmaka orang yang
  12. نَكَثَnakatsamelanggar
  13. فَإِنَّمَاfa-innamaamaka sesungguhnya hanyalah
  14. يَنْكُثُyankutsumelanggar
  15. عَلَىٰ'alaaatas
  16. نَفْسِهِnafsihidirinya
  17. وَمَنْwa-mandan orang yang
  18. أَوْفَىٰawfaamenyempurnakan
  19. بِمَاbi-maaapa yang
  20. عَاهَدَ'aahadaberjanji
  21. عَلَيْهُ'alayhuatasnya
  22. اللَّهَllaahaAllah
  23. فَسَيُؤْتِيهِfa-sa-yu'tiihimaka Kami akan memberinya
  24. أَجْرًاajranupah
  25. عَظِيمًا'azhiimanyang besar

Inti bacaan

Metafora kuat 'tangan Allah di atas tangan mereka' untuk janji setia. Konkretnya: kesetiaan kepada Nabi dipahami sebagai komitmen kepada Allah sendiri, sebuah pengangkatan makna dari perjanjian sosial biasa menjadi ikatan spiritual, dengan konsekuensi pelanggaran yang 'hanya akan menimpa dirinya sendiri' menegaskan tanggung jawab personal penuh.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memindahkan sebuah janji dari satu pihak ke pihak lain, dan pemindahannya dilakukan di dalam kalimat yang sama.

Yang dijabat tangan manusia, tetapi yang disebut sebagai penerimanya Allah. Perantaranya tidak dihapus, hanya tidak dijadikan tujuan akhir. Perjanjian yang diberikan kepada seseorang atas nama sesuatu yang lebih besar tidak berhenti pada orang itu.

Gambaran yang dipakai bersifat jasmani: “tangan Allah di atas tangan mereka” (يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ, yadu llaahi fawqa aydiihim). Rangkaian itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Yang tak terlihat diterangkan lewat sesuatu yang paling bisa dirasakan, yaitu genggaman tangan pada saat berjanji.

Akibat pelanggarannya lalu disebut dengan cara yang tak biasa. Tidak dikatakan pelanggaran itu merugikan pihak yang dijanjikan, melainkan bahwa ia “hanya akan menimpa dirinya sendiri”. Yang putus bukan ikatannya, melainkan hubungan orang itu dengan ikatannya. Sisi sebaliknya disebut pula, dan pahalanya dijanjikan langsung dari pihak yang sama yang menerima janjinya.

Kata kerja untuk pelanggarannya tak terulang. Bentuk “melanggar janji” (نَكَثَ, nakatsa) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berkaitan dengan memintal benang yang sudah dijalin lalu menguraikannya kembali. Gambaran itu menerangkan sesuatu: yang dilanggar bukan aturan yang berdiri di luar, melainkan jalinan yang dibuat sendiri oleh yang melanggarnya.

Kalau begitu gambarannya, maka kalimat bahwa pelanggaran itu menimpa dirinya sendiri menjadi masuk akal tanpa perlu dijelaskan. Orang yang menguraikan pintalan yang ia buat sendiri tidak merugikan siapa pun kecuali dirinya, sebab yang hilang adalah hasil kerjanya sendiri.

Sisi sebaliknya disebut dengan rumusan yang berulang di banyak tempat. Sebutan “pahala yang besar” (أَجْرًا عَظِيمًا, ajran 'azhiiman) muncul sebelas kali di dalam Al-Qur'an (4:40, 4:67, 4:74, 4:95, 4:114, 4:146, 4:162, 33:29, 33:35, 48:10, 48:29). Dua di antaranya berada di surah ini, yaitu di ayat ini dan di ayat penutupnya. Sebuah surah yang membuka pembicaraan tentang janji setia dengan sebutan itu dan menutup seluruh surahnya dengan sebutan yang sama sedang menyusun bingkai.

Yang perlu diperhatikan pada susunan seluruh ayat, dua akibat disebut dengan cara yang tidak sejajar. Yang melanggar disebut menimpa dirinya sendiri, tanpa penyebutan pihak yang menghukum. Yang menepati disebut akan diberi, dengan penyebutan pihak yang memberi. Pelanggaran digambarkan sebagai akibat yang berjalan sendiri; pemenuhan digambarkan sebagai pemberian dari luar.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa janji setia kepada Nabi hakikatnya adalah janji kepada Allah sendiri, dengan konsekuensi penuh bagi yang melanggar atau menepatinya. Pemindahan penerima janji itu dilakukan di dalam kalimat yang sama, tanpa jeda dan tanpa penjelasan.

Perantaranya tidak dihapus. Yang dijabat tangan tetap manusia, dan itu disebutkan. Yang dinyatakan hanya bahwa penerimanya bukan berhenti di situ. Sebuah janji yang diberikan kepada seseorang atas nama sesuatu yang lebih besar memang tidak berhenti pada orang itu, dan ayat ini menyatakannya dengan gambaran yang bisa dirasakan, yaitu tangan di atas tangan.

Kata yang dipakai untuk pelanggarannya menerangkan mengapa akibatnya digambarkan menimpa diri sendiri. Akarnya berkaitan dengan menguraikan kembali pintalan yang sudah dijalin. Orang yang menguraikan pintalannya sendiri tidak merugikan siapa pun kecuali dirinya, sebab yang terurai adalah hasil kerjanya. Gambaran itu tidak menyebut hukuman, dan tidak perlu.

Dua akibat yang disebut pun tidak sejajar bentuknya, dan ketidaksejajaran itu berarti. Yang melanggar disebut menanggung sendiri, tanpa penyebutan pihak yang menghukum. Yang menepati disebut akan diberi, dengan penyebutan pihak yang memberi. Kerugian digambarkan berjalan sendiri sebagai akibat wajar; pemberian digambarkan datang dari luar sebagai karunia. Susunan itu menutup pembacaan bahwa kesetiaan adalah transaksi yang setimpal.

Renungan dan Hikmah

  • Allah memindahkan janji itu kepada diri-Nya. Bukan kepada perantaranya. Yang dijabat tangan manusia, yang menerima bukan dia. Pemindahan itu juga menutup satu jalan keluar yang biasa dipakai orang. Janji kepada manusia bisa dianggap batal ketika orangnya tiada, berubah keadaan, atau ternyata mengecewakan. Janji yang penerimanya Allah tidak punya pintu keluar seperti itu.
  • Gambaran yang dipakai tangan di atas tangan. Jasmani. Yang tak terlihat diterangkan lewat yang paling bisa dirasakan. Gambaran itu diambil dari kebiasaan berjabat tangan ketika berjanji, sehingga yang dipakai bukan benda asing melainkan tepat perbuatan yang sedang mereka lakukan. Keterangan tentang yang tak terlihat disisipkan ke dalam yang sedang dikerjakan tangan mereka sendiri.
  • Allah menyebut pelanggarannya menimpa dirinya sendiri. Bukan merugikan yang dijanjikan. Yang putus bukan ikatannya, melainkan orang yang memutuskan. Menyebutnya begitu juga meniadakan bayangan bahwa Allah dirugikan oleh pelanggaran itu. Yang rusak sepenuhnya di pihak orangnya. Perjanjian ini tidak pernah berada dalam bahaya; yang berada dalam bahaya cuma pihak yang mengingkarinya.
  • Allah menyebut yang mereka jabat tangannya manusia, tetapi yang menerima janjinya Dia, dan pelanggarannya disebut menimpa diri si pelanggar sendiri. Janji apa yang kita ucapkan kepada sesama padahal sebenarnya tertuju kepada-Nya? Janji yang paling sering kita anggap ringan biasanya janji kepada orang yang tidak mungkin menuntut kita. Kepada orang yang berkuasa atas hidup kita, janji dipegang erat tanpa perlu diingatkan. Kepada anak kecil, kepada bawahan, kepada orang yang sudah tiada, janji berubah menjadi rencana yang boleh ditinjau ulang. Ayat ini memindahkan seluruh perhitungan itu, sebab penerima yang sebenarnya selalu pihak yang paling sanggup menuntut, dan Dia tidak pernah tidak hadir di dalamnya, sekalipun yang di hadapan kita cuma seorang anak kecil.
  • Rangkaian يَدُ اللَّهِ muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 5:64 dan 48:10. Di 5:64 kalimat itu dikutip dari mulut orang yang mengatakan tangan Allah terbelenggu, sebuah tuduhan yang langsung dibantah di ayat itu juga. Di sini kalimat yang memakai susunan sama diucapkan Allah sendiri, dan bunyinya tangan Allah di atas tangan mereka. Satu susunan kata, dua kedudukan yang berlawanan: sekali sebagai tuduhan yang dibantah, sekali sebagai pernyataan yang menguatkan.
  • Kalimat ini menyebut sesuatu yang tidak terlihat oleh siapa pun yang hadir di tempat itu. Yang mereka lihat cuma dua tangan manusia bertemu. Yang diberitahukan Allah, ada yang ketiga di atasnya. Keterangan seperti itu mengubah peristiwa biasa menjadi peristiwa yang tidak bisa diulang penilaiannya kemudian. Orang yang berjanji sambil mengetahui hal ini tidak sedang mengambil risiko yang sama dengan orang yang berjanji tanpa mengetahuinya, sekalipun gerak tangannya persis sama.