بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَىٰ أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَٰلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا

Bahkan kalian menyangka bahwa Rasul dan orang-orang beriman tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya, dan yang demikian itu dijadikan terasa indah dalam hati kalian, dan kalian bersangka dengan sangkaan buruk, dan kalian menjadi kaum yang binasa.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَىٰ أَهْلِيهِمْ أَبَدًاbal zhanantum an lan yanqaliba r-rasuulu wa-l-mu'minuuna ilaa ahliihim abadanbahkan kalian menyangka bahwa Rasul dan orang-orang beriman tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya
  2. وَزُيِّنَ ذَٰلِكَ فِي قُلُوبِكُمْwa-zuyyina dzaalika fii quluubikumdan yang demikian itu dijadikan terasa indah dalam hati kalian
  3. وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًاwa-zhanantum zhanna s-saw'i wa-kuntum qawman buurandan kalian bersangka dengan sangkaan buruk, dan kalian menjadi kaum yang binasa

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. بَلْbalbahkan
  2. ظَنَنْتُمْzhanantumkalian mengira
  3. أَنْanbahwa
  4. لَنْlantidak akan
  5. يَنْقَلِبَyanqalibaberbalik
  6. الرَّسُولُr-rasuuluRasul
  7. وَالْمُؤْمِنُونَwa-l-mu'minuunadan orang-orang mukmin
  8. إِلَىٰilaakepada
  9. أَهْلِيهِمْahliihimkeluarga mereka
  10. أَبَدًاabadanselamanya
  11. وَزُيِّنَwa-zuyyinadan dijadikan indah
  12. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  13. فِيfiidalam
  14. قُلُوبِكُمْquluubikumhati kalian
  15. وَظَنَنْتُمْwa-zhanantumdan kalian mengira
  16. ظَنَّzhannamengira
  17. السَّوْءِs-saw'ikeburukan
  18. وَكُنْتُمْwa-kuntumpadahal kalian adalah
  19. قَوْمًاqawmankaum
  20. بُورًاbuuranbinasa

Inti bacaan

Bentuk (أَهْلِيهِمْ, ahliihim), "keluarga mereka", muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:15, 42:45, dan 48:12.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (بَلْ ظَنَنْتُمْ, bal zhanantum) yang berarti "bahkan kalian menyangka". Kata (بَلْ, bal) muncul empat kali di Surah 48, yaitu sekali di 48:11, sekali di 48:12, dan dua kali di 48:15. Di 48:11 kata itu membuka kalimat penutup, (بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا, bal kaana llaahu bi-maa ta'maluuna khabiiran) yang berarti "bahkan, Allah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan". Kata kerja (ظَنَنْتُمْ, zhanantum) berakar ظ-ن-ن dan menyapa "kalian". Bentuk zhanantum yang langsung disusul (أَنْ لَنْ, an lan) muncul dua kali, yaitu di 48:12 dan 72:7. Di 72:7, (ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا, zhannuu ka-maa zhanantum an lan yab'atsa llaahu ahadan) berarti "mereka mengira sebagaimana kalian mengira, bahwa Allah tidak akan membangkitkan seorang pun". Kerangka kalimatnya sama, sedangkan isi sangkaannya berlainan: di 72:7 tentang dibangkitkan, di 48:12 tentang kembali kepada keluarga.

Kata kerja (يَنْقَلِبَ, yanqaliba) yang berarti "kembali" berakar ق-ل-ب, akar yang sama dengan (قُلُوبِكُمْ, quluubikum) yang berarti "hati kalian" beberapa kata sesudahnya di ayat yang sama. Kata kerja ini disusul tujuan (إِلَىٰ أَهْلِ, ilaa ahli) "kepada keluarga" di empat ayat, yaitu 12:62, 48:12, 83:31, dan 84:9. Di 83:31, (انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ, nqalabuu ilaa ahlihimu nqalabuu fakihiina) berarti "mereka kembali kepada keluarga mereka, mereka kembali bergembira ria", dan di 84:9, (وَيَنْقَلِبُ إِلَىٰ أَهْلِهِ مَسْرُورًا, wa-yanqalibu ilaa ahlihi masruuran) berarti "dan dia kembali kepada keluarganya dengan gembira". Kedua ayat itu menaruh keadaan hati sesudah kata keluarga. Di 48:12 yang datang sesudahnya kata waktu, (أَبَدًا, abadan) yang berarti "selama-lamanya", dan tidak ada kata keadaan hati. Rangkaian (لَنْ يَنْقَلِبَ, lan yanqaliba) yang berarti "tidak akan kembali" hanya muncul di ayat ini.

Bentuk (أَهْلِيهِمْ, ahliihim) yang berarti "keluarga mereka", dengan huruf ya sebelum akhiran -him, muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 39:15, 42:45, dan 48:12. Di 39:15 dan 42:45, (خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ, khasiruu anfusahum wa-ahliihim) berarti "merugikan diri mereka dan keluarga mereka". Di dua ayat itu keluarga ikut menanggung kerugian, sedangkan di 48:12 keluarga menjadi tujuan perjalanan. Terjemahan memakai "keluarga" tanpa menambahkan istri atau anak, karena ayat ini tidak merinci anggotanya.

Kata kerja (وَزُيِّنَ, wa-zuyyina) yang berarti "dan dijadikan terasa indah" berakar ز-ي-ن dan berbentuk pasif, sehingga pelakunya tidak disebut. Bentuk zuyyina muncul sepuluh kali di sepuluh surah, yaitu 2:212, 3:14, 6:122, 9:37, 10:12, 13:33, 35:8, 40:37, 47:14, dan 48:12. Di sembilan ayat selain ini kata kerja itu disusul penerima yang diawali huruf li, misalnya (زُيِّنَ لِلنَّاسِ, zuyyina li-n-naasi) yang berarti "dijadikan indah bagi manusia" di 3:14, dan (زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ, zuyyina lahum suu'u a'maalihim) yang berarti "dijadikan indah bagi mereka keburukan amal mereka" di 9:37. Ayat 48:12 menaruh tempat pada posisi penerima itu, yaitu (فِي قُلُوبِكُمْ, fii quluubikum) "dalam hati kalian", dan benda yang diindahkan ditunjuk dengan (ذَٰلِكَ, dzaalika) "yang demikian itu", yakni sangkaan pada awal ayat. Bentuk aktifnya terdapat di 49:7, (وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ, wa-zayyanahu fii quluubikum) yang berarti "dan menjadikannya indah dalam hati kalian". Di sana pelakunya disebut di awal kalimat, yaitu Allah, dan iman yang diindahkan. Di 48:12 pelaku itu tidak ada, dan terjemahan tidak menambahkannya.

Frasa (فِي قُلُوبِكُمْ, fii quluubikum) muncul enam kali di lima surah, yaitu 3:154, 8:70, 33:51, 48:12, 49:7, dan 49:14. Di 49:14 iman disebut belum masuk ke hati, (وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ, wa-lammaa yadkhuli l-iimaanu fii quluubikum) yang berarti "dan iman belum masuk ke dalam hati kalian". Dengan begitu tiga ayat menaruh sesuatu di hati yang disapa dengan akhiran yang sama: iman yang diindahkan di 49:7, iman yang belum masuk di 49:14, dan sangkaan buruk yang diindahkan di 48:12.

Bagian sesudah kata kerja kedua, (وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ, wa-zhanantum zhanna), yang berarti "dan kalian bersangka dengan sangkaan", mengulang akar ظ-ن-ن sebagai kata benda dan menyertainya dengan kata "buruk". Gandengan kata sangkaan dan kata buruk itu muncul dua kali, yaitu di 48:6 dan 48:12. Di 48:6, (الظَّانِّينَ بِاللَّهِ, zh-zhaanniina bi-llaahi) berarti "yang bersangka terhadap Allah", jadi sasaran sangkaannya disebut. Di 48:12 gandengan itu tidak menyebut sasaran, dan isi sangkaannya sudah ada di awal ayat. Terjemahan memakai "sangkaan", seperti di 34:20 dan 41:23, sedangkan "dugaan" dipakai untuk rumus mengikuti dugaan di 10:36 dan 53:28.

Kata (بُورًا, buuran) dalam (وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا, wa-kuntum qawman buuran) yang berarti "dan kalian menjadi kaum yang binasa" berakar ب-و-ر. Sebagai sifat kaum, kata ini muncul dua kali, yaitu di 25:18 dan 48:12. Rangka "kalian adalah atau menjadi kaum" dengan sifat sesudahnya muncul lima kali di lima surah, yaitu 9:53, 37:30, 43:5, 45:31, dan 48:12. Pada empat ayat yang lain sifatnya berupa kata pelaku, misalnya (فَاسِقِينَ, faasiqiina) yang berarti "yang fasik" di 9:53 dan (مُجْرِمِينَ, mujrimiina) yang berarti "pendurhaka" di 45:31. Di 48:12 sifatnya kata keadaan, bukan kata pelaku, sehingga kata penutup ayat ini menyebut keadaan kaum itu, sedangkan perbuatan mereka disebut pada kata-kata sebelumnya.

Ayat ini tidak memuat kata kerja ucapan dari akar ق-و-ل. Sangkaan di awal ayat karena itu tidak berupa kutipan. Pada 48:11 ucapan dan hati dipisahkan lewat (يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ, yaquuluuna bi-alsinatihim maa laysa fii quluubihim) yang berarti "mereka mengucapkan dengan lidah mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka", dan 48:12 tidak memakai kerangka ucapan sama sekali.

Tafsiran

Ayat ini menjawab alasan di 48:11 dengan menunjuk tempat lain, yaitu hati. Alasan yang diucapkan di 48:11 menyebut harta dan keluarga, dan ayat itu sendiri memisahkan lidah dari hati. Ayat 48:12 kemudian menyebut sangkaan dalam hati tentang akhir perjalanan: Rasul dan orang-orang beriman tidak akan kembali. Sampai di sini pembicaraan menyapa dengan akhiran "kalian" empat kali, yaitu pada kata kerja sangkaan, pada hati, pada sangkaan kedua, dan pada keadaan terakhir.

Kata keluarga muncul pada dua ayat yang berurutan. Di 48:11 keluarga tercantum dalam alasan, bersama harta, sebagai hal yang menyibukkan mereka sendiri. Di 48:12 keluarga menjadi tempat tujuan yang menurut sangkaan itu tidak akan dicapai oleh pihak lain. Ayat-ayat itu tidak menghubungkan keduanya secara tertulis, sehingga pembaca yang menaruhnya berdampingan sedang menyusun bacaan sendiri atas urutan ayat.

Susunan ayat ini bergerak dari yang disangka ke yang menyangka. Tiga kalimat pertama mengenai isi sangkaan, cara sangkaan itu dirasakan, dan sebutannya sebagai sangkaan buruk. Kalimat terakhir mengenai keadaan para penyangka, yaitu kaum yang binasa. Kepulangan Rasul dan orang-orang beriman dibahas sebagai isi sangkaan, dan ayat ini berhenti pada sangkaan itu serta keadaan orang yang menyimpannya. Ayat 48:15 memperlihatkan pihak yang sama berbicara tentang berangkat menuju rampasan, dan sikap itu dapat dibaca berdampingan dengan sangkaan di 48:12, tetapi teksnya tidak menyatakan hubungan itu.

Ayat 48:13 meninggalkan sapaan "kalian" dan berpindah ke persyaratan umum: siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dari 48:12 ke 48:13 pembicaraan beralih dari sekelompok pendengar yang disapa langsung kepada syarat yang dapat dikenakan pada siapa pun, dan peralihan itu terjadi tanpa kata penghubung selain huruf waw.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 48:11 memisahkan apa yang diucapkan dari apa yang ada di hati, lalu menutup dengan Allah yang waskita terhadap apa yang dikerjakan. Ayat 48:12 menyebut isi hati itu: sangkaan bahwa pihak lain tidak akan pulang. Alasan yang terdengar di luar dan perhitungan yang tersimpan di dalam dapat berbeda isinya, dan hanya yang pertama pernah sampai ke telinga orang lain. Seseorang yang sedang memberi alasan dapat memeriksa apakah alasan itu sama dengan hitungan yang sebenarnya dipakainya ketika memutuskan. Bila keduanya berbeda, siapa yang selama ini hanya mendengar alasannya, dan sejak kapan dirinya sendiri berhenti membedakan keduanya?
  • Sangkaan di ayat ini dijadikan terasa indah dalam hati, dengan kata kerja pasif dan tanpa pelaku yang disebut. Di 49:7 pelaku yang diindahkan imannya disebut terang, yaitu Allah, sedangkan di sini pelakunya dibiarkan tanpa nama. Sangkaan buruk ternyata dapat terasa menyenangkan bagi pemiliknya, sehingga tidak ada rasa tidak nyaman yang memberi tanda bahwa ada yang salah. Seseorang dapat bertanya tentang keyakinannya sendiri yang paling terasa wajar, dan dari mana rasa wajar itu datang. Keyakinan mana yang tidak pernah diperiksanya hanya karena terasa enak?
  • Sangkaan di ayat ini ditutup dengan kata selama-lamanya, tanpa kata yang memberi ruang seperti mungkin atau sementara. Kata itu membuat bayangan buruk menjadi mutlak, seakan tidak ada kemungkinan pulang sedikit pun. Dua ayat sesudahnya menyebut Allah mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki, dan keduanya dapat dibaca berdampingan dengan kata selama-lamanya tanpa teksnya menghubungkan keduanya. Kapan terakhir kali sebuah ramalan buruk diubah menjadi pertanyaan terbuka dengan menuliskan kemungkinan sebaliknya di sebelahnya?
  • Hal yang disangka tidak akan terjadi adalah sesuatu yang paling biasa: pulang kepada keluarga. Sangkaan buruk tidak harus menyasar peristiwa besar. Sangkaan itu bisa menyasar kepulangan yang oleh banyak orang dianggap pasti dan hampir tidak pernah dipikirkan. Dua ayat lain menggambarkan kepulangan itu bersama kegembiraan, dan 48:12 menaruhnya di dalam sangkaan yang gelap. Seseorang dapat mengingat satu urusan biasa dalam hidupnya, misalnya sampai di rumah dengan selamat, lalu bertanya berapa kali bayangan buruk tentang urusan itu hadir tanpa ada yang mengetahuinya.
  • Ayat ini ditutup dengan keadaan para penyangka sendiri, tidak dengan nasib pihak yang disangka. Kalimat terakhirnya menyebut kaum yang binasa, setelah tiga kalimat tentang sangkaan. Ayat berikutnya berbicara tentang siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kedua ayat itu tidak dijahit dengan kata yang menyamakan sangkaan di 48:12 dengan ketidakimanan itu. Susunan ini memberi gambaran bahwa menyimpan sangkaan buruk tentang orang lain tidak mengubah keadaan orang lain, tetapi menempatkan penyimpannya dalam keadaan tertentu. Orang yang sering menaruh dugaan celaka pada sesama dapat memperhatikan apa yang terjadi pada dirinya sendiri sesudah dugaan itu mapan. Siapa yang paling lama tinggal di dalam bayangan itu?
  • Ayat ini tidak memuat satu pun kata kerja ucapan, jadi sangkaan itu tidak dikutip seperti alasan di ayat sebelumnya. Sangkaan yang tidak diucapkan tidak punya pendengar, sehingga orang lain tidak dapat mengoreksinya. Ayat ini menyebutnya di depan orang-orang yang menyimpannya. Seandainya tiap sangkaan harus diucapkan dulu sebelum dipegang, sangkaan mana dalam dirinya yang akan gugur begitu terdengar oleh telinganya sendiri?